HEI JUN

HEI JUN
20


__ADS_3

Pantai Camplong, Sampang-Madura



Juna tidak mengerti bagaimana bisa dirinya sampai di tempat itu. Seingat Juna, ia mengendarai motor sambil melamun tanpa tujuan yang jelas. Motornya berhenti tepat di tempat wisata itu akibat kehabisan bensin. Entah Juna harus bersyukur atau tidak atas kejadian yang menimpanya sekarang.


Juna memilih diam sejenak di pantai itu sembari menghilangkan rasa sesak di dada yang sejak tadi ia tahan.


Krucuk....krucuk...krucuk...


Sial...!!! Disaat Juna sedang patah hati seperti itu masih saja cacing - cacing dalam perutnya berbunyi. Juna heran apakah cacing-cacing itu tidak prihatin padanya? Juna sedang patah hati, motornya kehabisan bensin, dan cacing-cacing itu dengan tidak bersahabatnya berdemo kepada Juna di tempat umum seperti ini? Untung saja ramai, sehingga bunyi perutnya itu hanya terdengar oleh Juna.


Juna bergegas membeli tiket untuk masuk ke area pantai. Mungkin ia akan membeli rujak lontong untuk menyumpal cacing-cacing itu agar tidak terus berdemo. Juna segera masuk setelah membayar uang sebesar tiga ribu rupiah kepada petugas loket.


Juna bergegas menuju stand penjual rujak yang banyak bertebaran di tempat itu. Hmmm... hari Minggu begini Pantai Camplong memang banyak didatangi pengunjung. Juna sengaja memilih stand penjual rujak yang sepi karena cacing di perutnya semakin beringas berbunyi.


"Rujak dan es teh satu, ya, Bu. Saya tunggu di sana" kata Juna kepada penjual rujak sambil menunjuk tempat di mana ia akan duduk.


Penjual rujak itu mengangguk dan segera membuat pesanan Juna. Juna bergegas meninggalkan stand penjual rujak itu menuju tempat duduk yang kosong sama seperti keadaan hatinya saat ini.


Juna menarik nafas panjang ketika melihat suasana di sekitar pantai. Ternyata hanya Juna yang datang sendiri. Di dalam keramaian Juna masih merasa sepi. Seperti lirik lagu dewa 19 yang ia tahu dari Suhri, si baladewa.


Tak lama pesanan Juna datang. Satu porsi rujak lontong khas madura kini tersaji di hadapan Juna. Ia langsung tergiur melihat penampakan rujak di depannya. Tak terkecuali Cacing-cacing di dalam perutku semakin liar berdemo.



"Bang, bayar dulu baru makan!" kata seseorang yang tadi mengantarkan pesanan milik Juna.


Juna yang sudah semangat empat lima ingin segera makan, tentu saja harus menunda sebentar. Makanan itu ternyata harus dibayar terlebih dahulu. Mungkin penjualnya takut si pembeli kabur sebelum membayar.


Memang beresiko di tempat wisata seperti ini jika tidak menggunakan sistem bayar duluan. Karena bila pengunjung ramai, tak jarang penjual akan tidak fokus dengan masalah bayar-membayar. Mereka hanya akan fokus mengulek bumbu agar pesanan para pembeli segera selesai.


"Berapa, dek?" tanya Juna kepada si pengantar rujak, seorang anak perempuan yang Juna taksir masih bersekolah di SD.


"Lima belas ribu, Bang, rujak sama es teh nya" kata anak itu lagi.


Juna segera mengambil uang di saku dan memberikannya kepada anak itu. Anak itu langsung pergi dan kini saatnya Juna menyantap makanan di depannya.


Seketika rasa sakit hati Juna karena ditinggal nikah hilang. Ia melahap rujak lontong itu dengan bringas. Persis seperti orang yang tidak makan selama satu minggu. Juna melahap makanannya tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Fokusnya bagaimana bisa ia segera menghabiskan makanan itu.


Uhuk...uhuk...uhuk...


Juna tersedak akibat makan terburu-buru. Tangan kanannya meraba-raba hendak mengambil es teh. Tapi sialnya, bukannya mengambil Juna malah menyenggol gelas es teh itu sehingga tumpah ke tanah.


Uhuk...uhukk...uhukk...


