HEI JUN

HEI JUN
132


__ADS_3

Juna dan Atha menatap kagum bangunan dua lantai di hadapan mereka. Meski pagar berwarna gold menghalangi langkah mereka untuk masuk. Namun, kedua netra mereka masih bisa melihat dengan jelas seperti apa rumah yang berdiri di hadapan mereka.


Juna buru-buru mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi M-banking untuk mengecek saldo tabungannya.


Waw, satu rupiahpun tidak terpakai! Bagaimana Juna tidak melotot pemirsah? Jika saldo tabungannya tidak berubah, lalu uang siapa yang dipakai Kiara untuk membeli rumah sebagus itu?


Apakah ini dianggap hutang? Apakah nanti Juna akan membayar dengan cara potong gaji? Ah, kepala Juna menjadi puyeng! Harusnya Juna membeli rumah sendiri tanpa bantuan Kiara. Rumah itu terlalu besar dan Juna yakin pastilah harganya mahal.


"Sampai kapan kalian di sini? Mari masuk!" seorang satpam membuka pagar rumah. Laki-laki kurus berkumis tebal itu mempersilakan Juna dan rombongannya masuk.


"Papa, ini rumah siapa? Kamu memang beli tipe begini atau ketuker sama milik orang lain?" tanya Atha, hatinya was-was melihat penampakan bangunan di depannya.


"Rumah kita. Nyonya Kiara yang memilihkan."


"Duh, Papa! Bagaimana bayarnya? Ini pasti mahal. 1 Milyar lebih" Atha semakin cemas.


"Mungkin potong gaji. Tenang saja. Uang Papa masih banyak. Mau beli dua rumah lagi cukup" ucap Juna berusaha menenangkan istrinya.


Mereka terus berjalan bergerombol. Kedua netra Juna kembali hampir lepas ketika melihat mobil pajero sport sedang nangkring di carport sebelah kanan rumah.


"Papa, itu mobil siapa? Apa Papa membeli mobil itu juga?" tanya Atha.


Juna hanya mengangkat bahu. Mereka yang awalnya hendak masuk ke dalam rumah, mengurungkan niatnya karena melihat pintu mobil terbuka.


Mereka bisa melihat sepasang kaki jenjang turun dari mobil. Seorang perempuan berpakaian press body dengan celana span hitam melambaikan tangan ke arah mereka.


"Pagi Pak Mayjunakuh! Selamat datang di rumah baru!" seru Lita sembari membuka kaca mata hitamnya.


"Rumah ini adalah rumah pilihan Lita. Memiliki empat kamar di lantai satu dan empat kamar dilantai dua. Untuk pengaturan ruangnya, Lita serahkan kepada Pak Mayjunakuh. Lita nggak boleh ikut-ikut ngatur karena Lita hanya boleh mengatur cintaku padamu" kata Lita dengan gaya centilnya.


Juna langsung menoleh ke arah Atha. Ia khawatir istrinha itu akan mengamuk kepada Lita. Juna bergerak cepat. Ia menggenggam tangan Atha lalu membisikkan sesuatu di telinga kanan istrinya.


"Jangan diambil hati! Lita memang begitu. Stress ditinggal nikah mantannya" bisik Juna ngarang.


"Pak Mayjunakuh! Ini mobil termurah yang saya beli seumur hidup saya bekerja di Sanjaya corp. Biasanya Nyonya Bos akan menyuruh saya membeli mobil sport. Tapi karena Pak Mayjunakuh yang memakai mobilnya jadi dengan sangat terpaksa Lita belikan yang ini. Murah, nggak nyampek 1 Milyar" ucap Lita sembari mengibaskan rambut panjangnya.


"1 M?."


"Nggak nyampek?."


Juna dan Atha saling pandang. Mereka sangat mendengar nominal yang disebutkan Lita dengan sangat entengnya. Juna mengusap dahinya yang berkeringat dingin. Rasanya sebentar lagi ia akan jatuh pingsan jika terus-terusan mendengar ocehan Lita.


"Kalian kenapa bengong? Ayo, masuk! Apa kalian tidak mau melihat seperti apa di dalam rumah kalian?" tanya Lita membuyarkan lamunan Atha dan Juna.


