
"Pak, sarapannya!."
Fira menyodorkan sepiring lontong pecel kepada Juna. Tak lupa ia meletakkan segelas teh hangat di hadapan Juna.
Juna yang merasa tidak memesan sarapan khas Bu Udin, tentu saja bingung. Bagaimana bisa Fira mengantarkan makanan padanya sedangkan dirinya tidak memesan?
"Ini buat saya?" tanya Juna.
Fira mengangguk. Ia menundukkan kepala sembari memainkan ujung bajunya.
"Saya tidak merasa memesan makanan ke Bu Udin."
"Em...tapi ini sudah jam sembilan, Pak. Biasanya Pak May akan sarapan jam segini" jawab Fira lagi.
Juna bertambah bingung.
"Saya sudah sarapan, Fira. Makanya saya tidak ke warung Bu Udin. Kenapa kamu bisa tahu jika saya sarapan jam segini?" tanya Juna.
"Em...em..em..karena saya sering melihat Pak May sarapan di warung Bu Udin jam segini" jawab Fira.
Juna manggut-manggut. Ia jadi dilema untuk menolak makanan yang dibawa Fira. Mau dimakan, Juna masih kenyang. Tadi pagi ia makan banyak sekali. Istri cantiknya itu memasak nasi goreng untuk sarapan mereka.
Juna makan dengan sangat lahap. Setelah semalam tyrex nakalnya kembali menjalankan misi penting, Juna butuh makan yang banyak untuk memulihkan energinya. Sepertinya mulai hari ini Juna dan Atha harus menambah asupan gizi dan vitamin. Pasangan suami istri itu pastinya akan sering begadang untuk menemani tyrex Juna berkelana.
"Pak May, tidak mau sarapan? Kalau Bapak masih kenyang biar saya bawa kembali makanan ini."
"Eh....jangan! Mubazir. Tidak enak juga sama Bu Udin. Ngomong-ngomong kamu sudah sarapan?" tanya Juna.
"Belum, Pak."
"Ya, sudah! Ini buat kamu saja."
"Eh, tidak usah Pak May."
"Saya tidak menerima penolakan. Duduklah! Makanlah di sini!" perintah Juna.
Hati Fira bersorak senang mendengar perintah dari Juna. Ia menarik kursi di hadapan Juna dan duduk di sana.
Juna menyodorkan piring yang tadi di bawa oleh Fira. Ia menyuruh Fira segera sarapan.
Fira makan dengan pelan. Sesekali ia melirik Juna yang sedang berkutat dengan laptopnya. Hatinya berdesir tatkala melihat wajah Juna yang serius seperti itu.
Juna yang duduk di hadapannya memang jauh berbeda dengan Juna, si guru olah raga. Aura ketampanannya lebih memancar saat ini. Dulu, saat Juna masih menjadi seorang guru olah raga saja membuat hati Fira menjerit tidak karuan. Apalagi sekarang? Fira semakin terpikat dengan Juna.
"Kamu sama Suhri masih sering ngeband bareng?" tanya Juna membuka obrolan.
"Masih, Pak May."
"Dulu suara kamu masih biasa saja. Sekarang bisa tinggi melengking seperti itu" puji Juna yang langsung membuat pipi Fira merona.
Hening kembali. Hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring. Sebenarnya Fira ingin bertanya tentang perempuan yang bersama Juna semalam. Namun, ia sungkan. Fira khawatir Juna menganggapnya terlalu ingin tahu dengan urusan orang lain.
"Pak May!."
"Hem?."
"Apa nanti siang Pak May mau dipesankan lontong pecel Bu Udin? Saya melihat Bapak sangat sibuk sekali" Fira menawari Juna.
"Ah, tidak perlu! Nanti Athalia akan ke sini untuk mengantarkan makan siang" tolak Juna halus.
"A.... A.... Athalia. Perempuan yang bersama Pak May semalam?" tanya Fira gugup.
"Benar sekali. Rupanya kamu melihat saya di cafe Andika."
"Emm...em... Apakah dia pacar Pak May?."
"Pacar? Kamu mengira dia pacar saya?."
Fira mengangguk. Pertanyaan Juna barusan membuat Fira sedikit kaget. Ia seperti mendapat angin segar, melihat nada suara Juna yang seperti menyalahkan dugaan Fira.
"Kamu salah sangka, Fira. Dia bukan pacar saya. Saya ini sudah tua. Sudah tidak pantas berpacar-pacaran.
Nyesss... Hati Fira bersorak-sorak bergembira tatkala mendengar ucapan Juna. Benar kan dugaannya salah? Perempuan itu pasti saudara Juna, begitu Fira menduganya.
"Adik kan, Pak?" sahut Fira.
"Adik? Dia istri saya, Fira."
__ADS_1
Boom...
Fira langsung membeku mendengar ucapan Juna. Mulutnya menganga, efek dirinya yang sangat terkejut. Istri? Mendengar kata itu membuat hati Fira hancur berkeping-keping. Juna sudah beristri. Fira tidak salah dengar kan? Telinga Fira masih normal kan?
