HEI JUN

HEI JUN
101


__ADS_3

"Diandraaaa....saaayaaangggggg....."


Bukkkk


Suara teriakan Zeze langsung dibalas dengan lemparan bantal oleh Diandra. Jam sudah menunjukkan pukul malam. Juna baru saja terlelap dan Zeze dengan tidak berakhlaknya malah berteriak seperti tarzan.


"Ini bukan hutan. Juna baru saja tidur. Tidak perlu lah berteriak seperti itu" ucap Diandra dengan memberikan tatapan laser kepada Zeze.


Zeze nyengir kuda. Ia meminta maaf dan langsung memeluk Diandra. Nampak raut wajah bahagia yang ditampakkan oleh Zeze. Entah, apa yang sedang didapatkan gadis itu sehingga ia sangat girang sekali.


"Waras?" tanya Diandra.


Ia buru-buru mengurai pelukan Zeze dan pergi menjauh dari Zeze. Diandra memilih merebahkan tubuhnya di sampingnya Juna, menepuk bokong Juna dengan perlahan.


"Gue mau cerita" bisik Zeze. Ia berjalan mendekati Diandra yang sedang mengeloni anaknya.


"Cerita aja, tapi jangan berisik."


"Gue nggak jamin nggak bakalan teriak karena ini sesuatuuuuu.... banget."


Zeze hendak berteriak histeris lagi. Tapi Diandra dengan cepat menyumpal mulut Zeze dengan bantal.


"Keceplosan, Di. Maaf" ucap Zeze cengengesan.


Diandra hanya mendelik ke arah Zeze. Gadis aktif itu memang tidak pernah bisa kalem. Ngegas terus kayak motor trail.


"Apa yang bikin lu segirang ini, Ze?" tanya Diandra penasaran.


"Gue dapat job lagi. Temen gue bilang job ini dari Sanjaya corp. Keluarga mereka ada yang ingin melakukan maternity shoot" ucap Zeze kegirangan.


"Maternity shoot? Bukankah CEO nya baru saja melahirkan?" tanya Diandra heran.


"Ah, bukan! Bukan yang itu. Mungkin keluarga lainnya dan ini honornya full buat gue. Mereka bilang hasil bidikan kamera gue bagus-bagus. Makanya mau pakai jasa gue lagi. Ahhh.... Diandra! Gue jadi seneng deh..." ucap Zeze sambil bergulung-gulung di kasur.


"Apa yang membuat lu seneng? Bayarannya besar?."


"Tidak!."


"Lalu?."


"Tentu saja karena gue bisa ketemu lagi ama CEO yang dinginnya kayak kulkas itu. Ah.... Diandra! Gue jadi nggak sabar deh mau cepet-cepet besok" ucap Zeze kembali berguling-guling.


"Sepertinya lu jangan kegirangan" kata Diandra memperingatkan.


Zeze berhenti berguling-guling. Ia menatap Diandra lekat-lekat. Otaknya tidak bisa memahami ucapan Diandra yang menyuruhnya untuk tidak senang dulu.


"Kenapa?" tanya Zeze.


"Kayaknya yang bakalan melakukan maternity shoot adalah CEO yang lu omongin barusan."


"Ah, nggak lah! Dia belum nikah" ucap Zeze membantah.


"Emang lu yakin dia belum nikah? Mustahil. Secara CEO Sanjaya corp sudah melahirkan. Setahu gue Keluarga Sanjaya hanya mempunyai dua anak, laki-laki dan perempuan. Yang perempuan kan kemarin udah lahiran. So?" kata Diandra menggantung ucapannya.


Zeze mengembungkan kedua pipinya. Hatinya yang semula bahagia berubah menjadi gelisah. Bagaimana jika dugaan Diandra benar? Bagaimana jika CEO idolanya lah yang akan melakukan sesi maternity shoot.


Ah, membayangkannya saja sudah membuat Zeze sakit hati! Sepertinya Zeze ingin membatalkan pekerjaan besok karena ia takut tidak kuat iman ketika melihat idolanya bermesraan dengan istrinya.


