HEI JUN

HEI JUN
91


__ADS_3

Atha melangkah dengan gontai menyusuri lorong Rumah Sakit Siloam Surabaya. Pertemuan dengan kedua saudara Juna menghasilkan sebuah fakta baru dari potongan-potongan informasi yang ia dapatkan.


Apa yang terjadi antara Juna dan Diandra, apa yang menjadi penyebab Juna ketakutan saat mendengar nama Diandra. Semuanya terjawab dari penuturan kedua kakak Juna.


Atha memang tidak bisa menyalahkan Juna. Suaminya itu hanya korban. Tapi entah mengapa hatinya sakit ketika membayangkan suaminya sedang bergumul dengan Diandra.


Apakah salah jika Atha menangis? Apakah salah jika Atha bersedih. Selama perjalanan menuju Surabaya, Athalia tak henti menangis. Meski Lita sudah berkali-kali membujuknya, memberikan kalimat-kalimat positif yang menguatkannya. Atha tetap saja merasa sakit.


Saat ini pun ia bingung untuk bertemu Juna. Ia ingin marah, ingin mengamuk. Namun, sekali lagi Juna tidak bersalah dalam kasus ini. Atha hanya perlu jiwa yang besar untuk menerima masa lalu Juna. Rasanya memang tidak adil jika dirinya menghukum Juna.


Ceklek.


Atha terkejut ketika pintu kamar rawat Juna terbuka sebelum ia ketuk. Sosok Ayesha muncul dari balik pintu bersama dua orang perawat. Atha merasa lega. Ia tidak salah menitipkan suaminya pada kawan lamanya itu.


"Hei, kau sudah kembali? Apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang peristiwa yang dialami suamimu?" tanya Yesha.


Atha mengangguk. Wajahnya masih murung.


"Suamimu sedang tidur. Sejak semalam ia gelisah dan tidak bisa tidur. Aku terpaksa menyuntikkan obat penenang padanya."


"Lakukan saja yang terbaik!" sahut Atha dingin.


"Kenapa? Apakah ada hal buruk yang terjadi?" tanya Yesha.


Atha diam saja, buliran bening kembali mengalir membasahi pipinya. Yesha tentu saja kaget. Ia penasaran dengan sikap Athalia itu. Tak ingin menjadi pusat perhatian, Yesha membawa Atha ke ruangannya. Yesha akan mengajak Atha berbicara dari hati ke hati.


"Katakan! Apa yang kau ketahui tentang suamimu?" kata Yesha membuka pembicaraan.


Hening, hanya terdengar isak tangis Athalia di ruang kerja Yesha.


"Aku tidak tahu jika kejadiannya seperti itu? Hatiku sakit, Sha."


Tangis Atha langsung pecah. Ia meluapkan emosinya kepada kawannya itu. Atha menceritakan semua yang ia tahu tentang Juna. Semua cerita yang ia peroleh selama di Madura juga Atha sampaikan pada Yesha.


"Suamimu tidak bersalah, Tha. Kalau kau pergi, itu akan membuat traumanya semakin menjadi" kata Yesha lembut.


"Aku... Aku... perlu menenangkan diri. Aku butuh waktu untuk berfikir jernih."


"Bukannya aku tidak mau mendukungmu, Tha. Kau baru pergi sehari saja, Juna sudah tidak tenang seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan jika kau tidak kembali seperti janjimu. Juna pasti akan semakin down. Mentalnya akan jatuh lagi."


"Aku belum siap bertemu Juna. Aku merasa...merasa...."


"Bisakah kau tidak mengingat masa lalunya lagi? Sekarang kau lah masa depan Juna. Dampingi dia melewati masa sulitnya. Peristiwa itu bukan kehendak Juna. Ia sebagai korban pelampiasan nafsu seseorang. Tolong pikirkan matang-matang!."


Atha mengangguk. Ia mengusap sisa-sisa air mata di kedua pipinya.


"Tenangkan dulu dirimu! Aku sarankan kau segera menemui Juna. Aku tidak mau Juna kembali gelisah karena belum melihatmu."


"Bolehkah aku merasa kecewa pada Juna?."


"Apakah Juna pernah kecewa padamu?" Yesha bertanya balik.


"Apa yang membuatmu kecewa pada Juna? Dia tidak menduakanmu. Dia tidak menghianatimu. Juna hanyalah korban, korban dari pelampiasan nafsu Diandra. Harusnya kau menguatkan Juna, mendampingi Juna melewati masa traumanya. Bukan sebaliknya" lanjut Yesha.


"Jika kau kecewa karena Juna sudah bergumul dengan wanita lain sebelum menikahimu. Aku rasa itu bukan kemauan Juna. Suamimu itu laki-laki polos bukan playboy yang suka main perempuan" Yesha menutup isi ceramahnya pada Atha.


