
"Selamat Pagi, Pak Juna" sapa Pak Udin ketika melihat Juna tiba di gerbang sekolah. Laki-laki itu seperti biasa berdiri menyambut siswa dan guru yang baru tiba ke sekolah.
"Pagi juga, Pak Udin" Juna menyapa balik Pak Udin kemudian bergegas berjalan menuju ruang guru.
Hari ini adalah hari pertama Juna kembali mengajar di sekolah setelah seminggu mengikuti pelatihan di Surabaya. Pelatihan sialan, begitu Juna menyebutnya. Ya, gara-gara pelatihan itu, Juna gagal menyatakan cinta pada Lia. Rencana yang sudah ia siapkan bersama Suhri harus selesai sebelum dimulai.
Kesal? Jelas Juna sangat kesal. Selain karena rencananya gagal, Juna juga kesal karena selama tujuh hari dirinya tidak bisa bertemu dengan Lia, tidak bisa bercengkrama dengan Lia. Hal itu membuat Juna frustasi dan tidak fokus selama mengikuti pelatihan.
Setiap hari Juna selalu melihat kalender, berharap waktu seminggu cepat berlalu. Namun, entah mengapa sejak Juna berada di Surabaya waktu terasa sangat lambat. Mungkinkah arloji di sana berbeda dengan yang ada di rumah? Atau memang karena Juna yang tidak sabar sehingga ia merasakan waktu yang berjalan lambat?.
Saat Juna tiba, ruang guru masih nampak sepi. Juna mendongak untuk melihat jam dinding. Ternyata baru jam enam pagi. Pantas saja sekolah masih sepi karena ini masih terlalu pagi. Mungkin efek karena ingin segera bertemu Lia sehingga membuat Juna terlalu bersemangat dan lupa tidak melihat jam dinding saat berangkat ke sekolah.
Juna berjalan menuju tempat duduknya. Kedua netranya menangkap sebuah benda yang tergeletak di atas meja kerjanya. Sebuah undangan pernikahan berwarna merah maroon. Juna mengambil undangan itu dan membukanya perlahan.
"Astaga....!!!!" Juna berteriak. Jantungnya seperti ingin lepas saat melihat nama mempelai wanita dan laki-laki yang tertera pada undangan itu.
Amalia Hanifah dan Andika Noval Wahyudi. Kedua bola mata Juna membulat. Nafasnya seakan macet. Juna tidak mungkin salah baca. Kedua netranya juga belum rabun. Juna meyakini jika orang yang membuat undangan itu salah cetak atau mungkin saat ini Juna masih bermimpi.
Dalam benak Juna tidak mungkin Lia dan Andika menikah. Dika sendiri yang mengatakan jika mereka bersaudara. Juna masih meyakini jika ini hanyalah bunga tidurnya. Juna masih meyakini jika nanti setelah ia bangun, maka ia akan melihat Emaknya sedang berdiri sembari membawa sapu ijuk untuk membangunkannya.
"Eh, Pak Juna...!!! Sudah selesai pelatihannya?."
Juna langsung mematung melihat Andika masuk ke ruang guru dengan wajah tak berdosa. Junapun heran melihat wajah rekan kerjanya itu nampak ceria sekali.
Juna menunduk, melihat kembali undangan yang masih ia pegang. Sekilas Juna berfikir bagaimana bisa mimpinya masih berlanjut seperti ini? Apakah ia tidak akan terlambat ke sekolah? Penasaran, Juna menggigit tangan kanannya dan..
"Arrgggghhhhhh....!!!! SAKIT....!!!" teriak Juna.
Andika yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi tentu saja kaget mendengar teriakan Juna. Ia langsung berlari menghampiri Juna yang sedang meringis sambil memegang tangannya.
"Ada apa, Pak Juna? Kenapa berteriak?" tanya Andika.
Plak...
Juna bukannya menjawab. Ia malah memukul paha Andika dengan keras.
