
Setelah kejadian kemarin, Diandra semakin agresif menemui Juna. Dia tidak pernah absen datang ke kantor polisi saat jam besuk tiba. Juna yang merasa jijik dengan Diandra tentu saja enggan menemuinya. Ia bahkan berpesan kepada petugas yang berjaga jika Juna tidak mau dijenguk oleh Diandra. Juna lebih memilih tidur daripada harus meladeni Diandra yang tidak jelas maksud dan tujuan kedatangannya.
Awalnya petugas kewalahan menangani Diandra karena wanita itu bersikeras meminta untuk bertemu Juna. Petugas sudah mengatakan jika Juna tidak mau menemuinya tapi Diandra tidak terima dengan alasan itu. Ia mengamuk bahkan hampir menerobos masuk ke ruang tahanan Juna.
Untung saja ada Pak Joko. Petugas polisi yang satu itu memang memiliki tampang yang menakutkan sehingga membuat nyali Diandra sedikit menciut. Pak Joko berhasil mengusir Diandra meskipun tidak gampang.
Awalnya Diandra masih sempat menolak. Ia tetap bersikeras ingin masuk menemui Juna. Pak Joko yang memang berwatak kurang sabar dan gampang naik darah tentu saja kesal dengan tingkah Diandra. Ia menyeret Diandra keluar karena menurutnya Diandra tidak akan mempan jika diusir lewat ucapan.
Diandra berteriak histeris ketika tangannya ditarik Pak Joko. Ia mengambil cairan desinfektan dan langsung menyemprotkan ke semua bagian tubuhnya.
"Dasar laki-laki jelek! Jangan coba-coba menyentuhku! Aku alergi. Kulitku ini sangat sensitif. Memangnya kau bisa membayar biaya perawatan kecantikanku?" maki Diandra pada Pak Joko.
Pak Joko yang di maki seperti itu tentu naik darah. Ia sangat geram melihat tingkah Diandra yang sombong dan angkuh seperti itu. Pak Joko bahkan bertanya-tanya bagaimana didikan orang tuanya sampai-sampai watak Diandra begitu sombong dan angkuh?
"Hei, Nona!!! Kau sombong sekali!!! Jangankan membayar biaya perawatan kecantikanmu, biaya menguliti otakmu saja bisa aku bayar. Kalau kau mau, aku akan mengantarkanmu besok ke dokter langgananku" kata Pak Joko memaki balik.
"Berani kau kepadaku, hah?" tantang Diandra.
"Tentu saja! Kenapa aku harus takut?."
"Kau pasti tidak tahu siapa Ayahku?" ucap Diandra semakin kesal.
"Untuk apa? Aku tidak berniat melamarmu jadi aku tidak perlu tahu siapa orang tuamu. Lagi pula aku tidak mau menjalin hubungan dengan wanita tidak waras sepertimu."
"Kau....!!!!."
"Sudah diam!!! Sebaiknya kau cepat pergi dari sini!!! Kau bisanya hanya membuat keributan saja. Jangan pernah datang menemui Juna lagi! Kalau kau masih datang kesini, Aku cium kamu!!! Apalagi kamu cantik dan sexy. Baju kurang bahan begini sehingga memudahkanku untuk menyentuhmu" ancam Pak Joko yang tentu saja membuat Diandra bergidik ngeri dan langsung pergi meninggalkan kantor polisi.
Pak Joko kemudian masuk dan menemui Juna di ruang tahanan. Wajahnya ditekuk dengan mulut yang terus mengomel tanpa spasi.
"Cewekmu itu gila. Cewekmu itu gila" begitu Pak Joko memaki Diandra di hadapan Juna.
"Bagaimana bisa kau memiliki pacar tidak waras seperti itu? seperti pasien lepas dari rumah sakit jiwa. Dia memang gila atau jangan-jangan dia menjadi stress karena kau ditahan di sini?" lanjut Pak Joko masih menumpahkan kekesalannya pada Juna.
