
Zeze langsung berlari pontang-panting tatkala melihat banyak orang berdiri di hadapan rumah sewaannya. Ia berlari menuju kamar Diandra, berniat membangunkan Diandra yang mungkin saja baru terlelap.
Semalam, entah mengapa Arjuna yang biasanya anteng menjadi rewel. Juna menangis tak henti-henti sehingga membuat Diandra begadang. Zeze, Diandra dan Mbok De bergantian menggendong Juna agar sama-sama bisa beristirahat. Tapi tetap saja, Diandra sebagai ibu dari Juna mendapat jam terjaga lebih banyak.
"Dian, Dian, bangun sebentar! Gawat nih!" kata Zeze sembari menggoyang-goyangkan badan Diandra.
Diandra menggeliat. Beberapa kali menguap. Kedua maganya terasa berat sekali untuk terbuka.
"Apaan sih, Ze? Aku masih ngantuk? Apa Juna nangis lagi?" tanya Diandra dengan mata yang masih terpejam.
"Juna nggak nangis. Mbok De sedang bawa Juna jalan-jalan. Kamu harus ke depan. Banyak orang berdiri di sana seperti mau demo."
Diandra bangkit dari tubuhnya. Ia bergerak dengan malas. Zeze mengernyitkan dahi melihat pergerakan langkah Diandra. Bukannya ia keluar menemui para pendemo, Diandra malah mengambil tas dan melemparkan segepok uang kepada Zeze.
"Eh? Kenapa malah ngasih uang?" tanya Zeze heran.
"Lemparkan saja kepada mereka! Ganggu orang lagi tidur saja. Mereka tidak mau bertemu denganku. Mereka hanya mau uangku" jawab Diandra dan kini ia kembali merebahkan tubuhnya sembari memeluk guling.
Ck! Zeze berdecak sebal. Selama kurang lebih tiga tahun mengenal Diandra, Zeze baru melihat sisi lain dari temannya itu. Diandra yang ia kenal di Bali mengapa berubah seperti mahkluk asing di sini? Apakah Zeze salah bawa orang? Apakah Diandra hang dibawanya tertukar saat di pesawat?
"Diandra, kamu yakin nggak mau bertemu mereka? Aku takut lho, mereka bawa celurit juga."
"Sudah ku katakan mereka hanya butuh uangku. Cepat keluar dan lemparkan uang itu! Aku benar-benar mengantuk" usir Diandra.
Zeze menghela nafas kasar. Ia kemudian beranjak dari kamar Diandra menuju teras rumah. Sebelum membuka pintu, Zeze mengintip sebentar melalui celah jendela. Ia kembali bergidik ngeri ketika melihat beberapa laki-laki mengacungkan celuritnya ke atas.
"Aduh, Diandra salah apa sih? Kenapa sampai di demo begitu? Ngeri-ngeri sedep kan gue?" gumam Zeze.
Zeze menarik nafas panjang. Ia kemudian membuka pintu secara perlahan dan berjalan menghampiri kerumunan warga itu.
Zeze hendak berbicara dengan mereka. Namun, belum sempat Zeze mengucapkan sepatah katapun, ia sudah diserbu dengan berbagai ucapan yang ia sendiri tidak paham artinya apa.
Zeze hanya bisa menangkap jika orang-orang di hadapannya sedang marah. Nyali Zeze langsung ciut. Ia kembali masuk dan membangunkan Diandra. Terserahlah jika nanti Diandra akan marah.
"Apaan sih Ze?" gerutu Diandra kesal.
"Aku nggak paham mereka ngomong apa. Kamu aja yang ke sana."
"Aku nggak nyuruh kamu ngobrol sama mereka. Cukup lemparkan uang itu dan masuk kembali."
Zeze menggeleng. Ia mengembalikan segepok uang yang tadi diberikan oleh Diandra. Setelah itu, Zeze langsung menarik tubuh Diandra dan menyeretnya ke luar.
