
Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Langit nampak gelap. Sinar rembulan yang biasanya menemani malam sunyi untuk kali ini absen, tertutup awan. Suara jangkrik dan hewan-hewan malam lainnya saling bersahutan, memecah keheningan malam.
Pak Narto berjalan mengendap-endap. Orang tua itu mengenakan sarung yang menutupi wajahnya layaknya ninja. Ia menenteng jerigen yang berisi bensin. Langkahnya perlahan sedangkan kedua netranya selalu waspada mengawasi situasi sekitar.
Seringai kecil terbit dari bibirnya ketika melihat rumah kecil yang akan menjadi targetnya kali ini. Pak Narto kembali mengedarkan pandangannya untuk memastikan tidak ada orang yang lewat atau melihat aksinya itu.
Dini hari seperti ini sebagian besar warga desa setempat sedang terlelap. Mereka biasanya akan kembali beraktifitas sekitar pukul tiga dinihari nanti. Pak Narto yang sudah paham betul dengan kebiasaan warga tentunya. Sehingga ia sudah mengatur waktu kapan ia akan melancarkan aksinya.
"Aman" gumam Pak Narto lirih.
Saat ini posisi Pak Narto berada di belakang rumah Juna. Ia segera membuka tutup jerigen yang di bawanya dan mulai menyiram dinding-dinding rumah Juna. Pak Narto kembalu mengedarkan pandangannya. Aman, semua sesuai dugaannya.
Pak Narto mengambil pemantik api di saku kolornya. Ia segera menyalakan api dan melemparnya ke rumah Juna.
Cetass...
Rumah Juna yang memang terbuat dari kayu dan anyaman bambu sangat cepat sekali bereaksi dengan api. Pak Narto mundur. Ia bersembunyi di semak-semak sembari memeriksa bagaimana api melalap rumah Juna.
Api mulai berkobar. Pak Narto segera berlari meninggalkan Juna. Secepat kilat, Pak Narto kembali ke rumahnya. Untung, benar-benar untung. Selama perjalanan Pak Narto tidak berpapasan dengan seseorangpun. Ia tiba di rumah dengan selamat. Keadaan rumah yang sepi membuat Pak Narto bernafas lega. Setidaknya tidak ada yang tahu dengan ulahnya.
***
"Kebakaran...!!! Kebakaran...!!!" teriakan warga saling bersahutan dengan suara kentongan yang dibunyikan warga.
Warga yang saat itu masih terlelap tentu saja kaget dan langsung berhamburan. Mereka berlarian sembari membawa ember yang berisi air.
Rumah Juna sudah tidak terlihat, tertutup dengan kobaran api yang semakin menjadi. Kepulan asap hitam terus menjulang tinggi.
"Apakah Juna ada di sana?" teriak Pak RT kepada warga yang sedang membantu menjinakkan si jago merah.
"Kami tidak tahu, Pak. Sejak kemarin Juna tidak terlihat."
"Api semakin menjadi dan pemadam kebakaran belum sampai ke lokasi. Bagaimana ini? Rumah Juna sebagian besar terbuat dari kayu. Api pasti akan cepat melahap rumah itu" seru Pak RT panik.
"Apakah ada yang sudah menghubungi Haris dan Ines?" tanya Pak RT.
"Sudah Pak! Mereka dalam perjalanan ke sini" kata salah satu warga yang membantu memadamkan api.
Suara sirine pemadam api terdengar. Pak RT bisa bernafas lega. Setidaknya warga tidak akan kewalahan dengan kedatangan mereka. Para petugas kebakaran segera mengambil posisi, mengeluarkan semua amunisinya untuk berperang dengan si jago merah.
Tanpa banyak kata, petugas pemadam kebakaran yang berjumlah lima orang itu segera menjalankan tugasnya. Warga yang semula membantu memadamkan api dengan ember berisi air, kini di minta menepi agar petugas bisa fokus memadamkan api.
"Pak RT...!" teriak Haris dan Ines. Kedua kakak beradik itu lari tunggang langgang.
"Haris, Ines... apakah Juna ada di dalam?" tanya Pak RT.
