
Perempuan itu muncul tepat di hadapanku saat aku berada di kediaman keluarga Sanjaya. Wajah cantiknya masih terpancar meski usianya bertambah beberapa tahun. Aku masih bisa mengenali dia, perempuan yang menorehkan rasa trauma kepada suamiku.
Melihat kemunculannya di acara semalam membuatku bertanya-tanya. Apakah hubungan dia dengan keluarga Sanjaya? Apakah dia salah satu keluarga atau salah satu rekan bisnis keluarga Sanjaya? Ah, harusnya aku mencari informasi tentang itu.
Satu hal yang membuatku lebih terkejut lagi. Ketika ada seorang balita yang memanggilnya Mama. Bocah laki-laki itu tampan dan lucu, kira-kira umurnya sekitar dua tahun. Perempuan itu memanggil bocah itu dengan nama Juna.
Deg.
Otakku langsung berputar. Juna? Nama anak itu Juna? Apakah bocah itu adalah anak Juna? Apakah bocah itu adalah hasil perbuatan mereka beberapa tahun yang lalu? Jika aku tidak salah memperkirakan umur dan rentang waktu kejadian kelam yang dialami Juna, sepertinya sangat masuk akal jika bocah laki-laki itu adalah anak mereka.
Aku langsung menangis. Juna sudah menjadi suamiku selama lima bulan. Namun, aku belum juga mengandung. Sedangkan dengan perempuan itu? Ah, mungkinkah hanya sekali langsung jadi? Ataukah sebelumnya mereka pernah melakukan hal itu?
Ah, hatiku kembali menciut! Aku mulai berprasangka jika akulah yang tidak sehat. Aku mulai berfikir untuk menjalani tes kesuburan tanpa sepengetahuan Juna. Karena aku yakin jika Juna akan melarangku melakukan hal itu.
Maka pagi ini ketika Juna pergi ke kantor Sanjaya corp. Aku buru-buru pergi ke rumah sakit, tempat aku bekerja dulu. Sebelumnya aku sudah membuat janji dengan dokter Maya, dokter yang akan menanganiku.
Serangkaian tes aku lakukan. Aku benar-benar deg-degan menunggu hasilnya. Bagaimana jika aku benar-benar tidak sehat? Bagaimana hasilnya jika aku susah memiliki anak? Ah, memikirkan itu membuatku kembali menangis.
Aku takut Juna akan meninggalkanku. Aku takut Juna kembali pada perempuan itu. Terlebih ada anak dari hasil pergulatan mereka. Haruskah aku memberi tahu Juna tentang perempuan itu dan anaknya? Bolehkah aku egois untuk menjauhkan Juna dari anaknya?
Kepalaku pening. Aku memilih pulang ke rumah orang tuaku sebelum mengambil hasil pemeriksaanku. Aku mengirimkan pesan kepada dokter Maya jika aku datang lagi besok.
Di rumah orang tuaku, hanya ada ibu karena ayahku sedang bekerja. Aku segera memeluk ibu dengan erat, meluapkan rasa rindu padanya.
"Kau sakit? Kenapa tubuhmu kurus? Apakah suamimu tidak memberi makan?" tanya Ibu.
Aku mencoba tertawa meskipun hatiku tidak. Ibu pikir aku tidak makan sehingga tubuhku kurus.
"Atha banyak aktifitas, Bu. Kalau masalah makan. Ah, rasanya Ibu tidak perlu khawatir! Nafsu makanku besar dan Juna selalu menuruti kemauanku."
"Makan banyak kok kurus? Keadaanmu ini bertolak belakang dengan ucapanmu. Kau seperti seorang istri yang tidak diberi makan" cibir Ibu dan aku hanya bisa tertawa mendengar cibirannya.
Aku mengajak Ibu untuk tiduran di kamarku. Rasanya aku benar-benar merindukan suasana nyaman kamar ini. Aku tidur dipangkuan Ibu sembari bercerita, saling bertukar kabar. Hingga akhirnya Ibu menanyakan hal yang menjadi beban pikiranku selama ini.
