HEI JUN

HEI JUN
70


__ADS_3

"Silakan masuk, Pak Arya!" ucap Pak Udin.


Arya melirik Pak Udin dengan ekor matanya. Lirikan jijik dan meremehkan ia tampakkan pada Pak Udin. Sedetik kemudian Arya berjalan dengan pongah, menghampiri Juna yang sejak tadi berkutat dengan laptopnya.


Entah apa yang dikerjakan Juna. Sejak ia mendarat di kursi kebesarannya, Juna langsung membuka laptop. Mengetik, browsing dan membuat grafik. Kedatangan Arya di ruang kerjanya belum disadari Juna.


Untung saja ada Pak Danu, orang yang dikirim Kiara untuk mengurus keperluan Juna di sana. Pak Danu bangkit dari tempat duduknya dan mempersilakan Arya untuk duduk.


"Pak Mayjuna, tamu Anda sudah datang" ucap Pak Danu menghentikan aktifitas Juna.


Arya memiringkan kepalanya mendengar nama yang disebutkan oleh Pak Danu. Merasa heran dan menduga jika pemilik nama itu adalah orang yang dikenalnya.


"Oh, Pak Arya sudah datang! Maaf, saya tidak menyadari kedatangan Pak Arya sehingga tidak menyambut Anda dengan baik."


"Basi!" cibir Arya yang langsung membuat Juna kaget.


"Pak...Pak..Arya bilang apa? Nasi? Pak Arya mau makan?" tanya Juna bingung. Ia sebenarnya mendengar apa yang dikatakan Arya. Namun, Juna sengaja memplesetkannya.


"Tak usah bertele-tele. Anda siapa? Mau apa? Kata anak buah saya, Anda yang menghalangi mereka untuk menagih hutang si tua bangka Narto. Apa benar?" teriak Arya emosi.


"Tolong jaga sikap Anda!" gertak Pak Danu.


Ia memberi tatapan tajam kepada Arya. Kesan pertama saja sudah membuat Pak Danu tidak menyukai Arya. Pak Danu ingin sekali mematahkan leher Arya agar tidak sok di hadapan orang lain.


"Saya Mayjuna July Agustino, pemilik SMA Cendekia yang baru. Kebetulan saya sedang menjenguk Pak Narto, orang tua dari Fira yang merupakan salah satu pengajar di sini" ucap Juna tenang.


"Karena Pak Narto memiliki tanggungan kepada Anda. Saya ingin membantu beliau dengan membayarkan semua hutang Pak Narto."


"Kau pikir hutang si tua bangka sedikit hah? Jangan jadi sok pahlawan, bung! Bisa-bisa dompet Anda menangis setelah membayar hutang si tua bangka" ejek Arya karena ia pikir Juna adalah orang menengah yang tidak memiliki banyak uang.


"Kalau boleh saya tahu berapa nominal hutang Pak Narto?."


"Dua ratus juta."


"Semua hutangnya kan ya? Tidak ada cicilan yang terlupakan?" tanya Juna memastikan.


Brak!!!


"Anda menantang saya? Pake tanya cicilan yang terlupakan pula" bentak Arya emosi.


Pak Danu yang segera mengambil sepatunya. Ia melempar sepatu kanannya kepada Arya. Pak Danu benar-benar gemas melihat tingkah Arya yang tidak sopan di hadapan Juna.


"Ape lo???" teriak Arya.


"Yang sopan, Pak! Anda tamu di sini. Apa Bapak tidak pernah dididik sopan santun oleh orang tua Anda?" ucap Pak Danu kesal.


Arya mengambil sepatu milik Pak Danu. Ia hendak melempar balik ke arah Pak Danu. Namun, kedua netranya langsung membola ketika mengetahui merk sepatu itu.


'Sepatu mahal' batin Arya.


Arya mengusap-usap sepatu itu seperti mengusap lampu ajaib yang mengeluarkan jin botol. Arya benar-benar terpana dengan sepatu yang dipegangnya.


"Punya saya. Bapak bisa beli kalau pengen" ejek Pak Danu setengah mendelik.


