HEI JUN

HEI JUN
118


__ADS_3

Juna langsung gelisah ketika mobil yang menjemputnya membawa mereka ke sebuah restoran. di Restoran itu tidak asing bagi Juna. Juna bahkan sudah hatam berbagai menu yang dijual di restoran itu, baik western food maupun Indonesian food.


Juna melirik ke arah Edward. Rupanya mantan assisten Dira itu tidak melirik balik ke arah Juna. Edward asyik menyetir sembari bersenandung, memecah keheningan di dalam mobil.


"Kita sudah sampai di restoran" ucap Edward.


Juna melirik lagi ke arah Edward. Tanpa diberitahupun, Juna sudah tahu jika mereka sudah sampai. Juna enggan sekali untuk keluar dari mobil. Ia ingin meminta Edward untuk mencari restoran lain tapi Juna juga sungkan untuk mengatakannya.


"Mas, sudah sampai! Ayo, turun! Aku sudah lapar" rengekan Athalia membuat Juna mengalah. Ia kemudian membuka pintu mobil dan nergegas keluar dari mobil.


"Pak Edward...." bisik Juna.


"Kenapa Pak Mayjuna?."


"Emmhhh..." Juna ragu untuk mengatakannya.


Atha menghampiri Juna. Ia menangkap kegelisahan dalam diri Juna. Atha pikir Juna merasa tidak nyaman di tempat itu sehingga ia berinisiatif untuk memeluk pinggang Juna dengan manja.


"Kenapa, sayang?" tanya Juna heran.


"Aku sudah lapar. Mengapa masih berdiri di sini?."


Edward yang menjadi obat nyamuk segera mengajak Juna dan Atha untuk masuk ke dalam restoran. Ia sudah menyiapkan meja VVIP untuk Juna.


Sebenarnya restoran yang didatangi Juna adalah restoran milik Lily. Sejak Lily dan Edward menikah, Carlos menyerah tonggak kepemimpinan kepada Edward sedangkan Lily mengurus bisnis hotel yang dirintis Carlos.


Edward mengajak Juna ke restoran milik Lily dengan pertimbangan dirinya bisa memesan langsung makanan apa yang ingin dimakan Jun dan Atha. Chef di restoran itu akan membuatkan makanan apapun sesuai perintah Edward.


Edward tidak bisa melakukan hal itu di restoran lain. Karena ia pasti akan didamprat dan dimaki-maki oleh pemilik resto.


"Restorannya bagus, Pak Edward. Disini ada menu apa saja?" tanya Atha penuh merasa kagum.


"Semuanya ada untuk Nyonya dan Pak Mayjuna. Kalian mau makan apa? Silakan di sebutkan!" kata Edward.


Edward memanggil salah satu pelayan. Pelayan itu langsung membungkuk dan bersiap mencatat pesanan Atha dan Juna.


Atha yang memang sedang kelaparan langsung saya memesan makanan. Mulutnya sangat lancar mengabsen berbagai macam makanan yang ingin Atha makan.


Juna benar-benar dibuat melongo dengan rentetan makanan pesanan istrinya. Ia sampai tidak bernafsu untuk makan. Biarlah istrinya saja yang makan, Juna akan menjadi penonton setia saat Athalia makan.


"Pak Mayjuna tidak mau memesan juga?" tanya Edward.


"Tidak, Pak. Saya sudah kenyang mendengar pesanan istri saya tadi. Maaf jika merepotkan Pak Edward. Saya juga tidak tahu sejak kapan istri saya doyan makan seperti ini" kata Juna sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Edward mengangguk. Ia kemudian pamit undur diri dari meja Juna. Edward berjalan menuju dapur, memerintahkan semua chef di sana untuk memasak selezat mungkin. Edward tidak mau membuat Juna dan Atha kecewa. Tamu VVIPnya itu harus puas dengan pelayanan dan cita rasa makanan di restoran yang dipimpinnya. Meski Juna belum tahu akan hal itu.