Lita kembali mengibaskan rambutnya. Ia berjalan dengan membusungkan dadanya. Atha melirik tajam ke arah Juna. Suaminya itu pasti melihat pemandangan seperti itu setiap hari.


"Kenapa cemberut begitu?" tanya Juna.

__ADS_1


"Aku sebal melihat dia" Atha tak sungkan menunjuk ke arah Lita.


"Anggap saja manequin toko. Sudah jangan diambil pusing" bujuk Juna. Ucapan Juna tadi sukses membuat Mbok De yang sedari tadi mengekori mereka, cekikikan.


Lita mengambil kunci di saku blazernya. Dengan gaya slowmotion, ia membuka pintu rumah itu lebar-lebar. Lita mempersilakan rombongan Juna untuk masuk. Betapa terkejutnya Juna ketika melihat penampakan ruang tamu rumah barunya.


"Apa-apaan ini?" teriak Atha. Ia langsung menatap tajam ke arah Lita.


"Lita, tolong jelaskan! Apa maksud kamu? Mengapa banyak foto kamu di sini? Ini rumah kamu apa rumah saya?" kali ini Juna turut serta menegur Lita.


Lita berjalan dan berdiri di hadapan foto dirinya sendiri. Foto selebar papan tulis itu menjadi background bagi Lita yang sedang berdiri, bersiap-siap untuk berpidato.


"Ini foto manusia penarik cuan. Saya sengaja memasang foto saya sendiri karena fengshuinya cocok sekali dengan rumah ini. Banyak ong. Sana ong, sini ong. Pokoknya ong" teriak Lita kegirangan.


Atha menatap tajam ke arah Juna. Merasa kesal dan marah, Atha memilih meninggalkan Juna. Ia berjalan masuk untuk melihat ruangan yang lain.


"Astagaaa.....!!!!" lagi-lagi Atha berteriak. Juna segera berlari menyusul istrinya. Kedua netranya seperti ingin copot ketika melihat penampakan dinding rumah barunya.


"Ini rumah saya apa rumah kamu? Mengapa dinding rumah ini penuh dengan foto kamu?" bentak Juna. Akhirnya setelah sekian purnama, Juna bisa membentak juga.


"Eh, Pak Mayjunakuh jangan berteriak dong! Kan sudah Lita bilang kalau foto Lita tuh bawa hoki jadi Lita penuhin deh rumah ini dengan foto Lita. Ada yang 3x4, 4x6, separuh badan, full body, pokoknya lengkap deh."


Plak!


Atha langsung menampar keras pipi kanan Lita. Ia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia pikir dia siapa sampai fotonya terpajang di seluruh penjuru rumah?


"Istri Pak Mayjunakuh menamparkuh?" ucap Lita mendramatisir.


Lita buru-buru berlari, berlindung di belakang tubuh Juna. Melihat pergerakan tangan Lita yang hendak memeluk suaminya dari belakang, Atha bergerak cepat. Ia menarik tubuh Juna, menjauhkan dari Lita dan dengan cepat Atha menjambak rambut Lita.


"Adoow...adooow...sakit...sakit...sakit...."


"Dasar perempuan gatel! Minta digaruk. Minta dijambak. Saya sudah dari tadi nahan emosi tapi malah ngelunjak" Atha semakin kuat menarik rambut Lita sampai beberapa helai ada yang terlepas.


Juna segera menarik tubuh Atha. Ia berusaha agar Atha berhenti menjambak rambut Lita. Atha yang sedang mengamuk, seperti memiliki kekuatan beratus-ratus kali lipat. Atha tidak hanya menjambak Lita. Wajah Lita tak luput dari cakaran Atha. Sepertinya besok Lita harus ke beauty clinic untuk memperbaiki tampilan wajahnya yang sudha banyak bergeser.


"Mama Juna hebat....!!!" teriak Arjuna.


Bocah laki-laki bersorak senang melihat tingkah bar-bar Mama sambungnya. Ia bertepuk tangan sembari memberi semangat kepada Athalia. Mbok De yang sadar diri segera membawa Arjuna pergi. Ia berjalan tergesa-gesa memanggil satpam untuk membantu Juna memisahkan Atha dan Lita.


"Astaga....!!! Kenapa malah gelut?" teriak Pak satpam kaget. Ia segera menarik tubuh Lita sehingga bisa lepas dari amukan Atha.


