HEI JUN

HEI JUN
58


__ADS_3

Juna segera berlari menuju kamar rawat Kiara. Setelah mendapat telepon mengenai lamarannya, Juna langsung memutar otak, mendaftar apa saja yang akan ia persiapkan untuk tahap selanjutnya.


Jujur saja, Juna tidak mau berlama-lama. Ia sudah berniat menikahi Athalia minggu depan. Bukan tanpa perhitungan, Juna khawatir Athalia kabur. Juna harus mengikatnya secepat mungkin. Meskipun dengan resiko ia menikahi Athalia tanpa cinta.


Juna akan meminta saran pada Kiara dan Elang bagaimana cara menyiapkan pernikahan selama satu minggu. Juna tidak ingin mengadakan pesta besar-besaran. Cukup akad nikah sederhana yang dihadiri oleh keluarga dan teman-teman terdekat dari kedua pihak.


Deg.


Keluarga. Satu kata itu membuat Juna memelankan langkahnya. Sepertinya Juna melupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.


"Mas Haris, Mbak Ines" gumam Juna lirih. Ia berhenti berlari, teringat kedua saudaranya itu.


Apa kabar keluarganya? Dimana mereka sekarang? Berbagai macam pertanyaan langsung muncul memenuhi kepala Juna. Efek dibawa kabur dari satu tempat ke tempat yang lain membuat Juna putus komunikasi dengan saudaranya itu.


Satu tahun lebih, Juna tidak berkomunikasi dengan saudaranya. Mereka sama-sama tidak mengetahui kabar masing-masing. Juna langsung cemas. Pikirannya diserbu berbagai pertanyaan yang kompak mengganggu dirinya.


Apakah Haris dan Ines mencarinya? Apakah mereka baik-baik saja? Bodoh! Juna benar-benar bodoh!. Ini tidak akan terjadi jika bos absurdnya itu tidak membuang ponsel milik Juna ke sungai. Juna seharusnya meminta nomor ponsel yang sama saat dibelikan ponsel baru oleh Edward. Kalau sudah begini, bagaimana Juna bisa menghubungi Haris dan Ines?


Juna harus segera bertemu mereka. Haris dan Ines wajib mendampingi Juna saat akad nikah nanti. Bagaimana bisa Juna melupakan Haris dan Ines saat melamar Athalia? Ia seperti anak sebatang kara yang dipungut keluarga Sanjaya. Pulang! Juna harus pulang.


Juna menyadari kekeliruannya. Saat ini dia harus segera pulang kampung, menjemput Haris dan Ines dan membawanya ke Jakarta. Juna juga akan menyekar ke makam Bu Tias dan melihat puing-puing rumahnya jika masih ada.


"Nyonya bos, saya izin mau pulang" ucap Juna saat tiba di kamar rawat Kiara.


"Pulang?" beo Kiara.


"Pulang saja, Mas Juna. Nanti Abang Dira ke sini kok. Mas Juna mau siap-siap kerja ya?" ucap Elang yang mengira jika Juna akan pulang ke apartemennya.


Juna menggeleng.


"Mmm... Saya bukan mau pulang ke apartemen, Mas Elang. Tapi saya mau pulang kampung."


"Pulang kampung?" Kiara dan Elang langsung saling pandang mendengar ucapan Juna.


"Mas Juna mau ke Pare?" tanya Kiara lagi karena setahu Kiara, Juna tinggal di Pare.


Juna menggeleng.


"Kampung saja di Madura, Nyonya. Pare itu kampung bapak saya. Waktu Tuan Dira menemukan saya, saya baru saja pindah ke Pare karena suatu hal" jawab Juna menjelaskan.


"Ada masalah? Mengapa tiba-tiba Mas Juna mau pulang kampung?" selidik Kiara.


"Tidak ada, Nyonya. Saya hanya ingin menjemput kedua saudara saya karena minggu depan saya akan menikah dengan Atha."


"APA???!!!" Elang dan Kiara kompak berteriak bersamaan. Untung saja Kiara tidak sedang memegang piring sehingga tidak ada yang bisa ia lempar.


"Mas Juna serius?" tanya Kiara.


