
"Loh ini siapa?" tanya Kiara yang baru masuk ke dalam kamar ganti Juna.
Kiara tidak mengenali sosok yang berdiri tegak di samping suaminya. Seorang laki-laki berkulit sawo matang sedang berbincang dengan Elang. Laki-laki itu mengenakan tuxedo yang sama persis dengan Elang.
"Kamu tidak mengenalinya, sayang?" tanya Elang.
Kiara menggeleng.
"Dia Mas Juna. Mayjuna July Agustino" bisik Elang.
"Mas-Ju-Na?" tanya Kiara tak percaya. Ia langsung mengarahkan kedua netranya untuk memindai sosok yang disebut Juna oleh suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Elang.
"Ini Mas Juna?."
Elang mengangguk.
"Yang diculik Kadir di Pare?."
Elang mengangguk lagi.
"Oh my god! Mas Juna kenapa beda banget sih??? Aduh, Kiara jadi gemes deh!" Kiara hendak berlari ke arah Juna. Ia tidak tahan untuk mencubit pipi Juna karena gemas.
Untung saja Elang cepat sadar. Ia segera menarik tangan Kiara dan memeluknya dengan erat. Elang langsung mencium kedua pipi Kiara secara bergantian, menyalurkan rasa kesalnya pada Kiara.
Glek.
Juna baper. Ia iri dengan kemesraan Elang dan Kiara. Pasangan pengantin baru ini memang tidak tahu situasi. Bisa-bisanya mereka bermesraan di depan manusia jomblo seperti Juna. Apa mereka tidak kasian dengan Juna? Menjadi penonton adegan kemesraan mereka seorang diri.
"Elang kenapa ih? Kiara kan mau nyubit Mas Juna" protes Kiara.
"No! Tidak boleh pegang-pegang laki-laki lain. Ara cuma boleh megang Elang sama Abang Dira saja" kata Elang posesif.
"Tapi Kiara gemas sama Mas Juna. Coba lihat! Wajah Mas Juna jadi imut begitu" Kiara terkekeh geli.
Elang kembali menggelengkan kepala. Ia tetap tidak mengizinkan Kiara untuk menyentuh Juna. Memang sejak menikah, Elang berubah sangat posesif kepada istrinya. Ia tidak segan-segan mengurung Kiara jika Kiara ketahuan melirik laki-laki lain.
"Kalian lucu sekali" gumam Juna lirih. Ia sudah membayangkan jika adegan tadi dilakukan olehnya dan Atha.
"Mas Juna juga gemesin" sambar Kiara.
"Sayang!" Elang langsung menggigit pipi Kiara dengan gemas sehingga membuat Kiara tertawa geli.
"Kalian sudah biasa begini?" tanya Juna.
"Biasa begini maksudnya, Mas?" Elang balik bertanya.
"Ya, bermesraan seperti itu di depan umum. Jujur kedua mata saya tidak kuat melihat kemesraan kalian" ucap Juna sedih.
Kiara dan Elang tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka jika respon Juna seperti itu.
"Mas Juna kan sebentar lagi nggak jomblo. Mau tunangan kan sama Lily? Nanti ajak aja si Lily buat bermesraan. Dia pasti mau kok" ucap Kiara sembari terus tertawa.
Juna menarik nafas panjang mendengar ucapan Kiara. Kalau Lily tidak usah diajak sudah main nyosor duluan. Juna tidak suka dengan wanita agresif seperti Lily. Terlalu menyeramkan untuk seorang Juna yang penakut dan polos seperti itu.
__ADS_1
"Nona Kiara..."
"Ya...?"
"Saya boleh pulang?."
Kiara langsung mengernyitkan dahi ketika mendengar ucapan Juna. Ia menyenggol lengan Elang, memberi kode bahwa ia tidak paham dengan perkataan Juna tadi.
"Acaranya belum mulai kok sudah mau pulang? Mas Juna jangan kayak anak TK deh" gerutu Kiara kesal.
Elang segera mendekat ke telinga Kiara. Ia berbisik menceritakan kenapa Juna meminta pulang kepadanya.
"Ja...ja...jadi?" Kiara menutup mulutnya. Ia tidak percaya dengan apa yang Elang ceritakan barusan.
Kiara segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Dira. Saat ini Dira sedang berada di Jakarta karena ada proyek penting yang harus ditanganinya. Dira bahkan lupa jika hari ini adalah hari pertunangan Juna dan Lily. Maklum, namanya juga CEO. Pasti sibuk mengurus ini dan itu.