"Apakah belum ada tanda-tanda?" tanya Ibu.
"Tanda-tanda? Tanda-tanda apa, Bu?" aku balik bertanya karena aku memang tidak mngerti arah pertanyaan Ibu.
"Tentu saja tanda-tanda kalian akan memberikan kami cucu. Kau dan Juna sudah lima bulan menikah. Apakah belum ada tanda-tanda kehamilan sama sekali?" tanya Ibu lagi.
Aku menunduk. Rasa sedih kembali menheruak di dalam hati. Haruskah aku bercerita pada Ibu? Haruskah aku berkeluh kesah pada Ibu?
"Kau ada masalah, Nak? Hubunganmu dan Juna baik-baik saja kan?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Kami baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatir."
"Lalu mengapa wajahmu murung seperti itu? Ada masalah apa?" tanya Ibu lagi.
"Aku hanya kepikiran, Bu. Apa mungkin aku tidak sehat? Apa mungkin aku sulit punya anak? Jujur aku takut jika aku tidak bisa memberikan Juna seorang anak. Aku takut mengecewakan Juna" ucapku.
"Hmm.... Atha, kau terlalu kepikiran. Itulah yang menyebabkan kau belum hamil."
"Bagaimana aku tidak kepikiran, Bu?."
"Iya, Ibu paham. Kau mau tahu sesuatu?."
"Apa?."
"Ibu dulu juga sepertimu. Butuh lima tahun setelah menikah, barulah Ibu mendapat amanah untuk mengandung."
Aku bangkit dari pangkuan ibu. Rasanya aku kaget sekali mendengar fakta itu.
"Jangan-jangan aku seperti ibu! Tidak! Tidak! Aku tidak mau. Aku ingin cepat punya anak. Aku tidak ingin menunggu lima tahun lagi untuk punya anak" ucapku panik.
"Kau pikir bisa request mau punya anak kapan? Anak adalah rezeki dari Tuhan. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan memberi rezeki itu kepada kita. Perbanyaklah berdoa dan lebih sering berusaha! Siapa tahu kau bisa hamil dalam waktu dekat" saran Ibu.
Kringgg...
Ponselku berbunyi. Aku mengambil ponselku di dalam tas. Nampak nama Juna yang terpampang di layar ponsel. Aku segera menjawab panggilan telepon dari Juna.
"Aku di rumah Ibu. Kenapa, Jun?."
"Apa?? Kamu di rumah Ibu? Mengapa tidak memberi tahuku?" terdengar nada kesal pada ucapan Juna.
"Maaf, Jun! Maaf aku tidak memberitahumu! Tiba-tiba saja aku ingin bertemu Ibu. Jadi aku langsung saja ke sini. Aku hanya sebentar kok, Jun. Setelah ini aku akan pulang."
"Tidak! Tidak! Tidak! Tetaplah di sana! Saya akan ke sana. Jam makan siang saya akan ke sana. Tunggu saya di sana saja!" perintah Juna.
"Kau mau ke sini, Jun?."
"Ya, saya ingin bertemu dengan kedua mertuaku. Saya lanjut kerja dulu. Nanti kita bertemu di sana" ucap Juna kemudian ia menutup teleponnya.
Baru saja aku mengakhiri percakapanku dengan Juna, tiba-tiba Ibu menjewerku. Aku tentu saja kaget. Ibu menatapku dengan wajah masam. Wajahnya benar-benar tidak enak dipandang.
"Jadi kau ke sini tanpa izin dari suamimu?" tanya Ibu.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Ya ampun, Athalia! Haruskah Ibu memukulmu dengan rotan? Kau ini istri macam apa? Seperti tidak pernah melihat Ibu dan Ayah saja" omel Ibu.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku memang tidak paham dengan ucapan Ibu tadi.
"Atha salah?."
