HEI JUN

HEI JUN
75


__ADS_3

Apartemen Atha, pukul 05.00


Atha tersentak kaget ketika tangan kanannya tidak sengaja menyenggol gelas kosong di sampingnya. Ia yang semula terpejam tentu saja langsung membuka mata. Atha melirik jarum jam di arlojinya. Kedua netranya langsung membulat ketika mengetahui jika hari sudah pagi.


Atha menoleh ke kanan dan kiri. Ia baru tersadar jika tidak ada orang lain selain dirinya. Pandangannya beralih ke depan, wajahnya langsung merengut ketika melihat makanan yang ia masak masih utuh. Itu artinya suaminya tidak pulang semalam.


Kemana Juna? Mengapa ia tidak pulang? Atha langsung menyambar ponselnya. Ia mencari nomor kontak Juna dan menghubunginya. Berkali-kali bukan suara Juna yang ia dengar, melainkan suara operator yang mengulang kalimat-kalimat yang sama.


'****'


Untuk pertama kalinya seorang Athalia mengumpat. Ia langsung mendadak khawatir ketika panggilannya tak kunjung tersambung dengan Juna. Kemana Juna? Mengapa ponselnya tidak aktif?


Selama ia mengenal Juna, ponsel Juna selalu aktif. Tuntutan pekerjaan yang membuatnya harus mengaktifkan ponselnya selama 24 jam. Atha jadi bingung sendiri. Apakah mungkin sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Juna?


Rasa bersalah langsung menyelimuti diri Atha. Tidak seharusnya ia meninggalkan Juna sedirian di Paris. Tidak seharusnya ia mendahulukan egonya. Atha melupakan jika suaminya itu adalah lelaki polos yang harus ia jaga.


Bagaimana jika Juna nyasar? Atau Juna mengalami kejadian buruk? Atha mencoba berfikir sejenak. Apakah Juna menginap di kantor? Atau ia berada di kediaman Sanjaya? Atha tidak bisa terus begini. Ia harus mencari juna dan segera meminta maaf kepadanya.


Atha bergegas ke kamar mandi dan berganti pakaian. Ia langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan apartemennya. Atha berlari secepat mungkin menuju basemen. Ia membuka kunci mobil miliknya dan dengan secepat kilat.


Wusssshhhhh...


Atha melajukan mobilnya menuju kantor Sanjaya corp. Hanya butuh waktu sekitar satu jam bagi Atha, memecah jalanan ibu kota menuju kantor Sanjaya corp.


Mobil miliknya sudah berhenti di depan lobby. Ia langsung melempar kunci mobilnya kepada salah satu security. Athalia langsung masuk. Ia tidak peduli teriakan security yang memanggilnya. Atha juga mengacuhkan resepsionis yang berada di depan. Dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana bisa bertemu Juna secepat mungkin.


"Berhenti...!!!" teriakan Kiara sukses menghentikan langkah Athalia.


"Mau apa kau kesini?" Kiara menatap tajam ke arah Atha.


"Aku ingin mencari suamiku."


"Suami? Suami yang mana?" cibir Kiara.


"Aku mencari Juna."


"Untuk?."


"Meminta maaf kepadanya. Kamu tahu dimana Juna?" ucap Atha jujur.


Sudut bibir kanan Kiara terangkat ke atas. Sedetik kemudian tawa mengejek Kiara lepas.


"Bu dokter sudah sadar? Di suntik obat apa sama si Kadir sampai bu dokter mau minta maaf sama Mas Juna?" ejek Kiara lagi.


Atha menghela nafas panjang. Perempuan hamil itu rupanya tidak bisa diajak kompromi. Atha harus menyediakan stok sabar agar bisa mengorek keberadaan Juna dari mulut Kiara.


"Silakan pergi dari sini karena Mas Juna tidak ada di sini" ucap Kiara dingin.


"Mustahil! Juna belum pulang semalam. Ponselnya juga mati. Juna pasti di sini. Kamu menyembunyikannya kan?" tuduh Atha.


"Menyembunyikan? Kalau aku boleh memilih, aku lebih ingin menyembunyikanmu saja. Ah, pasti sangat menyenangkan jika aku membawamu ke suatu tempat yang penuh dengan binatang buas" ucap Kiara sembari menyeringai puas.


