HEI JUN

HEI JUN
72


__ADS_3

Cafe Starbruk 10.00 WIB


"Selamat pagi menjelang siang dokter Athalia. Maaf saya membuat Anda menunggu."


Kiara langsung menarik kursi di depan Athalia dan mendudukinya. Perutnya yang semakin membesar memasuki kehamilannya yang ketujuh membuat Kiara semakin susah bergerak. Ditambah lagi Kiara semakin sering lapar sehingga ia harus berhenti beberapa kali untuk membeli jajanan di pinggir jalan. Hal inilah yang menyebabkan Kiara terlambat bertemu dengan Atha.


"Dokter Atha, masih ingat denganku?" tanya Kiara ramah.


Atha menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana mungkin ia lupa dengan perempuan di hadapannya. Sosok yang selalu dipanggil Nyonya Bos oleh Juna sekaligus mantan calon adik ipar.


"Saya tidak mungkin lupa dengan Anda, Nyonya Sanjaya. Anda adalah atasan suami saya, Juna."


"Mungkin jangan terlalu formal kali yah. Biar nggak tegang. Kalimat bu dokter tadi salah lho" ucap Kiara mencoba mencairkan suasana.


Jujur saja sejak tadi kecanggungan terjadi diantara mereka. Kiara tidak suka suasana seperti itu. Ia mencoba menebalkan mukanya dan bersikap santai agar Atha tidak terlalu tegang berbicara dengannya.


"Pertama, saya bukan Nyonya Sanjaya. Sejak saya menikah, nama belakang saya menjadi Wilson. Jadi status saya adalah Nyonya Wilson. Kedua, saya bukan atasan Mas Juna. Sejak Mas Juna membantu menemukan saya saat diculik, Mama Widya meminta saya dan Abang Dira untuk mengangkat Mas Juna menjadi saudara kami. Jadi dia adalah anak tengah di keluarga Sanjaya" kata Kiara menjelaskan.


"Lalu maksud dan tujuan Nyonya Wilson mengajak saya untuk bertemu apa?."


"Ada 2 hal yang ingin saya bicarakan dengan bu dokter."


"Apa itu?" tanya Atha penasaran.


"Perihal Abang Dira dan honeymoon bu dokter dan Mas Juna."


Athalia langsung tersedak mendengar ucapan Kiara. Saat Kiara berbicara tadi, dirinya sedang menyedot es jeruk yang ia pesan.


"Bu dokter kaget?."


Atha mendengus kesal. Bagaimana bisa Kiara masih bertanya seperti itu? Mendengar kata honeymoon tentu saja dia kaget. Atha menikah dengan Juna karena terpaksa. Ia pun sudah berniat akan bercerai setelah 6 bulan masa percobaan pernikahan mereka.


Sekarang dengan santainya Kiara datang menemuinya dan mengatakan ingin membahas masalah honeymoon? Kiara pasti becanda. Di dalam pikiran Atha tidak pernah terbesit kata itu.


"Saya akan mengurus semua keperluan honeymoon kalian. Bu dokter tinggal bilang mau kemana. Mas Juna juga setuju jika bu dokter yang memilih tujuan honeymoon kalian."


"Tunggu! Sepertinya ini salah paham."


"Salah paham? Apanya yang salah?."


Atha menarik nafas panjang.


"Saya tidak mau membahas hal itu" ucap Atha dingin.


"Kenapa? Bu dokter bingung mau kemana? Bu dokter takut Mas Juna nggak sanggup bayar?."


"Saya tidak menginginkan honeymoon itu" ucap Atha dengan suara yang agak meninggi.


Kiara buru-buru meneguk air mineral di depannya. Seperti biasa dirinya tidak bisa kaget sedikitpun. Ia langsung mengunyah strawberry cake di hadapannya. Untung saja Atha sudah memesankan makanan dan minuman sebelum Kiara datang. Sehingga ia bisa mengalihkan rasa kagetnya kepada makanan.


"Bu Dokter belum menerima Mas Juna?" tanya Kiara lirih.


"Sampai kapanpun saya tidak bisa menerima Juna."


"Apa kurangnya Mas Juna dimana bu dokter?."


"Tidak ada. Hanya saja saya tidak bisa membuka hati untuknya."


"Bu Dokter masih nunggu Abang Dira?" tanya Kiara lagi.


