
Teng...teng...teng...
Jam dinding di kamar Lily berbunyi sebanyak dua belas kali, menandakan saat ini waktu sudah memasuki pukul dua belas malam. Lily langsung bangkit dari kursinya, memilih berdiri sembari menatap langit malam melalui balkon kamarnya.
Lily memang belum tidur. Ia memang sengaja menyuruh kedua matanya untuk terjaga di hari pergantian ini. Hari ini adalah hari yang spesial bagi Lily. Sejak jam dinding di kamarnya berbunyi, Lily genap berumur dua puluh lima tahun. Lily sangat menunggu hari ini tiba. Karena tepat di umurnya yang ke 25 tahun Lily akan membuat suatu keputusan penting mengenai hidupnya.
“Happy birthday, Lily. Hari ini kau sudah genap berumur dua puluh lima tahun. Usia yang sudah matang bukan? Rasanya sudah waktunya untuk melepas sesuatu yang selama ini kau jaga. Mayjuna, aku rasa dia adalah orang yang tepat untuk menerima itu” ucap Lily pada dirinya sendiri.
Lily lalu mengambil wine yang sedari tadi ia letakkan di meja bersama dengan kue ulang tahunnya. Malam ini ia merayakan sendiri hari jadinya karena pesta yang sebenarnya akan dilaksanakan pukul tujuh malam nanti.
Carlos sebagai ayah Lily, sudah menyebar undangan di hari jadi anak satu-satunya itu. Carlos mengundang banyak rekan bisnisnya dan tak lupa teman-teman Lily yang berada di Barcelona.
Carlos memilih Hotel Sixty two sebagai tempat untuk merayakan pesta ulang tahun Lily karena hotel itu letaknya paling dekat dengan perusahaannya sehingga memudahkan dalam mobilitas Carlos yang padat merayap.
“Make a wish, sebelum meniup lilinya” gumam Lily. Ia memejamkan mata sembari mengucapkan permohonan. Lily meniup lilin di kue ulang tahunnya dan langsung menegak wine di gelas itu sampai tandas.
***
“Mas Juna...!” panggil Elang ketika ia dan Kiara sampai di apartemen milik Juna.
Elang mengedarkan pandangannya. Melihat suasana kamar yang sepi dan masih bersih seperti ini membuat Elang beranggapan jika Juna kembali kabur dari apartamennya.
Kemarin, Elang dan Kiara langsung menuju ke apartemen Juna setelah bertemu dengan Lily di restoran. Mereka khawatir jika Juna hilang. Untung saja pihak keamanan di kompleks apartemen mengatakan jika Juna sedang bersembunyi di kamar mandi khusus security sehingga Kiara dan Elang langsung membawa Juna kembali ke kamarnya.
“Mas Junaa....!” Elang kembali memanggil Juna. Namun, tak ada jawaban dari Juna.
“Sayang, Mas Juna kemana? Apa kabur lagi?” tanya Elang.
Kiara tak menyahut. Ia berlalu dari hadapan Elang dengan mode cueknya.
“Hei, kau mau kemana? Kebelet pipis?” tanya Elang ketika melihat Kiara berjalan menuju kamar mandi.
Ceklek.
Kiara menghela nafas ketika membuka pintu kamar mandi. Ia melihat Juna tertidur dengan posisi duduk memeluk lutut di lantai kamar mandi. Kiara berjalan perlahan mendekati Juna. Ia harus melakukan sesuatu agar Juna bangun dari tidur lelapnya.
“Mas Junaaaaaa....” teriak Kiara tepat di telinga Juna.
Suara teriakan Kiara yang melengking tentu saja mengagetkan Juna.
“Diandraaaa....”
Plak...!
Kiara langsung menampar mulut Juna. Ia menampakkan wajah datar, sedatar papan tripleks hasil ajaran dari Dira.
“Saya Kiara bukan Diandra” ucap Kiara lalu ia menarik Juna dengan bringas dan melemparkannya ke tempat tidur Juna.
“Sayang, kenapa kamu emosi?” tanya Elang. Ia langsung memeluk Kiara agar tidak mengamuk kepada Juna.
“Bagaimana aku tidak marah? Mas Juna memanggilku dengan nama Diandra. Apa dia BUTA???” teriak Kiara lagi.
Elang tak menjawab. Ia hanya tertawa cekikikan melihat istrinya merajuk seperti itu.
“Mas Juna, saya beri waktu sepuluh menit dari sekarang. Cepat mandi dan ganti baju!” perintah Kiara.
