
Meja dengan nomor 18 itu masih saja dihuni orang Juna dan kawan-kawan. Sudah dua jam lebih mereka di sana, bercerita sembari menikmati suguhan yang dihidangkan oleh Andika.
Andika sebagai tuan rumah sepertinya benar-benar memanjakan dua tamu yang merupakan kawan lamanya. Meskipun Juna sudah berulang kali melarang Andika untuk menyajikan makanan lagi, Andika tetap saja menyuruh chef di cafenya untuk memasak.
Sudah tak terhitung berapa banyak makanan yang sudah dihidangkan. Perut Juna bahkan sudah begah, menatap makanan itu pun Juna tak sanggup. Andika seperti kesetanan sampai menyajikan makanan dalam jumlah tidak wajar. Apa dia tidak rugi ?
Kringg...
Ponsel Juna berbunyi. Obrolan mereka terhenti. Juna mengernyitkan dahi ketika melihat nama Pak Udin terpampang di layar ponselnya. Ia segera menggulir tombol hijau untuk menjawab panggilan Pak Udin.
"Halo, Pak Udin! Ada apa?."
"Halo, Pak May! Maaf mengganggu! Ini ada orang cari Pak May."
"Cari saya? Siapa?" tanya Juna heran.
"Saya tidak tahu, Pak. Orangnya tidak mau menyebutkan nama. Dua minggu yang lalu juga pernah kemari tapi Pak May kan nggak ada."
"Laki-laki apa perempuan?."
"Perempuan, Pak."
"Saya segera ke sana."
Juna segera menutup ponselnya. Ia terpaksa pamit pada Andika dan Lia. Sebenarnya Lia tidak mau Juna pergi. Ia masih ingin mengobrol dengan Juna. Lama tidak bertemu Juna membuat Lia penasaran dengan perjalanan hidupnya. Lia tidak segan mencekal tangan Juna agar diriny tidak beranjak pergi.
Untung saja ada Andika. Sepupu Lia itu berhasil membujuk Lia. Mereka berjanji besok akan makan siang bersama di SMA Cendekia. Lebih tepatnya warung Bu Udin yang menjadi tempat kenangan mereka bertiga.
Pim...Pim....Pim...
Bunyi klakson mobil Juna terdengar. Ia pamit kepada Lia dan Andika. Mobil melaju perlahan, memecah jalanan rusak di sepanjang jalan raya.
Tiga puluh menit kemudian, Juna sudah tiba di SMA Cendekia. Dilihatnya Pak Udin sedang berdiri di depan gerbang. Juna menghela nafas kasar. Langit sudah gelap dan Pak Udin masih saja bertugas.
Laki-laki paruh baya itu seharusnya sudah selesai bertugas pukul tiga sore tadi. Namun, karena ada tamu untuk Juna. Jadilah Pak Udin harus menambah jam kerja. Pak Udin khawatir tamu yang hendak bertemu Juna akan hilang karena kesasar. Karena di desa ini minim sekali lampu jika sudah malam.
"Pak..." sapa Juna. Ia merasa tak enak hati nelihat wajah lelah Pak Udin.
"Tamunya menunggu di ruangan Pak May" kata Pak Udin memberi tahu.
Juna mengangguk. Ia kemudian mengajak Pak Udin ke ruangannya. Sekolah sudah sepi, tamu yang datang juga perempuan. Juna tidak mau timbul fitnah macam-macam yang dapat merusak nama baiknya. Membawa Pak Udin adalah solusi terbaik, meskipun nantinya Pak Udin akan menguping pembicaraan mereka.
"Silakan, Pak May! Tamunya sudah menunggu" Pak Udin mempersilakan Juna untuk masuk terlebih dahulu.
"Junaaaa....."
Kedua netra Juna membola ketika sosok perempuan yang merupakan tamunya berlari ke arahnya. Perempuan itu menubruk tubuh Juna, memeluk dengan erat, tak lupa tangisan yang langsung pecah saat itu Juna.
Juna diam membeku. Ia membiarkan perempuan itu menyelesaikan tangisannya terlebih dahulu. Sedangkan Pak Udin, ia memilih menunduk. Wajahnha padam melihat aksi romantis dua orang yang berbeda gender itu.
"Juna..., maaf."
Linangan air mata terus mengalir di pipi Atha, perempuan itu langsung bertolak ke Madura ketika mendapat telepon dari Pak Udin. Atha tidak peduli jika jam dinasnya belum selesai. Dia hanya ingin bertemu Juna dan meminta maaf secepat mungkin.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Juna heran.
"Aku menyusulmu, Jun. Aku mencarimu kemana-mana. Ke kantor Sanjaya corp, ke SMA Cendekia. Tapi...tapi...kamu nggak ada" ucap Atha.
Juna mengkerutkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa Athalia mencarinya.
"Maaf, Jun! Maaf! Aku sudah meninggalkanmu. Aku menyia-nyiakanmu. Aku memang pantas kau hukum. Tolong maafkan aku! Kita mulai lagi dari awal. Kita bangun rumah tangga kita dari nol."