"Kenapa melamun?" tany Diandra membuyarkan lamunan Zeze.


"Gue...gue...jadi kepikiran" ucap Zeze lesu.


"Nggak usah dipikirin. Lu hadapi aja besok. Jika memang dugaan gue benar, cepat selesaikan tugas lu dan kita segera pulang" kata Diandra memberi saran.


"Lalu kalau salah?."


"Lu samperin tuh CEO paling tampan dan rupawan. Minta kawinin sekalian" ucap Diandra dongkol. Ia lalu menarik selimut menutupi sebagian tubuhhnya dan bergabung dengan Juna , terbang ke alam mimpi.


***


Pagi hari, di apartemen Juna.


Juna baru saja selesai melakukan ritual mandinya. Ia kini berdiri di hadapan kaca, menyisir rambutnya sembari bersiul-siul. Raut wajah Juna terlihat sangat bahagia. Bibirnya tak henti menampakkan senyuman lebar yang membuatnya semakin tampan.


"Semalam Athalia hot sekali" gumam Juna. Ia tertawa sembari terus menyisir rambutnya. Tak lupa Juna mengoleskan minyak rambut agar rambutnya berkilau.


Juna kembali teringat bagaimana permainan istrinya semalam. Untuk pertama kalinya Atha memakai baju dinas kurang bahan yang membuat Juna langsung panas dingin. Atha juga memimpin permainan. Ia menjadi penunggang kuda yang lincah.

__ADS_1


Permainan Atha yang ganas tentu saja membuat Juna terkejut sekaligus membuatnya semakin menggila. Juna sampai tidak percaya jika wanita yang sedang berada di atas tubuhnya adalah Athalia, istri cantiknya yang kaku.


"Ah, jadi pengen lagi!" Juna kembali cekikikan.


Juna sepertinya ketagihan dengan permainan Atha. Ia berniat akan membelikan baju dinas yang banyak untuk Atha karena semalam Juna sudah merobek baju itu. Juna berniat akan membelikan Athalia baju dinas dengan warna-warna cerah dan motif-motif ganas.


Juna segera menutup pikiran nina ninu nya. Ia harus segera berangkat ke kantor. Juna membuka lemari bajunya, mencari dasi yang cocok untuk kemeja kantornya hari ini.


"Eh?"


Kedua netra memicing ketika melihat banyak sekalian perangkat dalam milik istrinya. Juna menepuk jidatnya. Rupanya ia salah membuka lemari. Namun, saat Juna akan menutup kembali pintu lemari Atha. Kedua netranya menangkap sesuatu yang berwarna coklat, menyelip di tumpukan baju milik istrinya.


Penasaran. Juna menarik benda itu perlahan. Sebuah amplop coklat yang lebar. Juna membuka amplop itu dengan segera. Ia khawatir jika isi dari amplop itu adalah surat hutang atau sesuatu yang berbahaya.


"Apa ini?" tanya Juna pada diri sendiri.


Ia mengambil selembar kertas di dalam amplop itu dan membacanya dengan seksama. Kedua alisnya langsung bertaut ketika membaca tulisan di kertas itu.


Juna buru-buru ke luar dari kamarnya. Ia menghampiri Atha yang sedang memasak di dapur. Rupanya istrinya itu sudah mulai menata masakannya di meja makan.


"Sayang...." panggil Juna.


Atha mendongakkan kepalanya. Terlalu sibuk di dapur membuat fokusnya hanya ke meja makan. Di lihatnya Juna yang sudah berpakain rapi. Timbul rasa bersalah dalam hatinya karena lupa menyiapkan baju untuk Juna.


"Maaf, Jun. Aku lupa menyiapkan baju untukmu. Apa kau butuh sesuatu lagi?" tanya Atha.


"Saya butuh penjelasan dari kamu."


"Penjelasan? Penjelasan tentang apa?" tanya Atha.


Juna menunjukkan amplop coklat yang tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Amplop coklat yang ia temukan di lemari istrinya.