__ADS_1
“Sa... sa...saya?” tanya Juna linglung. Pasalnya ia masih bingung, kondisi rohnya belum semuanya berkumpul sehingga otaknya belum bisa merespon perintah Kiara dengan cepat.
Brak...!!!
Kiara menendang pintu kamar mandi Juna. Ia kembali menarik Juna dan mendorongnya masuk ke kamar mandi. Segera, ia bergerak mengambil handuk dan baju ganti milik Juna.
“Ingat! Sepuluh menit. Selesai atau tidak, Kiara akan buka pintu kamar mandi ini jika sudah waktunya” Kiara segera menutup pintu kamar mandi Juna dan langsung menyalakan stopwatch di ponselnya.
Elang kembali tertawa cekikikan melihat tingkah istrinya itu. Elang paham mengapa Kiara sangat kesal pada Juna. Pagi-pagi sekali Lily menelpon Elang untuk membawa Juna ke salon langganannya. Lily meminta bantuan Elang dan Kiara untuk mempersiapkan penampilan Juna nanti malam.
Kiara langsung kesal. Ia merasa waktu istirahatnya kembali terganggu. Kiara langsung menolak ajakan Elang untuk ikut menemani Juna ke salon. Namun, Elang tidak kehabisan akal. Ia malah merajuk di pojokan sembari mencakar- cakar dinding apartemen mereka. Hal bodoh itu akhirnya membuat Kiara terpaksa mengikuti kemauan Elang meskipun dengan hati dongkol setengah kilo.
“Lima detik lagi......! Lima, empat, tiga, dua, sa....”
Belum selesai Kiara menghitung, Juna sudah muncul mengenakan setelan pakaian yang diberikan Kiara.
“Langsung bawa ke mobil!” perintah Kiara. Ia malas berbasa-basi sehingga terkesan cas cis cus dalam bergerak.
Elang menggerakkan kepalanya kepada Juna, memberi kode agar ia mengikuti Elang. Kedua laki-laki itu segera bergerak mengejar Kiara yang sudah keluar dari unit apartemen Juna.
“Kita mau kemana, Nona?” tanya Juna bingung saat mereka sudah berada di dalam mobil milik Elang.
Elang yang mengemudi mobil itu tidak menjawab. Ia memberi kode kepada Kiara melalui kedipan matanya untuk menjawab pertanyaan Juna.
“Salon.”
“Salon? Kenapa? Ada acara apa?” tanya Juna lagi.
“Mas Junaaaaa..... hari ini tralala trilili kekasihmu berulang tahun. Dia memerintahkan kami untuk memake over kau, agar nanti malam ganteng saat maju ke atas panggung” kata Kiara.
“Oh, No! Kekasihmu yang drama queen itu akan menangis histeris jika kau tak ada. Mas Juna, menurut saja. Jangan banyak membantah biar cepat selesai" ucap Kiara lagi.
Mobil terus melaju memecah jalanan kota Barcelona yang padat merayap. Satu jam kemudian, mobil yang dikemudikan Elang tiba di sebuah salon yang tak asing bagi Juna. Juna pernah datang ke salon itu bersama Lily.
"Keluar, Mas Juna!" perintah Elang yang langsung dilakukan oleh Juna.
"Sayang, kau tidak mau ikut?" tanya Elang ketika melihat istrinya masih betah berada di dalam mobil.
"Tidak. Aku disini saja. Kalian saja."
Elang mengangguk. Ia kemudian mengajak Juna agar masuk ke dalam salon. Lily sudah memesan paket komplit plus-plus untuk Juna sehingga Elang tidak perlu bertanya apa-apa lagi. Ia langsung menyerahkan Juna pada pihak salon. Terserah mereka mau apakan Juna. Tugas Elang hanya mengantarkan.
Sepuluh menit kemudian, Elang keluar dari salon itu seorang diri. Ia sengaja meninggalkan Juna karena perawatan yang akan dilakukan Juna bisa memakan waktu berjam-jam. Daripada bosan menunggui Juna, lebih baik Elang pulang ke apartemennya untuk bercocok tanam sehingga generasi penerusnya bisa segera launching.Elang sudah berpesan kepada pihak salon untuk menghubunginya jika Juna sudah selesai dengan segala ritualnya.
***
Hotel Sixty Two.
"Sepertinya kita terlambat" celetuk Elang ketika mereka sampai di hotel Sixty Two.
Elang langsung memberikan kunci mobilnya kepada security dan bergegas masuk ke dalam lobby hotel.