"Ki...Kiara, tolong jangan becanda!."


"Maaf, dokter tidak terkenal! Aku tidak sedang becanda denganmu. Saranku lebih baik kau pergi sebelum aku benar-benar menyembunyikanmu si hutan rimba."


"Aku ingin bertemu Juna. Aku ingin meminta maaf kepadanya" pekik Atha sedikit histeris.


"Basi! Mas Juna sudah gue suruh nikah lagi sama perawan ting-ting" ucap Kiara kemudian berlalu dari hadapan Atha.

__ADS_1


***


Pantai Camplong, Sampang-Madura.


Juna duduk sendiri di pinggir pantai sembari memeluk kedua lututnya. Untuk kedua kalinya Juna nyasar ke pantai ini. Entah bagaimana bisa, bus antar kota yang Juna tumpangi mogok. Hebatnya lagi bus itu mogok di tempat wisata Pantai Camplong, pantai yang menjadi tempat pertemuan Juna dan Atha.


Awalnya Juna ingin mencari bus lain agar bisa segera tiba di Desa Papaten. Entah bisikan dari mana, Juna mengurungkan niatnya. Ia malah masuk ke area tempat wisata dan membeli tiket masuk.


Dan disinilah Juna sekarang, duduk sendiri di tepi pantai Ia menikmati riuhnya deburan ombak dan semilir angin pantai. Sejenak Juna merasa kedamaian dalam hatinya. Keruwetan dan beban masalah yang menyelimuti dirinya, perlahan sirna.


Juna duduk menikmati detik demi detik waktunya di Pantai Camplong. Kedua kakinya yang tak beralas, dibiarkan tersapu ombak berkali-kali. Pakaian yang dikenakan Juna juga sudah mulai basah. Juna tak menghiraukan itu.


"Pak May?" seseorang memanggil Juna.


Juna menoleh ke belakang. Kedua netranya mengerjap ketika melihat sosok yang tidak asing baginya.


"Andika? Kenapa kamu di sini? Kamu bolos ya?" tanya Juna.


"Eh? Bolos?" Andika kaget.


"Sekarang kan hari Minggu, Pak. Sekolah libur" ucap Andika lagi.


Juna menepuk wajahnya. Ia malu karena sudah menegur Andika tapi dirinya yang salah.


"Maaf, saya tidak mengecek kalender" Juna nyengir kuda.


"Pak May ngapain di sini?" Dika yang semula berdiri beralih duduk di sebelah Juna.


"Saya....saya....lagi..."


"Banyak pikiran ya, Pak?" tebak Dika ngasal.


Juna mengangguk.


"Kamu sendirian?" tanya Juna.


"Tidak, Pak. Saya bersama istri. Tuh, lagi minum es kelapa sama teman-temannya" Andika menunjuk gerombolan perempuan yang sedang duduk di atas tikar. Mereka saling berbincang-bincang sembari tertawa lepas.


"Berapa lama usia pernikahan kalian?" tanya Juna.


"Hmmm... setahun kayaknya, Pak."


"Keluarga kamu harmonis?."


"Hmmm... ya, bisa dibilang begitu."


"Dia pacarmu yang mana, Dika?" tanya Juna polos.


"Eh?" Andika kaget. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Juna.


"Kami dijodohkan, Pak. Awalnya saya ingin menjodohkan istri saya dengan teman saya. Eh, tapi takdir berkata lain. Orang tua kami ternyata sudah ada niatan menjodohkan kami sejak kami belum lahir."


Juna menoleh ke arah Andika.


"Kamu menerima begitu saja?" tanya Juna heran.


"Awalnya sih tidak, Pak. Saya sudah punya pacar. Cinta banget lah ama si pacar. Saya menolak mentah-mentah perjodohan itu. Saya mencari cara agar perjodohan ini gagal. Sialnya, teman saya yang mau saya jodohkan dengan istri saya dikabarkan meninggal karena kebakaran. Jadinya saya tidak punya pilihan selain menerimanya Pak."


