HEI JUN

HEI JUN
66


__ADS_3

Juna memandang satu persatu wajah orang-orang yang duduk di hadapannya. Saat ini Juna sedang berada di aula SMA Cendekia. Ia sedang mengadakan rapat terbatas dengan dewan guru dan kepala sekolah SMA Cendekia sekaligus untuk memperkenalkan diri sebagai pemilik sekolah yang baru.


Berbagai ekspresi ditampakkan oleh guru-guru yang nota bene mantan rekan kerja Juna. Ada yang datar, ada yang cemas, dan ada pula yang merah padam. Sungguh pemandangan itu membuat Juna bersusah payah menahan tawa.


Ada apa dengan mantan rekan kerjanya itu? Mengapa mereka terlihat tegang sekali? Rasanya wajah Juna tidak menyeramkan jika dibandingkan dengan pemilik awal SMA Cendekia. Juna juga merasa tidak menampakkan wajah jutek dan dingin di hadapan mereka.


Beberapa kali Juna menatap layar ponselnya untuk memastikan apakah wajahnya menyeramkan atau tidak? Ia takut saja jika citra pemilik sekolah yang baru akan jelek di hari pertama dirinya bertemu anak buahnya.


"Selamat pagi Bapak Ibu dewan guru beserta staf TU. Saya mengucapkan selamat datang kembali di SMA Cendekia" ucap Pak Zaini membuka sambutannya.


"Seperti yang sudah kita ketahui bersama. Jika mulai hari ini pemilik SMA Cendekia berganti orang. Orang itu adalah laki-laki yang tadi memotong pita saat acara peresmian pembukaan kembali SMA Cendekia. Berhubung tadi beliau belum sempat memperkenalkan diri. Maka di kesempatan kali ini, saya selaku kepala SMA akan memperkenalkan pemilik SMA Cendekia yang baru" ucap Pak Zaini lalu menoleh ke arah Juna sembari tersenyum.


"Dimohon kepada Bapak...." ucapan Pak Zaini terhenti. Beliau belum tau siapa nama pemilik SMA Cendekia yang baru.


Pak Zaini buru-buru mengeluarkan kertas di saku celana. Ia membaca contekan yang berisi nama lengkap Juna. Namun, ketika kedua netranya membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Mulut Pak Zaini malah membeku.


Pak Zaini membetulkan kacamatanya berkali-kali. Beliau khawatir jika minus netranya bertambah. Tiga kata yang tertulis di kertas itu benar-benar menggelitik hatinya. Apa benar jika nama yang tertulis itu adalah nama pemilik SMA Cendekia yang baru.


"Ada apa, Pak?" tanya Juna.


Pak Zaini nyengir malu-malu kuda. Beliau menggeleng, berusaha menutupi keherannya. Juna yang semula hendak berdiri, kembali duduk ketika mendapat kode jika tidak terjadi apa-apa.


"Maaf, Bapak Ibu dewan guru san staf TU. Saya ulangi lagi. Dimohon kepada Bapak Mayjuna July Agustino agar berdiri di podium untuk memperkenalkan diri sembari menyampaikan sepatah dua patah kata" ucap Pak Zaini.


Hening. Tidak ada tepuk tangan yang mengiringi perjalanan Juna ke podium. Semua wajah memandang Juna dengan ekspresi aneh.


Juna tersenyum. Ia paham mengapa respon anak buahnya seperti itu. Juna mengetuk-ngetuk ujung microphone dan memulai sambutannya.


"Selamat pagi Bapak Ibu dewan guru beserta staf TU. Perkenalkan nama saya Mayjuna July Agustino. Saya adalah pemilik SMA Cendekia yang baru."


Seseorang mengacungkan tangan. Ia adalah Andika, guru yang menjadi teman Juna dulu.


"Interupsi Bapak pemilik sekolah. Maaf, jika saya menjeda sambutan Bapak. Nama Bapak unik sekali. Kira-kira panggilannya siapa ya?" tanya Andika polos.


"Emmmhh... biasanya orang-orang memanggil saya Mas Ju..."


"Bapak May" sambar Fira dengan lantang.


Semua hadirin langsung menoleh ke arah Fira. Fira langsung menutup mulutnya karena ia keceplosan. Sudah keceplosan, nyaring lagi. Fira bisa merasakan semua mata melotot kepadanya. Dirinya yang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari nyengir kuda.


