HEI JUN

HEI JUN
09


__ADS_3

"Pak Juna, kemarin uangnya kurang nggak?."


Juna langsung menoleh ke kiri ketika mendengar namanya dipanggil seseorang. Sudut bibirnya ditarik ke atas ketika melihat siapa sosok yang memanggilnya.


"Eh, Bu Lia..!!! Uangnya tidak kurang kok malah lebih. Ini kembaliannya,Bu" kata Juna sembari merogoh saku celananya untuk mengambil uang kembalian Lia.


"Nggak usah, Pak. Buat Pak Juna saja" Lia menolak dengan cepat.


Juna mengernyitkan dahinya. Ia kembali heran melihat tingkah Lia yang menurutnya tidak lumrah. Uang kembaliannya terhitung banyak dan Lia dengan entengnya menolak Juna untuk mengembalikan uang itu.


"Kenapa, Pak?" tanya Lia.


"Ini kembaliannya banyak, Bu. Masak buat saya? Nggak ah. Nggak enak."


"Nggak apa-apa. Anggap aja rezeki buat Pak Juna."


Duh.... mendengar perkataan gadis itu membuat Juna benar-benar semakin terpesona. Cantik, pintar, baik. Benar-benar calon istri idaman versi seorang Ahmad Junaidi.


Juna berfikir ia pasti akan menjadi laki-laki yang paling beruntung jika berhasil menikah dengan Lia . Juna berdoa semoga saja Tuhan menuliskan nama Juna sebagai jodoh Lia. Jika tidak, Juna akan berdoa lagi supaya nama jodoh Lia diubah menjadi namanya.


"Pak Juna ada jam mengajar?" tanya Lia membuyarkan lamunan Juna.


"Eh.. iya. Saya sedang mengajar anak kelas XII IPS " jawab Juna sembari menunjuk anak-anak yang sedang bermain bola voli di tengah lapangan.


"Kenapa, Bu?."


"Ngajar? Kok Pak Juna di sini? nggak ke lapangan, Pak ?" tanya Lia heran.


"Yah... namanya guru olahraga, Bu. Ngajarnya seperti ini. Tidak seperti Bu Lia yang harus full di depan siswa. Kalau saya sih murid dilepas seperti itu tidak masalah. Pokoknya materi sudah saya sampaikan dan saya tetap mengawasi mereka."


"Enak sekali ya, Pak Juna. Ngajarnya nyantai begini. Bisa ditinggal ngelamun. Hahahaha..." Lia tergelak.


"Alah bisa aja Bu Lia ini. Ngomong-ngomong Bu Lia mau kemana?."


"Ke warung Bu Udin. Tadinya mau ngajak Pak Juna. Tapi berhubung Pak Juna lagi ada jam, saya sendirian saja."


Juna melongo. Tanpa sadar ia menjewer telinga kanannya berkali-kali. Juna takut jika telinganya salah mendengar ucapan Lia yang ingin mengajak dirinya makan di warung Bu Udin.


Lia pamit kepada Juna. Ia hendak melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun, belum sempat melangkah Juna berteriak memanggil namanya.


"Eh... Bu Lia, tunggu!!."


"Kenapa Pak Juna?."


"Emmhh... Bu Lia mau sarapan kan?."


Lia mengangguk.


"Bagaimana kalau di sini saja? Nanti saya telepon Pak Udin biar makanannya diantar kesini" kata Juna menawarkan pilihan.


"Emmh.. bagaimana ya? sepertinya saya sungkan makan di sini. Maaf ya Pak Juna. Saya makan di warung Bu Udin saja" kata Lia dan langsung pergi meninggalkan Juna di pinggir lapangan.


"Sial...!!!"


Juna mengumpat dalam hati karena Lia menolak tawarannya. Andai saja Juna tidak ada jam mengajar, pasti ia bisa menemani Lia sarapan. Sialnya jam mengajar Juna masih kurang setengah jam lagi.


Juna tidak mungkin meninggalkan anak-anak di lapangan sekarang. Karena jika Pak Zaini tahu, beliau pasti akan mengamuk. Pak Zaini pasti mengira kalau Juna absen saat mengajar.


Juna langsung gelisah. Ia menunggu jam mengajarnya selesai dengan hati tak tenang. Berkali-kali Juna melihat jam dengan harapan pukul delapan segera tiba. Namun, entah mengapa jarum jam ini terasa lama sekali bagi Juna. Juna menduga jika jam itu rusak atau baterainya sudah habis.


"Wooiiii.... gelisah amat!!! Ada masalah??" tanya Andika yang tiba-tiba datang menghampiri Juna.


"Nggak. Nggak ada" jawab Juna ketus.


"Duh... sensi banget kayak cewek lagi PMS. Apa lagi ditagih rentenir ya?."

