
Witz Town Resto
Suasana ramai dan riuh suara pengunjung selalu menjadi pemandangan biasa di jam makan siang seperti ini. Witz Town Resto adalah salah satu restoran terbaik di kota Barcelona. Tempat makan favorit di kalangan semua usia karena selain tempatnya yang strategis dan epic, makanan yang dijual memiliki cita rasa yang lezat. Tak heran jika Witz Town Resto selalu ramai akan pengunjung yang ingin memanjakan lidahnya dengan masakan-masakan lezat khas eropa.
Witz Town Resto, salah satu gurita bisnis milik keluarga Lily. Awalnya restoran itu dikelola oleh ayah Lily. Namun, saat Lily berusia 22 tahun. Ia diberi mandat untuk memimpin dan mengelola restoran itu. Meski awalnya banyak orang yang pesimis dengan kemampuan Lily, toh dia bisa membuktikan jika Witz Town Resto bisa berjaya di bawah kepemimpinannya.
Sibuk mengelola bisnis ini membuat Lily jarang sekali bergaul. Waktunya banyak tersita untuk memajukan restauran itu. Satu-satunya teman yang ia miliki hanyalah Elang. Meskipun hanya sebentar, Lily dan Elang sudah sangat akrab layaknya seorang saudara kandung.
Tak heran ketika Lily melihat Juna untuk pertama kalinya, Lily langsung jatuh hati. Selama ini kedua netranya hanya melihat dua orang laki-laki yaitu Ayahnya dan Elang. Lily jarang berinteraksi dengan lawan jenis karena tumpukan berkas-berkas penting lebih menyita perhatiannya selama ini.
"Huhhhhhh" Lily menghembuskan nafas panjang, mengeluarkan beban yang sejak tadi berkecamuk dalam pikirannya.
Pertemuan pertama Lily dengan Juna sudah membuat hatinya diobrak abrik tak karuan. Juna membuat Lily tidak bisa tidur, membuatnya tidak nafsu makan dan yang paling parah membuat semangat bekerja Lily pudar.
Biasanya Lily akan keluar untuk mengecek performa karyawannya mengingat jam makan siang adalah jam krusial bagi restorannya. Lily akan mengecek kesiapan dapur, kenyamanan pembeli dan tentu saja segala hal remeh temehpun harus ia kontrol. Lily akan berjalan kesana-kesini untuk memastikan tidak ada yang miss dalam pantauannya.
Tapi tidak untuk hari ini. Lily memilih mengurung diri di ruang kerjanya. Duduk dengan gelisah sembari mencorat coret kertas putih dengan tulisan "Juna" sampai penuh. Tidak hanya selembar kertas, Lily sudah menghabiskan setidaknya dua puluh kertas kosong yang ia penuhi dengan tulisan nama Juna.
Rupanya dewa asmara sudah menancapkan busur panahnya di hati Lily. Ia benar-benar kasmaran. Lily sudah tidak tahan untuk menahan rindunya. Ia mengambil ponselnya dan mencari kontak Elang untuk meminta bantuan. Namun, Lily sedikit ragu karena khawatir akan mengganggu bulan madu Elang di Milan.
Ah, Bodo amat! Lily sedang dilanda penyakit malarindu. Ia sangat ingin bertemu dengan Juna tapi ia tidak tahu harus kemana mencari Juna. Lily tidak sempat meminta nomor ponsel Juna karena tiba-tiba Ayah Lily memanggil dirinya untuk berkenalan dengan salah satu kolega ayahnya.
Benar-benar menyebalkan. Lily belum banyak berkomunikasi dengan Juna. Hanya kecupan singkat di pipi Juna yang baru ia berikan sebagai tanda perkenalan. Andai saja Lily dan Juna tidak terhalang dengan bahasa. Mungkin saja mereka sempat mengobrol saat berjalan bersama.
Telepon tersambung. Hati Lily langsung bersorak kegirangan ketika mendengar suara Elang di seberang sana.
"Hai, Lily! Ada apa kau menghubungiku?" suara serak khas bangun tidur terdengar di telinga Lily. Ia menggigit bibirnya. Sepertinya Lily sudah mengganggu jam tidur Elang.
"Mmm... Elang. Maaf aku mengganggu bulan madu kalian."