Tiga puluh menit kemudian, satu persatu makanan pesanan Atha datang. Perempuan itu langsung menelan air liurnya ketika melihat makanan-makanan itu tertata rapi di atas meja.


Atha segera mengambil sendok dan garpu. Ia menarik piring berisi ayam panggang tanpa tulang ke hadapannya.


"Aemmmm" Atha mengunyah secara perlahan sembari menutup kedua matanya. Ia benar-benar meresapi cita rasa makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Sesuap, dua suap, Atha terus melahap ayam panggang itu. Enak dan lezat sekali.


"Kamu tidak makan, mas?" tanya Atha.


Juna menggeleng.


"Sayang, saya ingin berbicara dengan Pak Edward sebentar. Apakah kamu tidak keberatan jika saya tinggal?" tanya Juna hati-hati.


"Tidak, Mas. Pergilah! Aku akan anteng di sini. Tapi, jangan matikan ponselmu!" kata Atha.


Juna mengangguk. Ia kemudian bangkit dan mengecup pucuk kepala Atha. Juna segera melangkah, mencari Edward ke kanan dan ke kiri.


"Mas...!Sini!" panggil Juna. Untung saja Juna masih bisa berbahasa Spanyol sehingga ia tidak akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi di sana.


"Yes, Sir! Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.


"Saya mencari seseorang. Dia memesankan meja VVIP untuk saya. Laki-laki tampan, tapi lebih tampan saya. Kira-kira tingginya segini. Kulitnya putih, lalu dia mengenakan jas berwarna hitam berdasi merah" ucap Juna.


Pelayan itu mengernyitkan dahi. Ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan Juna. Harusnya Juna tidak bertanya kepadanya melainkan kepada pusat informasi. Pelayan itu berfikir jika Juna hilang dari rombongan sehingga panik seperti itu.


"Namanya Edward! Dia yang memesan meja VVIP untuk saya."


Pelayan itu langsung membungkuk. Ia yakin Edward yang dimaksud adalah bos nya. Pelayan itu lalu mengajak Juna. Ia akan mengantarkan Juna ke ruang kerja Edward.


"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Juna, kakinya masih setia mengekori pelayan itu.


"Ke ruangan Mr. Edward."


"Bukan, Pak. Mr. Edward adalah pemimpin restoran ini."


Juna kembali terkejut. Ia tidak menyangka jika restoran itu sekarang dipegang oleh Edward. Juna pikir setelah menikah dengan Lily, Edward akan mengurus perusahaan milik Carlos. Karena setahunya kemampuan Edward dalam lobi-melobi sudah tidak usah diragukan.


Tok...tok...tok..


Pelayan itu mengetuk pintu ruang kerja Edward. Setelah mendengar perintah untuk masuk, pelayan itu membuka pintu dan mempersilakan Juna untuk masuk. Juna kembali mematung, ternyata ucapan pelayan itu bukan kaleng-kaleng. Edward memang pemimpin di restoran itu.


"Pak Mayjuna? Mengapa Anda ke sini? Apakah ada masalah?" tanya Edward cemas.


"Bukan...bukan...saya hanya ingin mengobrol dengan Pak Edward. Saya pikir Pak Edward hilang. Saya tanya ke pelayan lalu pelayan itu mengantarkan saya ke sini. Pak Edward, sekarang restoran ini?" tanya Juna.


Edward menghela nafas. Ia segera mempersilakan Juna untuk duduk. Tak lupa Edward menyuruh pelayan itu kembali ke bawah. Ia ingin berbicara empat mata dengan Juna.


"Pak Mayjuna ingin bicara apa?" tanya Edward.


"Saya hanya ingin meminta maaf."


"Maaf, untuk?" tanya Edward lagi.


"Saya masih merasa bersalah karena gara-gara saya, Pak Edward menikah dengan Lily. Pak Edward dipecat dari Sanjaya corp dan berakhir di sini. Saya sungguh merasa bersalah" ucap Juna tulus.


