
Juna melangkah perlahan memasuki kamar yang ditempati Pak Narto. Bu Tatik dan Fira menarik kursi agar Juna bisa duduk di sana. Juna tersenyum getir ketika melihat penampakan Pak Narto saat ini. Jauh berbeda dengan Pak Narto yang ia lihat dua tahun yang lalu.
Kemana Pak Narto yang selalu berdiri pongah itu? Kemana kesombongan yang selalu Pak Narto tampakkan. Hari ini Juna melihat sendiri bagaimana keadaan Pak Narto.
Tubuh kurus kering, mata cekung dengan rambut yang sudah memutih. Juna jadi bertanya-tanya selama itukah ia pergi? Dulu rambut Pak Narto hitam pekat dan klimis. Mengapa sekarang memutih dan sedikit? Apa yang terjadi? Apa mungkin Juna salah menghitung hari?
"Selamat siang, Pak" ucap Juna berbisik.
Pak Narto yang saat itu sedang menatap langit-langit kamarnya, seketika menoleh ke kanan. Mulutnya hendak berbicara. Namun, ia kesulitan untuk berucap.
"Bapak tidak bisa berbicara, Pak May. Sejak terserang stroke, sistem saraf Bapak mulai terganggu sedikit demi sedikit" ucap Fira menjelaskan.
Bu Tatik keluar dari kamar Pak Narto. Ia kembali dengan membawa kertas dan bolpoin.
"Bapak mau duduk apa tetap tiduran?" tanya Bu Tatik sembari menyodorkan kertas dan bolpoin yang ia bawa.
Pak Narto mengambil bolpoin itu dan menuliskan sebuah kata di kertas. Pak Narto menulis dengan susah payah. Tulisannya pun sulit dibaca. Namun, karena Bu Tatik dan Fira sudah lama merawat Pak Narto sehingga mereka sudah terbiasa dan paham dengan apa yang ditulisnya.
"Biarkan Pak Narto berbaring, Bu" cegah Juna ketika Bu Tatik berusaha mendudukkan Pak Narto.
"Bapak mau duduk, Pak May. Kemauannya harus dituruti agar tidak mengamuk" ucap Bu Tatik.
'dia siapa?' tulis Pak Narto.
"Saya Pak May, pemilik SMA Cendekia yang baru."
"Hooohhhhh" seru Pak Narto.
"Tujuan saya kesini untuk...."
Brak...Brak...Brak...
Ucapan Juna terhenti ketika mendengar suara pintu didobrak. Mereka langsung bangkit dan bergegas ke luar rumah.
Glek.
Bu Tatik dan Fira langsung menelan ludah ketika melihat tiga orang berbaju merah, kuning, hijau berdiri di depan pintu rumah mereka. Baik Bu Tatik maupun Fira sudah bisa menebak siapa orang-orang itu. Hanya Juna yang melongo melihat mereka. Ia menduga orang-orang itu adalah suruhan Lita yang dikirim untuk mengawalnya. Tapi ia merasa aneh karena orang-orang itu tidak berbadan bagus layaknya pengawal pribadi keluarga Sanjaya.
"Kemana Narto keparat itu? Apakah sudah mampus? Hahahahaha" teriak laki-laki berbaju merah.
Juna bernafas lega. Rupanya bukan orang suruhan Lita. Juna mengamati Bu Tatik dan Fira. Ibu dan anak itu nampak ketakutan melihat tiga manusia itu.
"Waktunya bayar hutang, woyyyy!" teriak laki-laki berbaju kuning.
"Pak, kami masih belum ada uang" cicit Bu Tatik.
"Selalu saja bilang begitu! Kalian pikir kami akan percaya hah?."
"Tolong beri waktu, Pak. Nanti setelah panen tembakau, kami akan bayar semampunya" kata Bu Tatik lagi.
"Panen tembakau?" Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Mereka seakan mengejek Bu Tatik.
__ADS_1
"Sawahmu berapa hektar sih? Kau pikir harga tembakau akan tinggi? Cih! Kalau bukan karena campur tangan Bos Arya, mana mungkin hasil tembakau kalian akan laku?."
