
Gorengan tempe yang digigit Juna langsung jatuh ketika kedua netranya melihat sosok laki-laki berpakaian perlente yang berdiri di depan rumah Haris. Wajah laki-laki itu sudah tidak asing lagi bagi Juna bahkan bisa dikata jika Juna sudah muak melihatnya. Wajah datar, senyum sinis dan tatapan tajam, ciri khas laki-laki itu. Bos absurdnya yang memiliki julukan CEO paling tampan dan rupawan.
Dira datang bersama tiga orang bodyguardnya. Satu orang berdiri di belakangnya, bertugas memegang payung untuk Dira. Satu orang lagi berdiri di samping kanan Dira, bertugas memegang kipas electrik. Sedangkan satu bodyguard yang terakhir berdiri di samping kiri Dira, bertugas memegang koper yang entah apa isinya.
Juna menatap kedatanga Dira dengan mulut menganga. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa bos absurdnya itu tahu keberadaannya? Juna tidak pernah bercerita mengenai kampung halamannya. Pada Kiara saja, ia hanya mengatakan jika kampungnya berada di Madura.
Juna tidak memberikan alamat detail dan hebatnya bos absurdnya itu bisa muncul di depan rumah Haris yang nota bene adalah saudaranya. Juna jadi takut, apakah bos absurdnya itu memiliki ilmu ghaib yang bisa mendeteksi keberadaan orang lain? Karena sungguh tidak masuk akal jika Dira bisa berdiri di depan rumah Haris saat ini.
Juna tidak tahu saja, jika seorang Dira tinggal menjentikkan jari untuk mengetahui keberadaan Juna. Sinyal gps di ponsel Juna selalu terpantau oleh orang suruhan Dira. Mau ke lubang semut pun, Dira bisa menemukan Juna dengan mudah. Apalagi hanya pulang kampung ke pulau kecil seperti Madura. Itu mah gampang.
"Kau tidak mau menyambutku, Mayjuna July Agustino?" sindir Dira.
Juna langsung berdiri, menanggalkan nasi pecel yang baru beberapa suap ia makan. Juna membungkuk, memberi hormat kepada Dira sesuai SOP yang berlaku.
"Maaf, Tuan" ucap Juna lirih.
"Ck! Pertama kali aku menemukanmu, kau tinggal di rumah mengenaskan. Sekarang aku mengunjungi di kampung, kau juga tinggal di rumah yang mengenaskan. Mayjuna, apakah kau memang hobi tinggal di rumah mengenaskan? Lihat ini! Aku sampai menanggalkan sepatu mahalku dengan sandal jepit merk hallow. Mana jalanan becek, berlubang, nggak ada mulus- mulusnya. Apa perangkat desa di sini tidak lihat hah? Bikin encok! " ucap Dira membuka sambutannya.
Juna membungkuk lagi. Ia langsung meminta maaf kepada Dira karena membuat bos nya itu tidak nyaman. Seingat Juna, semalam tidak turun hujan. Cuaca juga panas. Bagaimana bisa bos nya itu mengatakan jika jalanan becek?
Duh! Mau bagaimana lagi? Keadaan keluarga Juna memang melarat. Tempat tinggalnya pun berada di kampung. Jadi wajar jika banyak ketidak nyamanan yang dirasakan Dira. Tidak mungkin kan Juna tinggal di apartemen saat menjadi guru olahraga bergaji seratus lima puluh ribu? Punya rumah saja sudah untung
Lagipula salah sendiri mengapa bos absurdnya itu tiba-tiba datang kemari? Juna tidak mengundangnya, tidak pula memberitahunya. Ia heran saja bagaimana bisa bos absurdnya itu selalu muncul di saat tidak terduga.
Seperti saat ini, saat Juna sedang menikmati sarapannya. Nasi pecel lauk ikan asin yang ia beli di warung sebelah. Setahun lebih Juna berada di negeri orang membuatnya rindu akan masakan rumahan. Juna sebenarnya ingin melanjutkan menyantap nasi pecel itu. Namun, ia urungkan saat melihat wajah bos absurdnya yang datar tak bergelombang. Bisa-bisa Juna kena amukan di pagi hari.
"Tuan, maaf jika Anda tidak nyaman. Seharusnya Tuan Dira tidak ke sini karena pasti di sini membuat Anda kurang nyaman" ucap Juna.
"Cih! Kalau saja si Kiara tidak hamil, pastilah saya tidak mau datang ke sini. Kau sudah menjadi anak buahnya. Jadi semua urusanmu menjadi tanggung jawabnya."
Juna menghela nafas. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hatinya.
"Lebih baik kita bicara di mobil. Saya tidak tahan dengan cuaca di sini. So hot kayak neraka bocor" ucap Dira kemudian berlalu dari Juna.
Juna langsung berlari mengekori Dira. Ia masuk ke dalam mobil sedan hitam yang ditumpangi oleh Dira.
"Loh?" Juna terkejut saat mobil langsung melaju. Ia pikir mereka akan berbicara saja di dalam mobil. Mengapa mobilnya jalan? Mereka mau ke mana?
__ADS_1
"Lu mau beli rumah di mana?" tanya Dira tiba-tiba. Lagi-lagi Juna dibuat terkejut dengan ucapan Dira.
"Di Perumahan Melati Putih, Tuan. Saya kemarin sempat liat-liat bersama kakak saya. Perumahan itu paling murah dari yang lain" ucap Juna gugup.
"Cih! ukuran 5x10 meter kamu bilang rumah? Bahkan kamar mandi di rumah gue jauh lebih luas daripada itu" cibir Dira.
'Ya beda lah bambang! Lu mah sultan, gue remahan rengginang. Masak mau disamain' gumam Juna dalam hati.
