HEI JUN

HEI JUN
37


__ADS_3

Dokter Athalia masuk ke kamar rawat Kiara. Ia menganggukkan kepalanya, memberi hormat kepada Widya dan lainnya. Atha tidak menyadari jika diantara orang-orang yang berada di tempat itu ada Juna yang diam membeku, menatap dengan tatapan tak percaya ke arah Atha.


"Bisa minggir sebentar, Mas? Saya mau memeriksa pasien" kata Atha sopan.


Elang langsung turun dari brangkar, mempersilakan Atha untuk memeriksa Kiara. Athalia tersenyum. Ia sangat senang bertemu keluarga pasien yang sangat kooperatif.


Atha mulai melaksanakan tugasnya. Ia mengecek infus, tekanan darah dan beberapa medical check up lainnya.


"Sudah boleh pulang, dok?" tanya Kiara. Tak lupa ia mengedipkan kedua matanya kepada Atha agar mau mengabulkan permintaannya.


"Besok, ya? Sabar" cicit Atha sembari mencatat laporan mengenai hasil pemeriksaan Kiara.


Usai melaksanakan tugasnya Atha pamit dan segera keluar dari kamar rawat Kiara.


"Tunggu!" panggil Juna dalam hati. Ia ingin memanggil Atha secara langsung. Namun, apa daya Juna malah diam terpaku, memanggil Atha dalam hati. Kalau begitu bagaimana Atha bisa mendengar panggilan Juna?


Juna mencoba menggerakkan kakinya. Tapi sialnya kedua kakinya tak kunjung bisa digerakkan. Juna juga heran mengapa ia bisa membatu seperti itu seakan-akan kedua kakinya sudah di cor dengan adonan semen?


"Hei, Jun! Kamu kenapa?" tanya Dira. Ia rupanya menyadari gelagat aneh Juna.


"Ka... ka... kaki saya, Tuan."


"Kenapa kakinya, Mas Juna?" Elang ikut menghampiri Juna yang sudah berkeringat.


"I.. ni... Mas, tidak bisa digerakkan" jawab Juna.


Dira menghela nafas. Ia mengedarkan pandangannya mencari benda yang bisa ia gunakan untuk menolong Juna. Sapu! Dira segera bangkit dan mengambil sapu itu.


Bukkkk


Dira memukul betis Juna. Ajaib, dengan sekali pukul kedua kaki Juna langsung bisa bergerak seakan terlepas dari magnet lantai yang sejak tadi mengikatnya.


"Juna... Juna... Kamu ini kenapa sih? Ada-ada saja" kata Dira.


"Maaf, Tuan! Saya juga tidak mengerti. Hmmm...mm... saya pamit keluar dulu, Tuan. Saya... saya... mau membeli minuman di kantin" kata Juna dan ia langsung melesat pergi meskipun Dira belum menjawab ucapannya.


Juna langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia berharap bisa menemukan jejak Athalia yang baru saja keluar dari kamar rawat Kiara. Juna memejamkan mata. Ia berdoa semoga diberi jalan yang benar untuk bertemu Atha.


Juna melihat nomor kamar rawat Kiara. Nomor kamar itu bertambah satu ke arah kanan. Juna memutuskan berlari ke arah kanan. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Athalia.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Juna dapat melihat Athalia keluar dari kamar rawat paling pojok. Juna tidak ingin membuang-buang waktu. Ia segera melesat cepat mengejar Athalia yang sudah berjalan hendak menuruni anak tangga.


"Athaaaaaa.....!" teriak Juna.


Suara Juna menggelegar di sepanjang jalan. Atha yang saat itu hendak melangkahkan kakinya, tentu saja kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Ia memicingkan kedua matanya ketika melihat sosok laki-laki berkemeja putih berlari menghampirinya.


"Juna? Hei, Jun! Ini kamu?" tanya Atha. Ia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu Juna di rumah sakit.


Juna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Nafasnya masih belum normal sehingga ia kesulitan untuk berbicara.


"Atha...! Kau bekerja di sini?" tanya Juna.


"Ya, aku bekerja disini. Juna kenapa kau berpakaian seperti orang magang? Apa kau sudah tidak mengajar?" tanya Athalia heran.


