HEI JUN

HEI JUN
94


__ADS_3

"Selamat sore hadirin semuanya. Jumpa lagi dengan saya Daniel di acara ngidam tenis."


Suara berat milik Daniel menggema di sepanjang lapangan tenis. Sore ini Daniel, yang tak lain adalah sekretaris Dira yang baru, didapuk sebagai pembawa acara pertandingan tenis yang diadakan Kiara.


Pertandingan itu dilaksanakan di halaman belakang rumah Kiara. Kiara sepertinya niat sekali mengadakan pertandingan ini. Tanpa sepengetahuan Elang dan Dira, Kiara mendatangkan orang untuk mengubah tanah kosong itu menjadi lapangan tenis.


Benar saja hanya butuh waktu tiga hari bagi orang-orang itu untuk mengerjakan perintah sang nyonya bos sehingga hari ini pertandingan tenis antara Dira dan Juna bisa dilaksanakan.


Pertandingan sore hari ini juga meriah. Kiara sengaja menyuruh seribu karyawannya untuk datang guna memberikan dukungan kepada Dira dan Juna. Kiara memilih secara acak karyawan di Sanjaya corp yang berhak menonton pertandingan absurd ini.


Diluar dugaan, dari seribu nomor undian yang di acak. Peserta yang datang berjumlah dua kali lipat. Kiara hanya menyediakan kursi plastik sebanyak seribu pcs, sehingga bagi karyawan yang tidak kebagian kursi dengan sangat menyesal mereka harus menggelar tikar.


"Antusias penonton sangat luar biasa sekali pemirsa. Mereka pasti tidak sabar untuk menyaksikan pertandingan terhebat dalam pekan ini. Pertandingan tenis di sore hari ini mempertemukan dua lelaki tampan...." ucapan Daniel terpotong.


"Woy, Daniel! Enak aja bilang dua lelaki tampan. Cuma gue yang tampan, Juna nggak" protes Dira. Ia menatap Daniel dengan tatap laser.


Daniel tentu saja langsung ciut. Ia meralat ucapannya dan memohon maaf kepada Dira.


"Pertandingan... sore ini... mempertemukan dua lelaki, yang satunya tampan sekali sedangkan yang satunya tampan juga tetapi lebih tampan yang pertama" ucap Daniel terbata-bata.


"Tanpa banyak basa-basi lagi. Saya panggilkan para pemain yang akan bertanding. Di sisi sebelah kanan, Misterrrrrrr..... A..... Dirrrr.....raaaaa."


Mr. Adirra...?? Yes...!!!


Mr. Adirra...?? Ok banget...!!!


Mr. Adirra...?? Pasti juara....!!!


Teriak pendukung Dira yang diketuai oleh Daniel. Daniel yang merangkap jabatan sebagai pembawa acara di sore itu tentu saja harus lincah seperti tupai. Kadang ke tengah, kadang ke kanan.


"Di sisi sebelah kiri, anak jujur dan sopan, asuhan dari Mr. Adirra. Kita sambut Mayjuna July Agustinooooo..."


Mayjuna...??? Cakep..!!!


Mayjuna...??? Ganteng...!!!


Mayjuna...?? Hot sekali permirsah...!!!


Suara tepuk tangan langsung menggema di penjuru lapangan. Lita yang ditunjuk sebagai ketua suporter Juna, benar-benar menjalankan tugas dengan baik. Ia mampu mengumpulkan lima ratus karyawati yang tergabung dalam MyJun's.


Suporter asuhan Lita itu tak henti-hentinya berteriak, memanggil nama Juna sambil menari-nari. Sungguh pemandangan yang tidak biasa bagi Kiara. Biasanya ia melihat tampang serius para karyawannya. Namun, sekarang ia bisa melihat bagaimana tingkah konyol dan bar-bar dari karyawan-karyawannya itu.


Kiara manggut-manggut sendiri. Sepertinya ia akan mengadakan event seperti ini setiap bulan. Karyawannya butuh refreshing. Acara seperti ini pasti akan menyegarkan pikiran mereka.


"Mas Junaaaa.... I love you...!!!" teriak Lita ketika melihat Juna masuk ke dalam lapangan bersama Atha.


Kiara yang melihat tingkah Lita seperti cacing kepanasan itu langsung saja menjambak rambutnya. Ia memberi tugas lain kepada Lita, khawatir Lita akan masuk ke dalam lapangan dan menempel pada Juna. Kiara menyuruh Lita untuk memijit kakinya sedangkan tugas sebagai ketua suporter dialihkan kepada sopir pribadi Kiara.


Juna dan Dira sudah memasuki lapangan. Mereka melakukan pemanasan layaknya orang yang akan bertanding sungguhan. Daniel memberi waktu sepuluh menit untuk pemanasan.