Juna segera menggendong istrinya. Ia membawa Atha masuk ke salah satu kamar di lantai bawah.


Ceklek!


Atha kembali meradang ketika melihat foto Lita kembali bertebaran di dinding kamar itu. Ia memberontak turun dari gendongan Juna dan langsung bergerak mengambil foto itu dan membuangnya sembarangan.

__ADS_1


Prang...pring...prong...suara kaca yang pecah memenuhi kamar itu. Tak kuat dengan kegaduhan yang dibuat istrinya. Juna segera berlari dan menarik tubuh istrinya.


"Berhenti! Jangan marah lagi! Kamu sedang mengandung. Papa tidak mau adek bayi stress" ucap Juna dan kalimat itu sukses membuat emosi Atha mereda.


"Kamu boleh marah, tapi jangan sampai kehilangan kontrol. Ada Arjuna, ada Mbok de, dan di sini ada adek bayi" ucap Juna lagi mencoba menenangkan istrinya.


"Aku kesal. Aku marah. Bisa-bisanya rumah baru kita penuh dengan foto dia."


"Papa paham kalau Mama marah. Papa juga marah. Tapi, jangan sampai kehilangan kontrol! Mama sedang mengandung. Calon adek bayi tidak boleh kaget dan stress. Mama sabar ya, biar Papa saja yang mengamuk" ucap Juna menawarkan diri.


Juna membawa istrinya untuk duduk di atas kasur. Ia mengusap punggung istrinya agar bisa meredakan emosinya.


Juna mengambil ponselnya. Ia menelepon Mbok De untuk membawakan air mineral untuk Atha. Untung saja mereka sempat ke minimarket untuk membeli beberap cemilan dan air mineral sehingga Juna tidak kesulitan mendapatkan pereda emosi istrinya.


"Ini minumnya, Pak" ucap Mbok De memberikan sebotol air mineral kepada Juna.


Juna menerima botol air mineral itu dan meminta Mbok De kembali keluar. Juna masih di dalam kamar, menunggui Atha sampai level emosinya sudah aman. Ia tidak tahu jika di luar Kiara dan Elang baru tiba untuk melihat rumah barunya.


"Wah, ada apa ini? Seperti ada tawuran" tanya Kiara heran.


Lita, Mbok De dan Pak Satpam tidak menyahut. Diantara mereka bertiga hanya Lita yang mengenali Kiara. Lita tidak menyahut bukannya tidak ingin melainkan ia kesulitan berbicara karena Atha tadi mencabik-cabik bibir sexy nya dengan ganas.


"Lita? Kenapa kamu seperti korban demo? Penampilan kamu kacau sekali?" tanya Kiara lagi.


"Apakah ada perampok ke sini?" Elang ikut bertanya dan Lita memberanikan diri untuk menggelengkan kepala.


"Kalian aneh! Tidak ada yang mau menjawab. Di mana Mas Juna?" tanya Kiara kesal.


"Di kamar itu, Bu" sahut Mbok De.


Kiara dan Elang langsung berjalan menuju kamar yang ditunjuk Mbok De. Mereka langsung melongo melihat penampakan kamar yang berantakan penuh dengan pecahan kaca.


"Astaga, Mas Juna!!! Ada apa ini??? Ada perampok? Maling? Apa gempa?" teriak Kiara.


Melihat kemunculan Kiara dan Elang di rumah itu tentu saja membuat Juna kaget. Ia buru-buru bangkit dan memberi hormat kepada kedua Bos nya.


"Ada apa ini Mas Juna? Kenapa berantakan sekali?" tanya Elang.


"Ehm...Ehm... Anu, Mas Elang. Anu...duh... bingung."


"Anu apa sih? Yang jelas dong Mas Juna" kata Kiara.


"Itu Nyonya, anu anu..."


"Lama kamu, Jun! Bilang aja kalau aku mengamuk karena rumah ini penuh dengan foto perempuan itu" sambar Atha kesal.


"Foto perempuan? Siapa?" tanya Kiara dan Elang.

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan foto sekretaris Anda yang keganjelan itu" ucap Atha sinis.


"APA???? LITA????" Lagi-lagi Kiara dan Elang kompak berteriak.


__ADS_2