
Ponsel Juna berdering. Ia yang semula sedang terlelap dalam indahnya dunia mimpi harus membuka matanya. Semula kelopak mata Juna berat sekali untuk terbuka. Namun, ketika melihat nama Kiara di layar ponselnya. Juna langsung melompat. Kedua netranya langsung dalam posisi siap.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Juna sedikit mengernyitkan dahi karena tidak biasanya si Nyonya bos menelpon pagi-pagi buta seperti ini. Juna langsung menggeser tombol hijau agar Kiara tidak terlalu lama menanti.
"Halooo...Mas Juna! Mas... Mas Juna..." teriak Kiara di seberang.
Juna menguap berkali-kali. Ia menjawab panggilan Kiara dengan suara serak. Seperti biasa sinyal telepon seluler ditempat Juna tidak bersahabat sehingga membuat komunikasi mereka tidak lancar.
"Nyonya, Juna pindah dulu ke lantai dua" pamit Juna.
Ia segera keluar dari kamarnya yang berada di lantai satu. Juna melangkah dengan malas, menaiki anak tangga menuju balkon di kamar atas.
"Mas Juna, sinyal di sana parah banget. Apa besok Kiara kirim orang buat bangun tower? Kiara emosi lho tiap nelpon Mas Juna selalu begini?" omel Kiara ketika sinyal telepon selulernya sudah bagus.
Juna hanya tertawa. Ia sudah hatam dengan omelan Nyonya bos nya.
"Maklum ya, Nyonya bos. Namanya juga di desa, pedalaman lagi."
"Tapi nggak gini juga kali, Mas. Besok Kiara mau kirim orang buat pasang tower provider seluler di samping rumah Mas Juna biar Kiara lancar kalau telepon Mas Juna."
"Terserah, Nyonya bos saja lah. Juna ngikut. Ngomong Nyonya bos menelpon pagi-pagi begini ada apa?" tanya Juna.
"Eh, iya! Gara-gara kebanyakan ngomel jadi lupa. Kiara boleh minta tolong nih sama Mas Juna."
"Minta tolong apa, Nyonya."
"Tolong gantikan Kiara dan Abang Dira di ADR group!."
Juna mengernyitkan dahi. ADR group? Bukankah itu perusahaan milik bos absurdnya yang berada di New york? Ada gerangan? Mengapa Juna diminta mewakili mereka?
"Tolong ya, Mas Juna. Kiara lagi hamil tua nggak bisa berangkat. Si Abang juga lagi siaga di sini soalnya Kiara masih nggak bisa makan kalau nggak duduk di punggung si Abang" ucap kiara menjelaskan.
"Tap...tapi... Saya kan hanya karyawan, Nyonya" tolak Juna.
"Mas Juna bukan karyawan biasa. Punya saham juga di ADR group. Nanti Mas Juna sama Lita ke sana. Mau ya, Mas Juna? Pleaseeee....!" pinta Kiara memelas.
Juna diam sejenak ia memikirkan jawaban untuk permintaan Kiara.
"Kapan saya berangkat, Nyonya?."
"Mas Juna berangkat hari ini ke Jakarta. Ambil berkas-berkas di kantor. Nanti Mas Juna berangkat ke New york pakai jet pribadinya si Abang. Oh iya karena si Lita genit sama Mas Juna, nanti Kiara tambahin satu personel lagi. Gimana Mas? Bisa ya?" tanya Kiara lagi.
"Baik, Nyonya bos. Saya akan bersiap-siap" ucap Juna. Ia kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Juna turun dari lantai dua. Ia kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Tak lupa Juna mengecek jadwal penerbangan paling awal hari ini. Ia langsung membeli tiket secara online.
Perjalanan Juna menuju Jakarta bisa dikatakan lancar. Ia langsung menuju kantor Sanjaya corp untuk menemui Kiara.