"Saya serius, Nyonya. Pak Fajar baru saja menelpon saya dan mengatakan jika lamaran saya diterima. Saya memutuskan akan menikahi Athalia minggu depan."


"Mas Juna, maaf ya. Maaf banget pake banget double. Kiara bukannya nggak suka Mas Juna nikah. Tapi Mas Juna lihat sendiri kan kalau dokter Atha menolak? Mas Juna apa mau nikahin gadis yang tidak mencintai Mas Juna?" ucap Kiara cemas.

__ADS_1


"Cinta akan datang karena terbiasa, Nyonya. Saya akan berjuang mendapatkan cinta Athalia meskipun syulit syekali."


Kiara dan Elang kembali saling memandang. Seperti biasa mereka akan berkomunikasi tanpa bersuara.


"Aku akan menelepon Lita agar menyiapkan pesawat untukmu" ucap Kiara.


"Terima kasih, Nyonya. Bukannya menolak, tapi saya ingin naik pesawat ekonomi saja" ucap Juna.


Juna sudah mempertimbangkan matang-matang mengapa ia memilih untuk naik pesawat ekonomi. Ia tidak ingin membuat gaduh orang-orang di kampungnya. Juna ingin datang layaknya orang biasa, bukan seorang sultan yang kesana kesini menggunakan pesawat pribadi. Toh, faktanya Juna memang seorang karyawan di Sanjaya corp.


"Tapi kalau naik pesawat pribadi lebih cepat, Mas Juna" Kiara masih membujuk Juna.


Juna tetap menggeleng. Ia tetap teguh akan pendiriannya.


"Baiklah, Mas Juna diantar supir ke bandara. Saya akan menelepon Lita untuk memesankan tiket ke...." Kiara bingung.


"Surabaya, Nyonya Bos" jawab Juna.


"Surabaya? Bukankah kampungmu di Madura?" tanya Kiara heran.


Juna nyengir.


"Bandara di Madura belum beroperasi, Nyonya bos. Jadi kalau mau kesana, harus naik pesawat ke Surabaya. Baru setelah itu naik bus" ucap Juna menjelaskan.


Kiara mengangguk. Ia segera menelpon sekretarisnya agar memesankan tiket untuk Juna. Juna langsung pamit dan bergegas pulang ke apartemennya terlebih dahulu.


***


Juna berdiri kaku ketika dirinya kembali menginjakkan kaki di desa papaten. Perlahan, memori tentang kehidupan Juna bermunculan dalam otaknya. Bayangan Bu Tias yang berdiri menyambut kedatangan Juna nampak di kedua netranya.


'Emak' panggil Juna lirih.


Juna melangkah perlahan menyusuri jalanan di gang sempit. Ia ingat dulu Lia menunggunya di sini. Ia ingat dulu dirinya dan Diandra melewati jalan ini. Kenangan dua perempuan itu masih melekat di otak Juna.


'Anakmu pulang, Mak'


Hati Juna merasa teririsJuna menoleh ke kanan dan ke kiri. Desa papaten belum banyak yang berubah. Jalanan berlubang yang belum diaspal, rumah-rumah penduduk yang rapat dan sempit, serta fasilitas umum yang masih juga tidak terawat.


Juna menghela nafas. Ia terus berjalan dengan pandangan kosong. Langkahnya baru berhenti di area tanah kosong. Tanah bekas rumah yang ditempati oleh Juna. Tanah itu dibiarkan begitu saja. Mungkin kedua saudara Juna tidak lagi menghiraukan peninggalan Emak mereka.


Juna tersenyum getir. Ia menatap tanah itu dengan nanar. Ia tidak menyadari jika sejak tadi banyak pasang mata yang mengamatinya. Mereka bertanya-tanya dengan sosok laki-laki yang sedang berdiri di lahan kosong bekas rumah Bu Tias.


"Maaf, Anda siapa?"Juna langsung menoleh ketika seseorang menepuk bahunya.


Juna tersenyum.


"Bapak tidak kenal saya?" tanya Juna yang di jawab gelengan kepala oleh orang itu.


"Saya tidak kenal. Saya tidak pernah melihat Anda sebelumnya. Maaf, meskipun mungkin kita pernah bertemu. Namanya juga orang tua. Sudah mulai pikun. Jadi harap maklum."


