
Juna dan Atha duduk berdampingan di sofa empuk yang biasa mereka duduki saat menonton televisi. Saat ini baik Juna dan Atha tidak sedang menonton televisi. Layar datar itu nampak padam. Mereka hanya duduk-duduk saja sembari menekuk wajahnya. Pasangan suami istri itu terdengar beberapa kali menghela nafas panjang. Mereka sedang melamun, merutuki kebodohan masing-masing.
"Kita ini pasangan apaan ya, Mas?" tanya Atha memulai obrolan.
Juna yang mendengar pertanyaan istrinya, tentu saja langsung menoleh. Ia mencubit kedua telinganya untuk memastikan jika apa yang didengarnya barusan tidak salah.
"Apa? Kamu bilang apa barusan?."
"Kita ini pasangan apaan ya, Mas?" ulang Atha lagi.
"Lagi, lagi! Kamu bilang apa, sayang?."
"Kamu budeg ya, Mas? Masak aku harus ngulang sampai tiga kali? Kamu mau dapat piring hah?" gerutu Atha sebal.
Juna cekikikan. Ia yang semula menopang wajah, kini beralih memeluk pinggang istrinya.
"Sayangku, Athalia. Kamu tadi manggil saya apa?" tanya Juna dengan nada suara yang terdengar lembut. Tak lupa wajah Juna sudah merah merona, tersipu malu dalam dekapan tubuh istrinya.
"Aku? Manggil apa ya tadi? Aku lupa, Mas."
Juna semakin mengeratkan pelukannya. Ia benar-benar senang mendengar istrinya tidak lagi memanggil namanya. Suatu kemajuan dalam hubungan mereka. Sehingga jangan heran jika Juna sangat senang mendengar sebutan Mas dari mulut Athalia.
"Kamu panggil saya dengan sebutan, Mas. Ah...benar-benar membuatku bahagia, sayang" ucap Juna.
Cettassss...
Atha menyentil dahi Juna. Baru dipanggil Mas saja sudah baper. Mereka sedang dalam mode serius. Bisa-bisanya Juna baper di saat penting seperti itu.
"Mas, kita lagi bahas masalah Diandra. Mengapa kau malah baper?."
"Bagaimana saya tidak baper, sayang. Istriku sudah kembali ke jalan yang benar."
Cettasss...
Lagi-lagi Juna mendapatkan sentilan di dahinya. Ia tidak malah, bahkan Juna cekikikan melihat istrinya yang kesal terhadapnya.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Mungkin memang belum waktunya kita bertemu dengan Diandra."
"Sampai kapan, Mas? Sampai kapan masa lalumu akan menggantung?" Atha mulai frustasi.
"Sampai Tuhan memberi jalan. Kalau kamu mau saya menyelesaikan masalah Diandra, bagaimana caranya? Kita tidak tahu nomor teleponnya, tidak tahu alamatnya."
"Harusnya kemarin kamu langsung buka kartu saja, Mas."
Juna menggeleng. Ia tidak mungkin melakukan hal itu. Juna tidak akan gegabah. Bagaimanapun semua yang ia lakukan harus didasarkan dengan pengamalan sila ke 4, yaitu musyawarah.
Juna harus berembuk dulu dengan Atha. Jika perlu dengan Kiara dan Dira. Kemarin, Juna sempat menceritaka perihal Diandra kepada Kiara dan Dira. Tentang pertemuannya dengan Diandra di bukit teletubbies, serta tentang bocah laki-laki yang dibawa oleh Diandra.
Juna berharap Kiara dapat memberi info tentang Diandra, mengingat Athalia pernah bertemu Diandra di kediaman Sanjaya. Selain itu Juna juga bertemu dengan Diandra di bukit teletubbies sehingga Juna berasumsi jika Kiara mengetahui perihal Diandra.
Namun, sayang seribu sayang. Kiara tidak tahu-menahu tentang Diandra dan seperti apa rupanya. Kiara bahkan menyuruh Lita untuk mengecek kembali daftar nama tamu yang datang di acara welcome baby Akila.
Hasilnya, nihil. Tak ada nama Diandra di sana. Atha langsung kecewa. Keinginannya agar Juna menyelesaikan masa lalunya benar-benar tidak terlaksana. Mereka pulang dengan tangan kosong dan wajah yang ditekuk.
__ADS_1
"Sebaiknya kita beristirahat. Kamu pasti lelah kan, Sayang?" ajak Juna.
"Tidak, Mas! Aku belum mengantuk."
"Saya tidak menerima penolakan. Kalau kamu tidak mau ke kamar sendiri, saya akan menggendongmu ke kamar seperti karung beras" ancam Juna. Hal itu membuat Atha langsung bangkit dan bergegas ke kamar mereka.
***
Di tempat berbeda, Diandra yang Zeze sedang berada di pesawat menuju bandara Juanda. Mereka memang sengaja memilih pesawat yang tidak langsung bertolak ke Bali karena Zeze ingin menginap selama dua hari di Surabaya.
Gadis itu sedang patah hati. Ia tidak ingin buru-buru pulang ke Bali. Sepertinya, jalan-jalan mengitari kota Surabaya bisa menjadi obat patah hatinya. Entahlah, selama dua hari itu Zeze akan ke mana.
"Kau melamun?" tanya Zeze.
Diandra yang memang sedang melamun sedikit tersentak kaget. Ia menoleh ke arah Zeze sembari tersenyum tipis.