Juna tak menyahut. Ia hanya tertawa mendengar curhatan Pak Joko. Tak lupa Juna mengucapkan terima kasih kepada Pak Joko karena atas bantuannya Diandra menjadi takut dan tidak bisa menemui Juna.
Tiga hari setelah kedatangan Diandra yang terakhir, Juna dikejutkan dengan teriakan Pak Joko. Juna yang segera bangkit dan berjalan mendekati Pak Joko.
"Kamu bebas, Jun" kata Pak Joko sambil membuka pintu ruang tahanan Juna.
Juna yang masih mencerna ucapan Pak Joko tentu saja hanya bisa diam mematung.
__ADS_1
"Juna....! kau dengar tidak? Kau bebas sekarang. Cepat keluar dari sel!" perintah Pak Joko lagi.
"Bebas? saya bebas, Pak? bagaimana bisa?" tanya Juna.
Juna benar-benar meragukan apa yang baru saja ia dengar. Pasalnya baru tiga hari yang lalu Diandra mengatakan jika suaminya membayar seseorang agar Juna bisa membusuk di penjara. Lalu mengapa hari ini Juna dikatakan bebas? Juna benar-benar heran.
"Cepatlah, Juna!! Kau kenapa masih diam saja? Apa kau tidak mau bebas hah???" gertak Pak Joko yang mulai kesal.
"Maaf, Pak! saya hanya masih belum percaya" kata Juna jujur.
Juna segera berjalan mengekori Pak Joko. Ia menurut meski Juna belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Pak Joko.
"Pak??" kata Juna tercekat ketika melihat sosok yang sedang menunggunya di luar.
Pak Zaini tersenyum kepada Juna. Beliau menepuk-nepuk pundak Juna pelan.
"Kamu bebas. Hari ini kamu bebas" kata Pak Zaini.
"Sa... saya.. be.. bebas, Pak?" tanya Juna tak percaya.
Pak Zaini langsung mengangguk, menjawab pertanyaan Juna.
"Tentu saja bisa. Laporan Pak Narto itu laporan ngawur, tidak berdasar dan tidak ada buktinya. Kamu mau-mau saja dibawa ke kantor polisi atas tuduhan yang kamu sendiri tidak tahu apa. Pak Narto hanya ingin mengurungmu di sini, melampiaskan kekesalannya padamu. Harusnya kamu baca dulu surat penangkapanmu, bukan langsung ikut saja" ceramah Pak Zaini.
Juna bungkam sembari mencerna penjelasan Pak Zaini. Memang Juna akui, ia sangat gegabah. Persis seperti ucapan Pak Zaini.
"Kamu tenang saja. Semua sudah aku selesaikan. Aku sudah memberi jaminan kepada polisi dan mereka menutup kasusmu. Kasus bodongmu" lanjut Pak Zaini lagi.
Juna tercekat mendengar penjelasan Pak Zaini. Seketika kedua netranya basah dan bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Juna memeluk Pak Zaini sembari mengucapkan terima kasih.
Badannya langsung saja meluruh. Juna sujud syukur. Berterima kasih kepada yang maha kuasa atas nikmat yang telah diberikan kepadanya. Juna benar-benar tidak menyangka jika Tuhan telah mengirimkan seorang penolong untuknya. Sungguh, Juna benar-benar tak bisa berkata-kata lagi.
"Emak" teriak Juna. Ia langsung bangkit dengan wajah panik.
"Ada apa, Jun? Kenapa kamu tiba-tiba panik begini?."
"Emak. Bagaimana dengan Emak?."
"Ibumu juga bebas hari ini. Saya juga sudah memberi jaminan untuk beliau. Sekarang Ibumu sedang bersiap-siap."
Ucapan Pak Zaini lagi-lagi membuat badan Juna meluruh. Juna langsung saja memeluk kedua kaki Pak Zaini sembari terus mengucapkan terima kasih atas bantuan beliau.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak. Terima kasih. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya dan Emak jika tidak ada Pak Zaini. Hu... hu...hu..."
"Pak Zaini baik sekali kepada kami. Bagaimana saya bisa membalas kebaikan Pak Zaini? Saya hanya orang biasa yang tidak punya apa-apa, Pak. hu....hu... hu..."