Haris dan Ines saling bertatapan.
__ADS_1
"Kami tidak tahu, Pak" jawab Haris berbohong.
"Mas..." Ines menarik tangan Haris, memberi kode dengan kedua matanya. Untung saja interaksi kedua kakak beradik itu tidak terlihat oleh Pak RT.
"Apa perlu petugas masuk ke dalam?" tanya Pak RT ragu. Melihat penampakan rumah Juna yang sudah hampir habis dilalap api, sangat kecil kemungkinan Juna masih hidup jika memang ia berada di dalam rumah.
"Percuma, Pak" sahut petugas kebakaran yang ternyata mendengar perkataan Pak RT.
"Saat ini kami akan fokus memadamkan api agar tidak menyebar ke rumah yang lainnya. Mohon maaf, jika melihat kobaran api dan keadaan rumah. Kecil kemungkinan pemilik rumah akan selamat. Apakah ada seseorang di dalam?" tanya petugas itu lagi.
"Kami tidak tahu, Pak. Rumah itu ditinggali oleh Juna. Hanya seorang diri. Kami tidak tahu apakah dia ada di rumahnya atau tidak" sahut Pak RT.
Haris menarik tangan Ines. Ia mengajaknya menjauh dari kerumunan warga.
"Ada apa, Mas?" bisik Ines.
"Kita harus sepakat untuk tidak mengusut kebakaran rumah Emak" kata Haris dingin.
"Lho, Mas? kenapa?."
"Biarkan seperti itu. Dengan begitu Juna bisa selamat. Aku yakin ini pasti ulah Pak Narto atau menantunya. Mereka pasti ingin melenyapkan Juna. Untung saja kita bergerak cepat dengan menyuruhnya pergi."
"Tapi, Mas. Pak RT pasti curiga jika kita terkesan diam saja. Mana ada sih orang yang santai-santai saja ketika mendapat musibah seperti ini?" tanya Ines kesal.
"Tidak ada pilihan, Nes. Jika kita membiarkan Pak RT membawa kasus ini ke kepolisian, Mas takut Juna akan terbawa pada kasus lain. Kita harus ambil aman. Sudahlah! Mas Haris lebih baik kehilangan rumah daripada kehilangan Juna."
Ines mengangguk. Ia memikirkan ucapan Haris matang-matang. Setidaknya dengan adanya kebakaran ini, kasus panas Juna akan menguap.
"Besok hubungi Juna. Sekarang Mas akan berbicara dengan Pak RT sekaligus meluruskan kasus panas Juna dengan Diandra. Setidaknya nama Juna tidak akan jelek di sini" kata Haris.
***
Tangan Juna meraba-raba tempat di sampingnya. Ia mencari benda pipih yang sejak tadi berdering, mengganggu tidurnya yang baru saja terlelap.
"Halo..." kata Juna dengan suara serak khas orang bangun tidur. Kedua matanya masih terpejam sehingga Juna tidak tahu siapakah yang sedang menelponnya saat ini.
"Juna, rumah emak kebakaran."
Juna langsung tersentak kaget. Kedua matanya langsung terbuka ketika mendengar suara Ines yang mengabari tentang rumah Emaknya.
"Kebakaran? Bagaimana bisa?" tanya Juna berteriak.
"Sepertinya dibakar oleh seseorang Jun."
"Apa? Mbak, itu rumah peninggalan Emak satu-satunya. Mengapa ada orang yang tega membakarnya?" tanya Juna tak terima. Ia mulai berspekulasi jika sebenarnya rumah itu dibakar dengan tujuan untuk menghabisi nyawanya.
"Jun, kamu harus ikhlas. Mbak Ines dan Mas Haris sepakat tidak membawa kasus ini ke kepolisian."
__ADS_1
"Tidak bisa begitu, Mbak!!! Pelakunya harus ditangkap! Ini kriminal! Kriminal, Mbak! Juna tidak rela jika orang itu masih berkeliaran" kata Juna emosi.
"Mbak tahu jika itu termasuk kriminal, Jun. Kami hanya tidak ingin kau terseret kasus lain. Mas Haris sudah berbicara dengan Pak RT jika kami ingin menutup kasus ini..."
