HEI JUN

HEI JUN
64 - POV Atha


__ADS_3

Aku tidak tahu bagaimana laki-laki ini bisa berada di depan unit apartemenku. Saat aku membuka pintu, dia langsung menubruk dan memeluk tubuhku dengan erat. Aku bisa mendengar degup jantungnya yang tak beraturan. Aku bisa merasakan deru nafasnya yang cepat.


Juna, laki-laki itu yang telah menjadi suamiku sejak beberapa jam yang lalu. Beberapa tahun yang lalu aku mengikatkan gelang persahabatan padanya. Namun, apa yang terjadi sekarang? Dia melafalkan ijab kabul di depan ayahku.


Bagaimana aku tidak kaget? Aku sudah berkali-kali mengatakan jika aku menolaknya. Aku tidak mencintainya dan Juna dengan bodohnya menikahiku secara paksa. Ah! Ingin aku memukul kepalanya agar sadar. Tingkahnya ini benar-benar membuatku naik darah.


Aku bukannya tidak tahu jika dia masih belum move on dari masa lalunya. Ia menjadikanku pelarian sekaligus sebagai ajang pengalihan statusnya. Juna yang dikenal perjaka tua ingin segera menikah untuk memenuhi keinginan almarhumah ibunya.


Aku benar-benar marah padanya. Dia pikir aku mau menjalankan kehidupan rumah tangga tanpa cinta seperti ini? Aku pernah berkata jika aku mencintai seseorang yang tak lain adalah bos nya. Namun, Juna sepertinya tidak menggubris hal itu. Sampai kapanpun aku akan mencintai Dira. Sampai kapanpun aku tidak akan menjalani kehidupan rumah tangga bersama Juna.


Akhirnya aku memutuskan pergi setelah acara akad nikah selesai. Aku tidak peduli meski masih banyak tamu di bawah, toh acara ini bukan aku yang mau. Berbekal sapu tangan dan obat bius yang aku miliki, aku membius orang-orang yang sedang ngerumpi di dapur. Aku juga membius satpam yang berjaga di pintu belakang sehingga tidak ada lagi kendala dalam pelarianku.


Aku langsung tancap gas menuju apartemenku. Untung saja taksi online yang sudah menunggu di depan jalan besar. Sehingga aku bisa langsung kabur.


Aku memutuskan untuk tinggal di apartemenku. Jujur saja tidak ada yang tahu jika aku mempunyai apartemen sendiri bahkan orang tuaku pun tak tahu. Aku menenangkan diri di kamar sembari mengatur rencana bagaimana agar pernikahanku cepat berakhir.


Tapi sialnya, Juna malah muncul di depan pintu apartemen saat menjelang tengah malam. Saat itu aku sedang tidur. Aku langsung membuka pintu apartemen ketika mendengar ketukan pintu. Bodoh sekali! Harusnya aku mengintip dulu, baru buka.


"Ayo, pulang! Semua orang mencarimu" ucap Juna. Aku bisa melihat kedua netranya berkaca-kaca. Oh, Tuhan! Sebenarnya aku tak tega menyakiti laki-laki lugu ini.Tapi aku tidak punya pilihan.


"Aku tidak mau."


"Ini malam pertama kita. Atha, tolonglah jangan seperti ini" ucap Juna memelas.


"Aku harus bagaimana Juna? Kau mau aku seperti apa? Kau bahkan menikahiku tanpa persetujuanku. Aku tidak mau menikah denganmu" ucapku emosi.


"Sebaiknya kalian berbicara di dalam. Ini sudah tengah malam. Kalian bisa mengganggu kenyamanan penghuni yang lain" ucap Elang, laki-laki itu muncul bersama istrinya yang sedang hamil besar. Aku menduga dialah yang membantu Juna sehingga bisa melacak keberadaanku.


Aku mengajak mereka masuk. Namun, Elang menolak dan pamit karena waktu sudah malam. Lagipula mereka tidak ada masalah denganku. Jadilah aku berdua dengan Juna di apartemenku.


Juna duduk di sofa. Wajahnya benar-benar kacau. Aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Juna.


"Ayo, pulang" ucap Juna ketika aku menyodorkan segelas teh hangat kepadanya.


"Aku tidak mau."


"Sekarang kita sudah suami-istri. Sudah seharusnya kita tinggal serumah" ucap Juna.

__ADS_1


"Tidak! Kita menikah karena keinginan sepihak. Aku tidak menginginkan pernikahan ini."


"Apa kurangku, Atha? Aku memang kalah jauh dari segala aspek jika kau bandingkan dengan Tuan Dira. Tapi tidak bisakah kau membuka hatimu sedikitpun kepadaku? Beri waktu untukku untuk masuk ke dalam hidupmu. Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh hati padaku" mohon Juna.


"Hatiku sudah aku berikan pada Kak Dira. Maaf, aku tidak bisa memberi kesempatan padamu" jawabku dingin.


"Tapi Tuan Dira sudah menikah! Kau tidak boleh merusak rumah tangganya."


"Aku tidak akan merusaknya, Jun. Aku akan menunggunya."


Juna menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menarik tanganku hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Beri aku waktu enam bulan. Jika kau masih belum bisa membuka hatimu untukku. Aku akan melepasmu."


Aku menggeleng.


"Aku tidak menerima penolakan. Jalanilah enam bulan ke depan sebagai istri dari Mayjuna July Agustino. Jika kau masih tidak ada rasa padaku. Aku akan melepasmu."


