HEI JUN

HEI JUN
41


__ADS_3

Grand Hotel Miramar, Spanyol.



Juna duduk melamun sendiri di tengah keramaian orang-orang yang sedang menghadiri pesta resepsi pernikahan Kiara dan Elang. Resepsi mewah dengan konsep outdoor itu rupanya tidak menarik minat Juna. Sejak acara dimulai, Juna memilih duduk di pojokan sembari melamun meratapi nasibnya yang bisa ia katakan sedang tidak baik-baik saja.


Mengapa tidak baik-baik saja? Hal ini dikarenakan Juna merasa dirinya seperti lalat yang berada di antara ratusan tamu yang menghadiri acara itu. Juna tidak mengenal mereka. Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sumpek. Begitulah keadaan hati seorang Juna sekarang.


Megahnya Grand Hotel Miramar sepertinya tak mampu membuat hati Juna terpukau. Meriahnya pesta resepsi itu sepertinya tak mampu mengisi kekosongan hati Juna. Rindu, Juna merindukan kampungnya. Juna merindukan negara asalnya.


Bagaimana caranya agar Juna bisa kembali ke Indonesia? Apa perlu Juna bersembunyi di dalam koper milik Edward agar ia bisa pulang? Ah... Juna menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya ide konyolnya itu tidak akan berhasil.


"Mas Juna, jangan melamun saja! Ayo bergabung dengan yang lain!" ajak Edward yang sejak tadi memperhatikan Juna yang duduk menyendiri di pojokan.


Juna menggeleng.


"Mas Juna jangan takut! Beberapa dari mereka bisa berbahasa Indonesia. Mari saya kenalkan dengan mereka!" ajak Edward lagi. Ia seakan mengerti dengan ketakutan Juna.


Juna bangkit. Ia akhirnya berjalan mengekori Edward. Edward menyapa satu-persatu tamu undangan. Tak lupa ia memperkenalkan Juna sebagai staff khusus Tuan Adira yang bekerja di salah satu perusahan milik keluarga Sanjaya yang berada di Spanyol.


Puk...


Seseorang menepuk bahu kanan Juna. Ia yang kaget langsung saja menoleh ke kanan dan...


"Opooo????" wajah sinis Dira langsung muncul di hadapan Juna. Juna langsung menggaruk tengkuknya. Kalau sudah begini perasaannya langsung berubah tidak enak.


"Wajahmu kusut amat kayak baju lupa disetrika. Senyum kek, ketawa kek. Ini di Spanyol lho. Harusnya kamu senang ketemu dengan bule" Dira langsung saja mengomeli Juna tanpa rem.


"Maaf, Tuan. Saya hanya tidak terbiasa dengan keramaian."


"Tidak terbiasa dikeramaian? Memangnya kamu biasanya nongkrong di kuburan? Mayjuna! Ini sudah seminggu kamu berada di Spanyol. Saya tidak mau melihat wajah sedihmu terpancar di hari bahagia keluarga saya. Auramu bisa bawa sial untuk pengantin. Paham?" tanya Dira geram.


Juna mengangguk. Ia langsung mengubah raut wajahnya yang semula murung menjadi sumringah. Juna berharap Dira akan segera pergi setelah Juna menampakkan raut wajah bahagianya di depan bos absurnya itu.


"Sudah makan?" tanya Dira.


"Belum, Tuan."


"Pergilah ambil makanan! Makan yang banyak karena pura-pura bahagia itu butuh energi yang besar" kata Dira kemudian berlalu meninggalkan Juna.


Juna kembali menarik nafas panjang. Bos absurdnya itu masih sempat saja mencibirnya di acara penting seperti ini. Kalau dipikir-pikir memang ucapan Dira ada benarnya. Sejak tadi Juna belum juga mencicipi makanan di pesta Kiara dan Elang. Bukannya tidak lapar, Juna hanya merasa asing dengan makanan yang disediakan. Juna sudah berkeliling, mengitari meja makanan satu persatu. Namun, makanan yang dicari Juna tidak ada.


Juna kembali menuju meja makanan. Ia berharap setelah lama ia melamun, makanan yang tersedia berubah sesuai seleranya. Juna tidak banyak permintaan. Cukup bertemu nasi pecel atau sate ayam, Juna akan auto bahagia.


Buggg


"Sorry!" seseorang menabrak Juna yang sedang berdiri mematung mengamati makanan. Juna langsung menoleh dan ia terkejut ketika mendapati seorang wanita seksi terduduk di tanah.


