HEI JUN

HEI JUN
17


__ADS_3

Lia berkali-kali menghela nafas panjang. Pandangannya menerawang sedangkan tangannya sibuk mengaduk jus alpukat yang sudah menemaninya selama dua jam. Pening, kepala Lia terasa pening sekali memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Pak Zaini besok.


Sejak semalam Lia memilih tinggal di rumah Andika, berangkat ke sekolah bersama dan pulang bersama pula. Seharian ini Lia menempel terus pada Andika dengan tujuan untuk mengurangi interaksi dengan Pak Zaini.


Lia tidak bisa menutupi kecemasannya. Ia langsung salah tingkah ketika berada di satu tempat dengan Pak Zaini. Untung saja Andika cepat tanggap. Dirinya bisa menjadi benteng bagi Lia sehingga Pak Zaini tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk berbicara dengan Lia.


Saat makan siang tiba, Noval kembali datang ke SMA Cendekia untuk mengantar jatah makan siang bagi panitia ujian akhir sekolah. Lia yang kebetulan melihat Noval yang baru saja turun dari mobil, langsung mengurungkan niatnya untuk berkumpul di aula. Ia langsung menelpon Andika, mengajaknya segera pulang.


Baiknya Andika, ia mau menuruti permintaan saudarinya itu. Kabur dari SMA Cendekia saat jam makan siang. Andika menawarkan untuk mengantarkan Lia pulang ke rumah. Namun, gadis itu sepertinya masih tidak ingin pulang. Lia memilih ikut menemani Andika ke cafe miliknya. Meskipun dengan resiko ia akan duduk sendirian selama Andika bekerja.


"Haniiii.... ini sudah dua jam dan jus alpukat itu masih saja diaduk-aduk!" tegur Dika.


Lia menghentikan aktifitasnya. Ia kemudian menyedot jus alpukat itu dengan malas.


"Stop, Hani!!! Lu kenapa sih? Heran gue! Seumur-umur baru lihat gadis perawan galau kayak gini. Bikin gue sumpek" gerutu Dika memulai omelannya.


"Gue bingung, Dika. Gue harus kasih jawabannya besok. Gue...." Lia tidak meneruskan ucapannya. Hal itu membuat Andika semakin gemas saja.


"Apa sih yang bikin Lu bingung? Kalau emang lu nggak mau, bilang aja nggak mau. Masalah mitos menolak lamaran pertama itu nggak baik, lu bukan orang kolot yang harus percaya itu."


"Tapi kalau nanti kejadian gimana, Dika? Nanti gue jadi perawan tua."


Andika menghela nafas panjang. Ia tidak habis pikir dengan ketakutan Lia yang menurutnya tidak perlu dibesar-besarkan. Lia yang besar di kota metropolitan, seharusnya tidak percaya dengan mitos seperti itu. Secara logika tidak dapat dinalar meskipun mungkin secara kebetulan bisa terjadi.


"Sebenarnya lu bingung karena ada rasa kan ama Juna?" tebak Andika.


Lia mengangguk.


"Tapi meskipun gue ada rasa dengan Pak Juna, hati gue juga berat buat menjalin hubungan sama dia. Sedangkan Noval, kenal juga kemarin udah main ngelamar aja. Gue belum tahu dia bagaimana" kata Lia sambil menunduk lesu.


"Kalau gue disuruh memilih antara Juna dan Noval. Gue lebih setuju lu sama Noval."


"Alasannya?" tanya Lia.


"Karena dia lebih mandiri dan bertanggung jawab daripada Juna. Meski Noval dan Juna sama-sama anak bungsu, Noval sudah mandiri sejak kuliah. Sedangkan Juna masih bergantung sama Emaknya. Coba aja lu pikir, buat menghidupi dirinya sendiri aja Juna nggak mampu, gimana bisa dia menghidupi lu dan anak-anak lu nanti?."


