
"Honey..."
Juna langsung memegang dadanya ketika kedua indra pendengarannya menangkap suara manja di belakangnya. Kedua tangan Lily sudah bergerak cepat, melingkari tubuh Juna dengan erat. Hmm..., kalau sudah begini Juna langsung berkeringat dingin. Juna sepertinya perlu memeriksakan diri ke dokter spesialis karena sudah seminggu ini jantungnya selalu berdegup kencang tak karuan.
"Ayo, makan honey!" lagi, suara manja Lily tetangkap indra pendengaran Juna. Geli, itulah yang dirasakan oleh Juna.
"Lily, ini belum jam istirahat. Belum saatnya untuk makan siang. Lagipula bagaimana kau bisa masuk ke sini? Ini kan jam kerja?" tanya Juna. Sungguh wajahnya langsung menegang ketika Lily semakin menempelkan tubuhnya pada Juna.
"Tidak ada yang akan menghalangiku untuk bertemu denganmu, honey. Sejak aku meresmikan hubungan kita, Mr. Adira memberiku kartu bebas masuk ke sini. Aku bisa datang kapanpun untuk menemuimu" kata Lily.
Juna menarik nafas panjang. Meresmikan hubungan katanya? Hubungan seperti apa yang diresmikan oleh Lily? Hubungan sepihak? Bagaimana bisa Lily dengan pedenya berkata seperti itu kepada Dira padahal Juna sama sekali tidak mengiyakan untuk menjadi kekasih Lily?
Stress. Juna benar-benar dibuat stress. Belum selesai urusan kursus dan magang, kini ia harus menghadapi Lily yang selalu datang setiap hari tanpa di minta. Kalau begini terus, bagaimana Juna akan betah di Spanyol? Ia pasti akan terus-menerus ingin kembali ke Jakarta.
Juna melirik Lily yang entah sejak kapan sudah selesai menata berbagai macam makanan di meja Juna. Huh...! Meja kerja Juna sudah mirip seperti dapur. Sepertinya Juna harus minta meja tambahan agar ia memiliki tempat khusus untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
Setiap hati setidaknya Lily membawa lima sampai enam macam piring yang menurut Juna terlalu berlebihan. Belum lagi beberapa gelas dan botol yang berisi beraneka minuman. Hmm... Juna bahkan lebih mirip seperti sedang camping daripada training.
Andai saja Lily bisa bersikap praktis, meletakkan makanan yang ia bawa dalam satu nampan besar sehingga tidak terlalu banyak makan tempat. Toh mereka hanya berdua dan hanya Juna yang menyantap makanan-makanan itu. Jadi tak perlulah membawa semua isi dapurnya ke ruangan Juna seperti itu.
"Hari ini aku membawakan siomay dan es cendol. Chef andalan di restauranku yang membuatnya" kata Lily membuyarkan lamunan Juna.
"Siomay dan es cendol?."
"Ya, makanan favoritmu kan?" kata Lily sembari mengedipkan sebelah matanya.
Juna kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak habis pikir darimana Lily tahu tentang semua makanan kesukaannya. Meski rasa makanan yang di bawa Lily tidak sama dengan makanan yang biasa di beli Juna. Namun, tetap saja Juna penasaran tentang Lily yang bisa mendapatkan info mengenai dirinya sedetail itu.
"Buka mulutmu!."
"Hmm... Lily, aku banyak tugas yang harus dikerjakan. Bisa tidak jika kamu saja yang makan" tolak Juna karena sebenarnya ia risih berada di dekat Lily.
"Aku kesini untuk menyuapimu, honey. Kau hanya perlu membuka mulutmu dan kedua tanganmu bisa tetap mengerjakan tugas-tugasmu" Lily tetap bersikeras ingin menyuapi Juna.
"Tap... Tapi.. Aku bukan bayi lagi. Aku bisa makan sendiri" tolak Juna lagi.
"Bagiku kau adalah bayi doraemon yang lucu. Mayjuna, sudah aku katakan jika aku tidak menerima penolakan. Cepat buka mulutmu! Atau kau mau aku suapi dengan mulutku?."
Lily mengedipkan sebelah matanya lagi untuk menggoda Juna. Juna tentu saja langsung belingsatan. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan degup jantungnya yang sudah mulai berdisko sejak tadi.
Juna akhirnya menurut. Jika ia terus berdebat dengan Lily, bisa jadi perempuan itu akan terus berada di ruangan Juna. Juna bisa memastikan dirinya tidak akan fokus belajar karena Lily akan selalu menggodanya.