Juna segera mendudukkan tubuhnya, membantu wanita itu untuk bangkit. Wanita itu terjungkal saat ia tidak sengaja menabrak Juna. Bagaimana tidak? Tubuh wanita itu tidak sebanding dengan Juna sehingga meskipun ia yang menabrak Juna, Juna masih tetap kokoh berdiri sedangkan gadis itu langsung terjungkal.


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Juna dengan bahasa Indonesia.


Perempuan itu tidak menjawab. Selain ia tidak bisa berbahasa Indonesia, ia terpana dengan Juna yang memiliki paras asli Asia.


"Nona...! Hai, Nona! Anda baik-baik saja?" gerakan tangan Juna tepat di wajah perempuan itu membuatnya tersadar.


"Hah? Hmm.. sorry, I can't speak Indonesia" Juna langsung bungkam ketika perempuan itu berbicara bahasa asing.


Perempuan itu sepertinya paham jika laki-laki di hadapannya tidak bisa berbahasa asing. Ia kemudian berlalu meninggalkan Juna dan kembali lagi dengan menggandeng tangan mempelai laki-laki.

__ADS_1


"Loh?" Juna langsung melebarkan kedua bola matanya ketika melihat perempuan itu menggandeng tangan Elang.


"Mas Juna? Hai, maaf baru menyapa Mas Juna di sini" sapa Elang sopan.


Juna mengangguk. Pandangannya seperti tercemar ketika melihat perempuan tadi bergelayut manja dengan Elang. Mereka terlibat obrolan dalam bahasa Spanyol. Juna hanya diam saja karena memang ia tidak paham dengan apa yang dibicarakan mereka.


"Mas Juna, perkenalkan ini Lily. Dia adalah teman kecil saya. Dia bercerita jika tadi sudah menabrak Mas Juna dan ingin meminta maaf. Berhubung Lily tidak bisa berbahasa Indonesia dan Mas Juna tidak berbahasa asing. Jadi Lily bingung untuk berbicara" kata Elang sopan.


"Ah, seharusnya saya yang meminta maaf. Karena membuat Nona ini terjatuh" jawab Juna sambil membungkuk.


"Mas Juna memang baik sekali. Sudah makan, Mas?" tanya Elang.


"Belum. Saya bingung mau makan apa. Sejak tadi saya berkeliling mencari nasi pecel atau sate ayam. Tapi tidak ada."


Elang tertawa mendengar ucapan Juna. Ia tidak menyangka jika Juna sepolos itu.


"Maaf, Mas Juna. Saya lupa tidak memesan masakan Indonesia juga di sini. Tapi, Mas Juna tetap bisa menikmati makanan yang lain. Tidak kalah enak kok. Hitung-hitung Mas Juna adaptasilah. Lama-lama terbiasa kok" ucap Elang kemudian pamit meninggalkan Juna sendiri.


Juna mengangguk. Ia kemudian mengambil piring berisi spagetthi tak lupa segelas jus jeruk sebagai minumannya.


Juna mencari tempat duduk yang kosong. Ingin bergabung dengan yang lain, Juna tidak kenal. Juna duduk di kursi pojokan seorang diri tanpa ia sadari sejak tadi ada sepasang mata yang mengamati gerak geriknya.


"Elang, siapa laki-laki tadi?" tanya Lily.


"Siapa? Mas Juna?."


Lily mengangguk.


"Dia asisten baru kakak iparku. Kenapa?" tanya Elang heran.


"He is so hot!" gumam Lily dan itu tentu saja membuat Elang terkejut.


"Apa katamu?."


"Dia anak buah Abang Dira. Kalau kau mendekatinya, dekati dulu bos nya. Kau tahu sendiri bagaimana sifat kakak iparku itu?."


Lily mendengus kesal. Ia segera berjalan meninggalkan Elang dan berkeliling untuk mencari Dira. Tidak sulit bagi Lily untuk menemukan Dira. Karena Dira mengenakan dress code khusus dari keluarga mempelai perempuan.


"Mr. Adira permisi" panggil Lily dengan sopan.


Dira yang saat itu sedang berbicara dengan koleganya. Tentu saja terkejut saat ada seseorang yang memanggil namanya.


"Eh, dakocan! Ada apa kemari, can?."


"Dakocan? Apa itu?" tanya Lily heran.


Dira segera menutup mulutnya. Ia keceplosan masih memanggil Lily dengan sebutan dakocan.


"Ah, maaf. Saya salah orang. Saya pikir tadi teman saya. Ada apa dek Lily?" tanya Dira dalam bahasa Spanyol.


"Mmm... Mr. Adira, bolehkah aku berkenalan?" tanya Lily ragu.


"Berkenalan? Hei bukankah kita sudah mengenal? Untuk apa berkenalan lagi?" tanya Dira salah sangka.


