HEI JUN

HEI JUN
38


__ADS_3

Minggu pagi


Athalia sudah berdiri di depan lobby Sanjaya.corp. Ia benar-benar menepati janjinya untuk mengajak Juna jalan-jalan mengelilingi kota Jakarta. Berbekal alamat yang diberikan Juna dan ponsel pintar yang memandunya menuju perusahaan Sanjaya dengan selamat. Kini Athalia sedang berdiri menunggu Juna yang sedang bersiap-siap di kamarnya.


Senang? Tentu saja Juna senang. Ia langsung bersorak gembira ketika mendapat pesan dari Athalia jika gadis itu sudah berangkat untuk menjemput Juna.


Juna yang biasanya malas untuk bangun pagi, seketika langsung bangkit dan bersiap-siap. Berbekal foto Elang yang ia ambil secara diam-diam, Juna memiripkan dandanannya menyerupai Elang, calon suami Kiara.


"Ah, rupanya meski baju sama tetap saja keliatan beda" gumam Juna kecewa. Pasalnya Juna tidak melihat aura ketampanan yang terpancar dari wajahnya. Ia tetap saja seperti biasa, hanya bajunya saja yang mahal.


Juna menduga pasti karena ia belum maksimal mengikuti perawatan di salon. Sudah dua hari Juna tidak pergi ke salon sesuai perintah Dira. Ia malas dan capek. Berbagai kursus yang ia ikuti di kantor membuatnya sangat kelelahan sehingga Juna akan langsung tepar saat jam pulang kerja.


"Maaf menunggu lama" Juna muncul dengan tampilan segar dan hati berbunga-bunga. Rambut basahnya menandakan jika ia baru saja mandi.


"Tak apa. Mmmm... kamu tinggal di sini, Jun?" tanya Atha.


"Ya. Di sana!" Juna menunjukkan di mana mess karyawan yang ia tempati. Athalia bisa melihat banyak sekali kamar yang berjejer dengan model yang sama.


"Hmm... Jun, apakah kamu tidak izin dulu pada bos mu?" tanya Atha membuat Juna menatap gadis itu dengan heran.


"Izin? Ini kan hari libur. Aku bebas kemanapun tanpa harus izin dari Tuan Dira."


"Mmmm... Apakah bos mu ada di dalam?" tanya Athalia lagi.


"Alangkah baiknya jika kamu tetap izin padanya jika bos mu ada disini. Jadi kamu tidak kena marah. Kamu sendiri kan yang bilang kalau Tuan Dira itu orangnya suka berubah-ubah?" kata Atha melanjutkan ucapannya.


"Atha, hari ini hari Minggu. Kantor pastilah tidak berpenghuni kecuali security di luar dan karyawan yang ada di mess. Jadi tidak mungkin Tuan Dira ada di sini. Lagipula saat ini Tuan Dira sedang berada di Bali. Jadi kamu tenang saja" jawab Juna.


Raut wajah Athalia menjadi murung. Gagal sudah rencananya untuk bertemu dengan Dira. Sejak Kiara keluar dari rumah sakit, Atha tidak dapat lagi melihat Dira. Tujuan Athalia mengajak Juna jalan-jalan karena ia ingin melihat Dira, meskipun dari jauh sudah membuatnya senang.


"Hei, kenapa murung?" tanya Juna mengagetkan Atha.


"Maaf, aku malah melamun. Ayo masuk, Jun! Kita berangkat sekarang" ajak Atha.


Juna meminta kunci mobil Atha. Namun, Atha menolaknya. Ia tidak ingin Juna mengemudikan mobilnya. Atha khawatir akan kemampuan Juna dalam menyetir. Selain itu, ia juga khawatir Juna kesasar mengingat Juna masih baru berada di Jakarta.


Mobilpun melaju. Ancol adalah tujuan pertama yang dipilih oleh Athalia. Juna, sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa tentang tempat wisata di Jakarta, memilih mengiyakan saja. Toh dia juga tidak punya usulan.


Atha mengemudikan mobilnya sembari bercerita, memberi tahu tempat-tempat yang ia lewati, persis seperti tour guide yang sedang memandu wisatawan. Sayangnya wisatawan yang dipandu oleh Atha tidak memperhatikan penjelasannya. Juna malah fokus menatap wajah Atha yang menurutnya sebelas dua belas dengan Lia.