Juna kembali tersenyum. Sepertinya efek air di Barcelona begitu nyata adanya. Bagaimana bisa laki-laki di hadapannya itu tidak mengenalinya? Apakah laki-laki itu tidak ingat jika sejak kecil Juna menjadi musuh bebuyutannya?

__ADS_1


Laki-laki itu adalah Pak RT, orang yang memiliki kebun jeruk paling luas di Desa Papaten. Dulu Juna kecil sering kali dikejar Pak RT karena ketahuan mencuri buah jeruk yang sudah matang. Kalau sudah tertangkap, Pak RT akan membawa Juna kepada Bu Tias. Ia akan meminta ganti rugi buah jeruk yang sudah dimakan Juna. Kalau sudah begitu, mau tidak mau Bu Tias membayar sejumlah uang kepada Pak RT.


Hahaha...


Juna terkekeh mengingat kejadian itu. Meski sudah setahun lebih Juna meninggalkan Desa Papaten, nyatanya kenangan di tempat itu masih membekas di hati Juna.


Pak RT menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa ngeri melihat Juna yang tiba-tiba tertawa seperti itu.


"Ada yang lucu,Pak?" tanya Pak RT.


"Eh, tidak. Saya hanya teringat sesuatu. Ngomong-ngomong lahan ini kosong, Pak?" tanya Juna.


"Kosong, Pak. Dulunya ada rumah di lahan ini. Lalu rumah itu kebakaran, hangus tak bersisa dan ahli warisnya membiarkan lahan ini begitu saja" kata Pak RT.


"Ahli warisnya tinggal di mana?" tanya Juna mengorek informasi dari Pak RT.


"Di kabupaten sebelah. Ada apa ya, Anda bertanya tentang lahan itu? Mau beli?."


"Ya, saya tertarik ingin membeli tanah itu. Apakah Bapak bisa menghubungi ahli warisnya? Saya ingin bertemu sekarang" ucap Juna.


Pak RT itu nampak diam sejenak. Mendengar penuturan Juna yang ingin membeli tanah itu, membuat alarm di kepala Pak RT berbunyi. Ia langsung membayangkan berapa persen yang akan diterima jika Juna jadi membeli tanah itu. Pak RT yakin, jika Haris akan melepas tanah itu. Toh, selama ini baik Haris maupun Ines tidak ada yang mengulik tanah itu. Pak RT harus segera menelpon Haris, membujuknya agar datang ke rumahnya dan mau melepas tanah itu.


"Saya hubungi Haris dulu" ucap Pak RT.


"Haris?."


"Ahli warisnya bernama Haris. Oh, iya dari tadi kita belum kenalan. Saya Mukti, Pak RT disini."


"Udah tau, Pak. Pak Mukti yang buah jeruknya sering saya colong kan?" ucap Juna dalam hati.


"Saya Ju...."


"Ju? Ju siapa, Pak?" tanya Pak RT.


"Juli, Pak. Nama saya Juli."


"Oh pasti lahir bulan Juli ya?" tanya Pak RT lagi.


"Bukan Pak. Saya lahir bulan Desember" jawab Juna bohong.


"Lahir bulan Desember kok diberi nama Juli. Orang tuan sampean kok aneh sekali."


Juna terkekeh kembali.


"Pak, apa boleh saya menunggu di rumah Bapak dulu sambil menunggu yang punya tanah datang?" tanya Juna.


"Wah, boleh dong! Pak Juli kan tamu disini. Saya sebagai Pak RT harus menjamu dengan baik."


"Apa ada jaminan yang punya tanah akan kesini sekarang? Soalnya saya tidak ada waktu. Malam ini harus kembali ke Jakarta" ucap Juna lagi-lagi berbohong.


"Dooohhhh, tenang saja Pak Juli. Semua beres kalau ada Pak RT. Saya akan pastikan si Haris akan datang beberapa jam lagi. Sekarang mari sampean ikut saya ke rumah. Kita ngopi-ngopi sambil makan goreng pisang" ajak Pak RT yang langsung disambut suka cita oleh Juna.

__ADS_1


__ADS_2