Athalia tidak menjawab. Bungkamnya Atha membuat Kiara menyimpulkan jika jawaban dari pertanyaannya adalah "Ya".

__ADS_1


"Abang Dira tidak perlu ditunggu. Dia sudah menemukan tambatan hatinya. Bu dokter, tolong berhenti mengharapkan Abang. Bukalah hatimu pada Mas Juna. Dia suamimu sekarang" ucap Kiara bijak.


Athalia tetap bungkam.


"Tapi aku hanya mencintai kakakmu. Dia cinta pertamaku" Atha akhirnya bersuara setelah bungkam sekian menit.


"Tapi dia tidak mencintaimu. Abang sudah bahagia di New York. Saya harap bu dokter bisa bahagia juga dengan Mas Juna" ucap Kiara dingin.


"Apa yang kau lihat dari Abangku yang konyol itu? Mengapa kau sangat tergila-gila padanya? Mama Widya memang menjadi tersangka utama pada kasus ini. Mama terlalu memaksa menjodohkan Abang denganmu."


"Dia yang sudah menolongku. Aku tidak peduli sekonyol apa kakakmu. Bagiku dia tetaplah lucu. Aku memang kecewa dengan penolakan Kak Dira. Apa kurangku sampai dia menolakku?" ucap Atha menunduk.


Kiara memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia benar-benar tidak menyangka jika kakaknya memiliki fans garis keras seperti Athalia.


Kiara mengambil tisu di dalam tasnya lalu menyodorkan kepada Atha. Ia tahu jika perempuan di hadapannya sudah mulai menangis.


"Bu dokter tidak memiliki kekurangan apapun. Hanya saja kalian tidak berjodoh. Jangan memaksakan keinginan kita jika Tuhan tidak menuliskan seperti apa yang kita mau."


Kiara berhenti sejenak.


"Mas Juna memang tidak sempurna. Jauh jika kau membandingkannya dengan Abang. Kau yang tercipta sebagai perempuan nyaris tanpa cela, mungkin saja ditakdirkan untuk melengkapi kekurangan Mas Juna."


Atha menggeleng. Ia tidak menerima argumen Kiara.


"Aku tidak punya waktu banyak. Satu jam lagi aku harus meeting. Jika Bu dokter tidak ada ide untuk tujuan honeymoon, biarkan aku yang menentukan."


"Aku tidak mau dan tidak bisa."


"Sedangkan aku tidak menerima penolakan. Nada harus tahu bahwa darah Sanjaya yang mengalir dalam tubuhku membawa gen tidak menerima penolakan."


"Kau egois. Kau pemaksa. Aku tidak menyangka jika seorang putri di keluarga Sanjaya seperti itu" umpat Athalia kesal.


"Dan kau pasti lebih tidak menyangka jika Kakakku lebih egois dan pemaksa dari aku. Kau hanya melihat sisi konyolnya. Kau belum tahu sisi kejam seorang Adiraka. Bu dokter, Tuhan sudah berbaik hati mengirimkan jodoh yang baik dan kalem seperti Mas Juna. Kau saja yang tidak bersyukur" Kiara balik mencibir Atha.


"Tidak!!! Apa-apan ini? Kau pikir aku pengangguran? Aku harus bekerja di rumah sakit" tolak Atha tegas.


"Bu dokter, suamimu yang kalem itu bisa menafkahimu meskipun kau rebahan selama bertahun-tahun. Dia memiliki 5% saham di Sanjaya corp dan di ADR group. Kau tidak usah risau mengenai masalah pekerjaan di rumah sakit. Kalau perlu besok Kiara buatkan rumah sakit sendiri atas nama bu dokter. Asal...." Kiara menggantungkan ucapannya.


"Asal apa?" tanya Atha penasaran.


"Bu dokter langsung hamil kembar empat setelah pulang dari honeymoon" ucap Kiara kemudian ia bangkit dan bergegas meninggalkan tempat itu.


***


Suhri menepuk bahu Fira yang sedang melamun di warung Bu Udin. Sudah satu jam Fira ngendon di warung Bu Udin. Ia memesan lontong pecel dan es teh sebagai menu makan siangnya. Namun, sudah satu jam berlalu makanan dan minuman yang dipesannya masih utuh.


"Galau ya?" ejek Suhri. Ia kemudian mengambil alih makanan dan minuman Fira. Mubazir. Lebih baik Suhri melahap makanan itu daripada dibiarkan tergeletak di atas meja.


