
Haris memiringkan kepalanya ketika melihat Juna . Ia seperti familiar dengan wajah Juna, tapi ia tidak bisa menyebutkan siapakah pemilih wajah itu. Apakah mereka pernah bertemu? Ataukah mereka masih ada hubungan kekerabatan?
Haris lebih mempercayai kemungkinan pertama. Karena tidak mungkin sosok laki-laki tampan di hadapannya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Haris.
Haris sadar diri. Ia lahir dari keluarga miskin. Tidak mungkin ia memiliki kerabat yang bisa dibilang orang kaya. Melihat pakaian Juna yang wangi, cerah dan mentereng langsung membuat Haris kikuk.
Entah ada apa gerangan sehingga Pak RT buru-buru menyuruhnya ke Desa Papaten. Seingat Haris urusan dirinya dengan orang-orang di sini sudah selesai lebih dari setahun yang lalu. Sejak rumah peninggalan Emaknya terbakar, Haris memilih pergi dan tidak pernah kembali ke Desa Papaten.
"Mas Haris, ini Pak Juli. Beliau tadi bertanya mengenai lahan bekas rumah Bu Tias. Sepertinya Pak Juli tertarik untuk membeli tanah itu" ucap Pak RT membuka percakapan.
Haris diam. Ia masih mencerna ucapan Pak RT baik-baik. Berbeda dengan Juna, kedua netranya sudah mulai berkaca-kaca melihat penampakan kakaknya yang kumuh dan lusuh. Andai saja tidak ada Pak RT di sana, Juna pasti langsung memeluk Haris sambil menangis.
Juna harus bisa menahan diri. Ia tidak mau jati dirinya diketahui banyak orang. Seingat Juna, Haris pernah mengatakan jika orang-orang di Desa Papaten menganggapnya sudah meninggal. Meski tidak menemukan mayat Juna pasca kebakaran rumah Bu Tias.
"Lahan itu kan kosong. Mas Haris juga sudah tidak memperdulikannya lagi. Mumpung ada orang yang berminat, bisa dijadikan pertimbangan" ucap Pak RT melanjutkan serangannya.
Haris menggeleng.
"Maaf, Pak RT dan Pak Juli. Lahan itu adalah hak adik bungsu saya, Juna. Saya tidak berhak mengotak-atik lahan itu" ucap Haris dan itu sukses membuat hati Juna mencelos. Ingin melompat, tapi takut ketahuan.
"Tapi Juna sudah meninggal."
"Saya tidak pernah mengatakan Juna meninggal. Kalian saja yang menganggap begitu. Sampai detik ini, saya dan Ines tidak memberikan pernyataan apapun mengenai Juna dan kebakaran rumah itupun tidak pernah kami usut, mengingat percuma saja. Kami tidak akan menang" ucap Haris berapi-api.
Pak RT menjadi salah tingkah. Ia merasa malu karena di hadapan Juna, Haris malah meluapkan amarahnya. Tapi bukan Pak RT namanya jika tidak langsung memutar otak. Ia sudah bertekad harus berhasil menjualkan lahan itu. Karena dalam otaknya, dirinya akan mendapatkan komisi yang besar dari Juna dan Haris.
"Semua sudah terjadi. Toh, sampai sekarang Juna juga tidak muncul. Anggap saja sudah meninggal, Mas Haris" ucap Pak RT enteng.
Brakk
Juna tanpa sadar mengebrak meja. Gerakan spontan dari Juna tentu saja membuat Haris dan Pak RT terkejut. Juna merutuki kebodohannya, harusnya dia diam saja. Jangan bergerak.
"Maaf, saya spontan" ucap Juna malu.
"Pak RT, sepertinya saya perlu berbicara empat mata dengan Mas Haris. Mungkin kita bisa makan di warung atau cafe, Mas? Kebetulan saya juga lapar" kata Juna lagi.
"Tidak bisa! Saya harus ikut" teriak Pak RT lantang.
"Eh, apa urusannya Pak RT?" tanya Haris bingung.
"Saya harus jadi saksi tentang akad jual beli ini. Kalau tidak, saya tidak akan dapat komisi" ucap Pak RT keceplosan.
Juna menggeleng-gelengkan kepalanya. Tua bangka ini masih sama seperti dulu. Mata duitan ngggak ketulungan. Juna lalu membujuk Pak RT, menjanjikannya komisi sebanyak satu juta rupiah jika ia jadi membeli lahan itu. Jumlah yang besar bagi Pak RT, padahal Juna hanya berbohong.
