HEI JUN

HEI JUN
27


__ADS_3

"Pak Junaaa.....!"


Juna langsung menoleh ketika kedua indra pendengarannya menangkap sinyal seseorang telah memanggil namanya. Juna yang baru saja tiba di parkiran SMA Cendekia tentu saja menoleh ke belakang. Wajahnya yang masam, semakin masam ketika melihat sosok yang sedang berlari menghampirinya.


Lia, guru baru yang menyandang status mantan wanita incaran Juna, kini berada di hadapan Juna dengan nafas ngos-ngosan. Juna menghela nafas. Mantan wanita incarannya ini mungkinkah sedang latihan lomba maraton? atau dia sedang dikejar suaminya sehingga berlari seperti itu ke arah Juna.


Juna sempat terlalu over percaya diri. Namun, mengingat dirinya yang sudah tidak tersegel membuat Juna segera menghapus kadar narsisnya. Kacang tidak boleh lupa dengan kulitnya. Manusia tidak boleh lupa akan aibnya.


"Pak Juna baik-baik saja?" tanya Lia.


Juna mengangguk.


"Pak Juna menghilang selama tiga hari. Absen dalam pelatihan di Surabaya. Pak Juna tahu? Pihak sekolah kebingungan mencari Pak Juna. Pak Juna kemana? Kenapa bisa menghilang seperti itu?" kata Lia panjang lebar tanpa spasi.


Juna diam. Ia masih memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan Lia.


"Pak Juna, apa ada masalah?" tanya Lia lagi. Juna bisa melihat guratan kekhawatiran di wajah Lia.


"Tidak ada, Lia" kata Juna pendek.


"Lalu kenapa Pak Juna menghilang?" tanya Lia lagi.


"Aku tidak menghilang, Lia. Aku... aku... "


"Pak Juna kenapa?."


"Ah, sudahlah! Ini bukan urusanmu, Lia" jawab Juna ketus. Ia kemudian berlalu meninggalkan Lia.


Juna berjalan dengan cepat menuju ruang kepala sekolah. Hari ini Juna berniat akan menghadap Pak Zaini untuk menjelaskan perihal keabsenan dirinya saat pelatihan di Surabaya. Ia akan mengatakan apa adanya, tanpa ada yang harus ditutup-tutupi walaupun itu aibnya.


Menurut Juna, Pak Zaini adalah orang yang bijaksana. Mengingat saat Juna dipenjara, Pak Zaini tidak langsung memecatnya. Beliau masih meminta penjelasan Juna terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Atas dasar itulah Juna memberanikan diri menghadap Pak Zaini untuk mengatakan yang sejujurnya.


"Woiii... Juna..!!! Ckckckck."


Andika langsung menyambut Juna dengan decakan sebal ketika melihat Juna melintas di koridor.


"Aku tidak menyangka kamu bisa seperti itu, Juna. Apa sih yang ada di otak kamu, Jun? Bukankah aku sudah menyuruhmu kenalan dengan Farhah, guru SMP Cendekia? Dia masih single dan cantik. Kenapa sih kamu malah kembali dengan Diandra?" omel Andika.


Juna mengernyitkan dahi. Karena sejatinya ia tidak paham dengan omelan Andika yang tiba-tiba itu.


"Maksudmu apa?" tanya Juna.


"Kau masih tanya maksudku apa? Setelah video panasmu dengan Diandra viral. Kau masih bertanya maksudku apa? Juna... Juna... Gara-gara ditinggal Hani menikah, kamu malah kacau seperti ini" Andika melanjutkan omelannya pada Juna.


Juna kembali gagal paham dengan omelan Andika. Apa sih yang dibahas Andika? Video panas dirinya dan Diandra viral? Video apa? Kapan Juna dan Diandra janjian untuk membuat konten? Juna semakin bingung.


Tiba-tiba datanglah Pak Udin menghampiri Juna dan Andika. Dia melangkah tergesa-gesa. Wajahnya panik, mengisyaratkan ketakutan dalam dirinya.


Juna semakin merasa aneh. Ada apa sih hari ini? Mengapa semua orang tiba-tiba menjadi seperti ini? Baru saja Juna pergi beberapa hari ke Surabaya dan sekarang orang-orang di SMA Cendekia berubah aneh. Mulai dari Lia, Andika dan sekarang Pak Udin.