Usai melakukan pemanasan, Daniel meniup peluit sebagai tanda jika permainan akan dimulai. Dira menjadi pemain yang memulai pertandingan karena dirinya yang meminta.


Tepok


"Serve gagal, bola keluar" teriak Daniel.


Tepok


"Serve gagal lagi, bola nyangkut di net" ucap Daniel.


Tepok

__ADS_1


"Lu ngomong serve gagal lagi, gue lemparin raket jidat lu sampai benjol" teriak Dira pada Daniel.


Daniel langsung meminta maaf. Beginilah nasib bawahan. Selalu salah meskipun benar.


Bola yang dipukul Dira memang melewati net. Juna yang berada di seberang segera berlari. Ia memukul bola itu dengan keras sehingga bola melambung tinggi ke arah Dira.


"Mas Junaaaa..... I love you! Nanti kalau menang Lita kasih cium deh" teriak Lita.


Teriakan Lita itu tentu saja membuat Atha meradang. Ia hendak berlari menghampiri Lita. Mencakar wajah Lita agar tidak keganjenan kepada suaminya. Namun, niatnya urung dilakukan saat melihat Kiara sudah terlebih dahulu menjambak rambut Lita sampai si empunya berteriak kesakitan.


"Jangan kegatelan jadi cewek! Kamu mau saya taburin garam grosok? Lagian Mas Juna sudah punya istri. Kamu cari yang jomblo sana! Si Daniel juga boleh" ucap Kiara sebal.


Lita langsung merengut. Ia kembali memijit kaki Kiara yang sudah nampak membengkak.


Dira dan Juna saling memukul bola. Sesekali mereka mengejar bola agar bisa dipukul. Juna yang memang lebih sering berolahraga daripada Dira tentu saja memiliki stamina yang lebih bagus. Ia nampak segar dan gesit sedangkan Dira sudah kehabisan nafas dan kelelahan.


"Niel....!!! Daniel....!!! Kudaniel....!!! Stop dulu mainnya! Gue bengek pengen minum" teriak Dira.


"Huuuuuuùu...." teriak penonton.


Dira langsung membuang raket tenisnya begitu saja. Ia berlari ke pinggir lapangan, menghampiri Elang yang memegang gelas berisi jus jeruk.


Elang sedari tadi berada di ruang kerja. Ia sibuk memeriksa tumpukan berkas yang menggunung di meja kerjanya. Dirinya berhenti mengecek laporan-laporan itu ketika perutnya keroncongan. Niat hati ke dapur untuk mengambil makanan, telinga Elang mendengar suara ramai dari belakang rumah.


Elang buru-buru ke halaman belakang. Kedua netranya hampir copot ketika melihat banyak orang di sana. Elang melihat sendiri bagaimana karyawan Sanjaya corp menikmati pertandingan Dira dan Juna meskipun ngawur dan absurd.


"Elang, gue haus."


Gluk...gluk...gluk...


Tanpa basa-basi, Dira langsung mengambil gelas yang di pegang Elang dan meneguknya. Setelah gelas itu kosong, Dira mengembalikan kepada Elang.


Skor masih kosong-kosong. Permintaan Dira untuk istirahat itu membuat Juna kehilangan poin. Dira selaku kakak dari CEO Sanjaya corp berhak membuat peraturan sendiri, mengatur wasit, dan mengatur skor pertandingan.


Jangan tanyakan bagaimana kesalnya Juna. Ia yang sudah terbiasa dengan tingkah Dira yang ingin menang sendiri, hanya bisa bersabar. Lagi pula pertandingan ini hanya main-main. Tidak ada hadiahnya dan hanya buang-buang tenaga.


"Niel...! Daniel...!!! Kudaniel...!! Lanjut mainnya. Gue udah segar" ucap Dira.


Daniel yang dipanggil seperti itu hanya mendengus kesal. Dalam hati, Daniel memaki-maki Dira dengan berbagai bahasa yang tidak digunakan oleh manusia. Daniel kesal, tapi ia harus tetap tersenyum agar tidak dipotong gaji oleh Dira.


Tepok


Juna melempar bola. Bola melambung tinggi melewati net. Dira yang berada di seberang sudah bersiap siaga. Ia mengambil ancang-ancang dan..


Tepok...


Dira merasa jumawa karena bisa berhasil memukul bola. Namun, ia salah sangka. Bukan bola tenis yang melambung tinggi melainkan raket tenisnya.


Raket tenis milik Dira menurun, menukik tajam ke arah Juna. Juna yang saat itu sedikit kaget harusnya segera menghindar. Namun, namanya juga Juna. Dia langsung mati langkah saat dirinya sedang panik.


Para pentonton meneriaki Juna agar menghindar. Namun, mereka kalah cepat dan kalah hebat. Raket tenis milik Dira jatuh tepat mengenai kepala Juna.


