HEI JUN

HEI JUN
122


__ADS_3

Atha terbangun dari tidurnya karena merasakan sakit di perutnya. Tidak biasanya perut Atha sesakit ini. Apakah ia salah makan? Ataukah ia sedang mules? Bukan! Perutnya kram dan benar-benar nyeri.


Atha menggoyangkan tubuh Juna berharap suaminya itu segera bangun. Mungkin karena Juna mabuk berat sehingga sangat susah sekali membangunkannya.


Tak bisa menahan sakit yang semakin menjadi membuat Atha mengambil jalan pintas. Ia langsung menggigit telinga kanan Juna agar suaminya itu bangun.


"Aaaawwwww" teriak Juna.


Tepat seperti dugaan Atha, Juna berhasil dibangunkan dengan lima kali gigitan. Efek vodka yang diminum Juna membuat kepalanya masih berat.


"Mas...." rintih Atha sembari memegang perutnya.


Juna berusaha membuka mata. Telinganya langsung connect ketika mendengar suara rintihan Athalia.


"Sayang... Kamu... Kamu.. Kenapa?" tanya Juna panik.


"Perutku sakit sekali, Mas, dan... Arrrrrgggghhh" Atha berteriak tatkala melihat darah segar yang jatuh membasahi betisnya.


Juna semakin bertambah panik. Ia segera memakai pakaian dan menelpon Edward. Untunglah saat itu Edward sedang terjaga. Ia langsung berlari menuju kamar Juna setelah mendengar kabar genting dari Juna.


"Pakai ini dulu! Tahan ya, sayang" ucap Juna sembari memakaikan daster pada tubuh istrinya.


Terdengar pintu di ketuk dan Juna langsung berlari untuk membuka pintu.


"Ibu, kenapa?" tanya Edward cemas.


"Dia sakit perut dan pendarahan. Tolong, antarkan saya ke rumah sakit!" ucap Juna.


Edward mengangguk dan dengan cepat ia menghubungi sopir pribadinya untuk segera bersiap-siap di lobby hotel.


Juna mengangkat tubuh Athalia lalu menggendongnya. Dengan hati yang cemas dan pikiran ke sana ke sani, Juna membawa istrinya keluar dari kamar hotel menuju lobby. Untung saja Edward memberinya kamar yang tidak jauh dari lobby hotel sehingga mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di lobby.


"Sayang...." teriak Juna. Ia semakin panik melihat Atha yang pingsan.


Edward segera membuka pintu mobil, mempersilakan Juna untuk masuk. Edward juga membantu Juna untuk memposisikan tubuh Athalia pada pangkuannya.


"Rumah sakit terdekat. Cepat, Pak! Ini darurat!" perintah Edward pada sopir pribadinya.


Sopir pribadi Edward langsung tancap gas. Keadaan kota Barcelona saat ini lumahan sepi sehingga pak sopir bisa dengan cepat tiba di rumah sakit.


"Tolong, Ibu ini pingsan dan mengalami pendarahan" kata Edward ketika mereka tiba di rumah sakit.


Beberapa perawat datang sembari membawa brangkar pasien. Edward membantu mereka menggotong tubuh Atha dan memindahkannya ke atas brangkar.


"Tolong urus administrasinya dulu! Pasien akan kami tangani secepatnya" kata salah satu perawat.


"Pak Mayjuna ikuti mereka! Saya yang akan mengurus administrasi rumah sakit" ucap Edward .

__ADS_1


Juna mengangguk. Ia lalu mengambil dompet dan menyerahkan kartu saktinya kepada Edward. Tanpa banyak cakap lagi, Juna segera berlari mengejar perawat yang membawa Athalia. Rupanya Atha dibawa ke ruang perawatan darurat.


Juna hendak masuk. Namun, langkahnya terhenti ketika salah satu perawat menghalanginya untuk ikut masuk.


"Saya suaminya. Saya ingin menemaninya" teriak Juna.


"Maaf, Pak. Anda tunggu di luar dulu. Biarkan dokter memeriksa istri Anda!" ucap perawat itu lalu menutup pintu.


Juna menjatuhkan tubuhnya. Ia masih shock dengan apa yang ia alami. Juna bingung, gelisah, dan kacau. Berada di negara orang tanpa pendamping seperti itu tentu saja membuat Juna resah. Juna menundukkan wjaahnya Ia berdoa, berharap tidak terjadi hal yang buruk pada istrinya .


Tap...Tap....Tap...


Terdengar langkah seseorang berlari menghampiri Juna. Juna mengangkat kepalanya dan menoleh ke kanan. Kedua netranya bisa melihat dengan jelas sosok Edward yang berlari menghampirinya.


"Pak, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Edward.


"Masih diperiksa, Pak Edward. Saya benar-benar takut terjadi apa-apa dengan istri saya. Tolong bantu doa, Pak! Tolong doakan istri saya!" pinta Juna memelas.


"Pak Mayjuna, tanpa diminta pun saya pasti mendoakan Ibu. Ngomong-ngomong Pak Juna sudah sehat? Apakah tidak mual dan muntah-muntah?" tanya Edward.