Batuk Juna semakin menjadi. Sial, benar-benar sial. Juna harus segera minum agar batuknya berhenti. Bodohnya Juna mengapa malah mengambil tempat duduk yang jauh dari stand makanan sehingga ia kesulitan untuk mengambil minum dengan cepat.


"Minum ini!."


Juna menerima sebotol air mineral dan meneguknya dengan cepat.


"Pelan-pelan minumnya kalau kamu tidak ingin tersedak lagi."


Juna langsung menoleh dan tersadar jika air mineral yang ia minum adalah pemberian seseorang. Juna langsung berhenti minum. Ia merasa tidak enak karena langsung mengambil pemberian dari seseorang tanpa mengucapkan terima kasih.



"Kenapa melihatku seperti itu? Heiii... bagaimana keadaanmu? Kau sudah baik-baik saja?" tanya gadis di hadapan Juna.

__ADS_1


"Ma... maaf. Saya langsung saja ambil. Terima kasih atas minumannya, Nona" kata Juna canggung.


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Eh iya.. pertanyaan yang mana?" Juna malah balik bertanya.


"Hmm... sepertinya aku tidak perlu menanyakan lagi karena seperti yang ku lihat. Kau sudah baik-baik saja" kata gadis itu kemudian berlalu meninggalkan Juna.


Juna bergegas mengejar gadis itu. Setidaknya ia harus mengucapkan terima kasih sekali lagi kepadanya.


"Nona....." teriak Juna dan gadis itu langsung berhenti melangkah.


"Anda memanggilku?" tanya gadis itu.


"Ya, saya memanggil Anda. Saya mau mengucapkan terima kasih karena sudah membantu saya."


"Anda mengejarku hanya ingin mengatakan hal itu?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Juna.


"Tidak usah berlebihan. Aku hanya memberimu air mineral...."


"Tapi itu sudah sangat membantu saya, Nona" kata Juna memotong ucapannya dengan cepat.


"Itu sudah kewajiban saya. Naluri sebagai tenaga medis menuntun saya untuk selalu sigap menolong seseorang yang membutuhkan."


"Tenaga medis? Anda seorang perawat? Bidan? atau..."


"Saya dokter. Dokter Athalia" gadis itu mengulurkan tangannya kepada Juna sebagai tanda ajakan perkenalan darinya.


"Juna, guru olahraga" Juna membalas uluran tangan dokter Atha.


"Kamu datang sendiri?" tanya Juna dan Atha langsung mengangguk.


"Iya, aku datang sendiri."


"Mau bergabung denganku? Setidaknya aku punya teman bercakap-cakap menyusuri pantai ini?."


"Dokter tidak malu berjalan dengan pria jelek seperti saya?."


"Atha..!!! Panggil Atha saja! Karena aku sedang tidak bertugas jadi hilangkan panggilan dokter untukku. Lagipula tidak ada peraturan seorang dokter tidak boleh berteman dengan orang jelek" ucapan Athalia membuat Juna sedikit percaya diri.


Juna dan Atha akhirnya berjalan bersama-sama menyusuri pantai camplong. Berjalan tanpa alas kaki, mencetak jejak kaki kami di hamparan pasir.


Atha berjalan di samping Juna dengan riang. Sesekali terdengar ia bersenandung menikmati hembusan angin pantai yang menerpa wajahnya.


Juna merasa aneh sekali gadis itu. Ia heran mengapa Atha terlihat tidak risih berjalan dengan Juna yang nota bene adalah pria asing yang baru saja dikenalnya. Dia perempuan dan Juna laki-laki. Baru kenal beberapa menit yang lalu. Apakah ia tidak khawatir Juna berbuat macam-macam padanya?


Atha mengajak Juna berdiri menghadap pantai sembari merentangkan kedua tangan. Ia juga menyuruh Juna memejamkan mata dan menikmati angin pantai yang menerpa wajah mereka. Meski tak mengerti apa tujuannya, Juna mengikuti saja perintah darinya.


"Kenapa kau datang ke sini sendiri?" tanya Atha.


Juna membuka mata dan menoleh ke arah Atha. Gadis itu ternyata bertanya tanpa membuka kedua matanya.


Aku.... aku...."


"Ada masalah???" tebak Atha dan itu benar sekali.