"Apa kau ingin segera pulang? Jika kamu mau kembali ke Bali duluan, tak apalah. Biar aku sendiri di Surabaya" ucap Zeze.
Diandra menggeleng.
"Aku tidak ingin buru-buru pulang ke Bali, Ze."
"Lalu?."
"Aku hanya kepikiran tentang laki-laki kemarin."
"Laki-laki kemarin?" Zeze memicingkan kedua matanya. Ia memang tidak tahu tentang pertemuan Diandra dan Juna.
Wajar saja, karena Zeze selalu stand by di depan kamera. Ia tidak berhenti memotret keluarga Sanjaya yang hobi berfoto.
Zeze kembali memicingkan kedua matanya. Ia tidak paham dengan ucapan Diandra.
"Juna memanggil laki-laki itu dengan panggilan Papa. Aku tidak tahu dia siapa tapi aku seperti pernah dekat dengannya. Juna nampak anteng dengan dia. Laki-laki itu bahkan bisa menidurkan Juna dengan mudah."
Zeze manggut-manggut. Ia kemudian mengambil kameranya, membuka file penyimpanan foto-foto kemarin. Zeze yakin laki-laki yang dibicarakan Diandra adalah salah satu objek yang ia foto kemarin. Sehingga ia ingin menunjukkan foto-foto itu untuk memastikan laki-laki mana yang dimaksud Diandra.
"Yang mana?."
Diandra menerima kamera yang disodorkan oleh Zeze. Tangan kanannya langsung menunjuk sosok laki-laki yang berdiri di sisi sebelah kanan.
"Pak Mayjuna, dia anak angkat keluarga Sanjaya" kata Zeze menjelaskan.
"Di sebelahnya itu Ibu Athalia, istri dari Pak Mayjuna" lanjut Zeze.
"Aku merasa tidak asing dengannya tapi merasa asing dengan wajahnya, Ze."
"Mustahil kau mengenalnya, Dian. Rumor yang beredar dia berasal dari Spanyol."
"Rumor yang meragukan, Ze. Logat bicaranya tidak kebule-bulean. Aku tidak percaya jika dia berasal dari Spanyol" bantah Diandra.
Hening. Tak ada percakapan diantara keduanya.
"Sepertinya aku mau pulang, Ze" ucap Diandra tiba-tiba.
__ADS_1
"Pulang? Silakan saja kalau kau mau pulang dahulu ke Bali."
Diandra menggeleng.
"Aku mau pulang ke kampungku. Ke Desa Papaten-Madura."
Zeze menatap tajam ke arah Diandra.
"Serius? Kamu sudah siap ketemu mereka?" tanya Zeze memastikan.
"Jujur aku tidak siap, Ze. Tapi entah mengapa hatiku menyuruh untuk kembali ke sana. Aku harus memastikan keadaan Juna."
"Juna? Bukankah Juna di sebelahmu?" Zeze menunjuk Arjuna yang sedang terlelap di pangkuan Mbok De.
"Bukan Arjuna, Zeze. Tapi Juna mantan kekasihku."
Zeze menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Pasalnya ia baru tahu jika Diandra memiliki mantan kekasih bernama Juna. Diandra memang tidak pernah menceritakan hal itu karena menurutnya kisah dirinya dan Juna adalah rahasia yang tak mungkin ia ceritakan kepada orang lain.
"Maaf, aku tidak bisa bercerita lebih jauh tentang Juna. Yang jelas, sekarang aku ingin pulang ke desa Papaten. Aku mau tahu keadaan Juna."
"Hmmm... Kalau kamu memang mau ke sana. Okelah, aku ikut!" ucap Zeze bersemangat.
"Serius? Di sana serba melarat lho, Ze. Jangan mengeluh jika sinyal teleponmu tidak bagus."
"Nggak bakalan" jawab Zeze mantap.
"Kita bakalan naik apa ke sana?" tanya Zeze lagi.
"Kita perlu sewa mobil, Ze. Aku yang akan menyetir ke desa Papaten."
"What? Sewa mobil? Nggak bisa naik pesawat aja?."
Diandra menggeleng.
"Bandara di sana belum beroperasi. Mungkin nunggu kamu jadi presiden, baru deh bandara di sana beroperasi" kelakar Diandra.
Ck! Zeze berdecak sebal. Ia menjadi penasaran dengan kampung halaman Diandra.
"Kamu bisa urus masalah rental mobil, Ze?" tanya Diandra lagi.
"Bisa...bisa...Zeze kan serba serbi. Aku ada kenalan di Surabaya. Nanti aku hubungi dia kalau sudah sampai di Juanda."
"Ngomong-ngomong selain si Juna, di desa Papaten ada siapa lagi? Orang tua? Kakek nenek? Saudara? Paman-bibi?" cerocos Zeze.
"Orang tuaku di sana."
"Wah, parah! Orang tuanya di sana malah dia stay di Bali. Nggak pulang-pulang lagi" cibir Zeze.
"Kamu tidak tahu tentang kisahku, Ze."
"Bagaimana aku tahu jika kamu tidak bercerita?" tanya Zeze sinis.
"Aku akan bercerita. Tapi tolong, jangan berkomentar apapun! Cukup dengarkan saja" kata Diandra memberi penawaran.
__ADS_1
Zeze mengangguk. Bertahun-tahun ia memang penasaran dengan kisah Diandra. Mumpung Diandra sedang berbaik hati ingin bercerita, Zeze akan menjadi pendengar yang baik. Meskipun di dalam hati ia tidak bisa berjanji tidak akan berkomentar setelah Diandra bercerita.