__ADS_1


"Pak...Pak... Pak Juna, dipanggil Pak Zaini" kata Pak Udin dengan nafas yang tersenggal-senggal.


"Saya?."


"Iya, Pak Juna. Cepetan, Pak! Sepertinya Pak Zaini sedang marah besar" kata Pak Udin lagi.


"Baik, Pak Udin. Saya memang mau menemui Pak Zaini."


Juna langsung berlari menuju ruang kepala sekolah. Ia dapat melihat Pak Zaini sedang membaca sebuah map dengan wajah yang serius. Juna mengetuk pintu sebelum masuk kemudian duduk di kursi yang letaknya berhadapan dengan kursi Pak Zaini.


Hening...


Pak Zaini belum memulai pembicaraan. Entah mengapa Juna merasakan aura tidak nyaman di ruangan ini. Ia mulai berkeringat dingin. Pikirannya mulai kemana-mana.


"Kemana saja kamu tiga hari ini?" tanya Pak Zaini dingin.


Juna tak menjawab.


"Kamu absen dalam pelatihan kemarin. Juna, jawab!!! Kemana kamu selama tiga hari kemarin?" tanya Pak Zaini, terdengar dari nada suaranya beliau sudah mulai murka.


"Ma... ma... maaf, Pak Zaini. Sa... sa... saya.. kemarin... itu..." Juna malah bingung menjawab.


"Kemarin apa??!!!" bentak Pak Ali lagi.


Juna tersentak kaget. Pasalnya bertahun-tahun ia bekerja di SMA Cendekia. Juna baru pertama kali melihat Pak Zaini membentak bawahannya.


Pak Zaini menampar pipi Juna dengan lembaran-lembaran foto. foto-foto itu langsung berceceran di lantai. Juna mengambil satu foto yang tergeletak di pahanya. Jantungnya seperti akan terlepas saat melihat gambar apa yang terpampang di foto itu.


Juna segera mengambil foto-foto yang lain. Ia semakin dibuat jantungan. Juna langsung diam membatu. Pikirannya kosong.


"Memalukan! Kamu sangat memalukan, Jun!!! Kamu sudah mencoreng nama baik sekolah ini, SMA Cendekia!" teriak Pak Zaini dengan suara yang menggelegar.


"Pak.. saya bisa jelaskan semuanya."


"Apa? Apa yang mau kamu jelaskan? gara-gara kelakuan bejatmu itu. Saya dipanggil oleh pihak yayasan. Saya dikomplain oleh pihak donatur. Juna, apa kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan? Kamu ini pengajar. Tingkah bejatmu ini bisa ditiru oleh anak didikmu" murka Pak Zaini lagi.


"Tapi, Pak. Saya tidak bersalah. Saya korban, Pak. Saya...."


"Korban? Mana ada korban yang menikmati adegan ranjang seperti ini? Kamu pikir saya buta hah?" kata Pak Zaini langsung memotong ucapan Juna.


Juna menunduk. Rasanya percuma saja Juna membela diri. Foto-foto itu seakan menjadi bukti otentik perselingkuhan Diandra dengan Juna. Juna bertanya-tanya bagaimana bisa seseorang mengambil potret mereka berdua? Karena seingatnya hanya ada Juna dan Diandra di kamar itu.


Juna tidak tahu jika Arya memerintahkan bodyguardnya untuk memasang banyak kamera di kamar itu. Kamera itu merekam dan memotret semua aktifitas Diandra dan Juna.


Dari sanalah Arya mendapatkan bukti otentik perselingkuhan istrinya. Sehingga baik Diandra maupun Juna tidak akan bisa mengelak jika Arya melaporkannya ke pihak berwajib dengan kasus zina dan perselingkuhan.


"Kamu dipecat, Jun" kata Pak Zaini membuat Juna langsung mengangkat wajahnya.


"Mak... maksud Pak Zain apa?."

__ADS_1


"Berdasarkan rapat komite, ketua yayasan dan para donatur. Kami memutuskan untuk memecatmu secara tidak hormat."