Akhirnya Pak RT mengizinkan Juna dan Haris berbicara empat mata. Juna meminta Haris membawanya ke rumah makan terdekat. Haris membonceng Juna menuju rumah makan "daun bambu"
"Sehat, Mas?" tanya Juna membuka percakapan.
Haris mengernyitkan dahi. Ia merasa aneh dengan orang yang diboncengnya. Suaranya terdengar familiar di telinganya. Tapi sungguh, Haris tidak tahu siapa sosok yang diboncengnya.
"Sehat. Kalau nggak sehat mana mungkin saya boncengin kamu" ucap Haris ketus.
"Kok kurusan, Mas?" tanya Juna lagi membuat Haris semakin heran dengan sosok dibelakangnya.
__ADS_1
"Saya memang kurus, bukan kurusan" lagi-lagi Haris menjawab pertanyaan Juna dengan ketus.
"Mbak Ines sehat, Mas?" kali ini terdengar isak tangis dari mulut Juna.
Haris kaget. Ia lalu menepikan motornya. Hatinya mulai ke barat ke timur dengan tingkah orang di belakangnya. Mesin motor dimatikan, Haris lalu menoleh ke belakang.
"Mas..." Juna langsung memeluk Haris dari belakang. Air matanya langsung tumpah ruah, membasahi baju yang dipakai Haris.
Haris langsung kikuk. Posisi mereka di pinggir jalan. Banyak mata yang melihat tingkah Juna seperti itu. Haris segera melepaskan tangan Juna. Ia langsung turun dari motor dan berdiri agak jauh dari Juna.
"Mas..." panggil Juna lagi.
"Kamu siapa? Kenapa sampai menangis seperti itu?."
"Aku adikmu, Mas. Juna. Aku Juna, Mas" ucap Juna sembari terisak.
Haris langsung tergagap, tubuhnya membeku. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Laki-laki itu mengaku sebagai Juna, adik bungsunya yang dikabarkan menjadi tawanan mafia.
Saat Juna dibawa paksa oleh Dira dan Edward, Paman Juna mengabari Haris jika Juna ditangkap oleh sekelompok orang jahat. Ia mengatakan jika Juna dijadikan tawanan. Haris dan Ines tentu saja kaget. Mereka langsung menghubungi nomor Juna. Namun, tidak aktif. Ponsel Juna sudah dibuang Dira. Sehingga Haris dan Ines tidak dapat menghubungi dirinya lagi.
"Juna? Kamu Juna?."
Juna mengangguk.
"Kamu masih hidup? Kata paman, kamu ditangkap oleh penjahat dan dijadikan tawanan mafia" ucap Haris dan kini bulir-bulir bening mulai berjatuhan dari kelopak matanya.
Tanpa basa-basi. Haris langsung berlari dan memeluk Juna. Ia meluapkan rasa rindunya kepada adik bungsunya itu. Berhari-hari Haris mencari kabar tentang Juna. Berhari-hari Haris mendoakan Juna semoga selamat dari tawanan mafia. Tidak tahu saja si Haris jika adik bungsunya itu menjadi tawanan orang-orang absurd bukan mafia seperti yang di katakan paman mereka.
Mereka kembali naik motor. Haris segera melajukan motornya menuju kabupaten sebelah, tempat tinggal Ines. Selama di perjalanan, Juna tak henti-hentinya bercerita. Seperti apa kisahnya selama satu tahun belakangan. Saking asyiknya bercerita, membuat mereka tidak sadar jika mereka sudah tiba di rumah Ines.
Haris menepikan motornya. Ia dan Juna segera turun. Juna meremas dadanya melihat penampakan rumah Ines yang kecil dan kumuh. Juna bertekad, akan membelikan rumah untuk kedua kakaknya itu. Juna yakin, Kiara dan Elang akan meminjaminya uang untuk membeli rumah.
Tok... tok... tok...
Haris mengetuk pintu. Ia mengucapkan salam dan memanggil Ines. Tak lama, terdengar sahutan dari dalam. Pintu rumah Ines terbuka perlahan, menampakkan si empunya rumah yang muncul dari balik pintu.
"Mas Haris? Tumben kesini tidak telepon dulu? Ada masalah?" tanya Ines.
Ines melirik pada Juna. Sama seperti Haris, ia tidak mengenali Juna sehingga mengacuhkan keberadaannya.
"Kita masuk saja dulu, Nes."
