
Lia sedang duduk menikmati semangkuk es oyen yang ia pesan di cafe milik Andika. Saudaranya itu ternyata tidak minta diantarkan ke rumahnya melainkan ke cafe miliknya. Andika akan mengadakan rapat dengan karyawannya mengenai performa dan pelayanan karyawan. Hal itu harus ia lakukan mengingat cafe milik Andika baru buka seminggu yang lalu.
Lia yang langsung ditinggal sendirianpun tentu saja tidak masalah. Lia lebih suka ditemani makanan dan minuman daripada ditemani Andika. Saudara jauhnya yang usil itu. Lia langsung memesan es oyen, tak lupa ia memberi catatan jika es oyen pesanannya harus full dengan alpukat dan kelapa muda.
Untung saja Andika sudah pergi sehingga ia tidak tahu pesanan Lia. Andai saja Andika tahu, pasti Lia sudah dijewer olehnya karena sudah mendapat jatah gratis, malah request lagi sesuai permintaan.
Lia hanya menunggu selama sepuluh menit untuk semangkuk es oyen pesanannya dan bonus berupa sepiring bakwan goreng alias ote-ote. Semua karyawan sudah mengetahui jika Lia adalah saudara bos mereka. Jadi tak heran jika Lia mendapatkan keuntungan lainnya.
"Terima kasih ya" kata Lia kepada pelayan yang mengantarkan makanannya.
Setelah pelayan itu pergi, Lia langsung menyantap es oyennya dengan perlahan. Namun, baru saja Lia menghabiskan setengah mangkuk es oyennya. Sebuah gebrakan meja membuatnya kaget. Lia hampir saja melemparkan sendok es oyennya ke depan jika tidak melihat siapa yang sedang duduk di hadapannya.
Wanita berambut sebahu dengan tatapan tajam seolah mengintimidasi Lia. Diandra, duduk di hadapan Lia. Wajahnya memancarkan aura permusuhan yang mampu mencairkan es batu yang ada di mangkuk Lia.
"Iya? Kenapa?" tanya Lia heran. Ia tidak tahu angin apa yang membawa wanita itu duduk di hadapannya.
"Iya? Kenapa? Manis sekali mulutmu itu" maki Diandra setelah mengulangi pertanyaan Lia.
Lia mengerjapkan kedua matanya, sedikit bingung menghadapi situasi saat ini. Bagaimana bisa dirinya yang semula tenang menikmati se mangkuk es oyen, tiba-tiba didatangi mahkluk horor seperti Diandra? Apa cafe Andika belum didoakan sehingga pengaruh energi negatif gampang masuk ke tempat ini?
"Aku peringatkan kamu jangan coba-coba mendekati Juna" kata Diandra dengan tatapan tajam seakan ingin memangsa Lia hidup-hidup.
"Juna? Pak Juna maksudnya?."
"Tentu saja! Siapa lagi kalau bukan dia. Juna milik aku. Tidak ada yang boleh memilikinya selain aku. Paham?" kata Diandra terus mengintimidasi Lia.
"Oh... Nggak tuh. Gue nggak paham apa maksud Mbak. Lagipula siapa situ dengan pedenya mengklaim Pak Juna sudah jadi milik situ? Pacarnya? Emaknya? atau Neneknya?" sahut Lia santai. Ia sepertinya tidak gentar menghadapi tekanan yang diberikan Diandra sejak tadi.
"Jaga mulutmu, anak kecil. Aku ini kekasihnya."
"Kekasihnya? Mantan kali, Mbak. Gue masih inget Pak Juna bilang kalau Mbak nya yang ninggalin Pak Juna. So, Why must I follow you, hah?"
Lia langsung mengeluarkan bahasa asingnya. Menurut Lia daripada ia mengumpat dengan bahasa binatang lebih baik ia menggunakan bahasa asing biar lebih keren dan berkelas.
"Berani kamu ya? Kamu tidak tahu saya ini siapa?."
"Nggak tahu tuh dan gue nggak mau tahu soal siapa situ" sahut Lia cuek.
"Kamu benar-benar cari masalah. Saya ingatkan sekali lagi. Jangan mendekati Juna! Anak kecil seperti kamu tidak pantas bersanding dengan Juna."
"What? Anak kecil? Hei, Mbak. Ngaca dong. Yang kecil tuh punya suami Mbak. Kalau punya gue gede kali. Jadi jangan panggil gue anak kecil. Understand?" teriak Lia tanpa sadar.
Teriakan Lia berhasil membuat pengunjung yang lain menoleh ke meja mereka. Berbagai ekspresi bermunculan. Ada yang mengernyitkan dahi, ada yang mesem-mesem, ada pula yang hanya menggelengkan kepala.