"Jun..." Haris mengambil alih ponsel yang dipegang Ines.
"Dengarkan Mas Haris! Mas tidak bermaksud jahat padamu. Mas hanya ingin melindungimu. Mas lebih rela kehilangan rumah daripada kehilanganmu, Jun. Mas minta kamu tutup buku. Bukalah lembaran baru di Pare. Rumah itu memang peninggalan Emak, banyak kenangan di sana. Namun, kita tidak bisa larut dalam kenangan itu, Jun. Buatlah kenangan lain di tempat yang baru. Mas selalu berdoa agar kau bisa bangkit dan sukses di sana" tutur Haris menasehati Juna.
"Bagaimana keadaan rumah, Mas?" tanya Juna lirih.
"Rata dengan tanah, Jun. Kau tahu sendiri rumah kita terbuat dari kayu. Jadi sangat cepat di lalap api."
"Juna ingin melihatnya, Mas. Juna ingin pulang" mohon Juna.
"Mengertilah, Jun. Kau tidak boleh kesini. Mas khawatir dengan keselamatanmu. Menurutlah! Kau fokuslah di Pare. Buka lembaran baru di sana."
Juna tak menjawab. Ia memilih memutuskan panggilan telponnya. Juna tak mampu berucap. Berdebat dengan Haris tidak akan pernah selesai, tidak akan membuatnya menang. Juna si anak bungsu harus menurut meskipun itu bertentangan dengan keinginan hatinya.
Juna melempar gawainya ke kasur. Ia duduk dengan memeluk kedua lututnya. Kedua matanya menerawang, dengan pikiran yang sudah berjalan kemana-mana.
Apa sih dosanya? Mengapa cobaan terus saja menyerangnya? Mulai dari ditinggal nikah Lia, di pecat dari SMA Cendekia, Emak meninggal, dan sekarang rumahnya hangus terbakar.
Juna benar-benar tidak habis pikir. Apa mungkin dulu ia pernah melakukan dosa besar sehingga Tuhan memberinya cobaan bertubi-tubi? Apa perlu Juna mandi kembang tujuh rupa agar ia tidak lagi mendapat kesialan dalam hidupnya.
Juna menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya ia harus menemui Pamannya untuk bercerita. Juna tidak mengenal siapa-siapa di Pare. Ia juga lupa meminta kontak Athalia sehingga tidak bisa menghubunginya lagi. Satu-satunya orang yang bisa di ajaknya berbicara hanyalah pamannya.
***
"Informasi apa yang kau dapat?" tanya Arya pada bawahannya.
"Rumah Juna kebakaran, bos" sahut anak buah Arya.
"Kebakaran? Hah, pasti si tua bangka itu yang sengaja membakarnya" kata Arya sembari menutup berkas yang sejak tadi ia periksa.
"Bagaimana dengan Juna?" tanya Arya lagi.
"Juna kemungkinan tewas, Bos. Tapi ketika di telusuri di TKP, tidak ada jasad yang ditemukan."
"Bodoh! Artinya Juna masih hidup. Pasti dia sudah pergi sebelum si tua bangka itu beraksi. Lalu Diandra?."
"Nyonya sudah pergi dari rumah, bos."
"Hah, dasar wanita iblis. Setelah menguras uangku, dia kabur begitu saja. Percepat perceraianku. Aku tidak mau menyandang status sebagai suaminya lagi. Lakukan berbagai cara agar pengadilan segera mengabulkan permohonan perceraianku" perintah Arya yang segera diangguki bawahannya.
"Satu lagi. Selidiki tentang kebakaran rumah Juna. Jika memang benar ini adalah ulah si tua bangka itu. Maka, hanguskan sawahnya yang sedang siap panen itu!."
"Tapi, bos, kenapa kita harus ikut campur?."
__ADS_1
"Anggap saja itu sebagai ganti rugi uangku yang dibawa kabur anaknya. Aku ingin Diandra dan keluarganya hancur seperti dia menghancurkan harga diriku di hadapan Juna."
"