"Sakit, woy!!! Apa-apaan kamu, Jun?Pulang-pulang dari Surabaya malah error begini" teriak Andika kesal.
"Jadi ini bukan mimpi?" gumam Juna lirih.
"Mimpi? Mimpi apaan? sadar, woy!!!" teriak Andika lagi.
Juna menelan ludah. Seketika wajahnya menegang. Ia menatap Andika dengan tajam. Deru nafasnya mulai naik turun tak karuan. Rupanya Juna sudah mulai emosi. Ia layaknya seperti anak gunung krakatau yang sedang bersiap-siap menyemburkan semua isinya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Juna langsung melempar undangan pernikahan Lia ke wajah Andika.
Andika menangkap undangan yang dilempar Juna. Untung saja ia sigap sehingga lemparan Juna tidak mengenai wajahnya. Andika yang sudah tahu isi undangan itu, tidak perlu lagi membacanya. Toh dia sendiri yang menyebarkan undangan pernikahan Lia di SMA Cendekia.
"Oh, namanya juga belum jodoh. Sabar ya, Jun" jawab Dika enteng.
"SABAR???? KAMU BILANG SABAR?? Andika, saya tidak menyangka jika kamu ternyata ular berkepala dua. Di hadapan saya kamu mendukung hubungan saya dengan Lia. Tapi nyatanya apa? Saya tinggal pelatihan satu minggu, kamu sudah menikung saya dari belakang" Juna mengamuk.
__ADS_1
"Saya? Menikung dari belakang? Apa maksud Pak Juna?."
"Jangan pura-pura bodoh!!! Kamu akan menikah dengan Lia kan? Tega sekali kamu...!!! Tega...!!!" teriak Juna yang mungkin saja terdengar keluar ruang guru.
"Apa maksudmu, Jun??? Aku akan menikah dengan Hani??? Jangan ngelantur!!!."
Juna yang masih saja tersulut emosi langsung mengambil undangan dari tangan Andika. Ia membuka dengan gusar dan menunjukkan nama mempelai laki-laki kepadanya.
"Masih mau mengelak kau??? Sudah jelas-jelas nama mempelai laki-lakinya adalah kamu."
Andika melirik tulisan yang ditunjukkan oleh Juna kepadanya. Ia bukannya menunduk malah mengambil undangan itu dan menimpuknya kepada Juna.
Bugg..
"Kamu sudah berapa tahun sih kerja bersamaku?" tanya Andika sambil memukul punggung Juna dengan kesal.
Buggg...
"Kamu pikir di dunia ini yang namanya Andika cuma aku?."
Bugg....
"Namaku Andika Prasetyo dan calon suami Hani adalah Andika Noval Wahyudi."
Buggg...
Andika terus memukul Juna bertubi-tubi. Tidak hanya punggung, melainkan kaki, lengan dan bokong Juna juga menjadi pelampiasan kekesalannya.
"Apa??? Mau mengamuk lagi???" potong Andika sebelum Juna sempat melanjutkan perkataannya.
"Maaf. Aku...."
"Apa???? Emosi??? Cemburu??? Marah??? Pegal linu?? Encok??" cerocos Andika kembali memotong perkataan Juna.
"Aku benar-benar tidak menyangka. Kau tidak tahu nama lengkapku padahal kita sudah bekerja selama bertahun-tahun di sekolah ini. Kau benar-benar keterlaluan, Jun!!!" omel Andika yang membuat Juna diam membisu.
Juna menunduk menyadari kesalahanku. Aku bertindak bodoh gara-gara tersulut emosi. Malu? tentu saja. Untunglah di ruang guru hanya ada aku dan Andika sehingga kadar maluku hanya pada Andika seorang.
"Kenapa diam???" tanya Dika.