Mereka tidak habis pikir dengan apa yang sedang diperdebatkan dua wanita itu. Besar, kecil? pembahasan yang tidak seharusnya dibahas di tempat umum melainkan di kamar tidur.
Andika yang semula sedang membriefing karyawannya langsung saja menoleh ketika mendengar Lia berteriak. Betapa terkejutnya Andika melihat Lia sedang bersitegang dengan Diandra. Apalagi Dika sempat mendengar teriakan Lia tentang besar kecil.
Dika langsung berlari mendekati meja mereka. Bagaimanapun keributan Lia dan Diandra akan mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain. Andika tidak mau cafe yang baru saja buka seminggun ini tidak mendapat rate bintang lima akibat kegaduhan mereka.
"Diandra, Hani, ada apa? Kenapa kau berteriak, Hani?" tanya Andika.
"Kau?" Diandra kaget melihat kemunculan Andika yang tiba-tiba.
"Kenapa ke sini? Mau ngapain? Juna nggak ada di sini" kata Andika.
"Aku ada perlu dengan dia" sahut Diandra menujuk Lia yang sebenarnya sudah mengambil ancang-ancang ingin menyiram muka Diandra dengan sisa es oyennya.
"Ada perlu apa dengan saudaraku, hah?."
__ADS_1
"Saudaramu?."
"Iya, Hani adalah saudaraku."
"Baguslah kalau dia masih saudaramu. Maka aku punya seseorang yang bisa mengingatkannya agar tidak mendekati Juna lagi."
"Harusnya kau yang diingatkan agar tidak mendekati Juna lagi. Apa kau amnesia hah? Kau ini sudah membuang Juna demi menikah dengan Arya" sahut Dika geram.
"Wait, Dika! Arya itu suaminya Mbak ini?" celetuk Lia.
Andika mengangguk.
"Oohhhhh.... jadi punya si Arya toh yang kecil???? makanya Mbak ini masih gatel, ngejar-ngejar Pak Juna" teriak Lia dengan lantang. Hal itu langsung saja membuat wajah Diandra merah padam.
"Maksud kamu apa, Hani?" tanya Andika tidak mengerti.
"Iya, Dika! Kemaren dia ngejar-ngejar Pak Juna karena punya lakinya kecil nggak sebesar punya Pak Juna" teriak Lia lagi.
"Hussshhhhh....!!!"
Andika langsung menutup mulut Lia. Ucapan Lia barusan tentu saja mengundang gelak tawa pengunjung yang lain. Andika tidak habis pikir mimpi apa ia semalam sampai-sampai ada keributan seperti ini di cafenya? Harusnya ia tidak mengajak Lia masuk dan menyuruhnya langsung pulang. Lia kalau diajak ribut, bukannya diam tapi malah melawan.
"Diandra, lebih baik kamu pulang ya. Kamu tidak mau kan lebih malu lagi di sini" bujuk Dika dan benar saja Diandra langsung angkat kaki dengan wajah merah padam.
"Sialan tuh cewek. Emang bener ya dia mantannya Pak Juna?" tanya Lia ketika Andika melepas bekapan tangannya.
"Iya, malah mereka pacaran selama lima tahun."
"What? Pak Juna sehat, ya, pacaran sama cewek sinting selama lima tahun?" tanya Lia tak percaya.
"Dulu Diandra nggak kayak gitu. Gue juga nggak tahu sejak kapan dia jadi aneh begitu."
"Sejak tahu punya lakinya kecil, lebih gede punya Pak Juna" celetuk Lia cuek.
"Emang bener kali. Gue ada di situ kok waktu mereka berantem masalah besar kecil" sahut Lia.
"Beneran? Gimana ceritanya?" tanya Dika penasaran.
Lia menceritakan peristiwa beberapa hari yang lalu ketika dirinya menjemput Juna. Andika yang mendengarkan cerita Lia, hanya mampu menganga dan tergelak. Ia tidak menyangka jika Juna mengalami pelecehan di tempat umum apalagi pelakunya adalah Diandra, gadis polos yang pernah menjadi kekasih Juna selama lima tahun.
"Sekarang gue tanya sama lu. Lu ada rasa sama Juna?" tanya Andika.
"Gue? sama Pak Juna? Emmm.... gimana ya?."
"Lu suka sama Juna?" tanya Andika lagi.
"Emm... gimana ya, Dika. Gue juga mau jelasin susah" Lia menerawang, menatap langit-langit cafe milik Andika. Mendapat pertanyaan seperti itu membuatnya bingung untuk menjawab.
"Alah, apanya yang susah! Lebih susah soal matematika yang lu buat kali. Serius gue mau tanya, lu suka sama Juna?" Dika kembali mengulang pertanyaannya.
"Gue bingung, Dika. Tauh ah gue pulang aja. Bye" Lia langsung kabur meninggalkan Andika yang masih melongo di tempat duduknya.