"Tindakanmu benar-benar mencoreng nama baik lembaga. Kami tidak dapat mentolerir hal itu. Maaf, Juna. Silakan pergi meninggalkan sekolah ini" kata Pak Zaini kemudian pergi meninggalkan Juna.


Otot-otot tubuh Juna langsung lemas seketika. Hatinya remuk. Hancur. Pikirannya kacau. Juna tidak bisa menggambarkan bagaimana kondisinya sekarang. Jiwanya benar-benar tergoncang.


Juna dikeluarkan secara tidak hormat setelah bertahun-tahun mengabdi di SMA Cendekia. Ia di depak begitu saja tanpa sempat membela diri. Apa pihak sekolah tidak melihat dari banyak sisi? Apa pihak sekolah hanya melihat satu kesalahan Juna daripada ribuan kebaikan Juna?


Bukan kehendak Juna bermain api dengan istri orang. Bukan kehendak Juna lepas tangan atas tugas yang diberikan. Jika Juna boleh memilih, Juna pasti akan mengikuti pelatihan itu. Juna masih waras. Tidak ada niatan dalam hatinya untuk merusak rumah tangga orang lain.


Jangankan rumah tangga Diandra. Rumah tangga Lia saja tidak pernah ingin Juna usik. Tidak ada kata pebinor di dalam kamus Juna. Juna sadar diri jika dibandingkan dengan Arya dan Noval, dirinya bagaikan butiran debu yang sekali tiup langsung berterbangan.


Juna segera bangkit dan berjalan meninggalkan ruang kepala sekolah dengan langkah gontai. Entah bagaimana nasib Juna selanjutnya? Ia bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada Bu Tias? Emaknya itu pasti akan darah tinggi.


"Pak Juna!."


Juna menghentikan langkahnya ketika seseorang kembali memanggil namanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Lia.


"Saya dipecat, Lia. Maaf kalau saya ada salah selama kita berteman" kata Juna kemudian berlalu meninggalkan Lia.


Juna berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Ia berjalan menunduk sehingga tidak menyadari jika Andika sedang duduk di atas sepeda motornya. Andika memang sengaja menunggu Juna karena ingin tahu masalah yang menimpa Juna.


"Pulang, Jun?" tanya Andika.


Juna mengangguk.


"Maaf kalau selama menjadi rekan kerjamu, saya banyak salah" kata Juna.


Andika menghela nafas. Ia bangkit dari motor Juna dan berjalan menghampirinya.


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu bertindak seperti itu. Kawan, aku mengenalmu bukan setahun dua tahun. Aku sudah lama mengenalmu...."


"Aku dijebak dan tidak akan ada yang percaya akan hal itu" kata Juna memotong perkataan Andika dengan cepat.


Juna langsung mengambil motornya, menyalakan mesinnya dan langsung tancap gas meninggalkan area SMA Cendekia.


Selama diperjalan, Juna tak henti-hentinya menarik nafas panjang. Menahan butiran bening agar tidak jatuh membasahi pipinya. Mellow, ya? Juna berubah menjadi pria mellow meskipun sudah berumur tiga puluh tahun.


Pikirannya kembali kalut ketika mengingat Bu Tias. Apa yang akan Juna katakan kepada Emaknya? Haruskan Juna berbohong agar Bu Tias tidak bersedih? Tapi sepandai-pandainya Juna berbohong, mulut pedas tetangga pasti bisa membongkar kebohongan Juna dengan cepat.


Di sinilah Juna merasa bingung untuk melangkah. Bagaikan makan buah simalakama. Maju kena, mundur kena. Sepertinya Juna harus berdiskusi dulu dengan Ines dan Haris tentang masalahnya itu. Setidaknya mereka bisa memberi Juna saran tanpa harus menjatuhkan Juna.


Juna terus melajukan motornya menuju rumah. Namun, kedua netra Juna langsung melotot. Degup jantungnya kembali tak beraturan ketika melihat keadaan di sekitar rumah.


Banyak orang berdatangan, ada tenda di depan rumah, dan ada bendera kuning. Juna langsung mematikan motornya. Ia langsung berlari sambil berteriak.


"Emakkkkk.....!!!!."

__ADS_1


__ADS_2