"Ri..." panggil Fira.


"Hmmm."


"Pak May nggak masuk" ucap Fira lirih.


Suhri yang semula menyantap lontong pecel dengan semangat tiba-tiba menghentikan suapannya.


"Sakit?" tanya Suhri.


Fira menggeleng.


"Izin?."

__ADS_1


Fira menggeleng lagi.


"Oh, berarti tanpa keterangan alias alpa" Suhri lanjut menyuapkan lontong pecel ke dalam mulutnya.


"Kemarin Ayah menyuruh Pak May ke rumah, Ri."


"Ngapain?."


"Ayah minta Pak May nikahin aku."


Byuurrrr.


Suhri menyemburkan es teh yang baru saja di teguknya. Ia kaget bukan main mendengar perkataan Fira. Suhri tidak habis pikir, bagaimana bisa kedua telinganya error berjamaah seperti itu? Bisa-bisanya ia mendengar kalimat yang salah.


Suhri memukul-mukul daun telinganya. Ia harus membenarkan kedua telinganya sebelum bertanya lagi kepada Fira.


"Tadi bilang apa?."


"Ayah minta Pak May nikahin aku."


Prang.


Kali ini Suhri menyenggol piring lontong pecelnya. Ia langsung membatu karena ternyata kedua telinganya tidak rusak. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Pak Narto meminta seperti itu?


Fira paham akan kebingungan yang dirasakan Suhri. Ia kemudian menceritakan kejadian kemarin. Saat Juna melunasi hutang-hutang keluarganya pada Arya dan permintaan Ayahnya agar Juna mau menikahi Fira.


Suhri tak mampu berkata apa-apa. Ia tidak habis pikir mengapa pamannya meminta seperti itu? Apakah pamannya akan pergi? Apakah sisa umurnya sudah tidak banyak lagi? Suhri merinding. Ia tidak dapat membayangkan jika hal itu terjadi.


"Lalu Pak May jawab apa?."


"Beliau langsung pergi, Ri."


Suhri menepuk jidatnya.


"Pak May pasti kaget diminta seperti itu oleh Om Narto. Lagian ngapain sih Om Narto pakai minta Pak May buat nikahin kamu? Kenal juga barusan."


"Entahlah, Ri. Aku juga kaget waktu Ayah menulis seperti itu. Aku jadi tidak enak hati dengan Pak May."


"Cepat minta maaf. Bilang sama Pak May agar tidak ambil pusing dengan permintaan Om Narto."


"Gimana mau minta maaf kalau Pak May aja nggak tau dimana?" tanya Fira kesal. Ia benar-benar bingung harus bagaimana.


"Tanya Pak Zaini! Beliau pasti tahu" usul Suhri lagi.


"Sungkan, Ri."


"Lah kamu sama kepala sekolah sungkan, sama pemilik sekolah nggak ada sungkan-sungkannya. Gimana sih Fir?" omel Suhri.


"Aku juga nggak ngerti kenapa kalau sama Pak May nggak ada sungkan-sungkannya kayak teman aja."


Suhri menepuk jidatnya. Bagaimana bisa sepupunya itu bertingkah seperti itu? Bagi Suhri baik Pak May ataupun Pak Zaini harus sama-sama disegani. Keduanya adalah orang penting dan terhormat.


Sepertinya Suhri harus mulai mendidik Fira agar tidak cablak di depan Pak May. Dia sendiri malu mengetahui hal itu.


"Mulai besok jaga sikap jika bertemu dengan Pak May. Beliau itu pemilik sekolah bukan teman kamu. Segitu gampangnya kamu main nebeng mobil Pak May. Apa kata guru-guru lain? Kamu pasti dianggap tidak sopan dan kegatelan" omel Suhri.


Fira mengangguk. Ia berjanji tidak akan sok akrab lagi dengan Juna. Ia harus sadar diri siapa dirinya dan siapa Juna. Perkataan Suhri memang benar adanya. Fira saja yang terlalu kepo tentang Pak May yang mirip dengan Juna, guru idolanya.


"Ayo, pulang sekarang!."


"Kenapa pulang, Ri?."

__ADS_1


"Aku mau ngomong sama Om Narto" ucap Suhri kemudian beranjak meninggalkan warung Bu Udin.


__ADS_2