Brukkk


Shock dan nyeri, Juna ambruk seketika.


Atha yang berada di luar area lapangan tentu saja langsung berlari menghampiri Juna. Suaminya itu tidak sadarkan diri meskipun berkali-kali Atha memanggilnya.


Suasana yang semula ceria menjadi panik. Elang segera menyuruh sopir untuk menyiapkan mobil. Ia akan membawa Juna ke rumah sakit. Juna khawatir terjadi apa-apa pada Juna jika tidak segera di tangani.


***

__ADS_1


Rumah Sakit Mitra Harapan


Atha berjalan mondar-mandir di depan pintu UGD. Sudah setengah jam Juna berada di dalam dan dokter yang menangani Juna belum juga keluar. Ia melirik kembali arloji yang melingkar cantik di pergelangan tangan kirinya. Rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali.


"Ini semua gara-gara kalian. Jika terjadi apa-apa dengan Juna. Saya akan menuntut kalian semua" ucap Atha. Ia benar-benar emosi saat ini.


"Maaf, dokter Atha! Kami juga tidak tahu jika akan seperti ini...." ucapan Elang terpotong.


"Ini semua salah Kadir. Dia yang harus tanggung jawab" kata Kiara.


Atha menatap tajam ke arah Kiara. Ia tidak senang mendengar ucapan Kiara barusan.


"Kau pikir ini bukan salahmu juga hah? Andai saja kau tidak ngidam aneh-aneh. Suamiku tidak mungkin seperti ini. Aku benar-benar akan menuntut kalian jika terjadi sesuatu pada Juna" tegas Atha.


Ceklek


Pintu kamar UGD terbuka. Atha langsung berlari menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan itum Atha sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Juna. Hatinya cemas tak karuan.


"Bagaimana kondisi suami saya, dokter?" tanya Atha.


"Pasien tidak apa-apa. Hanya pingsan. Sebentar lagi juga sadar. Ibu tidak perlu khawatir. Semua baik-baik saja" ucap dokter itu kemudian pamit meninggalkan Atha.


Semua orang di sana bernafas lega tatkala mendengar penjelasan dokter itu. Untung saja Juna hanya pingsan sehingga Kiara bisa sedikit tenang saat ini.


Kiara hendak masuk untuk melihat Juna. Namun, langkahnya terhenti akibat rentangan kedua tangan Atha. Ia melarang siapapun masuk melihat Juna karena dirinya sendiri yang akan masuk terlebib dahulu.


"Juna" panggil Atha lirih.


Ia berjalan perlahan menuju tempat Juna berbaring. Seperti biasa, Atha akan duduk di samping Juna, mengusap wajah Juna dengan sayang.


Atha merasa dejavu. Baru kemarin Juna berada di rumah sakit, sekarang ia kembali masuk rumah sakit.


"Emmhh.... Emmmh...." Juna mengeluarkan suara, pertanda ia siuman.


"Juna...! Juna....!" panggil Atha.


Juna membuka kedua matanya dengan perlahan. Dilihatnya wajah cantik Athalia yang berada di hadapannya.


Juna tersenyum. Ia merasa senang sekali bisa melihat wajah istrinya itu.


"Kamu di sini?" tanya Juna.


"Tentu saja aku di sini, Jun. Aku tidak mungkin meninggalkanmu" ucap Atha dengan suara bergetar.


"Kau meninggalkanku saat di Paris dan itu membuatku sedih."


Deg.


Hati Atha bergetar saat mendengar ucapan Juna. Juna mengingat saat dirinya meninggalkan Juna di Paris. Juna mengingat kejadian itu?


"Kau mengingatnya?" tanya Atha heran.


"Tentu saja saya ingat. Kau merajuk selama di Paris. Membiarkanku berjalan-jalan sendiri. Kau sangat tega meninggalkan saya di Paris seorang diri selama bulan madu kita."


Kedua netra Athalia langsung berkaca-kaca. Aia dapat menyimpulkan jika Juna sudah mengingat tentang dirinya. Namun, Atha perlu bertanya lagi untuk memastikan jika dugaannya benar.


"Kau ingat siapa aku?" tanya Atha.


"Kau bertanya seperti itu? Haruskah saya menjawab? Kamu ini istriku. Istri yang saya nikahi secara sah di mata hukum dan agama. Kau aneh sekali. Sudah berbulan-bulan menikah masih saja bertanya siapa aku" omel Juna.


Atha langgsung memeluk Juna. Ia sangat bahagia karena Juna sudah kembali mengingatnya. Mungkin saja efek terkena raket tenis milik Dira menyebabkan Juna sembuh. Entahlah, Atha juga tidak peduli. Yang terpenting sekarang hatinya benar-benar bahagia.

__ADS_1


__ADS_2