"Kadirrrrr......!!!!" Kiara langsung berteriak ketika Dira menjawab panggilan videonya. Ia sudah memasang wajah garang di hadapan Dira. Persis seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Opo??? Kiara sarang burung, apakah sudah kembali dari Milan?" tanya Dira. Ia tidak tahu jika Kiara sudah berada di Spanyol sejak dua hari yang lalu.
"Kadirrrr....! Lu keterlaluan! Main jodoh-jodohin aja. Ini anak orang nggak mau tunangan sama Lily. Kenapa lu paksa sih?????" seperti biasa teriakan Kiara langsung menembus gendang telinga Dira.
"Salahnya di mana?" tanya Dira santai.
"Ini anak orang lho, Kadirrrrr!."
"Salahnya di mana??? Lily tunangan sama anak orang. Kalau Lily tunangan sama anak kucing atau anak gendoruwo baru gue salah" ceplos Dira seperti biasa.
"Hushhh!!! Mulut lu yaaa....." Kiara sudah bersiap-siap melepas highheelsnya. Namun, ia sadar jika Dira tidak berada di hadapannya sekarang.
"Mas Juna nggak mau tunangan sama Lily. Kenapa lu paksa?."
"Aduh! Gimana Mas Juna nggak diem. Dia kan nggak paham kalian ngomong apa. Kalian kemarin ngobrolnya pakai bahasa Spanyol kan?" omel Kiara lagi.
"Sayang, sudah marah-marahnya. Toh semuanya sudah terjadi" bujuk Elang.
"Ya, nggak bisa gitu juga lah. Si Kadir main nentuin tanggal segala. Terus lu nggak dateng di acara yang lu bikin hah? Lepas tangan lu ama nasib Mas Juna?."
"Gue lupa. Lu tahu sendiri kalau gue banyak kerjaan. Lagian apa sih kurangnya Lily? Wajah ngeplus, badan ngeplus, dempulan semua lagi mirip gondola Mang Ujang. Si Juna pasti bisa memperbaiki keturunan kalau nanti nikah sama Lily" kata Dira cuek dan ia buru-buru memutuskan panggilan videonya.
Kiara melempar ponselnya dengan asal. Untung saja Elang memberikan respon yang cepat. Ia segera bergerak dan berhasil menangkap ponsel istrinya itu. Sabar...sabar... Kiara kalau sudah mengamuk memang seperti itu.
"Mas Juna, maafkan si Kadir ya. Mas Juna pasti tertekan karena ulahnya" kata Kiara sedih.
"Elang jadi ingat dulu Abang Dira memaksa seorang gadis untuk tunangan sama Elang. Gadis itu sampai mau kabur juga lho...."
Puk...!!!
Kiara memukul mulut Elang.
"Jangan buka kartu!" sungut Kiara kesal.
"Sudahlah! Kalian jangan cemberut. Sekarang sudah waktunya Mas Juna keluar. Para tamu undangan sudah menunggu sejak tadi" kata Elang mengingatkan.
"Tapi saya tidak mau, Mas Elang."
__ADS_1
"Nasi sudah menjadi bubur, Mas Juna. Mas Juna nggak bisa mundur. Kalau mundur nanti bisa babak belur. Yuk, nurut sama Elang biar selamat sampai tujuan."
Juna mengangguk malas. Ia memilih pasrah daripada melawan. Juna sudah memantapkan hati akan melewati hari ini dengan ikhlas. Ia mulai melangkahkan kakinya, berjalan didampingi oleh Kiara dan Elang sebagai perwakilan dari keluarganya.
Memang laknat si bos absurdnya itu. Dia yang membuat janji, dia sendiri yang tidak hadir. Andai saja Juna memiliki keberanian, ia pasti sudah menjitak kepala Dira berkali-kali.
"Mas Juna, lihatlah Lily cantik banget lho" bisik Kiara.
Juna yang sedang tidak fokus, tentu saja mengacuhkan ucapan Kiara. Mau Lily cantik kek, anggun kek, Juna tidak peduli. Andai bisa ditukar dengan Kiara, Juna pasti tidak akan lesu begini.
"Senyum, Mas! Senyum! Lihatlah banyak kamera mengintai Mas Juna" kali ini Elang yang berbisik kepada Juna.
