HEI JUN

HEI JUN
80


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Juna berjalan menuju ruang kerjanya di SMA Cendekia sembari bersiul. Sudah dua minggu ia absen berada di SMA Cendekia. Safari trip yang diberikan oleh Kiara benar-benar membuatnya betah dan lupa waktu. Kiara hanya memberinya jatah satu minggu selama di Afrika. Namun, Juna kebablasan. Ia terlalu asyik berburu hewan-hewan liar sehingga jatah liburannya bertambah.


Untung saja Kiara tidak keberatan. Malah Kiara menawarkan Juna liburan di Afrika selama dua minggu lagi. Juna tentu saja menolak. Ia tidak ingin terlalu nyaman di hutan belantara. Juna takut kebablasan sampai melupakan tugas dan kewajibannya. Meskipun hidup di hutan belantara sangat mengasyikkan menurut Juna, ia tetap harus sadar diri dimana tempatnya berada.


"Wah, Pak May dari mana? Kok tambah gelap?" sapa Pak Udin. Ia berlari tergopoh-gopoh manakala melihat Juna menenteng dua plastik besar di tangannya.


Juna nyengir kuda. Ucapan Pak Udin memang benar adanya. Selama dua minggu di Afrika membuat kulit Juna kembali gelap. Kegiatan Juna yang lebih banyak di ruang terbuka membuatnya sering terkena sinar matahari. Juna seperti kembali pada kondisi semula saat dirinya belum dipermak habis-habisan oleh Lily dan Dira.


"Pak May ditanya malah senyum-senyum. Dari mana sih, Pak? Kok kelihatannya bahagia sekali?."


Pak Udin segera mengambil alih kantong plastik yang dibawa Juna. Mereka kemudian berjalan menuju ruang kerja Juna.


"He he he, maaf Pak Udin. Saya memang sangat bahagia. Setelah dua minggu liburan, hati dan pikiran saya kembali plong" ucap Juna.


"Memangnya Pak May kemana? Orang-orang pada nyariin tuh."


"Saya ke Afrika, Pak" sahut Juna.


"Afrika? Dimana itu, Bapak?" Pak Udin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Saya juga tidak tahu dimana. Saya hanya tahu kalau Afrika sangat jauh sekali. Di sana banyak hutan dan padang rumput. Banyak hewan buas juga lho, Pak" kata Juna. Ia bercerita dengan semangat kepada Pak Udin.


"Haduh, Pak May aneh-aneh saja! Kalau cuma mau lihat hutan sama padang rumput, di belakang rumah saya juga bisa. Banyak hewan juga. Nggak perlu jauh-jauh ke Afrika" ucap Pak Udin.


Ceklek.


Pak Udin membukakan pintu ruang kerja Juna. Ia mempersilakan Juna untuk masuk. Juna yang memang sedang bahagia, tentu saja melangkah dengan riang. Ia tak berhenti bersiul, layaknya orang yang sedang jatuh cinta.


"Kantong plastiknya mau diletakkan di mana, Pak?" tanya Pak Udin.


Juna tidak menjawab. Ia hanya memberi kode dengan telunjuknya. Mulut Juna masih sibuk bersiul, kebiasaannya saat di Afrika terbawa ke Indonesia.


"Eh, Pak Udin mau kemana?" tanya Juna ketika melihat Pak Udin memutar badannya hendak pergi.


"Saya mau kembali ke depan, Pak. Pak May masih ada perlu sama saya?."


Juna menggeleng. Ia memanggil Pak Udin dan menyuruhnya untuk duduk. Pak Udin langsung menurut. Ia urung keluar dari ruangan Juna. Dilihatnya Juna sedang sibuk mengacak-ngacak isi kantong plastik yang dibawanya tadi. Apa pula isinya? Mengapa Juna sampai seserius itu mengacak-acak isinya?


"Saya ada oleh-oleh untuk Pak Udin."


"Eh? Beneran? Apa itu Pak?" tanya Pak Udin. Wajahnya seketika cerah ketika mendengar kata oleh-oleh dari Juna.


"Ini buat Pak Udin."


Juna menyodorkan dua lembar daun kepada Pak Udin. Daun itu lebar dan kering. Senyum di wajah Pak Udin langsung redup. Ia menerima daun itu dengan wajah bingung.


"Ini oleh-oleh, Pak?" tanya Pak Udin memastikan.


"Iya, Pak Udin. Daun itu saya ambil saat di Afrika. Saya mengambilnya sulit lho karena harus berperang dulu sama badak" ucap Juna berapi-api.