"Emangnya gaji di SMA Cendekia nggak cukup?" tanya Lia.


"Ya ampun, Hani!!! Kalau gaji di sana cukup, ngapain juga gue bela-belain buka cafe? Kita disana dibayar tiga ribu per jam. Ingat, tiga ribu per jam. Lu tinggal kali aja sama jam mengajar lu tiap minggu, lalu kali empat."


Lia mengerutkan keningnya. Ia kemudian mengambil ponselnya, membuka aplikasi kalkulator dan menghitung berapa honor yang akan ia terima dalam satu bulan. Lia langsung menganga ketika melihat deretan angka yang tidak sesuai dengan ekspektasinya itu.


"Serius, Dika? Segini yang bakalan gue terima?" Lia menyodorkan ponselnya.


"Iya... malah honor Juna hanya separuh dari itu."


"APA???!!!! Sialan lu, Dika. Ini sih namanya bukan kerja tapi dikerjain. Buat uang bensin aja nggak cukup apalagi buat beli bedak gue" teriak Lia sembari mengelus dada.


"Jangan khawatir! Nanti biar saya yang belikan bedak kamu sekalian sama skincarenya."

__ADS_1


Deg.


Lia dan Andika langsung menoleh secara bersamaan. Keduanya membatu ketika melihat Noval sedang berdiri di hadapan mereka. Mereka tidak menyangka jika orang yang sedang mereka bicarakan kini berdiri di hadapan mereka.


Hening. Baik Lia maupun Noval tidak bisa berkata-kata. Mereka hanya saling melirik satu sama lain dengan ekor matanya. Saling memberi kode agar memulai pembicaraan saat ini.


"Hei... kenapa diam?" tanya Noval.


"Kaget aja! Kenapa bisa di sini. Kebetulan lewat atau memang mau kesini?" tanya Andika.


"Oh... saya memang sengaja kesini. Mau ketemu Lia."


Lia memegang lengan kanan Andika, memberi kode agar Dika tidak meninggalkan Lia sendiri bersama Noval.


"Silakan! Kebetulan saya masih ada pekerjaan. Ngomong-ngomong mau minun apa?" tanya Andika sopan dan Lia langsung menginjak kaki Andika karena mengacuhkan kodenya.


"Ah tidak usah repot-repot, Dika."


"Buat calon saudara ipar, nggak ada kata repot."


Andika segera kabur sebelum Lia melemparnya dengan gelas jus yang sejak tadi dipegangnya. Bukan tidak mungkin jika Lia akan membuat dahi Andika benjol karena perkataannya barusan.


Lia kembali duduk tanpa mempersilakan Noval. Noval yang paham segera menarik kursi di depan Lia dan mendudukinya.


"Kau tidak suka aku sambangi?" tanya Noval membuka pembicaraan.


"Maaf jika lamaranku mendadak dan mengagetkanmu. Itu semua karena waktuku disini hanya sebentar."


"Aku sangat berharap kamu mau menerima lamaranku" kata Noval lagi.


"Kenapa?"


"Karena aku sudah cocok denganmu" jawab Noval.


"Maaf, Mas Noval. Kamu hanya mengenal aku kemarin. Secepat itu kamu bilang cocok? Bagaimana nanti jika aku tidak sesuai dengan ekspektasi kamu? Kamu akan kecewa dan ujung-ujungnya pasti perpisahan" kata Lia dengan emosi yang membuncah.


"Aku tidak punya ekspektasi apapun tentangmu, Lia. Hatiku sudah cocok, baik kurangmu pun harus aku terima. Aku tidak mencari pasangan yang sempurna karena aku sendiri juga tidak sempurna."


"Meskipun aku tidak mencintaimu?" tanya Lia.


"Belum mencintaiku, lebih tepatnya. Cinta itu akan datang karena terbiasa. Kamu hanya perlu membuka hati untukku dan aku hanya perlu stok sabar yang banyak untuk meluluhkan hatimu" kata Noval membuat hati Lia sedikit meleleh saat mendengarnya.