Sementara itu di kediaman Pak Zaini, Noval sedang gelisah menatap langit-langit kamarnya. Sejak pulang dari SMA Cendekia, Noval langsung mengurung diri di kamarnya. Hatinya gelisah, gelisah memikirkan Lia. Sudah dua jam Noval hanya bergulung-gulung di kasurnya. Hingga akhirnya Maya, istri Pak Zaini memanggilnya keluar untuk makan siang.
"Kamu ngapain aja sih Noval? Tidur? Dari tadi Mbak panggil-panggil lho buat makan siang."
Noval tak menyahut. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi sembari menatap malas berbagai makanan yang terhidang di meja.
"Mas Zaini kemana, Mbak?" tanya Noval. Ia sepertinya harus berbicara dengan kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Lah? Kamu ini bagaimana sih Noval? Itu yang duduk di kursi paling pojok siapa? Mas Zaini kan?" tunjuk Maya. Ia sangat heran dengan tingkah adiknya yang tiba-tiba aneh seperti itu.
"Ada apa Noval? Kamu sepertinya sedang ada masalah. Kenapa? Apa ada kendala dalam pekerjaanmu?" tanya Pak Zaini.
"Bukan di pekerjaan, Mas."
"Lalu?."
"Di hatiku, Mas."
"Ciyeeeeeee" Maya langsung meledek adiknya.
"Apaan sih, Mbak? Rame aja! Mas Zaini, bantu Noval dong."
"Bantu? Bantu apa?."
"Bantu ngelamar anak orang" sahut Noval malu-malu. Ia langsung menutup wajahnya dengan kain serbet agar kakak dan iparnya tidak bisa melihat seperti apa wajahnya sekarang.
"Ya ampun, Noval. Kamu sudah insyaf ya? Syukurlah kalau begitu. Siapa sih gadis yang mau kamu lamar?" tanya Maya antusias.
"Emmmm.... itu, Mbak. Guru baru di SMA Cendekia" sahut Noval lagi malu-malu.
"APA?! GURU BARU DI SEKOLAH???" teriak Pak Zaini membuat Noval segera membuang serbet yang sedari tadi menutupi wajahnya.
"Kenapa, Mas? Emang ada guru baru di sekolah?" tanya Maya karena memang ia tidak tahu tentang hal itu.
"Ada. Namanya Lia. Kamu mau melamar Lia?" tanya Pak Zaini lagi.
Noval mengangguk. Ia tersipu malu sembari memperlihatkan giginya yang putih. Maya langsung saja melempar tisu ke wajah adiknya itu agar berhenti menampakkan wajah konyolnya.
"Kamu baru nganterin lontong aja sudah jatuh hati. Noval.... Noval... Mas nggak habis pikir" kata Pak Zaini tertawa kecil.
"Yah... bagaimana lagi, Mas. Namanya cinta datangnya dari mata turun ke hati"
"Bukan dari lontong turun ke hati?" ledek Maya.
"Ah... sudah dong ledeknya. Mas Zaini, Mbak Maya, mau kan bantu Noval melamar guru baru itu? Waktu cuti Noval cuma seminggu. Setelah itu Noval harus kembali ke Jakarta. Noval takut guru baru itu disambar orang kalau kita terlambat."
"Memangnya kamu sudah yakin? Nggak mau PDKT dulu?" tanya Pak Zaini.
"Noval yakin, Mas. Kalau perlu Noval nikahin besok juga boleh" kata Noval terkekeh sendiri.
"Kalau Noval sudah mantap begitu. Kita iyain aja lah, Mas. Lagipula Noval sudah masuk kepala tiga. Sudah cukup umur. Mumpung Noval insyaf, Mas. Kita harus gerak cepat" usul Maya memberi dukungan kepada Noval.
"Yasudah kalau semua sudah setuju. Mas Zaini akan ke rumah Lia besok."
"Loh kok besok? Nanti malam aja lah, Mas" rengek Noval.
"Ya ampun Noval kamu kok tidak sabar begini sih?" tanya Maya heran.
"Lebih cepat lebih baik, Mbak."
Pak Zaini menghela nafas. Rupanya adik iparnya itu sudah kebelet ini menikah.
"Yasudah, segera bersiap. Nanti malam kita ke rumah Lia untuk melamar" kata Pak Zaini.
"Serius, Mas?."
"Iya, cepat kamu siap-siap! Setengah tujuh kita berangkat" perintah Pak Zaini.
__ADS_1
"Loh, Mas, jangan mendadak gitu. Kita belum ada persiapan" protes Maya.
"Udah, Mbak, jangan ribet. Bawa aja seperangkat alat sholat ama dollar, mumpung dollar di dompet Noval masih banyak" sahut Noval santai.