"Aku dipecat dari sekolah."

__ADS_1


"Pecat?" tanya Atha kaget.


Juna mengangguk.


"Dan kau sekarang sedang magang di mana?" tanya Athalia lagi.


"Di perusahaan Tuan Adira."


Deg


Athalia menggigit bibir bawahnya ketika mendengar nama yang disebut Juna.


"Atha, bisakah kita mengobrol sekarang?" tanya Juna.


"Maaf, Jun. Aku sedang bertugas. Kalau kau ingin mengobrol denganku, nanti saja saat jam istirahat."


"Baiklah kalau begitu ketikkan nomor ponselmu!" Juna menyodorkan ponselnya pada Atha.


Atha langsung menganga melihat ponsel Juna yang bersimbol apel di gigit codot. Ponsel mahal, begitu Atha menduganya.


"Kenapa?" tanya Juna.


"Tak apa" Atha segera mengetikkan nomornya dan melakukan panggilan keluar. Ia lalu memberikan ponsel Juna setelah selesai menyimpan nomor ponselnya sendiri.


"Kabari aku jika kau sudah beristirahat" ucap Juna yang langsung dijawab Atha dengan anggukan kepala.


***


Juna duduk dengan menekuk wajahnya. Layar komputer yang sejak satu jam yang lalu menyala, hanya menampakkan wallpapernya saja. Juna malas mengerjakan tugasnya. Ia sangat kesal karena kemarin gagal bertemu dengan Athalia saat istirahat.


Bagaimana bisa bertemu? Belum juga siang hari, Dira sudah menyuruhnya kembali ke kantor untuk mengikuti kursus. Juna sudah menolak, memberi berbagai alasan agar ia bisa tetap berada di rumah sakit sampai urusannya selesai. Namun, Dira seakan tuli, mengacuhkan permintaan Juna yang sudah seperti anak kecil.


Juna menarik nafas panjang. Hari ini ia benar-benar tidak minat untuk belajar. Juna melirik arloji di pergelangan tangannya. Satu jam lagi istirahat. Juna berharap ia bisa kabur ke rumah sakit agar bisa bertemu dengan Atha.


Ting.


Juna segera mengirim pesan tertulisnya melalui aplikasi hijau. Tak lupa ia memberikan emoticon menangis yang mewakili bagaimana sedihnya hati Juna.


Ting.


Ponsel Juna berbunyi. Ia segera membuka pesan yang masuk.


[Atha] : Kau bisa kesini, Jun. Aku tunggu di kantin saat jam makan siang.


Hhhh... Juna menjambak rambutnya. Kesal sekali rasanya tidak dapat memenuhi undangan Atha. Ia memukul-mukul meja, menyalurkan kekesalannya kepada benda padat itu.


"Mas Juna, ada masalah?" tanya Edward. Ia yang tidak sengaja lewat, segera menghampiri Juna.


"Pak Edward, tolong saya" ucap Juna memelas.


"Tolong? Tolong apa, Mas?."


"Saya ingin ke rumah sakit saat jam istirahat."


"Apa? Ke rumah sakit? Mas Juna mau menjenguk Nona Kiara lagi?" tanya Edward.


"Bukaaaannnnn! Saya mau bertemu dengan dokter Atha. Dia kenalan saya waktu di kampung" jawab Juna jujur.


Kenalan? Edward tentu saja tidak langsung percaya. Bagaimana mungkin Juna bisa kenal dengan dokter yang menangani bos nya? Apa dulu Juna pernah mengantar paket untuk dokter itu dan ia semoat berkenalan? Edward menduga seperti itu. Rasanya hal itulah yang paling mungkin terjadi.


"Anda bisa pergi saat jam istirahat dan harus kembali satu jam kemudian."

__ADS_1


"Apa? Jadi saya boleh keluar?" tanya Juna tak percaya.


"Tentu saja boleh. Mas Juna bukan tahanan. Kalau jam isitirahat, silakan jika ingin keluar. Asal kembali tepat waktu. Nanti pakai mobil yang kemarin saja" jawab Edward sembari menyerahkan kunci mobil kepada Juna.