"Lagipula aku bukan anak SMA lagi. Umurku sudah matang. Sudah bukan saatnya berpacar-pacaran. Itu akan membuang waktuku. Hatiku sudah cocok denganmu. Aku juga akan terima baik dan burukmu. Jadi, tolong jangan meragukanku."


Kedua tangan Lia mencengkram kaki kursi dengan erat. Rasanya Lia ingin pingsan mendengar ucapan Noval. Mungkin inikah yang dinamakan gombalan cinta? Namun, melihat ketulusan di kedua mata Noval membuat Lia menepis dugaan negatifnya.


Perlahan hati Lia tergerak untuk menerima Noval. Meskipun ia masih was-was, belum sepenuhnya yakin dengan perasaannya.


"Apa perlu kita membuat perjanjian pra nikah?" tanya Noval membuyarkan lamunan Lia.

__ADS_1


"Perjanjian pra nikah? untuk apa?."


"Untuk meyakinkanmu. Setidaknya jika kita membuat perjanjian pra nikah, apa yang menjadi ketakutanmu bisa diatasi. Tulislah apa saja yang kamu inginkan, aku harus bagaimana dan rumah tangga seperti apa yang ingin kau bina bersamaku. Aku tidak masalah meskipun kau menulis seribu syarat sekalipun."


"Sungguh?" tanya Lia.


"Tentu saja. Apapun yang kamu minta, aku akan berusaha mengabulkannya. Tapi aku hanya punya satu permintaan."


"Apa itu?."


"Cintaiku aku meskipun tidak sebesar cintaku padamu."


***


"Bapak......" panggil Lia ketika ia sudah tiba di rumahnya.


Setelah pembicaraan dengan Noval di cafe milik Andika, Lia sudah mendapatkan jawaban atas lamaran Noval. Lia sudah mempertimbangkan matang-matang. Dia juga sudah meminta pendapat Andika tentang keputusannya itu dan Andika mendukung penuh keputusan yang Lia ambil.


"Bapak di sini. Sudah selesai bertapanya?" tanya Pak Anton menggoda anaknya yang baru pulang.


"Ah, Bapak. Baru juga datang langsung diledek aja" gerutu Lia.


"Ya... Bapak mau menikmati masa-masa terakhir menggoda putri bapak yang sebentar lagi menjadi istri orang" sahut Pak Anton santai.


"Memangnya Bapak tahu jawaban Lia apa? Kenapa seyakin itu, Pak?."


"Kamu ini anak, Bapak. Bapak sudah hatam dengan watakmu. Kamu tidak mungkin membuat kami kecewa" kata Pak Anton membuat Lia langsung memeluk Bapaknya.


"Bapak telpon Pak Zaini sekarang?" tanya Pak Anton.


Lia mengangguk.


Pak Anton segera mengambil ponselnya, menghubungi Pak Zaini yang sebenarnya sudah menunggu kabar sejak tadi pagi. Pak Anton dan Pak Zaini terlibat pembicaraan serius. Sesekali Pak Anton tertawa dan kembali pada mode seriusnya.


Lia yang masih memeluk Bapaknya, hanya menjadi pendengar setia tanpa sedikitpun ikut terlibat dalam pembicaraan orang tuanya. Tiga puluh menit kemudian, Pak Anton menyudahi teleponnya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja.


"Apa kata Pak Zaini, Pak?" tanya Lia penasaran.


"Beliau sangat senang dengan jawabanmu dan...."


"Dan apa, Pak?."


"Pernikahanmu sepuluh hari lagi."


"APAAAAA?????!!!!!!."


Brukkkk


Lia langsung pingsan mendengar ucapan ayahnya. Pak Anton bukannya panik, beliau malah berlalu begitu saja menganggap hal itu sudah biasa terjadi.

__ADS_1


__ADS_2