"Lita sudah mencarikan rumah untuk kedua kakakmu. Dia sudah inden di King Safira Regency" ucap Dira santai.
"Apa??? Kenapa di sana, Tuan? Rumah di sana mahal, Tuan. Semuanya dua lantai. Harga yang di tawarkan paling murah seharga 700 juta. Tuan Dira, tolong batalkan! Saya tidak punya uang untuk mencicilnya" pinta Juna memelas.
"Bukannya kamu sudah melihat saldomu hah? 700 juta itu hanya remahan kuaci untuk kamu, Juna!" bentak Dira.
Remahan kuaci? Juna ingin menjambak rambut bos absurdnya itu? Bagaimana bisa ia mengatakan jika uang sebanyak itu seperti remahan kuaci? Membeli dua unit rumah seharga 200 juta saja Juna masih ketar-ketir. Ia takut saldo di tabungannya kurang.
Dira memang tidak salah. Saldo dalam tabungan Juna tidak kurang dari 20 Milyar. Juna saja yang tidak bisa menghitungnya. Kepala Juna langsung pusing ketika melihat deretan angka nol yang begitu banyak. Ia pikir pasti aplikasi m-bankingnya sedang error sehingga memunculkan angka nol banyak sekali.
"Lita sudah mengurusnya. Kau hanya tinggal melihat dan menerima kunci dari pihak penjual" ucap Dira yang lagi-lagi membuat Juna semakin sakit kepala.
"Satu lagi" lanjut Dira.
"APA?!!!."
Juna tanpa sadar berteriak. Segampang itukah seorang Dira menyelesaikan masalahnya? Juna memina membeli sekolah bukan membeli pisang goreng atau lontong pecel. Ajian apa yang dimiliki bos nya itu? Juna penasaran. Benar-benar penasaran.
"Sekolah ini yang mau kau beli?" cibir Dira dan lagi-lagi kedua netra Juna terbelalak ketika melihat mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki halaman SMA Cendekia.
"Aku pikir mau beli sekolah elit, ternyata sekolah mewah" cibir Dira lagi.
"Saya dulu bekerja di sini, Tuan. Saya tidak rela saja jika sekolah ini dijual dan beralih fungsi" curcol Juna.
"Pembangunan sekolah ini akan dilanjutkan mulai besok. Kamu tinggal temui saja arsiteknya mau dimodel seperti apa. Lita akan datang kesini besok. Kamu berikan catatan apa saja yang dibutuhkan sekolah ini. Jujur saya ngenes lihat sekolah ini. Kamar mess karyawan saya lebih bagus dari ini."
Hening. Juna langsung berkaca-kaca mendengar penuturan Dira. Otaknya langsung berhalusinasi akan seperti apa SMA Cendekia ini. Ia benar-benar akan mengubah total bangunan di SMA Cendekia, melengkapi fasilitas yang ada serta meningkatkan mutu tenaga pengajar disana.
Juna benar-benar sangat berterima kasih kepada Dira dan Kiara. Ingin rasanya ia memeluk kakak-beradik itu sekarang. Namun, mengingat si kakak yang judesnya minta ampun. Juna langsung menepis keinginan itu. Ia akan mengucapkan terima kasih seperti biasa.
__ADS_1
"Tuan...."
"Hem...?"
"Boleh saya bertanya sesuatu?."
"Boleh. Asal bukan soal olimpiade olahraga atau materi gerak parabola" jawab Dira ngasal.
"Tuan tahu jika saya akan menikah minggu depan?" tanya Juna hati-hati.
"Tidak! Karena itu tidak penting."
"Saya akan menikah dengan Athalia" ucap Juna lagi.
Hening. Juna langsung merasakan aura mencekam di dalam mobil. Dira belum merespon ucapan Juna. Ia malah menatap Juna dengan tatapan tajan sehingga Juna langsung menunduk karena takut.
"Kamu butuh penghulu? Meski saya CEO paling tampan dan rupawan tapi saya tidak berbakat menjadi penghulu. Nanti saya akan suruh Lita untuk mencari penghulu untuk menikahkan kalian" ucap Dira santai.
"Bukan itu, Tuan."
"Lalu?."
"Saya ingin memastikan apakah laki-laki di masa lalu Athalia adalah Anda. Jika memang benar itu Anda, apakah Anda masih memiliki perasaan pada Athalia?" tanya Juna lirih.
"B,O,D,O,H!" umpat Dira.
"Kau memasang tampang serius di hadapanku untuk bertanya hal bodoh itu? Hei Jun! Kau lupa jika aku sudah menikah?" bentak Dira.
"Saya ingat, Tuan. Tapi melihat Athalia yang tidak dapat menghapus perasaannya kepada Anda, saya jadi menduga jika kalian melewati masa-masa yang indah. Masa yang tidak bisa dilupakan olehnya."
Dira memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Aku ini CEO paling tampan dan rupawan. Sangat wajar jika banyak wanita tergila-gila padaku. Satu hal yang perlu kau ingat. Aku tidak memiliki kenangan apapun dengan dokter tidak terkenal itu. Lebih baik kau nikahi saja dia secepatnya agar dia berhenti berhalusinasi tentang aku."
"Anda ikhlas?."
"Ikhlas? Untuk apa kau bertanya seperti itu Juna? Apa perlu aku panggilkan penghulu dan menikahkan kalian sekarang?" tantang Dira.
__ADS_1
Juna menggeleng.
"Sebaiknya aku kembali saja ke New York. Istriku pasti sedang menungguku. Kau tidak usah repot-repot mengundangku di acara pernikahan kalian karena aku tidak akan datang" ucap Dira dingin.