"Boleh. Kalau kalian mau memanggil saya dengan nama itu. Saya tidak masalah" ucap Juna.


Andika mengangkat tangannya lagi.


"Maaf, Bapak May. Sebenarnya ini tidak penting. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak. Saya ingin bertanya lagi. Apa hanya perasaan saya atau memang nama Bapak yang unik? Nama Bapak seperti gabungan nama-nama bulan dalam bahasa Inggris."


Juna tertawa dalam hati. Ia tidak menyangka jika Andika paham dengan kosa kata Bahasa Inggris. Juna pikir karena Andika hanya paham bahasa latin mengingat bahwa Andika adalah guru biologi yang terbiasa mengajarkan tata nama binomial makhluk hidup.

__ADS_1


"Hmmm...sepertinya begitu. Mungkin saja orang tua saya suka menghitung bulan sehingga memberi nama seperti itu."


"Atau mungkin Bapak May dulu nggak lahir-lahir. Jadi mamaknya ngeliatin kalender mulu. Bertanya-tanya kapan nih lahir? Kapan nih lahir?" ceplos Fira lagi.


Orang-orang yang berada di tempat itu kompak menggigit bibirnya untuk menahan tawa. Pak Zaini langsung bangkit hendak menegur Fira. Namun, Juna memberi kode agar Pak Zaini tetap duduk. Karena sebenarnya Juna menyukai lelucon Fira.


"Nama kamu siapa?" tanya Juna.


"Eh?" Fira kaget mendengar pertanyaan Juna. Seingatnya ia pernah memperkenalkan diri saat bertemu Juna pertama kali. Fira masih ingat jika pemilik SMA Cendekia yang baru adalah laki-laki yang ia temui di warung Bu Udin.


Sebenarnya Fira sejak tadi sengaja mencari perhatian Juna. Fira merasa tidak asing dengan Juna. Ia memilih diam dan akan menyelidiki siapakah pemilik SMA Cendekia yang baru secara perlahan.


"Kenapa diam, anak magang? Nama kamu siapa?" tanya Juna. Juna menyebutnya anak magang karena melihat Fira yang memakai almamater kampusnya.


"Saya Fira, Pak."


"Fira?" ulang Juna lagi.


Fira mengangguk.


"Kalau nama saya Mayjuna July Agustino. Maukah kamu mengganti namamu menjadi September October November?" goda Juna.


"Wih, Bapak May menggoda akuhhhhh!" seru Fira sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Pak May jomblo ya, kok menggoda anak gadis orang?" celetuk Andika.


"Eh, nggak gitu Pak. Mau jomblo atau tidak boleh-boleh aja kok menggoda anak orang asal jangan anak setan" celetuk Fira lagi.


"Huuuuu...."


Guru-guru yang lain menyoraki Fira. Riuh sorak sorai dan gelak tawa orang-orang yang hadir menggema di aula. Kini acara perkenalan Juna jauh dari kata formal. Wajah tegang mereka berubah menjadi wajah karet yang tidak berhenti tertawa.


Pak Zaini bangkit dari tempat duduknya. Ia segera memghampiri Juna dan mengambil alih microphone. Pak Zaini meminta mereka untuk tenang.


Pak Zaini mengakhiri acara perkenalan Juna kepada dewan guru dan staf TU. Rasanya terlalu formal jika berbicara di depan podium seperti ini.


Pak Zaini segera menelpon Pak Udin. Beliau meminta agar makanan yang sudah dipesan segera dibawa ke aula.


Tidak butuh waktu lama, Pak Udin beserta jajarannya datang membawa berbagai macam peralatan makan. Berbagai makanan langsung tersaji di meja.


Juna menghela nafas panjang. Entah mengapa ia mengingat sosok Lia. Sejak tadi Juna mengamati satu-persatu wajah dewan guru yang hadir. Tidak ada sosok Lia di sana.


Juna memang berharap Lia masih mengajar di SMA Cendekia. Setidaknya ia memiliki hiburan di tempat ini. Juna juga penasaran apakah Lia bisa mengenalinya mengingat tidak satupun orang di SMA Cendekia yang mengenalinya.