Ia kemudian bangkit mengajak Atha untuk menemui Juna. Atha yang ragu hanya diam saja sehingga membuat Yesha kesal. Yesha menarik tangan Atha dan membawanya ke kamar rawat Juna.


"Cepat masuk! Aku khawatir jika Juna bangun dia kembali gelisah karena tidak melihatmu" Yesha mendorong Athalia agar masuk ke kamar Juna. Ia kemudian kabur meninggalkan Atha sendiri.


Atha melangkah perlahan mendekati brangkar. Ia bisa melihat bagaimana suaminya itu sedang terlelap. Atha duduk di samping Juna, mengamati wajah damai suaminya.

__ADS_1


Tangan Atha terulur, mengusap wajah Juna dengan perlahan. Ia mencoba menguatkan hati untuk tetap di samping Juna. Ia mencoba menguatkan hati untuk tidak membahas masa lalu Juna.


Suaminya ini sudah lama menderita. Suaminya ini juga berhak bahagia. Meski dalam hatinya, masih ada sedikit rasa sakit dengan masa lalu Juna. Atha harus mencoba berdamai dengan itu. Masa depan rumah tangganya bisa terancam jika ia terus saja mengungkit masalah itu.


"E... Euugh... Euughh....."


Kepala Juna bergerak ke kiri dan ke kanan. Atha segera menepuk-nepuk wajah suaminya. Ia mencoba menenangkan suaminya yang terlihat gelisah dalam tidurnya.


Juna membuka mata dengan perlahan. Senyumnya langsung terbit ketika ia melihat wajah Athalia di hadapannya. Juna bangun dari tidurnya. Ia duduk dan langsung memeluk Atha.


"Kau kembali?" tanya Juna senang.


Atha mengangguk. Ia membalas pelukan hangat Juna.


"Semalam saya tidak bisa tidur. Saya takut sendirian. Kau tidak akan pergi lagi bukan? Urusanmu sudah selesai kan?" tanya Juna lagi.


Lagi-lagi Atha mengangguk. Ia tidak kuasa menjawab pertanyaan Juna. Atha masih sibuk menangis, emosinya kembali muncul ketika bertemu Juna.


Juna merasakan jika bahu Athalia bergetar. Ia segera mengurai pelukannya. Ia kaget ketika mendapati istrinya sedang menangis.


"Hei, kenapa menangis? Apa yang terjadi? Apakah ada orang yang menyakitimu?" tanya Juna cemas.


Atha menggeleng. Ia berusaha tersenyum dalam tangisnya.


Juna semakin bingung. Ia mengusap air mata istrinya. Segera Juna mendaratkan kecupan bertubi-tubi di wajah sembab istrinya.


"Saya tidak suka kamu menangis."


"Maaf, Jun! Aku... Aku... Hanya terlalu senang melihatmu baik-baik saja" ucap Atha bohong.


"Tidak ada orang senang menangis sepertimu. Kamu kenapa? Apakah ada seseorang yang mengganggumu?" tanya Juna lagi.


Juna diam. Ia menatap wajah istrinya dalam-dalam. Seketika raut wajah Juna menjadi sedih. Ia menunduk sembari menggenggam tangan Athalia.


"Apa saya tidak baik-baik saja? Apakah dokter Yesha mengatakan sesuatu tentang penyakitku?" tanya Juna sedih.


Pertanyaan Juna itu tentu saja membuat Atha bingung.


"Kamu pasti sedih karena dokter Yesha mengatakan jika aku sakit parah dan umurku sudah tidak lama lagi" ucap Juna mengambil kesimpulan sendiri.


"Ti..ti..dak, Jun. Hei, mengapa kau berkata seperti itu? Yesha tidak mengatakan apa-apa padaku" ucap Atha panik.


"Saya ingat adegan sinetron yang sering ditonton Emak. Adegannya persis seperti ini. Istrinya menangis karena tahu jika umur suaminya sudah tidak banyak lagi."


"Juna...!!!" Atha segera memotong ucapan ngelantur suaminya. Bisa-bisanya di saat haru biru seperti ini dia malah membahas adegan sinetron.


"Kenapa berteriak? Tebakanku benar?" tanya Juna polos.


"Tidak...! Tidak...!! Tebakanmu sangat tidak benar. Kamu baik-baik saja. Kamu hanya perlu therapi dengan rutin."


"Benarkah? Jadi saya bisa pulang sekarang?" tanya Juna senang.


Atha mengangguk.


Juna langsung melompat dari kamar tidurnya. Ia yang memang tidak di infus dan tidak di pasang alat apapun segera bisa bergerak dengan lincah.


Juna mengambil baju-bajunya, memasukkan ke dalam tas dan langsung menarik Athalia keluar dari kamar rawatnya.


"Hei, Jun! Kamu mau kemana?" tanya Atha.