"Ini semua gara-gara Mas Juna. Pake acara tidur segala di salon. Mas Juna kurang tidur apa keenakan perawatan sih?" cibir Kiara, tak lupa dengan delikan matanya yang tajam.
"Eh, eh, anu... saya... saya...."
__ADS_1
"Udah nggak usah di jawab. Lama. Kita bisa semakin terlambat ke acara si tralala trilili" potong Kiara cepat.
Mereka bergegas, mempercepat langkah menuju ballrom hotel sixty two. Saat tiba di pintu ballroom, Elang membuka sedikit. Ia mengintip apakah acaranya sudah di mulai atau tidak.
"Lily akan segera tiup lilin" ucap Elang.
"Yasudah masuk aja" sahut Kiara.
"Tunggu!" cegah Elang cepat.
Elang mengambil sesuatu di saku celananya. Sebuah kotak berwarna merah hati.
"Bawa ini, Mas Juna!" perintah Elang.
Juna menerima kotak pemberian Elang dengan dahi berkerut. Ia tak tau apa isi kotak itu dan tak paham mengapa Elang memberikan kotak itu kepadanya.
"Hari ini Lily ulang tahun. Mas Juna sebagai kekasih harus memberikan kado untuknya."
Juna membuka isi kotak itu. Matanya membulat ketika melihat sebuah cincin berlian di dalamnya.
"Itu Kiara yang pilih. Sebenarnya mau di pakai sendiri. Tapi inget tralala trilili lagi ultah. Mas Juna pasti belum beli kado. Jadi nggak apa-apa deh, Kiara ngalah."
Juna diam.
"Kenapa Mas Juna diam? Nggak suka sama pilihan Kiara?" tanya Kiara ketus.
"Eh, bu...bu...kan. Saya cuma kepikiran harganya. Cincin ini pasti mahal" jawab Juna jujur.
"Tenang aja Mas Juna. Nanti dipotong gaji. Sekarang ngutang dulu sama saya" sahut Elang santai.
Mereka langsung masuk ke dalam ballroom tepat saat para undangan sedang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Lily. Nampak Lily sedang menengok ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Juna yang belum terlihat batang hidungnya.
Elang melambaikan tangannya, memberi kode pada Lily jika mereka sudah datang. Lily langsung sumringah. Ia memberi kode balik kepada Elang, menyuruhnya membawa Juna ke atas panggung.
Elang mengangguk. Ia segera menuntun Juna agar berjalan mendekat ke tempat Lily. Mereka berjalan perlahan dengan posisi Juna berada di antara Elang dan Kiara. Pasangan suami istri itu mengamit lengan Juna.
"Mas Elang, saya kok seperti mau akad nikah" celetuk Juna. Celetukan Juna itu membuat Kiara dan Elang tertawa cekikikan.
"Anggap saja begitu, Mas Juna. Lagi pula tralala trilili itu orangnya penuh kejutan. Siapa tahu setelah tiup lilin langsung disuruh ijab kabul" jawab Kiara.
Mereka tiba di panggung bersamaan dengan usainya lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan para tamu undangan. Kiara dan Elang kompak mendorong tubuh Juna agar mendekat ke arah Lily.
"Lama sekali. Aku sudah menunggumu dari tadi" gerutu Lily. Ia langsung menarik tangan Juna agar berdiri di sampingnya.
Juna tak menjawab. Ia malah membuang muka ke arah lain karena netranya risih melihat gaun pesta yang dikenakan Lily. Off-Shoulder, belahan dada rendah, press body dan belahan paha yang tinggi.
Juna benar-benar tidak habis pikir mengapa Lily mau memakai baju aneh seperti itu. Kenapa tidak polos saja sekalian? Nanggung jika hanya tertutup sedikit seperti itu.
Lily segera meniup lilin di kue ulang tahunnya. Ia memotong kue itu dan menyuapkan pada Carlos. Lily kembali memotong kue tartnya dan menyuapkan pada Juna.
"Mana kado untukku?" bisik Lily saat menyuapi Juna.
Juna yang langsung meremang seketika mengambil kotak merah hati dan memberikannya kepada Lily.
"Selamat ulang tahun. Maaf terlambat" cicit Juna dan Lily langsung menarik tengkuk Juna, memberi serangan kecil pada bibir Juna.
__ADS_1
Juna mendorong tubuh Lily. Ia segera pamit untuk turun dari panggung dengan alasan haus. Lily menyeringai ketika melihat Juna yang salah tingkah. Ia membiarkan dulu Juna bebas dari genggaman tangannya. Setidaknya Lily akan memberikan waktu untuk Juna sebelum ia mengikat Juna selamanya.