Juna memicingkan matanya. Mendengar nama Arya membuatnya penasaran. Apa yang terjadi? Mengapa keluarga Pak Narto bisa mempunyai hutang pada Arya? Bukankah Arya adalah mantan suami Diandra? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan perceraian mereka?
"Bos Arya tidak memberi keringanan lagi. Hari ini jika kalian tidak dapat membayar hutang-hutang itu. Maka rumah dan sawah itu akan disita oleh Bos Arya."
"Jangan...!!!!" Bu Tatik langsung berlari dan berlutut. Ia memeluk kedua kaki laki-laki berbaju merah.
"Jangan ambil rumah ini, Pak! Kami mau tinggal di mana? Sawah itu juga satu-satunya harta kami yang tersisa. Kalau Arya juga mengambilnya, kami akan jadi gelandangan" mohon Bu Tatik sembari menangis.
"Memangnya kami peduli hah? Bayar atau angkat kaki sekarang!" Laki-laki itu menendang Bu Tatik hingga tersungkur.
Juna langsung membogem laki-laki itu dengan keras. Entah mengapa ia reflek melakukan itu. Melihat Bu Tatik ditendang seperti itu, mengingatkan Juna pada emaknya. Juna tidak terima. Ia memberi bogem mentah kembali pada laki-laki yang sudah menendang Bu Tatik.
Sekali, dua kali, sepertinya Juna belum puas memberinya bogem mentah. Untung saja Edward menyuruhnya ikut les bela diri saat di Spanyol sehingga Juna bisa mempraktekkan ilmu beladirinya sekarang. Meskipun hanya bogem-membogem.
"Siapa kau hah?" ucap laki-laki itu meringis. Kedua temannya hendak memukuli Juna.
Juna mengangkat tangannya. Ia siap melayangkan bogem manisnya kepada kedua laki-laki yang tersisa. Mereka yang awalnya hendak maju, mengurungkan langkahnya. Ngeri juga melihat buku-buku tangan Juna yang sudah mengeras. Pasti sakit sekali jika terkena pipi mereka.
"Kalian datang tidak pakai salam. Tidak tahu sopan santun. Apakah kalian tidak pernah sekolah hah?"
Bugg
Bugg
Juna menghadiahi bogem manisnya satu-persatu di pipi kanan mereka. Anak buah Arya yang memang berbadan tidak kekar, tentu saja gampang oleng dengan sekali bogeman dari Juna.
"Saya keponakan Pak Narto. Berani-beraninya kalian mengusik keluarga Paman saya? Cari mati hah?" teriak Juna. Entah ide dari mana hingga mulutnya bisa berkata seperti itu.
"Kami hanya menjalankan tugas dari Bos Arya. Keluarga mereka punya hutang."
"Berapa hutang mereka?" tanya Juna geram.
"Dua ratus juta" ucap ketiga pria itu kompak.
"Cih! Hanya dua ratus juta kalian sampai tega menendang ibu-ibu tidak berdosa. Kalian mau dikutuk jadi batu?."
Fira dan Bu Tatik mengerutkan keningnya. Mereka gagal paham dengan ucapan Juna itu
"Kalian tahu SMA Cendekia?" tanya Juna.
Mereka mengangguk.
"Katakan pada Arya! Saya pemilik SMA Cendekia yang baru akan membayar semua hutang Pak Narto. Saya tunggu besok di sekolah!."
"Bapak...!!!" seru Fira. Ia tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan Juna.
Juna menyuruh Fira untuk diam. Ia kemudian melemparkan kartu namanya kepada anak buah Arya.
"Pergilah! Berikan kartu nama itu pada Arya! Besok aku menunggunya di sekolah" ucap Juna membuat mereka bertiga langsung lari terbirit-birit.
__ADS_1
Juna mengambil ponsel di sakunya. Ia mencari nomor Lita dan segera menghubunginya.
"Hello, Mr. Mayjuna July Agustino. Kangen yah sama Miss Lita?" tanya Lita centil. Lita memang menyukai Juna sejak awal. Namun, ia kalah cepat karena Juna sudah menikah dengan Atha.