__ADS_1


"Sembarangan kamu, Dika!" teriak Juna sambil memukul bahu kanan Andika.


"Gimana aku nggak mikir sembarangan? Kamu nggak kayak biasanya. Gelisah. Nggak tenang."


"Kamu perhatian banget sama aku."


"Iyalah... kalau bukan seorang Andika yang memberi perhatian kepada Pak Juna. Lalu siapa lagi hah? Gini-gini aku kasian lho sama kamu, nggak ada yang merhatiin. Maklum jomblo kelas atas. Hahahahaha...." kata Dika kemudian langsung berlari setelah mengejek Juna.


"Dasar Andika Kampret!!!" teriak Juna dan ia langsung memukul mulutnya karena kelepasan memaki Dika di depan murid-muridnya.


Juna langsung mengedarkan pandangannya. Huft... untung saja murid-murid Juna sedang sibuk sendiri bergosip. Jadi Juna bisa memastikan bahwa tadi tidak ada yang mendengar ucapannya.


Bel pergantian mata pelajaran berbunyi. Juna segera memerintahkan murid-murid berganti baju dan segera masuk ke kelas. Ia juga berpesan agar mereka bergegas karena Juna khawatir guru mata pelajaran selanjutnya akan mengamuk jika mereka lama kembali ke kelas.


Setelah selesai memberikan instruksi, Juna segera berlari ke warung Bu Udin. Jarak warung yang sebenarnya tidak jauh, seharusnya membuat Juna cepat sampai.


Namun, entah mengapa Juna merasa lama sekali tiba di warung Bu Udin. Ia sampai bertanya-tanya apakah kakinya semakin pendek hingga berlari saja sampai selama itu? Atau mungkinkah warung Bu Udin sudah pindah?


Fyuhhhh... Juna menyeka keringat ketika tiba di warung Bu Udin. Ia berlari seperti orang kesetanan. Juna bisa bernafas lega karena Lia masih berada di sana dengan makanan yang sepertinya baru saja ia makan.


"Bu Lia..." panggil Juna.


Lia menoleh dan tersenyum kepada Juna. Juna segera duduk di kursi sebelah tempat duduk Lia. Seperti kemarin ia di kursi deretan kiri, Lia di deretan tengah.


"Hai Pak Juna! Sudah selesai mengajarnya?."


"Sudah. Bu Lia belum selesai sarapannya?" tanya Juna karena melihat porsi makanan Lia masih penuh.


"Baru mulai, Pak. Ternyata Bu Udin baru buka. Jadi saya nunggu dulu."


"Oh... " jawabku pendek.


Juna kembali bernafas lega. Untung saja baru buka sehingga masih ada kesempatan untuk Juna menemani Lia sarapan. Dalam hati Juna berterima kasih Tuhan dan berharap semoga Tuhan sering-sering memberikan waktu berduaan untuk Juna dan Lia.


"Panggil Lia aja, Pak, kalau bukan di sekolah. Saya berasa sudah tua di panggil ibu-ibu. Di rumah nggak ada orang,Pak, lagi pergi ke Bandung selama seminggu. Jadi gue sendirian deh."


"Gue?" ulang Juna. Ia merasa sedikit aneh mendengar kata "gue" yang diucapkan Lia.


"Upsss maaf keceplosan, Pak. Biasa... saya kalau lagi ngomong yaa.. pakai lu gue gitu, Pak. Berhubung ini di sekolah, saya harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meski nggak biasa sih. Hihihihi..." ucap Lia terkekeh.


"Tidak masalah kok kalau di luar sekolah pakai bahasa kamu. Yang penting lawan bicara kamu paham."


"Pak Juna juga ngomongnya jangan terlalu formal dong. Kayak lagi rapat deh."


Juna tak menyahut. Netranya seakan tersihir dengan pesona Lia yang baru bisa dilihatnya sedekat ini. Juna tidak menyangka jika ada makhluk Tuhan seindah dan sesempurna Lia.


"Makan, Pak. Masak dari tadi liatin gue makan mulu?."


Juna nyengir kuda kembali ketika mendengar Lia mengucapkan kata "gue". Lia memutar kedua matanya dengan malas dan segera memanggil Bu Udin untuk memesankan makanan milik Juna.


"Kok tahu saya pesannya lontong pecel sama es teh?."


"Bukannya Bu Udin cuma jualan ini ya? Emang Pak Juna mau makan apa?" tanya Lia


"Saya mau pesan kamu untuk menjadi istriku"ucap Juna dalam hati.


"Kok diem, Pak?."


"Eh iya... saya pesan itu kok. Ditambah bakwan dua sama gorengan tempe dua" jawab Juna cengengesan.


"Waaaduuuuhhhh... banyak banget, Pak. Pantes sih Pak Juna tinggi besar begini. Butuh asupan kalori yang banyak juga."