"Tak apa. Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" tanya Elang.
"Ya, butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?."
"Aku ingin bertemu Mayjuna" jawab Lily tanpa basa basi.
"APA?!" Lily langsung tersentak kaget ketika mendengar teriakan Elang.
"Lily, katakan sekali lagi! Kau butuh bantuan apa?."
"Aku ingin bertemu Mayjuna, Elang" kata Lily, wajahnya sudah merona bak pelangi.
"Mas Juna? Hei, aku sekarang di Milan sedangkan Mas Juna di Barcelona. Bukankah kau bisa bertemu langsung di sana?."
"Aku... Aku... Tidak tahu dia tinggal di mana, berapa nomor ponselnya dan di mana dia bekerja. Elang, tolong aku! Aku benar-benar ingin bertemu dengannya sekarang" rengek Lily manja.
"Hmm... Lily, sepertinya kau jangan dekat-dekat dengan Mas Juna. Kau tahu sendiri kan jika dia adalah anak buah kakak iparku?."
__ADS_1
"Aku tahu, Elang, dan sepertinya kakak iparmu tidak keberatan jika aku mendekati Mayjuna."
Elang diam.
"Elang, jangan diam saja! Beritahu aku di mana aku bisa bertemu dengannya sekarang! Aku akan mengajaknya makan siang" kata Lily lagi tapi tetap diacuhkan oleh Elang.
Tiba-tiba Kiara muncul mengambil ponsel milik Elang. Sejak tadi ia menguping pembicaraan Elang dan Lily. Kiara yang merasa terganggu tidurnya sepertinya harus turun tangan agar Lily segera mengakhiri pembicaraan mereka.
"Hai, Lily. Kau mau bertemu Mas Juna?" tanya Kiara dan Lily segera mengangguk dengan wajah berbinar.
"Kau ini bagaimana sih? Restomu itu dekat sekali dengan kantor Mas Juna. Mungkin kau hanya perlu berjalan sebanyak lima langkah saja" jawab Kiara asal.
"Benarkah?."
"Sayang, jangan membohongi Lily!" tegur Elang.
"Siapa yang bohong sih?" Kiara memotong ucapan Elang dengan cepat.
"Lily, apa kau melihat ada perusahaan baru di sekitar restomu?" tanya Kiara.
Lily mengangguk.
"Perusahaan itu baru meluncurkan jersey terbaru timnas Spanyol. Karyawannya sering makan disini" jawab Lily.
"Pergilah kesana! Mas Juna sedang magang. Kalau ada yang menghalangimu untuk bertemu Mas Juna. Katakan saja jika kau adalah utusan dari Mr.Adira yang tampan dan rupawan. Kiara yakin tidak ada yang berani menghalangimu lagi" ucap Kiara dan itu membuat Elang hanya bisa mengelus dada.
"Bawa aja ketoprak dua porsi, lengkap sama jus jeruknya" jawab Kiara lagi asal.
"Hushhh" Elang langsung menegur Kiara. Pasalnya makanan yang disebutkan Kiara tidak ada di menu restauran milik Lily.
"Kiara becanda, Lily. Bawakan saja nasi padang sama es manado" kata Kiara lagi.
"Sayang!" tegur Elang lagi karena untuk kedua kalinya Kiara memberi jawaban asal-asalan kepada Lily.
"Kamu tuh berisik banget sih Elang! Bukannya bantuin malah hash hush aja" omel Kiara.
"Kalian jangan bertengkar. Nanti siapa yang akan memberiku ide makanan apa yang harus aku bawa untuk Mayjuna?" Lily menyembikkan bibirnya kesal.
"Ah, iya! Kemarin Mas Juna mencari nasi pecel dan sate ayam saat di resepsiku. Lily, cobalah minta chef di restauranmu untuk memasakkan kedua masakan itu. Elang yakin Mas Juna akan senang."
Senyum di bibir Lily langsung merekah. Ia segera memutuskan sambungan telepon tanpa pamit. Lily segera bangkit dari duduknya, melangkah tergesa-gesa menuju dapur untuk menemui chef terbaik di restaurannya.
"Buatkan aku nasi pecel dan sate ayam!" perintah Lily dan itu sukses membuat semua orang yang sedang sibuk menyiapkan makanan melongo tak karuan.