"Patah hati???" tebak Atha lagi dan Juna ingin sekali mengumpat karena gadis ini menebak dengan benar.


Athalia membuka matanya dan menoleh ke arah Juna. Ia mengajak Juna untuk lebih dekat ke bibir pantai. Tanpa canggung dan risih, Athalia menarik tangan Juna agar duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kau boleh cerita kepadaku. Kalau kamu mau. Jika tidak.... berteriaklah!! Angin pantai ini akan membawa bebanmu pergi dari hatimu."


"Dokter... Mmm...."


"Atha..! Panggil aku Atha!."


"Eh iya, Atha...! A ... a.. apa kau mau mendengarkan ma.. masa... masalahku?" tanya Juna gugup.


"Tentu saja. Sejak kau mau menemaniku di pantai ini, itu artinya kau adalah temanku."


"Emmmhh... tapi kita baru saja kenal..."


"Apa ada masalah? Bahkan pasien dan dokter tidak pernah bertemu sebelumnya. Namun langsung berkeluh kesah saat pertama bertemu."


Hening. Tidak ada suara yang keluar dari Juna. Hanya suara deburan ombak dan desiran angin pantai yang menjadi backsound adegan ini.


"Aku ditinggal nikah" kata Juna memutuskan untuk bercerita kepada Atha.


"Lalu?."


"Dia menikah hari ini dan aku tidak menghadiri undangannya. Aku pergi, motorku kehabisan bensin, untunglah motorku mogok di tempat ini."


"Aku pikir kau mau bunuh diri" kata Athalia tertawa cekikikan.


"Apa aku terlihat akan melakukan hal itu di sini?" tanya Juna.


"Ya, wajahmu tampak sangat menyedihkan. Itulah mengapa aku mengajakmu bergabung."


"Aku memang sedih. Tapi aku tidak ada niatan untuk bunuh diri. Apalagi di tempat ramai seperti ini" kata Juna membela diri.


"Maaf, sepertinya aku salah sangka."


"Lalu kamu sendiri mengapa di sini? kamu juga patah hati?."


"Aku? Patah hati? Tidak akan ada istilah patah hati bagi seseorang yang belum menyerahkan rasa cintanya" ucapnya membuat Juna mengernyitkan dahi.


"Apa maksud mu?."


"Aku tidak akan merasa patah hati karena aku belum memberikan rasa cintaku. Aku hanya menyimpannya, merasakannya tanpa mau memberikan rasa cinta itu kepadanya" kata Athalia membuat Juna kembali mengernyitkan dahi


"Aku tidak mengerti ucapanmu, dokter."


"Nanti aku jelaskan jika kita bertemu lagi. Sebenarnya aku masih ingin di sini. Tapi aku harus pergi. Jam kerjaku dimulai lima belas menit lagi" kata Athalia kemudian bangkit dari duduknya.


"Heiii... kau mau meninggalkanku sendiri?."


"Maaf. Aku harus pergi. Setidaknya aku tenang membiarkanmu sendiri karena kau tidak berniat bunuh diri di sini" kata Athalia tergelak.


"Tapi....."


"Kita bisa berbincang lagi jika Tuhan mempertemukan kita."


Atha kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah gelang berwarna biru yang langsung saja ia ikatkan di tangan kanan Juna.


"Mulai hari ini kau adalah temanku. Gelang ini sebagai tanda pertemanan kita. Juna, aku harap kau sedikit peka dengan keadaan sekitarmu" ucap Athalia kemudian berlari meninggalkan Juna.


Juna menatap gelang pemberian Atha. Gadis misterius. Penuh dengan teka-teki. Entah saat bersamanya Juna seakan lupa akan sakit hati yang tadi ia rasakan. Pertemuan mereka yang sebentar terasa sangat berkesan di hati Juna.


Juna berkeinginan untuk bertemu dengan Atha. Setidaknya saat ini ia mempunyai teman untuk berbagi cerita. Bodohnya Juna, ia tidak meminta alamat bahkan nomor telepon Athalia. Kalau sudah begitu Juna harus bagaimana?

__ADS_1


Apakah Juna harus pergi ke kantor polisi untuk melaporkan orang hilang? Atau ia harus pergi ke balai desa untuk menyiarkan pengumuman? bingung... Juna benar-benar bingung.


__ADS_2