Juna mengerutkan keningnya. Mendengar cerita Andika membuatnya berspekulasi jika teman yang dimaksud Andika adalah dirinya. Apakah Andika menikah dengan Farhah? Guru SMP Cendekia yang pernah ia suruh dekati?

__ADS_1


"Apakah kamu menyesal telah menikahinya?" tanya Juna.


"Tidak dong, Pak May. Meski kami menikah karena dijodohkan, kami sudah bertekad untuk menerima dan menjalani dengan ikhlas. Jadinya, kami yang semula kaku sekarang sudah lumer lembut kayak roti bolu" ucap Andika.


Juna tersenyum getir.


"Pak May, mengapa bertanya masalah rumah tangga? Apa mau berumah tangga atau ada masalah rumah tangga?" tanya Andika heran.


"Saya hanya cari topik pembicaraan saja, Dika."


Dika diam sejenak. Telinga Andika terasa tidak asing ketika mendengar panggilan Dika yang keluar dari mulut Juna. Ia menatap Juna dengan lekat, mencari kemiripan sosok pemilik sekolah dengan sahabatnya yang dikabarkan meninggal.


Jujur saja, Andika merasakan jika orang yang duduk di sampingnya adalah Juna sahabatnya. Gaya bicaranya, gestur tubuhnya, mirip dengan Juna. Hanya wajah dan dompetnya saja yang tidak sama.


"Kenapa kamu melihat saya seperti itu, Dika?."


"Saya heran saja, Pak" sahut Andika.


"Heran kenapa?."


"Bapak tau nama saya dari mana? Seingat saya selama di SMA Cendekia saya tidak pernah memperkenalkan diri. Kita cuma bertemu satu kali, saat Pak May meresmikan SMA Cendekia."


Deg.


Wajah Juna langsung kaku. Ia lupa jika orang-orang di SMA Cendekia tidak mengenali wajah barunya. Juna benar-benar merutuki kebodohannya. Mulutnya itu tidak dapat di rem jika bertemu kawan lama. Andika pasti menaruh rasa curiga kepadanya. Kalau sudah begini Juna harus menjawab apa?


"Saya...saya...."


"Kalau bingung seperti ini, Pak May sangat mirip dengan sahabat saya" ucap Andika lagi.


Juna mulai berkeringat dingin. Ia tidak mampu berkata-kata lagi.


"Mungkin karena saya merindukannya. Maaf, Pak May! Bapak menjadi tidak nyaman dengan pertanyaan saya. Saya memang bodoh. Jumlah guru di SMA Cendekia kan memang sedikit. Tidak sulit untuk Pak May mengetahui nama-nama kami meskipun tidak sering bertemu" ucap Andika, terdengar rasa sedih dalam ucapannya.


"Kamu merindukan sahabatmu?" tanya Juna.


"Sangat."


"Siapa namanya?."


"Juna. Dia dulu guru olahraga di SMA Cendekia. Karena kebodohannya, Juna dipecat oleh Pak Zaini" kata Andika sembari menatap awan putih di langit.


"Sekarang dia dimana?" tanya Juna.


"Dia dikabarkan tewas akibat kebakaran. Entah hanya perasaan saya atau bagaimana. Hati saya menolak untuk mempercayai kabar itu."


"Kenapa kamu tidak percaya?" tanya Juna penasaran.


"Karena kami tidak menenukan jasadnya dan kasus kebakaran rumah Juna langsung ditutup begitu saja. Begitu banyak kejanggalan di sana. Namun, tak ada yang berani mengungkap kasus itu. Sungguh, saya benar-benar sedih dan kecewa. Apalagi pihak keluarga Juna seperti pasrah dan tidak ingin memperpanjang masalah" keluh Dika tanpa sadar ia curhat pada Juna.


Juna tersenyum. Hatinya senang karena masih ada orang yang menyayanginya. Ia tidak menyangka sahabat playboy nya itu begitu terpukul atas kabar kematiannya.


"Pak May, sepertinya saya harus pamit."


"Kau sudah mau pulang?" tanya Juna.


"Iya, Pak. Istri saya melambai-lambai."


"Pulanglah. Jangan biarkan istrimu menunggu" ucap Juna sedih.

__ADS_1


__ADS_2