"Kau masih bertanya seperti itu? Tentu saja kau salah. Harusnya kau pamit terlebih dahulu kepada suamimu. Kau berdosa jika pergi tanpa izin suami. Atha.... Atha... Ibu malu sekali kepada suamimu" omelan Ibu semakin panjang.
"Maaf, Ibu! Atha tidak akan mengulanginya lagi."
"Minta maaf pada suamimu juga dan jangan diulangi lagi! Ah, kau ini membuat Ibu malu saja. Ngomong-ngomong suamimu akan ke sini?" tanya Ibu.
Aku mengangguk.
"Yasudah tunggu apa lagi? Kita harus segera memasak. Suamimu pasti lapar."
Ibu buru-buru bangkit dari kamar tidurku. Ia langsung bergegas ke dapur, membuka kulkas untuk melihat bahan makanan apa yang bisa diolah.
Aku menawarkan Ibu untuk ke supermarket jika memang tidak ada bahan makanan. Namun, Ibu menolak. Di kulkas masih ada stok ayam dan udang. Juga beberapa sayur yang bisa diolah sehingga menurut Ibu tidak perlu berbelanja lagi.
Ibu langsung mengeksekusi bahan-bahan itu. Tak perlu diragukan lagi, Ibuku memang jago memasak. Di tangannya bahan makanan sedeharna bisa disulap menjadi makanan lezat dan mewah.
Ah, membayangkannya saja sudah membuat air liurku menetes. Aku sudah tidak sabar menunggu masakan ibu matang.
Tepat jam dua belas siang, semua masakan Ibu sudah rampung. Aku mengambil piring kecil untuk mencicipi masakan Ibu. Ah, rasanya selalu saja mantab! Aku hendak mengambil lagi. Namun, Ibu melarangku. Jika aku terus-terusan makan sekarang, Ibu khawatir nanti aku tidak akan makan bersama-sama.
Aku menurut saja. Lagi pula apa yang dikatakan Ibu memang benar. Ibu menyuruh aku untuk mandi dan bersiap-siap untuk menyambut Juna.
Aku kembali ke kamarku dan langsung mandi seperti apa yang diperintah oleh Ibu. Aku menghabiskan waktu sekitar setengah jam di kamar mandi. Setelah itu aku langsung ke luar dari kamar mandi untuk berganti baju.
"Juna?" kedua netraku membola ketika mendapati Juna di kamarku. Aku benar-benar terkejut dengan keberadaannya di sini. Kapan ia datang? Mengapa tidak ada suara yang aku dengar?
Juna bangkit dari tempat tidurku. Ia berjalan menuju pintu lalu menguncinya.
Glek.
Aku menelan salivaku. Perasaanku langsung tidak enak. Aku langsung tersadar jika saat ini aku hanya memakai handuk yang melilit di tubuhku. Mati aku! Juna pasti minta jatah.
Juna berjalan mendekatiku, perlahan dengan tatapan yang sudah berkabut. Ia memelukku dan tangan kanannya mulai bergerak nakal di aset kembarku.
"Jun, ini di rumah Mama. Aku mohon jangan mengasah keris di sini" bisikku.
Juna sepertinya tidak peduli. Ia malah membuka ikatan handukku dan menjatuhkannya ke lantai. Juna langsung meraup bibirku, melahapnha dengan kasar. Tangannya sudah tidak dapat dikondisikan lagi, bergerak ke sana-ke sini hingga akhirnya Juna merebahkanku di atas kasur.
__ADS_1
Aku melihat Juna mulai melucuti pakaiannya satu persatu. Aku menghela nafas panjang. Sepertinya Tyrex Juna tidak bisa di ajak kompromi. Ku biarkan Tyrex Juna melakukan aktifitasnya, menggempur kandangnya dengan bringas.
Entah sudah berapa kali aku mengalami pelepasan dan tyrex Juna sepertinya tidak puas-puas berpetualang di dalam kandangku.