Sudut bibir Pak Udin tertarik ke samping. Ia menatap daun pemberian Juna dengan penuh tanda tanya.


'Pak May jauh-jauh ke Afrika cuma buat ambil daun? Apa nggak kurang kerjaan? Disini juga banyak daun, tinggal petik. Nggak perlu pakai perang sama badak'


"Pak Udin kenapa diam? Kurang sama daunnya? Saya bawa banyak lho. Kalau Pak Udin mau, saya berikan lagi."


"Eh, eh, eh, tidak usah Pak May. Saya tidak kekurangan daun. Saya cuma lagi mikir daun ini mau dijadikan apa soalnya lebar banget kayak taplak meja" sahut Pak Udin.


"Oh, bikin bungkus lontong saja. Lumayan bisa jadi banyak."


Jawaban Juna sukses membuat Pak Udin menganga. Ia buru-buru pamit pada Juna karena khawatir kepalanya akan berdenyut jika terus berbicara dengan Juna.

__ADS_1


"Tolong, suruh Andika ke ruangan saya, ya, Pak!" teriak Juna ketika Pak Udin sudah semakin jauh melangkah.


Tok...tok...tok....


Andika langsung masuk ke ruang kerja Juna tanpa disuruh. Ia menarik kursi di hadapan Juna lalu segera duduk.


"Kemana aja dua minggu nggak ada?" tanya Andika tanpa basa-basi.


Sejak tahu jika pemilik SMA Cendekia adalah Juna, rasa sungkan Andika langsung lenyap seketika.


"Saya ke Afrika."


"Afrika? Ngapain?" tanya Andika kaget.


"Safari trip. Ini saya bawakan oleh-oleh. Bagikan juga sama yang lain!."


Juna menyerahkan satu kantong plastik yang ia bawa kepada Andika. Andika langsung menerima dengan senang hati. Namun, hatinya langsung meredup saat melihat isi dari kantong plastik itu. Tumpukan daun-daun kering yang entah apa manfaatnya.


"Daun? Serius oleh-olehnya daun?."


Juna mengangguk.


"Kamu masih waras kan Jun? Kamu pikir kami semua kambing? Orang jalan-jalan keluar negeri tuh bawa oleh-oleh cokelat, permen, susu, roti, bukan daun Jun" protes Andika dengan suara yang agak meninggi.


"Daun itu saya ambil di hutan Afrika, Dika. Nggak mudah. Harus berperang dulu, main tembak-tembakan sama gajah, badak ,hari...."


"Udah, Jun! Daunnya ntar aku bagikan ke teman-teman" ucap Andika dingin. Ia sengaja memotong ucapan Juna agar cepat selesai dan berganti topik.


"Oh iya, Jun. Ada orang yang ingin bertemu denganmu."


"Siapa?" tanya Juna penasaran.


"Ada deh."


"Besok sore di cafe aku. Bagaimana?."


Juna mengambil ponselnya. Ia mengecek jadwal kerjanya untuk besok.


"Besok sore saya free, Dika."


"Sip! Sepulang sekolah langsung otw cafe aku. Masih ingat kan jalannya?" tanya Andika yang langsung dijawab Juna dengan anggukan kepala.


***


"Junaaa...."


Andika berteriak sembari melambai-lambaikan tangannya pada Juna. Juna yang melihat sosok tengil Andika segera berjalan menghampiri mejanya.


Sedikit terkejut dengan penampakan meja yang ditempati Andika. Sudah banyak makanan yang dihidangkan. Mulai dari burger, kentang goreng, spaghetti dan waffle. Juna juga melihat ada tiga cangkir berisi teh, tiga gelas berisi jus, dan tiga botol air mineral.


Ada apa ini? Mengapa banyak sekali piring dan gelas di sini? Apakah Andika mengajak orang lain selain Juna? Seingat Juna memang Andika mengatakan jika ada seseorang yang ingin mengajaknya bertemu. Juna pikir hanya satu orang. Lalu mengapa piring dan gelasnya banyak sekali?


"Duduk, Jun! Cicipi dulu makanan pembukanya" perintah Andika yang langsung diangguki oleh Juna.


Juna mengambil jus alpukat yang berada di depannya. Tak lupa ia mencomot kentang goreng sebagai camilannya. Kentang goreng habis, Juna berpindah mengambil waffle. Makanan bertopping meises itu membuat Juna tergiur.


"Kurang, Jun? Kalau mau lagi, aku akan suruh chef untuk membuatkannya."