Wajah Pak Udin dan Juna sama-sama tersentak kaget. Mendengar kata rumah tangga yang diucapkan Athalia membuat kedua laki-laki itu bingung. Juna menoleh ke arah Pak Udin, sedangkan Pak Udin hanya mengangkat kedua bahunya.
"Tunggu, Atha! Apa maksudmu? Kau punya salah padaku? Salah apa? Dan rumah tangga apa yang harus kita bina?" tanya Juna bingung.
__ADS_1
"Junaaa.... Kau? Kau? Kau tidak menganggapku sebagai istrimu?."
"ISTRI????."
Pak Udin tanpa sadar berteriak, efek kaget mendengar pengakuan Atha yang tiba-tiba. Sadar dengan kesalahannya, Pak Udin segera menutup mulutnya. Ia khawatir akan kembali berteriak.
"Jawab aku, Juna! Jawab! Kau sudah tidak menganggapku istrimu? Kau punya selingkuhan disini? Atau kau menikah lagi dengan guru di sini?" teriak Atha histeris.
"Eh, Atha! Bu...bu...bukan begitu. Saya tidak menikah lagi. Saya juga tidak punya selingkuhan" ucap Juna gugup. Ia seperti ragu ingin mengatakan yang sebenarnya.
"Lalu mengapa kau bingung, Jun?" tanya Atha heran. Di belakang Juna nampak Pak Udin juga sedang menyiapkan telinganya.
"Saya...saya...saya hanya lupa kalau sudah punya istri" ucap Juna polos.
Yah namanya juga Juna. Dua minggu berada di Afrika membuatnya terlalu nyaman bermain dengan hewan-hewan. Ia sampai lupa jika dirinya adalah seorang suami yang saat itu sedang ada masalah dengan istrinya. Juna menunduk malu, diliriknya Pak Udin yang menampakkan wajah datar.
Pak Udin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menepuk wajahnya sembari mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa ada orang yang lupa kalau sudah punya istri? Apa karena tidak dikeloni setiap hari jadinya seperti itu?
Sungguh Pak Udin hanya bisa mengelus dada. Ia benar-benar takjub dengan Juna. Pak Udin tidak pernah kepikiran jika reaksi Juna seperti itu. Andai saja bukan pemilik sekolah, pastilah Pak Udin menabok wajah Juna dengan sandal legend miliknya.
Pak Udin memilih pamit. Juna memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Pak Udin sebagai uang lembur. Lagi-lagi Pak Udin dibuat takjub. Pasalnya selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan uang lembur. Netra Pak Udin langsung berbinar cerah. Dirinya yang tadi mengumpat berganti mengucapkan terima kasih dan langsung angkat kaki.
"Jun..."
"Hem..."
"Kau memaafkanku?" tanya Athalia cemas.
"Emmm....emmm...."
Juna kembali berfikir karena dirinya juga lupa dengan kesalahan Atha. Tak ingin ambil pusing, Juna langsung mengangguk. Anggukan kepala Juna langsung disambut pelukan erat dari Athalia.
'Aneh! Mengapa aku merasa lempeng ya?' gumam Juna.
***
Juna membuka pintu rumahnya. Ia masuk diikuti oleh Athalia yang mengekori dari belakang. Setelah pertemuan di ruang kerja Juna, Juna mengajak Athalia pulang. Hari sudah malam, keadaan di SMA Cendekia juga gelal gulita.
Juna memutuskan pulang saja ke rumahnya. Ia pikir istrinya itu butuh istirahat. Perjalanan Jakarta-Madura tentu saja menguras tenaganya. Juna juga menduga jika istrinya itu belum makan.
"Mandilah! Aku akan ke depan untuk membeli makanan. Biasanya jam segini banyak abang gerobak yang nongkrong di dekat pos ronda."
"Kamar mandinya di mana, Jun?."
"Di setiap kamar ada kamar mandinya. Kamu tinggal pilih mau mandi di mana" ucap Juna sembari menunjukkan letak semua kamar dengan telunjuknya.
"Oh, iya! Apakah kamu membawa baju ganti?."
Atha menggeleng.
"Aku langsung ke sini saat Pak Udin menelponku, Jun. Aku hanya membawa dompet dan ponsel" ucap Atha.
"Kalau begitu pakai kaosku saja. Di sini tidak ada baju perempuan karena kamu memang belum pernah ke sini sebelumnya."
Juna berjalan menuju kamarnya. Kali ini Athalia kembali mengekori Juna. Juna membuka lemari pakaiannya dan memilih kaos yang mungkin bisa di pakai oleh istrinya.
"Ini! Tapi bawahannya tidak ada" kata Juna dan anehnya pipinya merona ketika mengatakan hal itu.
"Aku pakai celana pendek Jun, kaosmu juga besar. Jadi tak masalah."
"Mandilah! Aku akan membeli makanan."