Melihat kemunculan Diandra, para warga kembali ramai. Mereka mencaci maki Diandra dengan bringas. Zeze yang tidak paham dengan bahasa mereka, hanya bisa menjadi penonton. Ia menunggu langkah apa yang akan dilakukan oleh Diandra.
Buugggg.
Diandra melempar segepok uang ke arah warga. Sontak para warga langsung belingsatan, berebut untuk mengambil pecahan merah.
__ADS_1
Diandra tersenyum sinis. Watak para warga dikampungnya memang tidak berubah. Gampang dihasut dan mata duitan.
Diandra membiarkan para warga saling berebut memungut uang yang tadi dilemparnya. Ia memutar badannya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Begitu saja kau tidak bisa, Ze. Ganggu orang tidur aja" cibir Diandra saat berpapasan dengan Zeze.
Zeze tidak menjawab. Ia melirik Diandra melalui ekor matanya. Rupanya Diandra kembali masuk ke dalam kamarnya. Zeze yang sedang dalam mode kepo akut kembali mengintip tingkah orang-orang di depan rumah sewaannya. Ia langsung menganga melihat mereka berebut, saling sikut memungut lembaran-lembaran merah hasil lemparan Diandra.
"Bodoh!"
Zeze terkejut ketika melihat sosok laki-laki yang berteriak. Para warga itu langsung diam dan tak berkutik. Kedua netra Zeze langsung membola ketika melihat laki-laki itu menampar para warga satu persatu.
"Ya ampun, Diandra! Kamu ada masalah apa sih? Apakah laki-laki itu juragan tanah? Apakah Diandra punya hutang dengan laki-laki itu?" gumam Zeze kembali bergidik ngeri.
Zeze lalu berlari ke kamar Diandra. Ia kembali membangunkan Diandra untuk memberitahu perihal laki-laki yang menampar para warga.
"Apalagi, Ze? Aku mengantuk. Jangan ganggu!" bentak Diandra dan itu kembali membuat Zeze tercengang.
Selama mengenal Diandra, Zeze baru sekali mendapat bentakan dari Diandra. Zeze semakin bingung. Sepertinya Diandra sedang kesambet sehingga berlaku tidak seperti biasanya.
"Di... Di.. Lu...ar... Ada laki-laki. Dia menampar para warga. Kamu harus keluar. Aku takut dia ada kaitannya denganmu" ucap Zeze takut.
Diandra kembali bangkit dari tidurnya. Ia mengeram kesal dan bergegas menuju luar rumah.
"Aku membayar kalian agar mengamuk dan menyeret wanita sialan itu. Mengapa kalian malah berebut uang di sini?."
"Kau masih hidup?" tanya Diandra sembari tersenyum sinis.
Arya, sosok laki-laki yang sedang memarahi warga, seketika berhenti ketika mendengar suara Diandra. Wajahnya langsung tercengang melihat perubahan Diandra yang berbeda. Di mata Arya, Diandra terlihat jauh lebih cantik dan sexy. Arya yang semula ingin mengamuk seketika lupa dengan niatnya itu.
"Dian...? Kau...?" ucapan Arya tak berlanjut karena dirinya masih dalam mode terhipnotis dengan pesona Diandra.
"Laki-laki impoten ini masih hidup rupanya. Bagaimana kabar burungmu? Apakah masih lemas tak berdaya? Hahahaha...." tawa Diandra di sambut gelak tawa warga yang lain. Mereka yang semula berada dipihak Arya seketika berubah haluan berada di pihak Diandra.
"Ak...aku...sudah sembuh. Burungku sudah kuat. Bisa untuk lima ronde atau lebih" ucap Arya.
Tawa warga semakin pecah.
"Memangnya aku peduli? Oh iya aku dengar kau merampas rumahku karena hutang Ayah. Cepat katakan berapa hutang Ayah karena aku akan melunasinya" tantang Diandra.
"Tidak perlu. Rumah itu akan kembali padamu asal kau mau kembali menjadi istriku" ucap Arya.
Diandra tertawa terbahak-bahak. Ucapan Arya benar-benar menggelitik perutnya. Andai ada balok kayu, ingin rasanya menampol Arya dengan benda padat itu sehingga ia sembuh dari amnesianya.