"Kamu memangnya sudah kenyang dengan porsi segitu?."


"Kenyang lah, Pak. Tapi nanti jam sepuluh saya makan lagi" jawab Lia cuek.

__ADS_1


Juna dan Lia terus berbincang sembari menikmati sarapan masing-masing. Juna tidak menyangka, Lia bisa seenak itu diajak bicara. Jika biasanya guru matematika itu terkesan galak, serius dan kaku, serta tak jauh-jauh dari kacamata dan rumus.


Berbeda dengan Lia, gadis itu sangat ramah dan murah senyum. Periang dan juga lucu. Lalu bagaimana Juna tidak semakin jatuh cinta kepada Lia jika ia semakin terlihat sempurna di mata Juna?


"Anak sudah berapa, Pak?" tanya Lia tiba-tiba.


"A... a.. nak?."


"Iya.. Pak Juna anaknya sudah berapa?" kata Lia mengulang pertanyaannya.


"Saya belum menikah" kata Juna pelan.


Ting...


Sendok yang dipegang Lia terjatuh. Mungkin Lia kaget mendengar ucapanku barusan sehingga sendok yang ia pegang terjatuh.


"Jomblo? hahahaha... Maaf, Pak. Gue kira Pak Juna sudah nikah dan punya anak" kata Lia sembari tertawa.


"Belum ada jodohnya, Lia" ucap Juna setengah memberi kode. Entah Lia peka atau tidak dengan kode yang Juna berikan.


"Sabar, ya Pak. Jodoh pasti bertemu, kata Afgan. Kalau kata Nini Carlina, jodoh takkan kemana..."


"Kalau jodohku maunya ku dirimu???."


Glek...


Juna menutup mulutnya yang langsung asal ceplas ceplos menyambung ucapan Lia. Ia tidak mengerti sejak kapan dirinya bisa bergombal-gambil seperti itu?


"Itu lirik lagunya Anang sama Ashanty, Pak. Bisa aja nyambung judul lagu" kata Lia tergelak.


"Pak, gue duluan ya" pamit Lia.


Ia kemudian memanggil Bu Udin dan mengeluarkan uang dua puluh ribuan untuk membayar.


"Nggak ada kembaliannya" kata Juna menerjemahkan ucapan Bu Udin.


"Duh... padahal gue udah bawa pecahan lebih kecil, masih aja nggak ada kembalian" Lia menggerutu.


"Makanya besok-besok bawa uang dua ribuan. Harga tiga ribuan kok bawa uang gede mulu. Bu Udin baru buka. Mana ada kembaliannya?."


"Ya sudahlah. Bu Udin, ini saya bayar sekalian sama makanannya Pak Juna. Kembaliannya ambil aja deh."


"Eh... kamu bayarin aku lagi?" tanya Juna kaget.


"Nyantai aja lagi, Pak. Anggap aja rezeki. Udah gue duluan ya. Pak Juna kalau mau nambah, ambil aja. Tadi gue bayarnya dua puluh ribuan" kata Lia kemudian langsung berlalu meninggalkan warung Bu Udin.


Juna kembali tersenyum melihat kebaikan Lia. Beberapa kali terlibat obrolan dengannya, Juna dapat menangkap jika Lia adalah sosok yang bisa berbaur dengan siapa saja.


Namun, senyuman Juna langsung memudar ketika melihat Lia berpapasan dengan Andika. Dika menyapa Lia dan langsung mencubit kedua pipinya dengan gemas.


"Kampretttt!!!"


Juna menggebrak meja dengan keras dan itu membuat Bu Udin memekik kaget.


"Sialan si Dika..!!! Berani-beraninya dia menyubit Lia" teriak Juna lagi. Untung saja di warung Bu Udin hanya ada mereka berdua sehingga ucapan Juna barusan hanya didengar oleh Bu Udin.


"Pak Juna jangan ngamuk disinilah! Kalau emang suka sama si eneng cantik. Kejar sana biar nggak direbut Pak Dika" gerutu Bu Udin sembari membereskan piring dan gelas kotor milik Lia.


"Maaf, Bu Udin! Namanya juga reflek"


"Reflek sih reflek. Tapi jangan bikin orang jantungan dong"


Juna tak menyahut ocehan Bu Udin. Ia kembali mengarahkan padangannya ke luar. Hatinya bertambah panas ketika melihat Andika dan Lia berjalan beriringan menuju sekolah. Juna tidak rela. Ia kesal. Ia marah.


"Dika.... Dika... kau bisa menjadi penghalang acara PDKTku pada Lia. Aku tidak mau gagal. Jadi, maaf. Aku harus bertindak tegas padamu" kata Juna dan kembali menyantap makanannya yang masih bersisa.

__ADS_1


__ADS_2