
"Kita pulang, Mbok!" ajak Zeze saat bertemu dengan Mbok De di hotel tempat mereka menginap.
Zeze baru saja tiba di Jakarta. Ia masih merasakan jetlag. Namun, tuntutan pekerjaan membuatnya tidak bisa berlama-lama di Jakarta. Karena hal itu bisa membuat Zeze menjadi pengangguran.
"Kalau kita pulang, bagaimana dengan Neng Diandra?" tanya Mbok De sedih. Perempuan tua itu masih menggendong Arjuna yang sedang asyik minum susu dari botol dot nya
"Diandra bukan anak kecil, Mbok. Dia bisa pulang sendiri" jawab Zeze dingin.
"Apa Neng Zeze tidak mau mencari Neng Diandra dulu? Mbok De khawatir terjadi apa-apa sama Neng Diandra" kata Mbok De.
Zeze menggeleng.
"Kita pulang sekarang, Mbok. Bereskan semua barang-barang milik kalian. Saya tidak bisa lama-lama di sini. Pekerjaan saya sudah menumpuk di Bali" kata Zeze.
Mbok De menurut. Ia segera mengemasi pakaian miliknya dan Arjuna. Dua koper besar milik Mbok De dan Diandra berjejer di samping lemari. Mbok De menatap sedih koper milik Diandra yang masih anteng di tempat semula.
"Sudah?" tanya Zeze.
Mbok De mengangguk. Mereka segera keluar dari kamar hotel untuk check out.
"Tunggu!" hadang seseorang.
Zeze mundur perlahan. Ia merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Mbok De.
"Tenang! Saya bukan orang jahat. Saya adalah utusan dari Tuan Arya" kata orang itu.
"Tuan Arya? Siapa?" Zeze menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dia adalah bos kami. Kalian mau membawa anak itu kemana?" tanya orang itu.
"Anak itu? Arjuna maksudnya?" tanya Zeze.
Lelaki itu mengangguk.
"Saya akan membawanya pulang ke Bali. Apa urusan Anda menanyakan Arjuna?" tanya Zeze heran.
"Karena saya diperintah oleh Tuan Arya untuk membawa anak itu kepada Ayahnya."
Zeze semakin tidak mengerti. Ayah katanya? Siapa ayah Arjuna? Selama ini Diandra tidak pernah bercerita tentang siapakah ayah Arjuna. Ia menyimpan rapat-rapat rahasia itu.
Jika Zeze mengingat kejadian kemarin, Zeze menduga jika Mayjuna adalah ayah dari Arjuna. Selain nama mereka hampir mirip, Zeze juga ingat jika Diandra hendak meminta pertanggung jawaban dari Mayjuna.
"Biarkan Arjuna bersama saya. Saya tidak tahu siapa ayah Arjuna dan yang paling oenting saua tidak mengenal Tuan Arya. Jadi, tolong menyingkir dari hadapan saya. Karena saya mau otw" usir Zeze. Ia kemudian berlalu meninggalkan laki-laki suruhan Arya yang masih berdiri mematung.
Zeze segera menyetop taksi dan langsung masuk bersama Mbok De dan Arjuna. Mereka akan menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk melakukan perjalanan udara menuju Bali.
Laki-laki suruhan Arya segera mengambil ponselnya. Ia langsung menghubungi Arya untuk melapor.
__ADS_1
"Ya...haloooo" terdengar suara serak khas bangun tidur dari seberang telepon.
"Bos, saya mau laporan."
Arya langsung bangkit ketika mendengar suara orang suruhannya. Dilihatnya Diandra yang masih terlelap. Ia menarik nafas lega dan mulai beranjak dari kasur.
"Sebentar! Saya cari tempat sepi dulu" ucap Arya yang sebenarnya ia sedang memakai kembali pakaiannya dan buru-buru keluar dari kamar hotel.
"Kamu mau laporan apa?" tanya Arya.
"Saya mau lapor jika anak Nyonya Diandra dibawa oleh seorang gadis dan perempuan tua pulang ke Bali. Saya sudah menghadang mereka dan mengatakan jika akan mengembalikan anak itu kepada ayahnya. Tapi gadis itu menolak dan bersikeras membawa anak itu."
"Tak apa! Kamu ikuti perempuan itu dan temukan rumah mereka. Lalu bagaimana dengan laki-laki itu? Apakah sudah kamu temukan?" tanya Arya lagi.
"Pak Mayjuna sedang ke luar negeri, Bos. Sekitar seminggu sampai dua minggu di sana."
"Bagus! Cepat urus masalah rujukku dan Diandra. Saya sudah tidak tahan jika terus bermain tanpa ikatan seperti ini" kata Arya.
"Apa perlu nanti malam saya kirim penghulu dan antek-anteknya, Bos?."
"Boleh! Lebih cepat, lebih baik. Saya tunggu di hotel. Kamu tetap lanjutkan mengikuti orang-orang yang membawa anak Diandra" perintah Arya.
Telepon terputus. Arya membuka pintu kamar dan kembali merebahkan diri di samping Diandra. Arya memeluk tubuh polos Diandra lalu memberi kecupan bertubi-tubi di wajah mantan istrinya itu.