"Ini sudah takdir saya, Pak Mayjuna. Anda tidak perlu merasa bersalah" kata Edward berusaha tegar meskipun dalam hatinya ia juga merasa sedih.

__ADS_1


"Apakah Pak Edward tidak pernah bertemu Mr. Adirra lagi?" tanya Juna.


Edward menggeleng.


"Sejak kejadian itu, Mr. Adirra seperti menghukum saya. Saya sudah berusaha menemuinya di New York. Saya sampai mengemis agar Mr. Adirra kembali menarik saya kembali di Sanjaya corp. Tapi dia mengacuhkan permintaan saya" ucap Edward sedih.


Juna kembali merasa bersalah kepada Edward.


"Apa Pak Edward sudah pernah mencoba berbicara dengan Nyonya Kiara?."


"Sudah! Nyonya Kiara juga tidak bisa membantu karena itu adalah wilayah teritorial Mr. Adirra" Edward menerawang ke atas. Ia mencoba menepis rasa sedihnya agar tidak terlihat oleh Juna.


"Pak Mayjuna jangan bertanya lagi. Karena si Othor bilang kisah saya akan di tulis setelah cerita Pak Mayjuna tamat. Jadi, mari kita bahas yang lain" ajak Edward.


Juna mengangguk lalu ia menepuk jidatnya karena teringat dengan Atha. Juna yang masih ingin mengobrol dengan Edward tentu saja harus menunda keinginannya. Ia pamit kepada Edward dan segera pergi meninggalkan ruang kerja Edward.


Juna berjalan setengah berlari, kembali menuju tempat Athalia. Ia bisa bernafas lega ketika melihat istrinya masih anteng melahap kepiting besar yang dimutilasi dengan gigi kecilnya.


"Sayang, kau belum selesai juga?" tanya Juna. Ia kemudian duduk di samping Atha.


"Belum, Mas. Makanan di sini enak-enak semua. Nafsu makanku langsung naik sepuluh kali lipat. Lihat! Perutku belum kenyang juga sampai sekarang" kata Atha.


Atha kemudian menyuapi Juna. Ia merasa kasian karena sejak tadi Juna belum makan apa-apa. Sesekali Atha masih menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri, bergantian sembari menyuapi Juna.


"Apa kita akan membuka restoran saja, sayang? Melihatmu suka makan seperti ini membuatku senang" ucap Juna.


"Apa kau punya uang, Mas?."


"Uangku banyak. Saking banyaknya sampai saya tidak bisa menghitungnya" kata Juna terkekeh.


"Boleh, kalau kamu mau buat restoran. Aku dukung" kata Atha kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut Juna.


"Nanti setelah kembali ke Jakarta, saya akan diskusi dulu dengan Nyonya bos. Saya masih awam, belum begitu cerdas dalam dunia bisnis" ucap Juna lagi.


Ketika mereka sedang asyik makan. Tiba-tiba Juna merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya. Juna berhenti mengunyah. Ia menoleh ke belakang dan..


"Juna? Honey? Ini kamu kan?" seru Lily senang.


Juna langsung mematung. Ia tidak menyangka akan bertemu Lily di sana.


Lily yang memang hobi nyosor, langsung saja memeluk Juna. Tak lupa kecupan cap cip cup langsung memenuhi wajah Juna.


Brakkk.


Atha memukul meja dengan keras. Hatinya langsung panas melihat suaminya dicium bule Spanyol seperti itu. Atha menatap tajam ke arah Lily. Rasanya ingin sekali Athalia menerkam Lily dan mencakar-cakar wajahnya. Ia tidak suka dengan tingkah Lily yang main nyosor mencium suaminya.


"Hei, kau siapa? Mengapa marah-marah?" tanya Lily.


"Saya Athalia. Istri dari Mayjuna July Agustino."


"APA????!!!!" teriak Lily tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2