"Tertawamu menyeramkan sekali. Tapi aku tetap suka" kata Arya.
"Cih! Tak sudi aku bersamamu lagi. Kau lupa jika kau sudah menjatuhkan talak tiga kepadaku hah?."
__ADS_1
"Talak tiga? Kata siapa? Aku menjatuhkan talak satu padamu. Artinya kita masih bisa rujuk lagi" ucap Arya dan ia dengan cepat mengambil tangan Diandra, hendak menciumnya.
Plasss.
Diandra menghempaskan tangan Arya.
"Jangan sentuh aku, laki-laki impoten! Aku tidak sudi kulit cantikku disentuh oleh laki-laki sepertimu."
"Apa???!!! Kau berani sekali mengataiku seperti itu?" Arya mulai naik darah.
"Kenapa harus takut? Aku bukan Diandra yang dulu. Aku sudah berubah. Jika dulu kau bisa menginjak keluargaku, tapi tidak untuk saat ini. Aku yang akan menginjak keluargamu sampai hancur dan bersatu dengan tanah."
Zeze langsung bergidik ngeri mendengar ucapan Diandra. Ia yang sedari tadi menguping merasa ketakutan dengan perubahan watak Diandra yang baginya sangat menyeramkan.
Zeze sepertinya ingin segera pulang. Berada di kampung Diandra membuat dirinya ketakutan. Ia yang harusnya segera pergi, masih betah menguping karena di sisi lain hatinya masih kepo dengan masa lalu Diandra.
"Mamaaaaa......." teriak Arjuna.
Balita lucu itu langsung turun dari gendongan Mbok De dan berlari ke arah Diandra. Juna mengulurkan tangannya, meminta Diandra agar menggendongnya.
"Dia... Dia... Anak haram itu?" tanya Arya. Ia tercengang melihat Diandra yang sedang menggendong Juna.
"Kau memiliki anak dengan laki-laki miskin itu? Kau melahirkan benihnya? Diandra, katakan jika anak itu bukan anak hasil perbuatanmu dan Juna! Katakan jika anak itu bukan anakmu!" teriak Arya.
"Penting? Haruskah aku menuruti perintahmu? Kau bukan siapa-siapa. Jadi jangan harap aku akan mematuhi perintahmu."
Arya yang naik darah tentu saja semakin kesal dengan perkataan Diandra. Ia langsung menghampiri Diandra, menarik tubuh Juna agar lepas dari gendongan Diandra.
Lalu terjadilah aksi rebutan antara Arya dan Diandra. Diandra yang sedang naik darah pun segera menginjak kaki Arya dan menendang pusakanya.
Arya mengaduh. Ia meringis kesakitan. Wajahnya merah padam menahan sakit dan malu karena diperlakukan seperti itu di hadapan banyak orang.
"Sekali impoten tetap impoten" maki Diandra dan ia merasa semakin di atas angin.
"Kau benar-benar wanita iblis!."
"Iblis? Mana ada iblis yang cantik dan sexy sepertiku? Kau perlu cermin besar ahar bisa berkaca dengan teliti."
Sungguh Zeze ingin melempari Diandra dengan bantal ketika mendengar ucapan itu. Sudah mengerikan, narsis lagi.
"Aku tidak akan diam, Dian. Tunggu pembalasanku" ucap Arya kemudian ia lari terbirit-birit.
Diandra tertawa terbahak-bahak. Senang rasanya melihat mantan suaminya berlari ketakutan seperti itu.
"Kalian kenapa masih di sini?" tanya Diandra dengan wajah datarnya.
"Apa uang yang aku lemparkan belum cukup membungkam mulut kalian?."
__ADS_1
Para warga mulai mundur teratur. Melihat tatapan Diandra yang mengerikan membuat nyali mereka menciut. Lagi pula kantong dan sarung mereka sudah berisi uang. Cukuplah untuk membeli beras dan lauk dalam seminggu ke depan.