Ines mengangguk. Ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar, mempersilakan Haris dan Juna masuk. Hati Juna semakin teriris mendapati keadaan rumah Ines. Ia juga dibuat kaget dengan keberadaan balita yang sedang tidur di kursi.
"Anakmu mengapa tidur di sini, Nes?" tanya Haris.
"Dia rewel, Mas. Tidak mau diajak tidur di kamar. Mungkin panas. Makanya Ines letakkan di sini, lumayan bisa dapat angin sepoy-sepoy" jawab Ines.
"Namanya siapa, Mbak?" tanya Juna spontan.
"Intan, Pak" jawab Ines sembari mengerutkan kening. Pasalnya ia heran dengan laki-laki yang di bawa oleh Haris.
"Intan pasti kepanasan. Apa tidak ada AC, mbak?" tanya Juna polos. Ia tidak sadar jika pertanyaannya itu membuat kaget kedua saudaranya.
__ADS_1
"AC? Jangankan AC! Kipas angin saja tidak punya, Pak. Lagipula AC itu dayanya besar. Buat makan aja susah, apalagi untuk bayar listrik berAC" jawab Ines ketus.
Hati Juna semakin teriris.
"Ngomong-ngomong dia siapa, Mas? Petugas sensus? Atau penyalur bansos?" tanya Ines sembari mengipas bayinya yang sedang tidur.
"Dia..."
"Aku Juna, Mbak. Aku Juna. Hu....hu...hu..." Juna tidak dapat membendung tangisnya lagi. Ia benar-benar merasa bersalah dengan nasib kedua kakaknya. Juna hidup di negeri seberang sana, dengan berbagai fasilitas mewah yang jauh sekali jika dibandingkan dengan kehidupan kedua kakaknya.
Juna langsung berlari, memeluk Ines. Tangannya mengelus tubuh kakaknya yang semakin kurus. Hanya tulang, begitulang Juna merasakannya.
Ines yang masih belum mencerna ucapan Juna hanya bisa duduk mematung. Ia membiarkan Juna memeluknya tanpa berniat membalas pelukan Juna.
"Maaf, Mbak. Juna membiarkan kalian melarat" ucap Juna di sela-sela tangisnya.
"Juna? Juna siapa?" akhirnya Ines membuka suara.
"Dia Juna, adik bungsu kita" sahut Haris.
Ines langsung mengurai pelukannya. Ia menatap wajah Juna dengan tatapan tidak percaya. Mulutnya menganga, ingin berkata-kata tapi seakan sulit. Tak ada yang bisa Ines ucapkan hanya air mata yang langsung membasahi kedua pipinya.
Juna kembali memeluk Ines. Ia semakin menangis. Tubuh ringkih inilah yang selalu melindungi Juna jika Emak marah. Tubuh ringkih inilah yang selalu membagi lauk saat mereka makan. Juna merindukan Ines. Pengganti Emak yang selalu membelanya.
"Kalian sudah makan? Aku melihat tubuh kalian semakin kurus" Juna mengurai pelukannya.
"Kau ada makanan, Nes?" tanya Haris.
"Maaf, Mas. Ines belum memasak karena Mas Edi belum pulang ngojek" jawab Ines menunduk malu.
Juna langsung mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi jasa pesan antar makanan. Namun, keningnya dibuat berdenyut ketika membaca tulisan di layar ponselnya.
"Disini tidak ada ojek untuk order makanan online?" tanya Juna.
"Juna, apakah kau tidak melihat medan yang kita lalui tadi? Disini tidak bisa beli makan online, jauh dari kota" jawab Haris.
"Lalu kita akan beli di mana?."
"Di warung depan. Apa kau masih berselera makan makanan kampung, Jun?."
Juna mengangguk. Ia segera bangkit mengajak Haris untuk membeli makanan di warung depan. Hanya butuh waktu lima belas menit, Juna sudah kembali dengan tangan yang menenteng banyak plastik.
"Jun, kau membeli makanan sebanyak ini?" tanya Ines kaget.
"Jangan banyak bertanya, Mbak. Ayo makan! Aku tidak mau melihat kalian kurus kering begini di hari pernikahanku."
"APA???!!!" teriak Ines dan Haris bersamaan.
Juna nyengir kuda.
"Juna akan cerita tapi sambil makan."
Ines dan Haris mengangguk. Mereka sama-sama tidak menyangka jika kedatangan Juna membawa kabar yang mengejutkan sekaligus membahagiakan bagi mereka.
__ADS_1