"Pak May, mau kemana?" tanya Pak Zaini ketika melihat Juna hendak pergi meninggalkan aula.


"Saya mau keluar sebentar. Kalian makan-makan saja dulu."

__ADS_1


"Apa makanannya tidak sesuai dengan selera Pak May? Maaf, kami hanya orang kampung. Pengetahuan kami memang sedikit. Istri saya hanya bisa memasak ini, Pak May" kata Pak Zaini cemas.


Juna menggeleng. Mengingat Lia membuat Juna tidak nafsu makan. Sebenarnya Juna ingin pergi ke warung Bu Udin, menikmati lontong pecel sembari mengingat kenangannya di sana.


"Ada telepon mendadak dari Jakarta. Saya mau ke bawah dulu, mau menelpon balik. Kalian makan-makan saja. Tidak perlu sungkan" ucap Juna kemudian berlari meninggalkan aula.


***


"Bu Udin, lontong pecel satu, es teh satu, dan gorengan tempenya dua" teriak Juna ketika tiba di warung Bu Udin.


Bu Udin yang saat itu sedang menggoreng tempe tepung tentu saja kaget. Ia segera membalikkan badan, memastikan siapakah yang sudah memesan makanan di warungnya. Wajah Bu Udin semakin tidak katuan ketika melihat Juna sedang duduk di bangku tengah sembari mengunyah kerupuk.


"Bapak pemilik sekolah kenapa ada di sini?" tanya Bu Udin heran.


"Saya mau makan, Bu. Apa salah jika saya ke sini?" tanya Juna polos.


"Loh, Pak! Pak Zaini kan sudah membawa makanan dari rumah beliau untuk di makan bersama-sama. Kenapa Bapak tidak makan bersama? Kenapa malah makan di warung?" tanya Bu Udin lagi.


"Saya kangen lontong pecel Bu Udin" jawab Juna.


Bu Udin tentu saja kaget. Bagaimana bisa pemilik sekolah yang baru kangen dengan lontong pecel miliknya? Seingat Bu Udin, ia belum pernah bertemu Juna di warungnya. Bu Udin tidak ingat jika sebulan yang lalu Juna juga pernah makan di warung miliknya.


"Cepetan bikinin ya, Bu! Saya lapar."


Bu Udin mengangguk. Ia segera memutar badannya kembali dan menyiapkan lontong pecel pesanan Juna. Meski dalam hati ia masih memikirkan ucapan Juna tadi.


Sembari menunggu pesanannya selesai, Juna mengambil ponsel di sakunya. Ia menelpon Athalia untuk menanyakan bagaimana kabar istrinya itu.


"Halo, sayang! Lagi di mana?" tanya Juna ketika panggilan terhubung.


"Di rumah sakit, Jun. Kenapa?."


"Hmm...tidak apa-apa. Aku hanya khawatir saja."


"Ada hal lain yang ingin kau bicarakan, Jun?" tanya Atha lagi.


"Ya! Aku sepertinya akan di sini selama beberapa hari ke depan. Sayang, apakah kau tidak bisa menyusulku ke sini? Aku ingin kau melihat rumah kita. Ambillah cuti! Temani aku di sini" ucap Juna.


"Maaf, aku tidak bisa! Aku ada pertemuan ikatan dokter se Jakarta, Jun. Aku akan sibuk selama seminggu ke depan."


Juna menghela nafas panjang.


"Jika sampai seminggu aku belum kembali, kau harus menyusulku ke sini. Ada banyak yang ingin aku perlihatkan kepadamu" ucap Juna lirih.


"Aku tidak bisa janji. Maaf, aku tutup dulu telponnya. Aku ada jadwal operasi" ucap Atha kemudian ia langsung memutus sambungan telepon dengan sepihak.


Juna kembali menarik nafas panjang. Ia kembali tertunduk lesu. Juna menarik piring berisi lontong pecel yang disodorkan oleh Bu Udin. Ia menyantapnya dengan lesu. Juna sedih karena Atha tidak bisa menemaninya di sini.

__ADS_1


Juna tidak tahu saja jika orang yang diharapkan kedatangannya sedang berdiri beberapa meter di belakangnya. Atha bersembunyi di balik pohon mangga sembari mengamati Juna di warung Bu Udin.


__ADS_2