"Sudah... sudah.. Juna. Berhetilah menangis. Kamu ini laki-laki. Badanmu kekar dan berotot. Malu dong kalau menangis" ledek Pak Zaini.
"Maaf, Pak. Tapi saya benar-benar terharu" ucap Juna lalu menghapus sisa-sisa air mata di kedua netranya.
"Sudahlah. Sesama manusia kita wajib tolong - menolong. Saya tidak meminta kamu membalas pertolonganku. Kamu cukup melanjutkan hidup, kembali mengajar di sekolah. Didik para siswa agar menjadi generasi penerus bangsa yang berkompeten. Mengabdilah pada sekolah dan jangan mengeluh!" kata Pak Zaini yang tentu saja membuat semangat Juna berkobar.
Juna mengangguk mantap. Ia berjanji akan mengabdi pada Pak Zaini. Juna akan mengarahkan semua tenaganya, membagikan semua ilmu yang ia punya kepada murid-murid sesuai perintah Pak Zaini. Juna bertekad tidak akan membuat Pak Zaini kecewa setelah kebaikan yang beliau berikan kepada Juna dan Emak.
"Juna....!"
Juna dan Pak Zaini langsung menoleh ketika mendengar suara Bu Tias yang berteriak memanggil Juna. Juna langsung berlari memeluk Emak. Mereka berpelukan sambil menangis.
"Maafkan Juna, Mak. Maafkan Juna. Emak harus mendekam di tempat ini gara-gara Juna. Juna memang anak tidak berguna. Juna tidak menengok Emak di ruang tahanan. Juna tidak bisa menolong Emak" kata Juna sedih.
Bu Tias menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengurai pelukannya, menangkup wajahk Juna dengan kedua tangan rentanya.
"Bukan salahmu, Jun! Ini karena Emak. Andai Emak tidak memaksamu datang ke pernikahan Diandra, pasti kita tidak akan mendekam di sini" ucap Emak.
"Juna, Bu Tias, sudah. Jangan saling menyalahkan! Lebih baik sekarang kalian pulang" kata Pak Zaini menghibur anak dan ibu itu agar berhenti menangis.
Juna dan Bu Tias saling pandang. Tanpa komando mereka langsung memeluk kedua kaki Pak Zaini sembari mengucapkan terima kasih.
"Eh, Juna... Bu Tias. Bangun! Jangan begini! Sudah bangun. Jangan seperti ini!" kata Pak Zaini kaget.
Awalnya Juna dan Bu Tias mengacuhkan ucapan Pak Zaini. Namun, karena Pak Zaini merasa tidak nyaman. Beliau akhirnya menuntun Juna dan Bu Tias agar bangkit. Beliau menyuruh mereka segera pulang karena urusan di kantor polisi sudah selesai.
Pak Zaini menawari untuk mengantar pulang. Tapi Juna segera menolak dengan halus. Selain tidak ingin merepotkan, Juna juga takut mengganggu aktifitas Pak Zaini.
Juna dan Bu Tias memilih pulang dengan naik angkot. Mereka pulang dalam diam. Namun, ketika angkot sudah berhenti di depan rumah. Bu Tias berbisik kepada Juna.
"Jun, waktu mencari jodohmu masih berjalan. Emak tidak mau tahu, pokoknya bawa calon menantu Emak secepatnya" kata Bu Tias dan dengan santai turun dari angkot.
"Lah Emak... Kenapa masih bahas itu sih? Emak... Emak...." Juna berteriak memanggil Bu Tias. Ia terburu-buru untuk turun sehingga ia lupa untuk menunduk.
Jedduggg
Juna meringis kesakitan sembari mengusap dahinya yang baru saja bertabrakan dengan pintu angkot. Juna pikir setelah masalah yang menimpa mereka, Bu Tias akan lupa dengan ultimatumnya. Ucapan Bu Tias lagi-lagi membuatnya berhadapan dengan masalah, masalah jodoh.
__ADS_1