"Pulang" sahut Juna sembari berjalan dengan tangan yang sedang menarik Atha.

__ADS_1


"Tunggu dokter dulu, Juna. Setidaknya Emier atau Yesha memeriksamu terlebih dahulu" ucap Atha.


"Tidak perlu. Katamu saya baik-baik saja, tidak seperti orang di sinetron yang Emak tonton. Saya mau segera pulang. Saya tidak betah di sini" ucap Juna sembari terus menyeret Atha meninggalkan rumah sakit.


***


Pulau Bali


Deru suara ombak pantai beradu riuh memecah keheningan suasana pinggir pantai. Langit sudah berwarna jingga, pertanda malam akan segera tiba.


Seorang perempuan berdiri di tepi pantai. Perempuan itu menatap lurus lada hamparan ombak yang datang dan pergi menghampirnya. Tak ada yang menemaninya saat ini. Karena dirinya memang sedang menyendiri.


Diandra, mantan kekasih Juna itu sedang melamun di pinggir pantai. Sudah hampir tiga tahun ia berada di Bali, menjauh dari keluarganya dan memilih berteman dengan ombak dan pasir.


Diandra yang mencoba menata kembali hidupnya setelah beberapa tahun yang lalu berantakan akibat ulah Ayah dan mantan suaminya.


Hah..! Diandra menarik nafas dalam-dalam. Pikirannya menerawang jauh ke depan. Diandra mengingat kejadian tiga tahun yang lalu, ketika ia dengan ganasnya menyerahkan mahkotanya kepada Juna.


Diandra tidak menyesal sudah melakukan hal itu. Baginya Juna pantas mendapatkannya. Ia pikir setelah memberikan mahkotanya, ia dan Juna bisa bersatu. Rencananya agar Arya menceraikannya sudah berhasil terlaksana. Namun, Diandra salah perhitungan. Ia lupa tidak membawa pergi Juna bersamanya.


Andai saat itu Diandra bangun terlebih dahulu daripada Juna. Pastilah dirinya akan langsung membawa Juna ke Bali. Menetap di Bali dan menikah dengan Juna setelah proses perceraiannya selesai.


Diandra merutuki kebodohannya. Terlalu menikmati permainan ganas Juna membuatnya lupa akan rancangan rencananya. Harusnya, Juna masih berada di sisinya jika ia tetap bisa mengendalikan permainan. Diandra menyesali hal itu. Ia menyesali kebodohannya.


"Ini sudah tiga tahun setelah kejadian itu. Hei, Jun! Bagaimana kabarmu?" Diandra bermonolog.


Diandra mulai berjalan di pinggir pantai. Ia berjalan tanpa alas kaki, membiarkan kedua kakinya di sapu ombak yang sesekali lewat.


"Aku mendengar kabar jika kamu sudah tiada. Apa itu benar? Jika itu benar, boleh aku menyusulmu?" ucap Diandra lagi.


"Sudah tiga tahun berlalu dan aku masih menyimpan rasa ini untukmu, Jun" ucap Diandra lalu ia menghentikan langkahnya.


Diandra memilih duduk di tepi pantai sembari memeluk kedua lututnya. Ia menatap hamparan pasir pantai yang membentang luas di hadapannya. Diandra menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kalut.


"Aku ingin pulang, Jun. Tapi aku takut tidak lagi bertemu denganmu. Aku ingin pulang, ingin memelukmu dan membawamu kembali."


Diandra melihat sebuah ranting kayu. Ia mengambil ranting itu, menggunakannya sebagai alat tulis. Diandra menulis di atas pasir. Ia menuliskan nama Juna berkali-kali. Ia seperti sedang menyalurkan rasa rindunya pada Juna melalui tulisannya. Diandra terus menulis meskipun nanti tulisan nama Juna akan hilang tersapu ombak.


"Mama......"


Diandra menoleh ke belakang. Nampak seorang anak laki-laki berumur dua tahun lebih sedang berlari ke arahnya. Anak laki-laki itu berlari sembari tertawa dengan kedua tangan yang ia bentangkan lebar-lebar.


"Juna... Jangan berlari! Nanti kamu jatuh" teriak Diandra.


Anak laki-laki itu tidak mengindahkan ucapan Diandra. Ia semakin gencar berlari dan melompat ke arah Diandra.


"Mama... Mama... Ayo, pulang" ajak anak laki-laki itu. Bocah itu terus tertawa sembari memainkan ujung rambut Diandra.


"Juna sudah mandi?."


"Sudah, Mama."


"Sudah makan?."


"Sudah."


"Sekarang Juna mau apa?" tanya Diandra gemas.


"Juna mau main sama Mama. Lobot-lobotan, pistol ama mancing-mancing itan" ucap bocah laki-laki itu.


Diandra tertawa. Ia kemudian berjalan membawa Juna pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2