Lily menyuapi Juna dengan telaten. Sesekali ia mendaratkan kecupan singkat di pipi Juna. Kalau sudah begitu, Juna pasti langsung tersedak. Juna merasa seperti tersengat listrik saat pipinya di sentuh oleh Lily.
"Lily, bisakah kau menyuapiku saja tanpa melakukan aktifitas lain yang membuatku jantungan?" tanya Juna. Pasalnya Juna khawatir ia akan pingsan jika Lily terus-menerus seperti itu.
"Tidak bisa, honey. Kau terlalu menggemaskan untuk aku diamkan" kata Lily dan itu berhasil membuat Juna lagi-lagi berkeringat dingin.
"Sepertinya aku akan meminta Mr. Adira untuk membuatkan kamar di ruanganmu. Dengan begitu aku bisa istirahat sambil melihatmu bekerja" kata Lily lagi santai.
Uhuk... Uhuk...
Juna kembali tersedak mendengar ucapan Lily. Ia segera mengambil botol minumannya dan segera meneguknya.
"Jangan aneh-aneh, Lily! Kau tahu sendiri jika aku hanyalah karyawan magang di sini. Aku tidak mau Tuan Dira marah besar jika kau meminta macam-macam padanya" tolak Juna cepat.
"Marah? Mana mungkin Mr. Adira marah? Dia akan mendukung apapun permintaanku selama itu bisa membuatmu nyaman bersamaku."
__ADS_1
Juna menepuk dahinya. Sumpah demi apapun. Sepertinya bos absurdnya itu menjadi sekutu Lily. Kalau sudah begini Juna harus membeli stok sabar yang banyak karena perempuan di sampingnya ini akan menjadi orang kedua yang akan menguras stok kesabarannya.
"Lebih baik kamu kembali, Lily. Apa kau tidak khawatir restauranmu kebakaran atau ada yang komplain tentang makanannya?" usir Juna dengan halus.
"Aku tidak bersemangat di sana, Jun. Bagaimana kalau kamu pindah saja bekerja di restauranku. Kamu bisa memimpin restauranku. Dengan begitu kita bisa berduaan selama dua puluh empat jam" kata Lily penuh semangat.
Juna langsung melongo. Apa-apaan ini? Juna tidak menyangka jika Lily menawarinya hal seperti itu? Berduaan selama 24 jam katanya? Satu detik bersama Lily saja sudah membuat Juna seperti kehabisan nafas. Apalagi selama 24 jam? Bisa-bisa Juna tidak bekerja melainkan syuting film dewasa bersama Lily.
Lily segera mengeluarkan ponselnya. Ia mencari kontak seseorang untuk dihubungi. Melihat tingkah Lily yang bergerak cepat. Tentu saja membuat Juna curiga. Tiba-tiba saja perasaan Juna tidak enak setelah mendengar perkataan Lily barusan.
"Kau mau apa?" tanya Juna.
"Aku? Tentu saja aku ingin menelpon" jawab Lily santai.
"Siapa yang ingin kau hubungi, Lily?."
"Papa. Aku akan minta kau ditarik ke restauranku."
"TIDAKKKK...!!!!" Juna secara refleks mengambil ponsel Lily. Ia tidak mau Lily melanjutkan ide konyolnya yang akan membuatnya mati muda.
"Honey, kenapa berteriak? Kembalikan ponselku! Aku harus menghubungi Papa sekarang."
"Aku bilang tidak, ya, tidak!!!" bentak Juna. Ia tidak sengaja membentak Lily.
Lily langsung menekuk wajahnya. Ia menggigit bibirnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara isak tangis Lily.
Huffttt! Juna menjambak rambutnya. Ia langsung frustasi melihat Lily menangis.
"Mengapa kau membentakku, honey? Papaku saja tidak pernah membentakku seperti itu" Lily menangis tersedu-sedu.
Juna kembali menjambak rambutnya. Ia pun bingung harus berbuat apa.
"Cup...cup...cup. Lily, tolong berhenti menangis. Maafkan aku. Aku tidak sengaja membentakmu" kata Juna.
Lily menggeleng. Ia terus saja menangis dengan tangan yang menutup wajahnya. Juna semakin bingung dibuatnya.
"Kamu jahat, Jun. Kamu jahat" isak Lily lagi.
"Iya, iya. Aku memang jahat. Makanya jangan dekat-dekat denganku" ceplos Juna.
Plak.
Lily memukul bahu Juna dengan kesal. Wajahnya kembali merengut setelah mendengar ucapan Juna tadi.
"Kamu harus membujukku, honey. Aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus merayuku sampai aku tidak marah lagi."