Tiba di ancol. Athalia segera membeli tiket untuk mereka berdua. Juna menyodorkan kartu sakti yang ia dapat dari Edward. Kartu sakti itu cukup membuat Athalia kaget.


"Kenapa kaget begitu?" tanya Juna.


"Kamu? Bagaimana bisa kau mempunyai kartu sakti seperti itu, Jun?."


"Tuan Dira yang memberikannya kepadaku. Katanya bisa digunakan untuk jajan. Aku ingin mengetes saja apakah benar kata Tuan Dira? Jadi, kau cobalah ini" kata Juna.


Atha menerima dengan ragu. Jangankan buat jajan, untuk memborong apapun juga bisa. Juna memang tidak menyimak dengan serius penjelasan dari Dira. Ia hanya menangkap inti dari kegunaan kartu itu yaitu untuk jajan. Atha segera membayar tiket untuk mereka berdua dan mengembalikan kepada Juna.


"Kita kesini mau apa?" tanya Juna.


"Mau main, Jun."


"Main? Kamu mengajakku jauh-jauh kesini hanya untuk bermain? Kita bukan anak-anak lagi, Atha."


"Sudahlah, ikut saja denganku! Kamu pasti suka."

__ADS_1


Atha menarik tangan Juna. Mereka berjalan beriringan dengan kelima jari yang saling bertaut. Entah kebetulan atau apa, baik Juna maupun Athalia sama-sama mengenakan baju berwarna hijau. Sehingga mereka tampak seperti sepasang kekasih yang memakai baju couple.


Deg.


Juna mematung ketika melihat wahana di hadapannya.



Ia langsung bergidik ngeri membayangkan bagaimana seramnya wahana itu.


"Itu apa, Atha?" tanya Juna. Ia semakin kuat mencengkram tangan Atha.


"Wahana roller coster. Mau main?" tanya Atha yang langsung dijawab Juna dengan gelengan kepala.


Wajah Juna langsung pucat. Ia melihat sendiri bagaimana orang-orang yang sedang bermain wahana itu. Mereka berteriak, menjerit ketakutan, dan itu membuat Juna langsung tidak berminat untuk mencoba mainan itu.


"Bagaimana kalau itu?" Athalia menunjuk wahana permainan yang lain.



Juna langsung mengangguk. Ia yakin wahana itu tidak seram. Hal itu diperkuat dengan kedua telinganya yang tidak mendengar teriakan orang-orang yang bermain wahana itu.


"Atha, ini dermolennya besar sekali ya?" tanya Juna, wajahnya memancarkan kekaguman.


"Dermolen? Itu namanya bianglala, Jun."


"Di kampungku namanya dermolen. Setiap bulan Oktober pasti ada pasar malam dan dermolen itu adalah primadona permainan di sana" kata Juna menjelaskan.


"Kau pernah naik bianglala?."


Juna dan Atha masuk ke dalam keranjang bianglala. Perlahan, bianglala itu naik. Juna kembali berdecak kagum melihat pemandangan yang terhampar indah di bawahnya.


Usai naik bianglala, Atha mengajak Juna untuk mencoba wahana yang lain. Namun, Juna selalu menolak dengan alasan takut.


Mau tidak mau, Atha mengajak Juna ke tempat lain. Tempat dimana Juna tidak merasa ketakutan. Atha memilih seaworld. Karena menurutnya Juna akan senang jika diajak melihat ikan.



"Atha, ini ikannya asli?" tanya Juna.


"Hah?."


"Apa iya ikan-ikan ini asli? Tidak mungkin kan mereka berenang di atas kaca begitu? Lagipula siapa orang iseng yang bisa membuat aquarium untuk ikan-ikan itu jika mereka asli?" tanya Juna polos.


Atha menahan senyumnya. Ia ingin sekali tertawa melihat tingkah polos Juna. Namun, ia tidak tega karena khawatir Juna akan malu dan bersedih.


"Ini ikan asli, Jun."


"Iyakah? Darimana pemilik tempat ini mendapat ikan-ikan itu?" tanya Juna heran.


"Tentu saja dari laut, Jun."