__ADS_1
Kiara tentu senang dengan kedatangan Juna. Juna langsung dibriefing mengenai apa saja yang akan dibahas dalam rapat. Meskipun Juna lelah, ia tetap semangat mendengar arahan dari Kiara. Ia tidak mau mengecewakan Nyonya bos nya yang sudah sangat baik padanya.
Ternyata Juna tidak dibriefing seorang diri. Kiara juga memanggil Lita dan Daniel yang bertugas mendampingi Juna. Daniel adalah sekretaris Dira yang baru. Laki-laki itu ditugaskan juga sebagai tukang pukul jika seandainya selama di New york Lita berlaku genit pada Juna.
Tepat pukul tiga sore, rombongan Juna berangkat menuju New york. Kiara dan Elang mengantar mereka ke bandara. Entah mengapa ada sedikit perasaan bersalah dalam hati Kiara.
"Apa aku jahat?" tanya Kiara saat pesawat yang membawa Juna sudah lepas landas.
"Kenapa kau merasa seperti itu?" tanya Elang.
"Karena sebenarnya aku menyuruh Mas Juna ke New york agar dia tidak bertemu dengan dokter itu. Kau tahu? Dokter tidak terkenal itu sedang kelabakan mencari Mas Juna. Aku ingin memberinya sedikit pelajaran" ucap Kiara sembari menghapus air matanya.
"Andai aku tahu maksudmu seperti itu? Aku akan menghalangimu untuk mengirim Mas Juna ke New york. Aku juga heran bagaimana bisa kau mengirim Mas Juna sebagai wakil dari Abang Dira dalam rapat pemegang saham? Mas Juna belum kau training, sayang" kata Elang cekikikan.
"Kau pikir aku bodoh? Tidak ada rapat pemegang saham di New york. Aku hanya mengelabui Mas Juna."
"Maksudmu? Sayang, apa yang kau rencanakan?" tanya Elang kaget.
"Maaf, aku hanya ingin memberi pelajaran pada dokter tidak terkenal itu. Aku tidak mengirim Mas Juna ke New York melainkan ke Afrika."
"APA????!!!! Sayang, untuk apa kau mengirim Mas Juna ke sana?."
Elang kali ini tidak dapat menahan diri untuk tidak berteriak. Ia benar-benar kaget dengan kelakuan istrinya yang tidak pernah tercetus dalam benaknya. Apa-apaan ini? Juna di kirim ke Afrika? Untuk apa pula?
"Aku memesan safari trip buat Mas Juna. Mas Juna butuh healing agar tidak sedih."
"Kau juga mengirim Lita dan Daniel untuk menemani Juna. Lalu siapa yang akan membantumu di sini?" lanjut Elang.
"Mereka hanya mengantar Mas Juna. Setelah itu mereka akan kembali ke sini."
"Lalu Mas Juna?."
"Mas Juna akan liburan selama seminggu di sana. Aku sudah mengirim orang untuk menemaninya" cicit Kiara.
Elang langsung mengelus dada. Ada-ada saja ide istrinya ini. Elang benar-benar merasa bersalah pada Juna. Andai dirinya tahu rencana Kiara, Elang pasti akan mencegahnya.
"Pulang... Aku lapar" rengek Kiara.
Elang menghela nafas panjang. Kalau sudah begini, dirinya tidak bisa mengomeli istrinya. Elang segera mengajak Kiara meninggalkan bandara. Ia harus buru-buru mengajak istrinya wisata kuliner sebelum calon buah hatinya mengamuk.
***
Atha celingak-celinguk di balik gerbang SMA Cendekia. Dilihatnya orang-orang yang berseliweran di lingkungan sekolah. Ia menajamkan kedua netranya, mencari sosok Juna di sana.
Sebenarnya Atha sudah satu jam berada di sana. Ia tidak berani masuk. Atha khawatir Juna tidak mau menemuinya. Atha hanya ingin memastikan keadaan Juna saja. Ia ingin memastikan apakah Juna berada di Madura.