"Merayu? Aku tidak mau, Lily."
"Kamu jahat!!!."
Lily kemudian bangkit dan berlari meninggalkan Juna. Ia keluar dari ruangan Juna dengan wajah berurai air mata.
Juna menghela nafas panjang. Ia pun bangkit dan berlari mengejar Lily. Sialnya, baru saja Juna membuka pintu ruang kerjanya. Wajah sangar Dira muncul, mengintimidasi Juna layaknya seorang tersangka yang akan di sidang.
"Tu... Tuan?" cicit Juna. Juna langsung membungkuk, memberi hormat kepada Dira.
"Mayjuna July Agustino" panggil Dira.
__ADS_1
"Saya, Tuan Adira."
"Apa yang kamu lakukan hingga dakocan menangis tersedu-sedu seperti itu?" tunjuk Dira pada Lily.
Juna mencubit pahanya. Ia ingin tertawa tapi takut dosa. Mendengar Dira memanggil Lily dengan sebutan dakocan tentu saja membuat Juna ingin tertawa terbahak-bahak.
"Jawab!!!!" bentak Dira.
"Sa...sa...ya..."
"Dia jahat, Mr. Adira. Aku menyuapinya dengan kasih sayang tetapi dia malah membentakku. Hu...hu...hu..."
"Benar itu, Juna?" tanya Dira. Kedua bola matanya sudah melotot kepada Juna.
"Sa...sa...saya tidak sengaja, Tuan" cicit Juna.
"Tidak sengaja? Kamu ini laki-laki. Tidak pantas membentak seorang perempuan apalagi dakocan seperti dia. Bisa tamat hidup lo....!" teriak Dira dan itu lagi-lagi membuat Juna ingin sekali tertawa.
"Mr. Adira harus menghukum dia. Aku sakit hati dibentak seperti itu" rengek Lily, tangannya sudah bergelayut manja pada Dira.
Dalam hati Dira memaki Lily. Andai saja tidak ada Juna, sudah pasti Dira akan menepis kedua tangan sialan itu. Dira berpura-pura berpihak pada Lily padahal dalam hati Dira muak setengah mampus kepada Lily.
"Mmm... Kau mau aku menghukumnya?."
Lily mengangguk.
"Hukuman seperti apa yang kau inginkan?" tanya Dira lagi.
"Aku mau dia menemaniku jalan-jalan seharian ini. Sejak dia menjadi kekasihku, dia tidak lernah sekalipun mau mengajakku jalan-jalan."
"Gue mau muntah...!!! Gue mau muntah...!!!" teriak Dira dalam hati.
"Apa?? Juna, benar yang Lily katakan?."
Juna mengangguk takut.
"Kau ini bagaimana? Dia kan kekasihmu. Harusnya kamu memberi perhatian padanya. Ajak dia jalan-jalan. Kamu kan sudah aku beri kartu sakti. Bisa buat jajan sampai tujuh turunan, Junaaaa...." teriak Dira.
"Kekasih dari planet Mars? Dia saja yang ngaku-ngaku. Saya mah tidak mau" ucap Juna dalam hati.
"Sekarang kamu temani si dakocan! Mau ke ujung planetpun, ikuti saja. Jangan sampai hilang! Paham?" tanya Dira yang langsung disambut sorak sorai bahagiah Lily.
Juna mengangguk malas.
"Mr. Adira, apa boleh Juna menemaniku sampai lusa?" tanya Lily.
"Bo... Eh apa? Lusa?."
Lily mengangguk.
"Aku akan mengenalkannya pada Papa. Kami harus segera meresmikan hubungan ini ke tahap yang lebih serius" kata Lily sembari mengibaskan rambut panjangnya.
"Oh boleh! Silakan bawa saja si Juna. Tidak dikembalikan juga tidak apa-apa. Santai bae, my sist" kata Dira sok akrab.
Lily bersorak kegirangan. Ia segera menyeret tangan Juna dengan paksa. Juna mau tidak mau mengikuti Lily sesuai perintah bos absurdnya. Juna tidak tahu bagaimana nasibnya dua hari kedepan bersama Lily. Ikuti saja alurnya. Mau menolakpun tidak bisa.
Mereka terus berjalan hingga bayangan keduanya tidak terlihat oleh Dira. Dira langsung tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka jika pesona Juna bisa menarik perhatian seorang Lily, bule Spanyol yang selalu ia panggil dakocan.
__ADS_1
"Ebuset Junaaaa......!!!! Belum setengah bulan sudah dapat bule Spanyol. Hebat juga nih peletnya" kekeh Dira dalam hati.