"Pak Arya, maaf bisa kita kembali ke topik pembicaraan? Saya mau membayarkan hutang Pak Narto. Dua ratus juta kan?" ulang Juna.


Arya mengangguk.

__ADS_1


Juna mengambil tas ransel yang ia cantolkan di belakang kursi kebesarannya. Juna membuka tas ransel itu dan mengeluarkan isinya. Ia menghitung sebanyak dua puluh banded pecahan seratus ribuan di depan Arya dan Pak Danu.


Arya menelan ludah. Kedua matanya langsung bersinar terang melihat tumpukan uang di hadapannya. Arya ingin segera menarik uang itu dan membawanya pulang. Malam ini sepertinya Arya bisa tidur nyenyak berselimut lembaran uang seratus ribuan.


"Silakan tanda tangan, Pak Arya!" perintah Juna.


"Tanda tangan? Untuk apa?."


"Sebagai bukti pelunasan hutang Pak Narto. Saya tidak ingin nantinya anak buah Pak Arya kembali ke rumah Pak Narto untuk menagih hutang kembali."


"Anda tidak percaya dengan saya?" tanya Arya.


"Jelas tidak! Saya dapat melihat jika Anda tidak pernah melihat uang yang banyak."


"Anda menghina saya. Kau tidak tahu siapa saya hah?" bentak Arya.


"Saya tahu. Anda Pak Arya, anak juragan cabai yang paling kaya di desa ini. Dulu, sebelum ada saya di sini" ucap Juna.


Wajah Arya memerah. Ingin rasanya ia merobek mulut Juna yang sejak tadi menghinanya. Sebenarnya apa yang dikatakan Juna benar adanya. Namun, karena Arya saja yang gampang tersulut emosi sehingga menganggap jika ucapan Juna adalah sebuah hinaan baginya.


Pak Danu segera menyodorkan kertas dan pulpen ke arah Arya. Ia meminta Arya segera menandatangi kertas itu. Pak Danu sudah muak melihat tingkah Arya. Padahal baru beberapa menit mereka berada di dalam satu ruangan.


Arya langsung tanda tangan tanpa membaca isi dari kertas itu. Setelah itu, Juna langsung memberikan tas ransel berisi uang dua ratus juta kepada Arya.


Arya tersenyum bahagia. Ia langsung memeluk ransel itu. Pak Danu segera menyuruh Arya pergi. Urusan mereka sudah selesai, sehingga tidak ada alasan untuk Arya masih berada di ruangan Juna.


"Pak Mayjuna nemu di mana orang seperti itu?" tanya Pak Danu setelah Arya pergi dari ruangan Juna.


"Kenapa Pak Danu?."


"Menyebalkan sekali, Pak. Saya pikir Mr. Adira adalah orang yang paling menyebalkan. Tapi, bertemu orang itu membuat saya mencabut julukan itu untuk Mr. Adira. Laki-laki itu sudah miskin, sombong lagi. Masak lihat sepatu LV saja pakai diusap-usap seperti lampu ajaib? Paling setiap hari pakai sandal jepit" cibir Pak Danu meluapkan kekesalannya pada Juna.


"Apa tugas saya ada lagi, Pak Mayjuna?."


"Tidak ada, Pak. Pak Danu bisa kembali. Terima kasih atas bantuannya" ucap Juna kemudian menyalami Pak Danu.


***


"Pak May....!!!!."


Fira berteriak sembari berlari mengejar Juna. Juna yang hendak masuk ke dalam mobil tentu saja mengurungkan langkahnya. Ia menutup pintu mobil yang tadi dibukanya.


"Ada apa Fira? Mengapa kamu berlari seperti itu?" tanya Juna.


"Apa benar?."


Fira tidak dapat melanjutkan ucapannya. Nafasnya masih tersenggal-senggal.


"Minum!" Juna menyodorkan sebotol air mineral yang selalu ia bawa di dalam mobilnya.


Fira menerimanya dan meminumnya sampai tandas.


"Terima kasih, Pak May" Fira tersenyum malu-malu ke arah Juna.