"Wahhhhh....." Juna menempelkan wajahnya di dinding kaca. Ia benar-benar tidak menyangka jika di hadapannya adalah ikan-ikan asli.


Juna terus menatap ikan-ikan yang melintas di hadapannya. Tak lupa ia menghitung sambil sesekali memberi nama ikan itu sesuka hatinya. Mungkin saja Juna sudah terkena virus Dira yang suka asal memberi nama orang.


"Atha..." panggil Juna.

__ADS_1


"Kenapa, Jun?."


"Kenapa di sini tidak ada ikan tongkol? Aku sejak tadi belum melihat ikan tongkol lewat di hadapanku."


Atha langsung membekap mulut Juna. Pasalnya ia khawatir pertanyaan polos Juna akan menjadi bahan tertawaan pengunjung yang lain.


"Pelankan suaramu!" perintah Athalia dan Juna langsung mengangguk sehingga Atha bisa melepas bekapan tangannya.


"Maaf, apa aku terlalu berisik?" tanya Juna.


"Iya. Ikan-ikan di sini tidak suka dengan orang berisik" Atha membohongi Juna.


"Baiklah, aku akan berbisik jika ingin bertanya kepadamu" kata Juna.


Juna kembali asyik melihat ikan-ikan itu. Ia lupa jika tadi bertanya perihal ikan tongkol kepada Atha. Namun, itu tidak berlangsung lama. Juna kembali menoleh kepada Atha, mendekatinya dan berbisik di telinganya.


"Apa aku bisa membeli ikan-ikan itu? Aku ingin memasaknya di mess dan memakannya dengan teman-teman yang lain."


Atha langsung menepuk pipi Juna.


"Kamu jangan gila, Jun! Kalau kamu ingin makan ikan, kita bisa beli di pasar atau supermarket."


"Tidak mau! Ikan di pasar tidak selucu di sini. Lihatlah mereka berwarna-warni. Aku tidak pernah makan ikan seperti itu di kampung" tolak Juna dan itu membuat Atha harus memutar otak agar Juna bisa dibujuk.


"Aku lapar, Jun. Bagaimana kalau kita keluar saja? Kita beli makan di luar" ajak Atha.


"Kenapa kita tidak menangkap ikan ini saja? Aku akan menyelam untuk menangkap ikan-ikan itu dan kau bisa memasaknya. Pasti segar dan sedap" kata Juna bersemangat.


"Kamu pikir ini tambak mujaer, Jun? Astaga, aku salah mengajaknya kesini!" batin Atha.


Atha segera menarik tangan Juna agar keluar dari seaworld. Ia segera membawa Juna ke Pasar seni untuk berbelanja bermacam-macam souvenir yang lucu dan unik.


"Katanya mau makan? Kenapa malah kesini? Atha, apakah dokter sepertimu tidak makan nasi?."


Pukk


Atha lagi-lagi memukul pipi Juna. Ia gemas melihat tingkah Juna yang benar-benar polos. Apakah Juna pikir Atha bukan manusia sehingga ia bertanya seperti itu.


"Aku ingin membeli souvenir terlebih dahulu. Setelah itu kita pulang."


"Pulang? Kenapa pulang? Ini belum sore lho" protes Juna.


"Aku tidak kuat menghadapi kepolosanmu, Jun. Sungguh, aku ingin tertawa sejak tadi tapi takut dosa" teriak Atha dalam hati.


Atha tidak menjawab pertanyaan Juna. Ia memilih berlalu melewati Juna begitu saja. Atha masuk kedalam satu stand yang menjual gantungan kunci dengan berbagai bentuk yang lucu.


Sadar diacuhkan oleh Atha membuat Juna segera berlari mengejar gadis itu. Ia terus mengekori Atha. Namun, tiba-tiba Juna melihat stand yang menjual lukisan. Ia langsung menarik tangan Atha keluar dari stand gantungan kunci.


"Mau kemana, Jun?."


"Disana ada yang jual lukisan."


"Kamu mau beli lukisan?" tanya Atha heran.


"Tidak! Aku ingin pelukis itu melukis kita berdua."


"Hah?" Atha hanya melongo tidak percaya dengan ucapan Juna barusan.

__ADS_1


__ADS_2