Fira menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin? Ini tidak mungkin? Juna yang terkenal sebagai perjaka tua ternyata sudah menikah? Kapan mereka menikah? Mengapa tidak ada kabar tentang pernikahan mereka?
"Fir, Fir, Fira! Kamu melamun?."
Panggilan Juna membuat Fira tersadar dari lamunannya. Matanya berkaca-kaca, dadanya sesak. Fira mendongakkan wajahnya ke atas, mencegah agar ia tidak menangis di hadapan Juna.
"Kapan Pak May menikah?" tanya Fira dengan suara bergetar.
"Kalau tidak salah dua bulan yang lalu. Kenapa? Fira, kamu kenapa seperti ingin menangis?" tanya Juna tidak peka.
"Bapak sudah menikah. Lalu bagaimana dengan permintaan Ayah saya?."
"Permintaan Ayah kamu?" beo Juna.
"Ayah kamu minta apa? Memangnya saya pernah bertemu dengan Ayah kamu?" tanya Juna lagi.
Deg.
Fira merasa kaget dengan pertanyaan Juna.
"Pak May lupa? Pak May pernah bertemu Ayah saya, melunasi hutang keluarga saya pada Mas Arya. Setelah itu Ayah meminta sesuatu kepada Pak May" kata Fira mulai emosi.
Juna menggaruk kepalanya. Pasalnya ia benar-benar tidak ingat dengan apa yang dikatakan Fira. Siapa Ayah Fira? Siapa Mas Arya? Juna tidak kenal.
"Maaf, Fira! Saya memang tidak ingat. Ngomong-ngomong siapa nama ayah kamu? Mungkin saja jika kamu menyebutkan namanya, saya bisa ingat."
"Pak Narto. Pak Narto, nama ayah saya."
"APA???" KAMU ANAK PAK NARTO???."
Telinga Juna langsung berdengung ketika mendengar nama yang disebutkan oleh Fira. Nama itu? Orang itu?
"Bapak kenapa kaget? Bukankah Pak May pernah bertemu dengan Ayah saya?" tanya Fira bingung.
"Kamu siapanya Diandra?" Juna mulai berkeringat dingin. Bayangan Diandra yang menyekapnya kembali muncul di wajahnya.
Kepala Juna langsung berdenyut. Matanya berkunang-kunang. Mendengar nama Diandra membuat dirinya kembali ketakutan. Juna bangkit dari tempat duduknya. Namun, satu detik kemudian pandangannya kabur dan menggelap. Juna ambruk dan pingsan.
***
Athalia berlari menyusuri lorong rumah sakit umum kabupaten. Tadi pagi Atha mendapat telepon dari Pak Udin. Pak Udin mengabarinya jika Juna pingsan. Atha yang saat itu sedang berberes tentu saja kaget setengah mati. Ia langsung meminta tolong kepada Pak Udin agar membawa Juna ke rumah sakit.
Pak Udin yang sigap segera menghubungi Andika. Laki-laki paruh baya itu pula memanggil beberapa guru laki-laki untuk membantu menggotong Juna ke dalam mobilnya.
Juna segera dilarikan ke rumah sakit. Andika didapuk sebagai sopir yang bertugas mengendarai mobil milik Juna. Pak Udin ikut serta. Ia diberi tugas untuk menjaga Juna dibelakang.
"Pak....!!!" Atha berteriak ketika melihat Pak Udin sedang berdiri di depan pintu kamar rawat. Ia melambaikan tangan dan segera berlari menghampiri Pak Udin.
"Ibu...! Aduh, Ibu! Jangan lari-lari! Nanti keseleo bagaimana?" ucap Pak Udin.
"Juna! Juna! Bagaimana keadaan Juna? Apa yang terjadi, Pak?" tanya Atha dengan nafas tersenggal-senggal.
Andika menghampiri kedua orang itu. Ia menyodorkan sebotol air mineral Atha. Andika paham, Atha pasti tidak tenang. Ia butuh sesuatu yang bisa menenangkan hatinya.
"Duduk dulu, Bu" ucap Pak Udin.
Atha duduk di bangku besi yang tersedia di depan kamar rawat itu. Pak Udin membukakan botol air mineral yang diberikan Andika lalu menyodorkannya kepada Athalia.
Gluk...gluk...gluk...
Atha meneguk air mineral itu sampai tandas. Ia lalu membuang botol bekas air mineral ke tong sampah. Nafas Atha mulai teratur. Ia mulai tenang, tidak sepanik tadi.
"Kenapa Juna pingsan?" tanya Atha.
Pak Udin maju. Ia sebagai pihak yang tahu pertama kali atas pingsannya Juna, tentu saja perlu memberi info.
"Saya tidak tahu awal mulanya, Bu. Tiba-tiba Bu Fira menelpon saya. Beliau mengatakan jika Pak Juna pingsan. Jadi saya langsung berlari ke ruangannya Pak Juna. Benar saja, Pak Juna tergeletak di lantai" kata Pak Udin memberikan informasi.