Juna mengangguk senang. Ia langsung bersemangat mengerjakan tugas-tugas dari tutornya. Juna segera mematikan komputer ketika semua tugasnya selesai. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Atha.


[Juna] : Tunggu aku. Aku segera meluncur ke tempatmu.


***


"Aku benar-benar tidak percaya jika orang yang sedang duduk di hadapanku adalah kamu, Jun" kata Atha. Ia menyunggingkan senyumnya yang langsung membuat hati Juna berbunga-bunga.


"Kau benar-benar tampak berbeda. Hei, Jun! Ceritakan bagaimana kau bisa berada di Jakarta" ucap Atha.


Juna tersipu malu. Baru dipuji seperti itu membuat Juna senang. Ia meyakini jika perawatan wajah yang dilakukan Juna sudah membuahkan hasil sehingga Athalia pangling melihat panampakan Juna sekarang.


"Jangan senyum-senyum saja, Jun! Aku tidak sedang menggodamu. Cepat cerita! Aku penasaran dengan kisahmu" tegur Atha.


Juna menggaruk tengkuknya. Ia lupa jika Atha memiliki titisan cenayang yang bisa membaca isi hatinya. Juna mulai menceritakan kisah hidupnya. Berawal dari dipecat, pindah ke Pare dan akhirnya dipungut oleh Dira. Juna menceritakan dengan detail sedangkan Atha mendengarkan sembari menyantap nasi padang di hadapannya.


"Jadi kau bekerja pada Dira?" tanya Atha ketika Juna sudah mengakhiri ceritanya.


Juna mengangguk.


"Kau mengenalnya?" tanya Juna.


Atha diam. Ia ragu untuk menjawab.


"Pasti kau mengenalnya karena Tuan Dira adalah CEO terbaik sejagat raya, begitu katanya" kata Juna polos.


Athalia tersenyum.


"Apa kau suka bekerja dengannya, Jun?."


"Sejujurnya tidak. Tuan Dira selalu memaksakan kehendaknya. Aku lebih suka menjadi kurir paket daripada bekerja di perusahaan Tuan Dira."


"Apa nama perusahaan Tuan Dira, Jun?."


"Sanjaya corp, kalau aku tidak salah baca" kata Juna. Ia tidak sadar jika ucapannya itu adalah informasi yang berharga untuk Atha.


"Apa aku boleh mengunjungi, Jun? Mungkin saat aku libur, aku akan bermain ke tempat kerjamu."


"Tidak! Biarkan aku saja yang menghampirimu. Aku disana hanyalah karyawan magang. Aku takut Tuan Dira akan marah jika kau mengunjungiku" kata Juna dan itu membuat Athalia kecewa.


"Lalu kau tinggal dimana?."


"Di mess karyawan. Pak Edward khawatir aku akan nyasar atau hilang jika tinggal di luar area perusahaan."


Athalia menyungging senyumnya. Sepertinya ia mendapatkan celah untuk menjalankan rencananya.


"Kamu harus keluar, Jun. Bagaimana bisa kau melihat megahnya Jakarta jika kau terkurung seperti itu?."


Juna tak menyahut. Ia memilih meneguk es teh, mengobati dahaga karena terlalu banyak bercerita.


"Ayo jalan-jalan! Hari Minggu ini aku libur. Nanti aku jemput kamu di mess" kata Atha memberikan penawaran.


"Jalan-jalan? Kemana?."


"Kemana saja. Kita bisa ke ancol, monas, atau ke seaworld. Aku akan membawamu melihat betapa indahnya Jakarta" ucap Atha bersemangat.


Juna mengangguk. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan emas seperti ini? Anggaplah Atha akan mengajaknya kencan.

__ADS_1


Juna sudah menyiapkan tekad untuk tidak lambat bergerak lagi. Meskipun hatinya belum memunculkan getar-getar cinta saat bersama dengan Atha, toh apa salahnya pendekatan terlebih dahulu. Juna tidak tahu saja jika dibalik ajakan jalan Athalia, ada rencana lain yang sudah disusun gadis itu.


__ADS_2