"Kenapa diam? Ini perintah! Aku tidak mau tahu. Semua harus beres dalam waktu kurang dari satu jam. Jika tidak, kalian semua aku tendang" teriak Lily dan ia langsung pergi meninggalkan dapur tanpa rasa berdosa sedikitpun.
Para chef beserta jajarannya langsung bergerak. Bos mereka ini memang ada-ada saja. Di tengah ramainya orderan jam makan siang, Lily malah menyuruh mereka untuk membuat makanan asing yang tidak ada di dalam menu resto itu. Kepala chef bahkan harus membuka kiutup untuk mencari tahu makanan apa yang dipesan oleh bos nya itu.
Untung saja gampang. Kepala chef langsung mengeksekusi bahan makanan yang diperlukan dan memang tidak butuh waktu hingga satu jam untuk menyelesaikan kedua makanan itu.
__ADS_1
"Kalian memang pantas bekerja di sini. Aku berjanji akan memberikan bonus jika kekasihku menyukai masakan kalian" kata Lily. Ia dengan cepat segera angkat kaki dari restorannya.
Lily berjalan menuju kantor tempat Juna magang. Seperti apa yang dikatakan Kiara, letak kantor Juna dekat dengan resto milik Lily. Lily hanya perlu berjalan selama kurang dari sepuluh menit untuk tiba di kantor Juna.
Lagi-lagi Lily mengikuti saran Kiara. Ia menggunakan nama Dira agar bisa bertemu Juna dengan lancar dan di sinilah mereka sekarang. Lily dan Juna sedang duduk berdua di ruangan khusus Juna. Mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja yang menjadi pemisah antara Lily dan Juna.
"Aku membawakanmu makan siang" Lily berbicara sesuai dengan apa yang tertera di ponsel pintarnya. Tak lupa kedua tangannya bergerak dengan cepat membuka kotak makanan yang sudah disiapkan oleh chef di restorannya.
"Nona, kenapa kau repot-repot ke sini? Aku sudah mendapat jatah makan siang dari sini" tolak Juna.
"Tidak ada kata repot untukku, Mayjuna. Buka mulutmu! Aku akan menyuapimu sekarang" kata Lily dan ia langsung menyuapkan sesendok nasi pecel ke dalam mulut Juna.
Juna menurut saja meskipun di dalam hatinya ia masih bingung dengan tingkah Lily. Toh, kebaikan orang tidak boleh ditolak.
"Apa kau suka dengan makanannya?" tanya Lily lagi.
Juna mengangguk.
"Syukurlah kalau kau suka. Mulai hari ini aku akan selalu membawakan makan siang untukmu."
"Tidak perlu, Nona" tolak Juna cepat.
"Aku tidak menerima penolakan."
"Tapi aku bukan siapa-siapamu, Nona. Aku tidak pantas kau perlakukan seperti ini" tolak Juna lagi.
"Mulai hari ini kau adalah kekasihku. Aku memilihmu menjadi kekasihku dan aku tidak menerima penolakan."
Cup.
Kedua netra Juna langsung melebar ketika Lily mendaratkan kecupan singkat di bibirnya. Jantung Juna langsung bergemuruh ketika mendapat serangan kecil dari Lily.
"Sepertinya kau menyukai kecupanku. Tenang saja! Mulai besok aku akan memberimu kecupan sayang sebanyak dua puluh kali sehari" ucap Lily santai.
Juna memegang dadanya. Menepuk kedua pipinya berkali-kali. Juna berkali-kali mensugesti dirinya sendiri agar tidak pingsan. Telinganya salah dengar! Ya, benar! Kedua telinganya salah dengar! Pasti tadi ada angin lewat sehingga terdengar seperti kalimat aneh di telinga Juna.
Juna terus menepuk-nepuk kedua pipinya dan itu membuat Lily merasa gemas dengan tingkah Juna.
"Hei, Jun! Berhenti memukul pipimu!."
Lily segera memegang kedua tangan Juna. Ia menatap wajah Juna dengan intens dan...
Cup.
Cup.
Cup.
Lily kembali memberi kecupan singkat di kedua pipi Juna secara bergantian. Ia tidak sadar jika tindakannya itu membuat tubuh Juna melemas dan akhirnya pingsan.
__ADS_1