"Fira? Perempuan itu di ruangan Juna?."
"Benar, Bu. Setahu saya Bu Fira mengantarkan makanan untuk sarapan Pak Juna."
"Juna sudah sarapan di rumah. Untuk apa perempuan itu mengantarkan makanan lagi?" terdengar suara Atha mulai meninggi.
__ADS_1
"Aduh, saya tidak tahu Bu! Saya takut salah ngomong" ucap Pak Udin menunduk.
Atha mencengkaram ujung bajunya dengan gemas. Ia langsung panas mendengar cerita Pak Udin. Sspertinya Atha harus turun tangan, mengurus bocah kecil yang bisa menjadi hama dalam rumah tangganya. Atha harus bergerak cepat. Ia tidak ingin memberikan ruang bagi siapapun yang mengganggu rumah tangganya.
Ceklek.
Pintu kamar rawat Juna terbuka. Atha langsung bangkit menghampiri dokter yang muncul dari balik pintu. Dokter itu menajamkan penglihatannya ketika melihat Atha yang berdiri di depannya.
"Dokter Atha? benar?" tanya dokter itu.
"Benar. Anda siapa?."
"Saya Dokter Malik. Dokter yang membimbingmu saat kamu menjadi relawan di sini. Kamu lupa?" tanya dokter itu lagi.
"Maaf, dokter. Saya tidak ingat. Mungkin karena banyaknya dokter yang saya temui dan waktu pengabdian yang singkat membuat saya tidak bisa mengingat satu-persatu dokter di sini. Maaf, sekali lagi, maaf" ucap Atha sopan.
Dokter Malik mengangguk. Ia memaklumi kondisi Athalia.
"Dokter yang menangani suami saya?" tanya Atha lagi.
"Dia? Laki-laki itu suamimu? Ya Tuhan, ternyata kamu sudah menikah!."
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?."
"Suami dokter Atha tidak apa-apa, hanya kaget yang berlebihan."
"Kaget yang berlebihan?" beo Atha.
"Ya, mungkin saja suami Anda memiliki trauma atau phobia dengan sesuatu dan mungkin tadi terjadi sesuatu yang berhubungan dengan trauma atau phobia yang dideritanya. Saya sarankan setelah beliau sadar, dokter Atha membawanya ke psikolog untuk pemeriksaan lebih lanjut" saran Dokter Malik.
"Apa saya boleh masuk?."
"Boleh. Tapi jangan berisik. Pasien sesang beristirahat. Jika nanti siuman, tolong tenangkan pasien. Saya rasa dokter Atha sudah tahu apa yang harus dilakukan" ucap Dokter Malik kemudian berlalu dari hadapan Atha.
Atha meminta Pak Udin dan Andika untuk kembali ke sekolah. Ia tidak enak jika mengganggu pekerjaan mereka. Atha menyuruh Andika kembali membawa mobil Juna dan meninggalkan di sekolah karena dirinya mengendarai motor ke rumah sakit.
Kedua laki-laki itu mengangguk. Mereka kemudian pamit untuk kembali ke sekolah.
Atha masuk ke kamar rawat inap Juna. Ia menghampiri Juna yang sedang terlelap. Ditatapnya wajah suaminya itu. Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala Atha.
"Eummm...euughh...."
Terdengar leguhan panjang dari mulut Juna. Wajahnya kembali berkeringat dingin. Juna menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, persis seperti seseorang yang sedang mengalami mimpi buruk.
Atha menepuk-nepuk pipi Juna. Ia berusaha menyadarkan Juna sembari terus berteriak memanggil namanya.
"Jangan....!!!" teriak Juna.
Juna langsung bangkit dari tidurnya. Ia berubah posisi menjadi duduk.
"Hei, sayang! Juna! Juna! Ini aku, Atha! Juna!" panggil Atha.
Juna tersadar. Ia menoleh ke arah Athalia dan langsung memeluknya dengan erat. Seperti de javu, Juna merasa pernah seperti ini sebelumnya. Ia memeluk Atha saat merasa ketakutan akibat mimpi buruknya.
"Sayang, tenang! Tenang" tutur Atha dengan lembut.
"Aku takut. Aku takut."
"Tidak perlu takut. Aku di sini. Kamu jangan takut" ucap Atha sembari mengusap-usap bahu Juna.
Juna melerai pelukannya. Ia menatap Atha dengan wajah cemas.
"Saya di mana?" tanya Juna.
"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan, Jun. Pak Udin dan Andika membawamu ke sini."
"Lalu perempuan itu?."
"Perempuan siapa yang kamu maksud, Jun?" Atha balik bertanya.
Juna diam lalu menggeleng perlahan.
"Traumamu belum sembuh?."
Juna mengangguk.
"Sepertinya kita harus ke Surabaya. Aku ingin kamu diperiksa dan dirawat di rumah sakit SILOAM. Aku punya banyak kenalan dokter di sana. Bagaimana? Kamu mau, Jun?" tanya Atha yang langsung dijawab Juna dengan anggukan kepala.
__ADS_1