"Mual? Muntah? Saya rasa tidak" jawab Juna padahal ia sudah muntah-muntah beberapa kali. Juna mungkin tidak sadar karena setelah ia mengeluarkan isi perutnya. Juna langsung kembali tidur di samping Atha.


"Hebat sekali ya, Anda! Padahal Vodka yang Anda minum banyak sekali" kata Edward sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Vodka? Saya minum vodka?" tanya Juna heran.


"Sebentar, Pak. Saya tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi?."


Edward menghela nafas panjang. Ia lalu menceritakan kejadian di venue pernikahan kemarin.


Saat Juna ke toilet. Lily mengikuti Juna. Atha yang sedang menikmati makanannya tanpa sengaja menoleh ke kanan dan melihat Lily yang berjalan membuntuti Juna.


Atha merasakan ada sesuatu yang akan dilakukan Lily. Terlebih Atha melihat Lily memegang botol alkohol.


Atha segera mencari Edward dan mengajaknya untuk menyusul Juna di kamar mandi. Ada seorang crew keamanan yang menghalangi Edward dan Atha untuk masuk. Namun, bukan Edward namanya jika tidak bisa melumpuhkan orang itu.


Dengan sekali libas, crew keamanan itu tepar. Sehingga Edward dan Atha bisa masuk ke toilet untuk melihat keadaan Juna.


"Jadi, saya sedang begituan sama Lily?" tanya Juna tidak percaya.


"Nyaris bikin anak, Pak. Andai saya tidak mendobrak pintu dan istri bapak dengan ganasnya menjambak dan menampar Lily berkali-kali" jawab Edward santai.


"APA??? Ya Tuhan, mengapa istri saya semakin bar-bar begitu?" ucap Juna frustasi.


"Entahlah, Pak! Saya pikir memang watak istri Pak Mayjuna seperti Nyonya Kiara."


"Tidak! Atha sebelumnya tidak pernah bar-bar. Dia lembut sekali seperti putri keraton. Lalu bagaimana dengan Lily?" tanya Juna.

__ADS_1


"Saya kurung di kamar mandi, Pak. Biar dia merenungi kesalahannya. Bagaimanapun apa yang dilakukan Lily tidak dapat dibenarkan. Sekali lagi saya meminta maaf" ucap Edward tulus.


Juna menganggukkan kepala. Rasanya ia tidak perlu memperpanjang urusan dengan Lily dan Edward. Juna harus fokus dengan Atha. Keadaan istrinya jauh lebih penting dari apapun.


Ceklek.


Pintu kamar rawat Atha terbuka. Muncul seorang dokter dan beberapa perawat dari balik pintu.


Juna dan Edward segera bangkit. Mereka bergegas menghampiri dokter tersebut.


"Keluarga pasien?" tanya dokter itu.


"Saya! Saya suaminya" kata Juna sembari mengacungkan tangan kanannya.


"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" tanya Juna.


"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya. Mari, ikut saya!" kata dokter itu lagi.


Juna mengekori dokter itu. Dokter perempuan berkacamata tebal itu mempersilakan Juna untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Dengan bapak ?."


"Mayjuna. Nama saya Mayjuna" jawab Juna.


"Semalem habis berapa ronde?" tanya dokter itu, menampakkan wajah dingin dan sinis.


"Eh? Ronde? Ronde apa, dok?" tanya Juna polos.


"Anda bercinta berapa kali dengan istri, Pak? Istri Anda sedang mengandung. Jangan digempur terus-terusan apalagi secara kasar" kata dokter itu lagi.


"Heuh??? Mengandung??? Istri saya hamil, dok?" tanya Juna tidak percaya.


"Loh? Anda tidak tahu? Istri Anda sedang hamil, sudah masuk minggu ke delapan" kata dokter itu lagi.


"Saya tidak tahu, dokter."


"Pantas! Main gempur saja!" cibir dokter itu dan Juna hanya bisa menunduk malu mendengar cibiran dokter itu.


"Lalu bagaimana kondisi istri dan janin yang dikandungnya, dok?" tanya Juna was-was.


"Anda masih beruntung, janin di dalam kandungan masih bisa bertahan. Guncangan yang Anda berikan mengganggu sang janin sehingga terjadi pendarahan. Tolong untuk beberapa bulan ke depan Anda puasa dulu" kata dokter itu lagi


"Puasa? Beberapa bulan? Dokter, tolong jangan becanda" ucap Juna memelas.


"Saya ini dokter bukan pelawak. Kalau Anda ingin calon anak Anda selamat. Turuti nasehat saya! Puasa bercinta dulu sebelum kandungan istri Anda benar-benar aman."


Juna mengangguk dengan pelan. Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan pamit undur diri. Juna berjalan meninggalkan ruang kerja dokter itu dengan langkah gontai. Ia langsung lemas berkali-kali lipat setelah mendengar penuturan

__ADS_1


"Aku harus puasa? Kuat nggak ya?" gumam Juna dalam hati.


__ADS_2