Juna mengangguk. Ia menarik ujung bibirnya, menampakkan senyum kaku di wajahnya. Juna dapat melihat banyak sekali tamu yang menghadiri acara pertunangan dirinya. Ia benar-benar dibuat heran. Ini baru tunangan, bagaimana jika Juna menikah dengan Lily? Pasti akan lebih heboh lagi.
Elang menyuruh Juna untuk berdiri di hadapan Lily. Juna langsung melotot ketika melihat penampilan Lily dari jarak dekat. Gaun yang dipakai Lily memiliki belahan rendah sehingga menonjolkan kedua aset kembarnya. Selain itu, gaun tersebut sangat minim bahan sehingga banyak mengekspose lekuk tubuh Lily yang padat dan berisi.
Glek.
Juna menelan ludah. Ia langsung membuang muka agar tidak tergiur dengan pemandangan di depannya. Selama acara berlangsung, Juna tidak sekalipun menatap Lily. Ia sengaja memutar arah pandangannya. Sesekali ke kanan, sesekali ke kiri.
Hingga tiba waktunya untuk bertukar cincin. Juna langsung gemetaran. Ia bingung harus bagaimana. Melihat tingkah Juna yang tidak baik-baik saja, Elang segera menghampiri Juna. Ia menenangkan Juna yang sudah pucat pasi.
"Kenapa, Mas? Tenang! Elang di sini" bisik Elang.
"Sa...sa...saya takut, Mas" jawab Juna gugup.
"Takut kenapa?."
"Takut khilaf, Mas" jawab Juna polos dan itu membuat Elang ingin sekali mengubrak abrik Juna seperti kain pel.
Elang mengambil cincin dari tangan Carlos. Ia segera memberikan cincin itu kepada Juna.
"Pasangkan saja di jari manis Lily. Fokus sama tangannya! Jangan yang lainnya dulu! Kalau sudah halal, boleh khilaf sampai pagi" bisik Elang.
Tangan Juna bergerak perlahan. Ia mengikuti saran Elang untuk tidak menatap Lily. Dengan keadaan masih bergetar, Juna akhirnya bisa memasangkan cincin di jari manis Lily. Setelah itu, Lily dengan cepat mengambil cincin di tangan Carlos dan memasangkan ke jari manis Juna.
Huffttt...!!! Elang bisa bernafas lega. Ia kemudian turun menghampiri Kiara yang sedang duduk di sebelah kanan panggung. Namun, baru saja Elang duduk. Kedua netranya seperti mau copot melihat tingkah Lily yang langsung menyerang bibir Juna di hadapan para tamu undangan.
"Astagaaaa...!!!" Kiara berteriak kencang dan tanpa sadar ia melemparkan piring berisi kue-kue yang tadi sempat dipegangnya.
Elang yang merasa risih segera memeluk Kiara dengan erat. Elang tidak mau mereka melihat adegan hot yang dilakukan Lily dan Juna. Pasalnya Lily benar-benar bringas dan tidak tahu tempat. Ia terus menyerang Juna, membuat penampilan Juna yang semula rapi menjadi berantakan.
Andai saja tidak ada Carlos, pasti Lily sudah membuka tuxedo yang dipakai Juna. Carlos segera menarik Lily agar melepas pertautan bibirnya pada bibir Juna.
"Sabar, princess. Papa tidak tahu kalau kau sangat bernafsu padanya" kata Carlos cekikikan.
"Sorry, Papa. Lily memang tidak bisa menahan lagi. Sudah seminggu tidak menyentuh Juna yang menggemaskan ini" kata Lily tanpa malu.
Carlos segera memanggil seseorang untuk merapikan dandanan Lily. Mulai dari rambut, make up dan baju. Ia benar-benar tidak menyangka jika putri semata wayangnya bisa sebringas itu.
Saat Lily sedang dirapikan dandanannya. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah belakang mereka.
Brukkkkk....
Juna tumbang setelah berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan. Bagaimana tidak pingsan? Sejak tadi Juna gemetar dan Lily langsung menyerangnya tanpa ampun. Juna seperti terkena serangan jantung mendadak saat diserang Lily seperti itu.
__ADS_1
"Mas Juna...!!!!"
Elang dan Kiara berteriak bersamaan. Mereka langsung berlari menghampiri Juna. Elang segera memanggil anak buahnya untuk membawa Juna ke rumah sakit terdekat. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan Juna jika tidak segera ditangani.