"Tidak usah, Jun! Aku akan memasak saja" tolak Atha.
"Apa yang akan kau masak jika di kulkas hanya ada es batu? Aku tidak pernah menyetok bahan makanan di sini. Aku selalu membeli" ucap Juna.
__ADS_1
"Maaf, Jun! Mulai besok aku akan memasak untukmu. Aku akan ke pasar untuk membeli bahan makanan" kata Athalia tulus.
Juna mengangguk. Ia kemudian bergegas pergi meninggalkan Athalia di kamarnya. Juna memberi waktu kepada istrinya untuk membersihkan diri dan berganti baju sedangkan dirinya akan pergi ke pos ronda untuk membeli makanan.
Tiga puluh menit kemudian, Juna sudah kembali ke rumah. Ia membeli dua bungkus nasi goreng. Melihat Juna datang, Atha buru-buru menghampiri dan mengambil bungkus makanan yang dibawa Juna. Atha segera memindahkan ke piring dan membawanya ke meja makan.
"Aku tidak tahu apakah rasanya cocok di lidahmu" ucap Juna ketika Atha hendak menyuapkan makanannya.
"Aku tidak pilih-pilih makanan, Jun. Semuanya pasti enak asalkan tidak mentah."
Juna mengangguk. Mereka lalu makan dalam diam. Entah karena kenyang atau ada Athalia, Juna menjadi tidak nafsu makan. Biasanya ia akan melahap habis nasi goreng yang ia beli di pos ronda. Juna merasa nasi goreng kali ini hambar. Ia hanya memakan lima suap dan menaruhnya kembali.
"Ada apa, Jun?" tanya Atha ketika melihat Juna menyudahi makannya.
"Sepertinya saya sudah kenyang. Tadi saya sudah makan di cafe milik Andika. Kamu lanjutkan saja makannya. Saya mau mandi dulu."
Juna langsung melenggang pergi. Ia meninggalkan Atha di dapur. Juna bergegas ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang sudah lengket akibat beraktifitas seharian.
Usai mandi, Juna keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk di pinggang. Ia melihat baju tidurnya sudah tersedia di atas kasur. Juna langsung mengambil dan memakainya. Pastilah Athalia yang menyiapkan baju tidurnya.
Usai berpakaian, Juna naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Melamun, itulah hal yang dilakukan Juna saat ini.
'Aku ini kenapa? Kenapa aku lupa kalau punya istri? Sepertinya aku terlalu banyak bermain dengan hewan liar sehingga lupa dengan hidupku sebenarnya. Jujur saja aku merasa canggung dengan dia. Terasa aneh saja dengan kehadirannya di sini. Apa aku harus mengusirnya? Tapi dia kan istriku? Aku bingung bagaimana?'
"Junaaa...."
Kepala Athalia menyembul sedikit di balik pintu. Panggilan Athalia membuat Juna tersadar dari lamunannya.
"Boleh aku masuk?" tanya Atha ragu.
"Masuk saja. Kemarilah!" Juna menepuk tempat di sampingnya. Ia memberi kode agar Atha duduk di tempat itu.
Malu-malu, Atha naik ke atas ranjang. Ia duduk bersandar pada dinding karena tidak baik setelah makan langsung rebahan.
"Kau mau tidur, Jun?" tanya Atha membuka obrolan lagi.
"Tidak. Saya hanya ingin rebahan saja. Oh, iya sepertinya besok saya akan mengantarmu ke kota. Kita akan ke pasar untuk membeli bahan makanan dan pakaianmu juga."
"Kenapa harus ke kota, Jun?."
"Karena di sini tidak ada yang menjual pakaian. Kalau hanya bahan makanan, kita bisa membelinya langsung dari petani atau di toko kecil."
"Jun..."
"Hemm?."
"Apa aku boleh tinggal di sini?" tanya Atha ragu.
"Kau ini siapa?" Juna balik bertanya.
"Aku istrimu, Jun."
"Kalau kau istriku, silakan tinggal di sini! Mana ada istri yang tidak boleh tinggal di rumah suaminya?."
"Kau masih kesal padaku, Jun? Maaf aku meninggalkanmu saat kita di Paris. Maafkan aku juga jika selama ini belum menjadi istri yang baik untukmu."
"Lupakan!" ucap Juna.
"Lupakan?."
"Ya, lupakan. Karena saya sudah lupa atas semua salahmu."
"Kita mulai dari awal, Jun. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu" ucap Atha.
"Tak perlu berjanji. Berikan saya bukti! Sepertinya aku sudah mengantuk. Tolong matikan lampunya jika kamu mau tidur" perintah Juna. Ia langsung membalikkan tubuhnya ke samping kanan.
__ADS_1
Atha menghela nafas panjang. Ia melakukan apa yang Juna suruh. Sepertinya Atha harus sabar menghadapi Juna. Bagaimanapun ini adalah kesalahannya yang mengabaikan suaminya sendiri.