Aku tak menyahut lagi. Jadilah malam ini Juna menginap di apartemenku. Kami tidur satu kamar. Mungkin karena efek kelelahan, Juna langsung tertidur setelah menyentuh kasur. Kedua tangan kekarnya memelukku dengan erat. Aku sampai tidak bisa tidur karena ulah Juna itu.


Aku menjalani kehidupan rumah tangga ini dengan hambar. Sudah aku ingatkan pada Juna agar tidak berharap banyak padaku. Aku sengaja lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit agar intensitas pertemuanku dan Juna menjadi sedikit.


Namun, itu hanya bertahan selama dua minggu. Juna selalu datang ke rumah sakit jika aku bertugas di malam hari. Entah bagaimana caranya Juna bisa mendapatkan izin dari pihak rumah sakit. Juna bahkan meminta sebuah sofa di ruang kerjaku untuk tempat tidurnya.


Kalau sudah begitu, aku dan Juna akan tidur bersama beralaskan kasur lipat kecil. Hanya Juna yang memejamkan mata, aku akan langsung pindah ruangan saat Juna sudah terlelap.


Satu bulan berlalu. Hari ini aku libur. Aku sudah berkutat di dapur sejak pagi-pagi buta. Seperti biasa, jika aku sempat. Aku akan memasak sarapan untuk Juna. Juna adalah orang yang tidak rewel masalah makanan. Asalkan itu nasi dan masih makanan khas Indonesia, ia akan melahapnya sampai tandas.


Hubunganku dan Juna masih saja kaku. Kami seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap. Obrolan kami pun terasa sangat membosankan. Entah mengapa aku seperti kanebo kering saat bersama Juna. Aku menjadi irit bicara dan dingin seperti kulkas tiga pintu.


"Aku mau pulang kampung" ucap Juna tiba-tiba saat kami sarapan bersama.


"Ada urusan?."


"Ya. Aku menghadiri acara peresmian diriku sebagai pemilik SMA Cendekia. Sayang, apakah kau ingat sekolah itu?" ucap Juna sembari tersenyum lebar.


"SMA Cendekia? Bukankah itu tempat mengajarmu dulu?" tanyaku.

__ADS_1


Juna mengangguk.


"Aku sudah membelinya sebulan yang lalu."


"Membeli? Bagaimana bisa?" tanyaku kaget.


"Aku kan punya uang" sahut Juna santai.


"Uang? Aku tidak tahu jika bekerja di Sanjaya.corp bisa mampu membeli sekolah."


"Sekarang kamu sudah tahu kan" ucap Juna menyebalkan.


Aku tak menyahut lagi. Aku memilih menyantap nasi goreng ikan asin hasil olahan tanganku. Kami makan dalam diam. Hening beberapa saat.


"Kamu mau ikut?" tanya Juna lagi.


"Ikut? Kemana?."


"Ke kampungku lah. Apa kau tidak rindu pulau garam? Oh iya kita bisa juga bernostalgia di sana. Kita ke pantai camplong, tempat pertama kali kita bertemu" ucap Juna bersemangat.


Aku menggeleng. Mendengar ucapan Juna membuatku ingin tertawa. Juna ingin bernostalgia katanya? Tidak salah? Katakan saja jika ia ingin mengingat wanita-wanita masa lalunya. Rekan kerja di SMA Cendekia atau wanita gila yang selalu mengejarnya.


"Kamu tidak mau ikut? Kenapa? Apa kau tidak mau melihat pengukuhan suamimu sebagai pemilik sekolah?" tanya Juna sedih.


"Maaf, Juna. Kau memberi tahuku mendadak. Jadwalku sangat padat untuk sebulan ke depan. Aku diberi tugas untuk membimbing koas yang mulai bertugas di rumah sakit. Maaf, aku tidak bisa menemanimu" ucapku berbohong.


"Apakah tidak bisa diganti oleh dokter lain?."


"Tidak bisa. Surat tugas sudah keluar. Aku akan kena SP jika tidak menjalankan tugas dengan baik" ucapku kemudian menyudahi sarapanku.


Juna menghela nafas panjang. Aku dapat merasakan kekecawaan di hati Juna. Maafkan aku, Juna. Aku harus kejam.


Juna menyudahi sarapannya. Ia pamit kepadaku untuk pulang kampung. Sebenarnya aku kaget dengan ucapannya. Aku pikir dia akan berangkat besok atau lusa.


Aku mengantar sampai di depan pintu unit apartemen. Tak lupa aku melambaikan tangan pada Juna. Aku ssgera menutup pintu dan masuk ke dalam kamar. Aku memutuskan untuk rebahan saja seharian.


Namun, tiba-tiba aku bangkit dari tidurku. Bayangan mantan tunangan Juna yang gila tiba-tiba muncul di kepalaku. Bagaimana jika Juna kembali bertemu dengannya? Bagaimana jika wanita gila itu kembali melukai Juna?

__ADS_1


Ah, tidak! Aku tidak boleh membiarkan Juna pergi sendiri. Aku segera mandi dan bersiap-siap. Aku memutuskan untuk menyusul Juna ke kampungnya. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Juna. Juna bisa kembali trauma jika ia bertemu dengan wanita gila itu. Aku harus cepat. Aku harus menyusul Juna sekarang.


__ADS_2