"Bukan denganmu Mr. Adira. Tapi dengan dia" Lily menunjuk Juna yang sedang duduk menyantap spagetti.


"Oh my god! Dia?" Dira bertanya ulang, khawatir jika Lily salah tunjuk.


"Benar, Mr. Adira. Kata Elang dia adalah salah satu asistenmu. Ayolah, kenalkan aku dengannya" rengek Lily.

__ADS_1


Dira menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Lily yang bisa terpikat dengan pesona Juna. Dira yakin ia pasti efek dari perubahan nama Juna yang ia lakukan sehingga muncul aura positif dalam diri Juna.


"Katakan kepadaku! Mengapa kamu tertarik padanya."


"Dia tampan sekali" ucap Lily dengan mata berbinar-binar.


"Apa katamu??? Tampan??? Hei, dakocan! Aku ini CEO paling tampan dan rupawan. Tidak ada yang lebih tampan daripada aku. Paham?" kata Dira gusar.


"No, Mr. Adira! Bagiku dialah laki-laki paling tampan di dunia ini. Ayolah, Mr. Adira! Kenalkan aku padanya" Lily kembali merengek kepada Dira.


Dira berfikir sejenak. Ia mempertimbangkan permintaan perempuan di depannya. Sepertinya memperkenalkan Lily pada Juna tidak ada salahnya. Siapa tahu jodoh. Juna bisa sekalian memperbaiki keturunan jika menikah dengan Lily, keturunan bule yang memiliki body semok.


Dira segera menarik tangan Lily. Ia berjalan menghampiri Juna yang rupanya sudah selesai menyantap makanannya.


"Juna!" panggil Dira.


Juna segera mengangkat wajahnya dan ia langsung bangkit saat melihat bos nya sudah berdiri di hadapannya.


"Tuan Dira butuh bantuan?" Juna membungkuk.


"Kenalkan! Ini Lily, perempuan yang mengaku hamil anak kamu" cerocos Dira.


Juna melongo. Ini tidak paham dengan ucapan bos nya itu.


"Maksud Tuan Dira apa? Saya tidak kenal dengan perempuan itu. Bagaimana bisa dia mengaku sedang hamil anak saya?" tanya Juna.


"Kamu salah dengar Juna. Saya bilang dia ingin hamil dan melahirkan anak-anakmu kelak" ucap Dira dan itu sukses membuat wajah Juna langsung merah padam.


"Hei, mengapa malu? Kamu tidak pernah dilamar perempuan apa?" cibir Dira lagi membuat Juna semakin salah tingkah.


"Hei, dakocan! Kamu mau kenalan kan sama Juna?" tanya Dira.


Lily mengangguk.


"Saya sudah memperkenalkan dirimu padanya secara simbolis. Selanjutnya kenalan sendiri. Saya masih banyak tamu undangan yang harus di sapa..."


"Tapi, Mr. Adira dia tidak bisa berbahasa Inggris dan aku tidak paham bahasa Indonesia" kata Lily manja. Ia sengaja menampakkan sifat manjanya di hadapan Juna dengan tujuan Juna akan tertarik padanya.


"Ponselmu pintarkan?."


Lily mengangguk.


"Ada kuota internetnya kan?."


Lily mengangguk lagi.


"Yasudah! Pakai aja aplikasi penerjemah bahasa. Komunikasinya begitu dulu. Besok-besok daftar les bahasa Indonesia kalau memang serius mau kencan dengan Juna" omel Dira kemudian ia pergi meninggalkan Lily dan Juna yang masih melongo.


Lily mengambil ponselnya. Ia segera mengikuti saran Dira untuk menggunakan aplikasi penerjemah bahasa untuk berkomunikasi dengan Juna.


"Hai, Juna. Perkenalkan nama saya Lily" Lily berbicara dengan aksen barat yang masih menempel. Ia mengulurkan tangannya ke arah Juna.


Juna yang masih tidak paham dengan situasi yang di hadapinya hanya bisa membeku. Diam tak berkutik.


"Sepertinya kau sangat tegang. Ayo, ikut aku! Aku akan membantu melemaskanmu" bisik Lily.


Lily segera menarik tangan Juna dan merangkulkan ke pinggangnya sendiri. Seperti terhipnotis, Juna mengikuti langkah Lily. Mereka berjalan beriringan layaknya pasangan kekasih yang sedang berpacaran.


Cup.

__ADS_1


Kecupan singkat Lily mendarat di pipi kanan Juna.


"Hei, Jun! Itu perkenalan singkat dariku. Kalau kau mau lebih, katakan saja" bisik Lily lagi.


__ADS_2