"Maaf. Maafkan aku. Aku bertindak bodoh"
"Bukan hanya bodoh tapi keterlaluan...!!!" teriak Andika lagi, memotong ucapan Juna untuk kesekian kalinya.
"Maaf" kata Juna lagi.
Andika menghela nafas. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Dika..." panggil Juna.
"Dika..." panggilan kedua.
__ADS_1
"Andika....!!!"
"Apaaaa???? Mau apa???" bentak Andika tiba-tiba, sehingga membuat Juna kaget dan hampir terjungkal.
Juna menetralkan degup jantungnya. Menghitung dari satu sampai delapan. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Aku... mau... tanya. Siapa calon suami Lia?."
Andika tidak menjawab. Ia malah tersenyum mengejek ke arah Juna.
"Lebih baik kamu tidak tahu agar tidak minder. Aku takut kalau kamu tahu siapa calonnya Hani, kamu akan lari dan gantung diri di pohon mangga" ejek Andika.
"Andika.... "
"Apa??"
"Tolong katakan siapa calon suami Lia!" Juna merengek seperti anak kecil yang meminta mainan kepada ibunya.
"Kamu yakin?"
Juna mengangguk.
"Nggak bakalan gantung diri kan?."
Juna mengangguk lagi.
"Andika Noval Wahyudi, harusnya kamu familiar dengan nama itu. Bahkan kamu kenal dengannya karena kalau tidak salah dia adalah adik kelasmu saat SMA" kata Dika.
"Siapa, Dika? Siapa dia???" tanya Juna tak sabar.
"Pak Juna, sabar ya. Andika Noval Wahyudi adalah adik bungsu Bu Zaini" kata Andika sembari menepuk bahu Juna.
Tubuh Juna langsung membeku mendengar ucapan Andika.
"Apa? Adik bungsu Bu Zaini? Noval? Bagaimana bisa Noval kenal dengan Lia? Bukankah Noval bekerja di Jakarta?" tanya Juna dalam hati.
"Kenapa? Shock? Sabar ya. Jodoh di tangan Tuhan. Kita tidak pernah tahu dengan siapa Tuhan menjodohkan kita" kata Andika bijak.
"Tidak... tidak mungkin! Andika, bagaimana Lia bisa mengenal Noval?" tanya Juna.
"Hmmm... kemarin saat kami rapat. Noval datang kesini untuk mengantarkan jatah makan siang panitia. Kata Pak Zaini, Noval sedang pulang karena sepupu mereka akan menikah. Tanpa sengaja Noval melihat Hani. Noval langsung jatuh hati kepada Hani dan yaaa... dia bergerak cepat. Malam harinya Pak Zaini melamar Hani untuk Noval..."
"Dan orang tua Lia setuju?" potong Juna.
"Sebenarnya mereka menyerahkan semua keputusan itu kepada Hani. Setelah berfikir selama dua hari, Hani bersedia menikah dengan Noval. Setelah lamaran diterima, Pak Zaini segera menentukan tanggal pernikahan. Juna ini sudah takdir. Hani bukan jodohmu" kata Andika kemudian beranjak dari kursinya, melangkah meninggalkan ruang guru.
Juna melangkah ke tempat duduknya dengan lunglai. Ia menghempaskan badannya begitu saja tanpa memperdulikan rasa nyeri akibat benturan dengan benda padat dan keras.
"Tuhan, adilkah ini? Apa salahku, Tuhan? Apa salahku? Mengapa kau kembali membuat hatiku patah? Aku, apakah aku tidak pantas bahagia? Apakah aku tidak kau siapkan jodoh? Apa kau ingin aku menjadi perjaka tua?" Juna bermonolog dalam hati.
"Tuhan, Aku hanya ingin menikah. Aku ingin membahagiakan Emak. Jika memang aku tak pantas bahagia, tolong bahagiakan saja Emak. Wujudkanlah keinginan Emak. Karena aku tak sanggup jika terus-menerus membuatnya menangis."
__ADS_1