Sudah dua hari Atha memantau Juna di kantor Sanjaya. Namun, batang hidung Juna tak kunjung terlihat. Atha yang putus asa, akhirnya memilih pergi ke Madura. Atha pikir Juna berada di kampungnya, mengelola SMA Cendekia seperti yang pernah ia ceritakan.
__ADS_1
Namun, sudah satu jam berada di gerbang SMA Cendekia. Atha belum melihat Juna. Ia mulai gelisah. Ia menjadi ragu dengan keberadaan Juna di sini. Apakah Juna tidak pulang kampung? Apakah Juna malah pergi ke Spanyol? Jika Juna memang pergi ke Spanyol, Atha tidak akan bisa menyusulnya. Ia tidak tahu alamat apartemen dan kantor Juna di sana. Bingung. Atha benar-benar bingung.
"Selamat siang, ibu. Saya perhatikan dari tadi Anda berdiri di sini. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Udin sopan.
Atha gelagapan. Ia ingin kabur tapi sudah terlanjur diketahui orang.
"Saya mau mencari seseorang, Pak" cicit Atha.
"Cari siapa, Bu?."
"Pak...Pak...Pak Mayjuna" ucap Atha.
Pak Udin mengernyitkan dahi.
"Pak Mayjuna? Pemilik sekolah ini?" tanya Pak Udin memastikan. Pasalnya selama Juna menjadi pemilik SMA Cendekia, baru sekarang ada orang yang mencarinya.
"Be...be...benar, Pak."
"Oh, Pak May sedang tidak ada. Tadi pagi saya diberi kabar kalau Pak May ada urusan ke luar negeri."
"Lu...lu...luar negeri? Kemana, Pak?" wajah Athalia langsung pias mendengar ucapan Pak Udin.
"Wah, saya tidak tahu! Tadi infonya hanya seperti itu, Bu. Kami tidak berani bertanya lebih jauh. Sungkan" ucap Pak Udin.
Atha tertunduk lemas. Ia seperti kehilangan tulang-tulangnya seketika. Telat! Athalia terlambat menyusul Juna. Andai saja ia tidak menguntit Juna di Sanjaya corp melainkan langsung ke Madura, pastilah Atha tidak akan kehilangan jejak Juna.
"Bu, kok nangis? Ibu kenapa? Siapanya Pak May?" tanya Pak Udin lagi.
Atha tidak menjawab. Bibirnya kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan receh dari Pak Udin. Hatinya sesak, perasaan sedih langsung mengusai hatinya.
"Boleh minta nomor ponsel Bapak?" tanya Atha di sela-sela isak tangisnya.
"Untuk apa, Bu?" tanya Pak Udin sembari menggaruk-garuk kepalanya.
"Tolong, hubungi saya jika Pak Mayjuna sudah kembali kesini!" kata Athalia lagi.
Pak Udin menghela nafas. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menyodorkan pada Atha.
Atha menerima ponsel Pak Udin dan langsung memasukkan nomor ponselnya. Ia memberi nama Sisi sebagai nama kontak di ponsel Pak Udin.
"Oh, namanya Bu Sisi toh?" tanya Pak Udin kemudian ia menelpon nomor Athalia agar nomornya tercatat di ponsel Atha.
"Ngomong-ngomong Bu Sisi ini siapanya Pak May?" tanya Pak Udin.
"Sa...sa...saya dokter pribadinya. Tolong, langsung hubungi saya ya Pak, kalau Pak Mayjuna sudah kembali kesini" pinta Atha kemudian ia pamit undur diri dari hadapan Pak Udin.
Ckckckck,
__ADS_1
Pak Udin berdecak kagum. Ia tidak menyangka jika pemilik SMA Cendekia memiliki dokter pribadi. Pak Udin jadi menerka-nerka sekaya apa Juna hingga bisa memiliki dokter pribadi? Cantik lagi, nggak kaleng-kaleng.