"Miss Lita, saya ingin membuat perjanjian hitam diatas putih. Saya butuh orang yang bisa membuatkan dan mengurus surat-surat itu. Kirim segera ke SMA Cendekia karena besok mereka akan rapat bersama saya" ucap Juna tegas.
"Mr. Mayjuna mau dikirimin siapa? Kalau Miss Lita boleh nggak?" tanya Lita genit.
"Lita!!!" terdengar teriakan Kiara dari jauh. Juna terkekeh geli, ia bisa membayangkan saat ini Lita pasti sedang dipelototi oleh Nyonya Boss nya.
"Maaf, Bapak Mayjuna! Anda mau dikirimi bantuan siapa ya?" tanya Lita berubah menggunakan bahasa formal.
"Kirim saja pengacara, notaris...."
"Nggak sekalian sekretaris, Pak?" Lita kembali dalam mode centilnya.
"Lita!!!" Sekali lagi kamu genit sama Mas Juna, saya mutasi kamu ke Tobelo" ancam Kiara.
Juna yang mendengar itu kembali tertawa cekikikan.
"Mas Juna, ini Kiara. Mas Juna ada masalah apa sampai minta dikirim pengacara dan notaris? Mau demo, Mas?" cerocos Kiara.
Juna kembali tertawa. Ia kemudian menjelaskan perihal keperluannya besok.
"Oh! Saya akan kirim Pak Danu. Cukup Pak Danu saja yang akan mengurus semua keperluan Mas Juna. Tapi kalau butuh bodyguard, Kiara juga bisa kirim sekalian kok."
"Oh, tidak perlu Nyonya Bos. Cukup Pak Danu saja" ucap Juna kemudian ia mengakhiri pembicaraannya dengan Kiara.
"Bapak!" panggil Fira.
Juna langsung memutar tubuhnya. Ia tidak sadar jika sedari tadi ada Fira dan Bu Tatik di sana. Mereka berdua pasti mendengar pembicaraannya di telepon.
"Bapak becanda kan? Bapak hanya menggertak anak buah Mas Arya kan?" tanya Fira.
"Becanda? Kalau saya becanda untuk apa saya memlemparkan kartu nama saya dan menelpon untuk dikirimi pengacara?" kata Juna.
"Pak, dua ratus juta itu banyak. Hutang itu murni bukan hutang Ayah saya. Mas Arya menuliskan nominal itu karena Mbak Diandra yang..." Fira ragu melanjutkan ucapannya.
"Fira dan Bu Tatik. Saya kesini kan ingin membayar hutang saya kepada Diandra. Saya tidak peduli berapa nominal yang diinginkan Arya. Anggap saja itu uang Diandra yang saya pinjam."
"Tapi Mbak Diandra tidak mungkin meminjami Pak May sebanyak itu kan? Sudahlah Pak. Ini bukan tanggung jawab Pak May. Pak May tidak seharusnya terseret dalam masalah keluarga saya" ucap Fira malu.
Juna menghela nafas. Ia paham mengapa Fira merasa malu seperti itu. Fira pikir Juna tidak akan punya uang sebanyak itu.
Sebenarnya Juna mau membayar hutang Pak Narto karena rasa bersalahnya telah membuat Diandra bercerai dengan Arya. Andai saja ia tidak bodoh, pasti Diandra tidak bisa mengeksploitasi dirinya dan menjadikannya pelampiasan.
Juna juga merasa bersalah karena dirinya yang mengambil mahkota milik Diandra. Meskipun Diandra yang menyerahkannya pada Juna. Juna tetap saja merasa bersalah.
Sungguh uang dua ratus juta tidak sebanding dengan rasa bersalah Juna. Andai saja ia bisa menyatukan Diandra dan Arya kembali, pasti hal itu akan Juna lakukan.
"Saya tidak menerima penolakan. Bu Tatik, maaf saya harus kembali ke sekolah. Saya pamit. Dan kamu Fira, tidak usah kembali ke sekolah. Kamu rawat saja ayah kamu" ucap Juna kemudian berlalu meninggalkan rumah Fira.
__ADS_1