"Kita akan rujuk. Kita akan rujuk" seru Arya senang.
"Sayang, apa kau tidak senang? Kita akan rujuk. Kita akan kembali bersama" bisik Arya.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau rujuk denganmu" Diandra menarik selimut dari tubuh Arya. Ia tidak ingin berbagi selimut dengan Arya karena Diandra tidak ingin tubuh polosnya disentuh Arya.
"Kau tidak bisa menolak. Karena jika kau menolak, nasib anakmu dan kedua perempuan itu akan tewas di tanganku" ancam Arya.
Diandra langsung bangkit dari tidurnya. Ia mengeratkan selimut itu untuk menutupi tubuhnya. Diandra menatap Arya dengan nyalang. Rasa kantuknya langsung menguap saat mendengar ancaman Arya.
"Kau tidak bisa melakukannya" ucap Diandra tegas.
"Tentu saja aku bisa. Sekarang mereka bertiga sedang menjadi tawananku" ucap Arya berbohong.
"Jangan macam-macam, Arya!."
"Kau yang jangan macam-macam! Sekarang bersiap-siaplah karena nanti malam kita akan menikah lagi."
"Aku tidal mau! Aku tidak mau!" teriak Diandra.
"Kalau kau tidak mau. Kau akan melihat mayat anakmu besok" ancam Arya.
"Tidakkkkk....!!! Tidakkk.....!!! Jangan lakukan itu, Arya! Jangan!!" teriak Diandra histeris.
__ADS_1
Arya mengusap pucuk kepala Diandra. Seringai lebar terbit dari bibirnya. Arya benar-benar merasa di atas angin.
"Menurutlah jika mau anak itu selamat" bisik Arya.
***
Sementara itu, Juna dan Atha baru tiba di Bandara Internasional El Part, Barcelona. Mereka berjalan beriringan bersama empat orang bodyguard yang mengekori mereka dari belakang.
Sebenarnya, Juna tidak mau ada bodyguard yang menempel selama mereka di Barcelona. Namun, Kiara yang merasa khawatir tentu saja menolak keinginan Juna. Ia tetap meminta Lita menyiapkan bodyguard untuk Juna. Awalnya sepuluh, tapi karena Juna terus menolak akhirnya jumlah bodyguard itu berkurang menjadi empat.
"Mas... Lapar" rengek Atha.
Juna menghentikan langkahnya. Ia sedikit kaget mendengar ucapan istrinya. Bukankah Atha baru saja selesai makan. Mengapa ia merengek untuk minta makan lagi?
"Sebentar ya, sayang. Tunggu orang yang menjemput kita" bujuk Juna.
Atha mengangguk, tapi mulutnya mecucu.
"Siapa yang akan menjemput, Mas?" tanya Atha.
"Pak Edward! Dia yang akan menjemput kita. Lebih baik kita duduk dulu di sana sambil menunggu Pak Edward" ajak Juna.
Atha menurut. Mereka kembali berjalan beriringan menuju tempat duduk yang tersedia di bandara. Lima menit menunggu, nampak seorang laki-laki mengenakan jas hitam berlari sembari menoleh ke kanan dan kiri. Juna familiar dengan wajah laki-laki itu. Ia segera melambaikan tangan sembari memanggil Edward.
"Pak Edward!!! Saya di sini" teriak Juna.
Edward yang memiliki indra pendengaran yang tajam tentu saja langsung menangkap sinyal panggilan dari Juna. Ia langsung berlari menghampiri Juna.
"Pak Mayjuna" ucap Edward kemudian membungkuk kepada Juna.
"Pak Edward, tidak usah memberi hormat begitu. Saya bukan atasan Anda" cegah Juna, tak enak hati.
"Meskipun saya sudah tidak bekerja di Sanjaya corp, Anda tetaplah atasan saya. Jadi saya wajib memberi hormat kepada Pak Mayjuna" jawab Edward.
Atha mengernyitkan dahi. Ia baru tahu jika Edward sudah tidak bekerja di Sanjaya corp. Atha ingin bertanya, tapi sungkan. Biarlah, Atha akan bertanya nanti saja kepada Juna.
"Apakah Pak Mayjuna mau langsung ke hotel?" tanya Edward.
"Hmm... Tidak Pak Edward. Istri saya lapar. Kita cari restoran dulu."
"Istri?" Edward kaget mendengar kata istri yang diucapkan oleh Juna. Ia memang belum tahu jika Juna sudah menikah. Sejak Edward dikeluarkan dari Sanjaya corp, ia benar-benar tidak tahu kabar dari petinggi-petinggi Sanjaya corp.
"Kenapa kaget, Pak Edward?" tanya Juna.
"Ah, maaf. Sejak keluar dari Sanjaya corp saya memang tidak tahu kabar apa-apa. Saya ucapkan selamat atas pernikahan Pak Mayjuna" ucap Edward tulus.
"Terima kasih, Pak Edward. Sepertinya kita harus segera ke restoran karena nyonya besar sudah sangat kelaparan" ucap Juna sembari terkekeh saat mengucapkan hal itu.
__ADS_1