Juna menggeleng. Ia sudah cukup kenyang dengan mencicipi kentang goreng dan waffle. Ia tidak ingin terlalu kenyang, khawatir akan mengantuk.


"Katamu ada yang mau bertemu denganku? Mana?" tanya Juna.


Andika melirik arlojinya.

__ADS_1


"Mungkin masih di jalan, Jun. Maklum saja, dia sudah tidak pernah tepat waktu sejak punya buntut."


Buntut? Mendengar kata itu membuat Juna menduga jika orang yang akan bertemu dengannya adalah kumpulan ibu-ibu arisan. Entah apa yang akan mereka bahas dengan Juna. Mungkin ibu-ibu itu ingin menawari cicilan panci, wajan, dan peralatan dapur lainnya.


"Nah, itu dia!."


Andika menunjuk pada seorang perempuan yang sedang menggendong bayi. Perempuan itu langsung tersenyum ketika melihat Andika melambaikan tangan ke arahnya.


Juna mengernyitkan dahi. Ia merasa tidak asing dengan perempuan itu. Namun, bukan Juna namanya jika ia langsung mengingatnya. Juna memilih diam, mencoba mengingat siapakah sosok yang sedang duduk di samping Andika.


"Ini Pak Juna?" tanya perempuan itu pada Andika.


Andika mengangguk.


"Kok beda? Kemarin waktu lu kirim fotonya nggak kayak gini" kata perempuan itu lagi.


Juna masih diam. Ia bingung mau menimbrung obrolan mereka.


"Juna baru pulang dari Afrika. Kebanyakan main sama gajah makanya jadi gelap begini."


"AFRIKA???? Pak Juna ngapain di sana?" teriak perempuan itu.


"Sebelumnya saya boleh bertanya?" ucap Juna sembari menggaruk tengkuknya.


"Mau tanya apa, Jun?" tanya Andika.


"Perempuan ini siapa ya? Kok saya merasa tidak asing?."


Kedua netra perempuan itu langsung melotot. Ia tidak menyangka jika Juna tidak mengenalinya. Sedangkan Andika, ia menahan tawa ketika mendengar pertanyaan polos Juna.


"Kamu nggak ingat dia, Jun?."


Juna menggeleng.


"Dia Hani, Jun."


"Honey?" beo Juna. Ia seperti tidak asing dengan nama yang diucapkan Andika. Tapi lagi-lagi karena ini adalah Juna maka ia tidak dapat mengingatnya.


"Pak Juna, jahat! Mentang-mentang Lia udah nggak ngajar di SMA Cendekia, Pak Juna lupa sama Lia" ucapnya merajuk.


"Lia? Guru matematika itu?" tanya Juna memastikan.


"Iya, Pak. Ini Lia yang dulu sering makan bareng di warung Bu Udin" Lia mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Juna melupakan dirinya.


"Ya ampun, Lia! Maaf, saya tidak mengenali kamu! Kamu kenapa bengkak begini? Dulu kan cantik dan semok. Pantas saya tidak mengenali kamu" Juna dengan jujurnya mengatakan hal itu.


Andika tergelak. Ia sudah tidak dapat menahan tawa akibat ucapan Juna.


"Pak Juna kebangetan deh. Masak Lia dibilang bengkak. Wajar dong Lia bengkak begini. Lia kan sudah punya anak. Masih masa menyusui pula" gerutu Lia kesal.


"Yaa.. Nggak wajarlah. Kamu bengkaknya seperti Kiara yang hamil tujuh bulan. Memangnya si Noval tidak memberimu jatah untuk ke salon? Lihatlah, kamu sangat berbeda."


Lia melempar kotak tisu pada Juna. Ia semakin kesal karena Juna terus meledeknya. Memang diakui Lia jika dirinya tidak seperti dulu. Sejak melahirkan Lia menjadi abai dengan penampilan. Ejekan dari Juna benar-benar membuat hatinya tercubit. Besok ia akan menodong Noval untuk memberinya jatah uang lebih. Lia ingin perawatan. Ia ingin cantik kembali seperti dulu.


"Sudah Hani, jangan cemberut saja. Ayo makan dulu! Nanti kita lanjut mengobrol" ajak Andika mengalihkan topik pembicaraan.


Lia tetap cemberut. Ia masih memikirkan kata-kata Juna.


"Lia...." panggil Juna.


Lia mendongak.


"Jangan tersinggung. Meskipun kamu bengkak, kamu tetap cantik kok."

__ADS_1


Meleleh....!!!! Ingin rasanya Lia bergelantungan di pohon cerme.


__ADS_2