"Apa benar Bapak melunasi hutang keluarga saya? Ibu bilang ada orang suruhan Mas Arya datang ke rumah mengembalikan sertifikat rumah dan sawah milik ibu" ucap Fira dengan kedua netra yang berkaca-kaca.


Juna tersenyum lalu mengangguk ke arah Fira.

__ADS_1


"Kenapa, Pak?."


"Kenapa? Karena saya punya hutang pada Diandra" jawab Juna tenang.


"Bapak bohong! Mbak Diandra tidak mungkin meminjamkan uangnya sebanyak itu. Dia tidak punya uang, Pak. Dua ratus juta jumlah yang banyak. Kalau dua juta baru saya percaya" ucap Fira bersikeras.


"Terserah kamu percaya atau tidak, yang jelas saya mempunyai hutang pada Diandra" ucap Juna kemudian ia membuka pintu mobil.


"Pak May...!!!."


"Ya?" Juna urung kembali masuk ke dalam mobil.


"Ayah ingin bertemu Pak May. Ayah mau mengucapkan terima kasih."


"Naiklah! Saya akan ke rumahmu sekarang."


Fira dan Juna masuk ke dalam mobil. Juna segera menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Juna mengendarai dengan perlahan. Ia masih lupa jalan menuju rumah Fira sehingga Fira kembali menjadi penunjuk jalan.


"Pak May, terima kasih!!."


Bu Tatik langsung berlari dan memeluk kaki Juna saat Juna baru saja keluar dari mobil. Juna tentu saja kaget dan tidak menduga jika mendapat sambutan seperti itu.


Juna membantu Bu Tatik untuk bangun. Tak elok rasanya seorang Ibu memeluk kakinya. Andai bisa diputar, harusnya Juna lah yang memeluk kaki Bu Tatik.


"Terima kasih, Pak May! Terima kasih! Bapak mau menolong keluarga kami" ucap Bu Tatik sembari menangis tersedu-sedu.


"Ibu tidak perlu seperti ini. Saya hanya membayar hutang saya pada Diandra."


"Tapi..." ucapan Bu Tatik terhenti ketika Juna memberikan kode agar tidak melanjutkan ucapannya.


Bu Tatik tersenyum tipis. Ia lalu mengajak Juna untuk masuk ke kamar Pak Narto.


"Bapak mau mengucapkan terima kasih kepada Pak May" ucap Bu Tatik ketika mereka tiba di kamar Pak Narto.


Juna duduk di pinggir kasur. Ia memberanikan diri menggenggam tangan orang yang sejak dulu membencinya. Juna masih ingat bagaimana Pak Narto menghina dirinya, menghina Emaknya, bahkan memenjarakan mereka dengan kasus palsu.


Sekarang laki-laki sombong itu sudah tidak memiliki daya. Ia hanya bisa tidur, tergeletak di atas kasur. Miris. Juna menatap manik mata Pak Narto dengan iba. Rasa dendamnya seakan luruh melihat ketidakberdayaan Pak Narto saat ini.


"Eeeeeeuuuhhhh.... Eeeeuhhh...maa..... aaaa......sshhhiiiihhhhhh" ucap Pak Narto susah payah.


Juna menggeleng. Ia tidak mau Pak Narto berkata-kata lagi. Juna tidak tega melihat Pak Narto yang kesulitan menggerakkan bibirnya.


Fira segera keluar. Ia kembali dengan membawa kertas dan bolpoin. Fira yakin jika Ayahnya ingin berbicara banyak dengan Juna.


'Pak, terima kasih. Terima kasih' Tulis Pak Narto.


"Bapak tidak perlu mengucapkan terima kasih terus menerus. Sudah! Jangan dibahas lagi" ucap Juna merendah.


'Boleh saya meminta satu hal pada Bapak?'


Juna mengernyitkan dahinya.


"Apa?."


'Tolong nikahi Fira...."


Kedua netra Juna langsung membola ketika membaca kalimat yang ditulis Pak Narto.

__ADS_1


'Saya mohon. Nikahi Fira....'


__ADS_2