"Kau? Kau menemukannya?" tanya Atha panik. Tubuhnya langsung gemetar melihat Juna yang memegang amplop coklat, hasil pemeriksaan kesuburan Athalia di rumah sakit.


"Kemarilah!."


Atha menunduk. Ia berjalan perlahan mendekati Juna. Atha yakin Juna akan marah kepadanya. Juna pasri kecewa karena dirinya melakukan tes tanpa seizinnya.


"Apa yang kau khawatirkan, sayang?" ucap Juna. Ia langsung memeluk Atha dengan erat.


Juna menggelengkan kepala. Di usapnya rambut panjang Athalia dengan sayang. Juna semakin mengeratkan pelukannya, memberikan kecupan di dahi istrinya.


"Saya sudah bilang. Tidak usah memikirkan itu. Kita sama-sama sehat. Cepat atau lambat, jika sudah rezekinya. Kita akan mempunya anak yang banyak" hibur Juna.


"Bagaimana bisa se yakin itu, Jun? Aku saja tidak yakin akan hal itu."


"Karena bokongmu panas" sahut Juna santai.


Atha melerai pelukannya. Ia merasa heran dengan jawaban suaminya.


"Maksudmu?."


"Kata Emak, ciri-ciri wanita subur dan banyak anak adalah bokongnya panas saat bangkit dari tempat duduk."


Plak


Atha memukul bahu Juna. Bisa-bisanya suaminya itu meyakini sesuatu yang tidak bisa di nalar?


"Hei, mengapa memukulku?."


"Ucapanmu ngelantur, Jun."


"Tapi Emak memang berkata seperti itu."


"Artinya kau mengatakan jika bokongku panas, Jun?" ucap Atha sebal.


Atha menarik kursi dan langsung duduk. Ia memasang wajah cemberut di hadapan Juna yang sudah mengatai jika bokongnya panas.


"Kau marah?" tanya Juna.


Atha membuang muka. Ia tidak menjawab pertanyaan Juna.


"Kenapa marah? Saya kan berkata jujur" kata Juna lalu menarik kursi di sebelah Atha.


Atha semakin kesal saja. Ia ingin sekali menggigit dahi Juna agar peka. Sudah tahu wajah Atha cemberut seperti ini, masih saja bertanya marah apa tidak.


"Jun..." panggil Atha.

__ADS_1


"Hem..."


"Andai aku tidak bisa memberikanmu keturunan. Apa kau akan..."


"Hentikan! Sudah saya katakan jika bokongmu panas. Artinya cepat atau lambat kita akan mendapatkan keturunan."


"Aku hanya ingin bertanya, Jun. Seandainya..."


"Saya tidak suka seandainya. Lebih baik nikmati saja hidup kita sekarang" potong Juna lagi.


Juna menyodorkan piringnya. Ia meminta Atha untuk mengisi piring itu dengan makanan yang sudah di masak oleh Atha.


"Jun...."


"Iya, sayang. Mau tanya seandainya lagi?" tanya Juna.


Atha mengangguk lalu menggeleng, persis seperti ABG labil yang disuruh memilih mau membeli cilok atau seblak.


"Aku sebenarnya tidak ingin merusak harimu, Jun. Apalagi masih pagi. Tapi, beberapa hari ini aku sangat kepikiran...."


"Bertanyalah! Saya akan menjawab" lagi-lagi Juna memotong pembicaraan Atha.


"Jun, maaf! Apa kau masih takut dengan perempuan itu?" tanya Atha hati-hati.


Juna mengernyitkan dahi. Ia belum paham dengan pertanyaan istrinya.


"Perempuan? Perempuan yanga mana?."


Atha diam sejenak. Ia menarik nafas panjang untuk meyakinkan dirinya agar melanjutkan ucapannya.


"Perempuan dari masa lalumu. Perempuan yang menyebabkan kamu trauma. Perempuan yang...


Brak.


Atha tersentak kaget ketika Juna tiba-tiba memukul meja. Wajah Atha langsung pucat pasi.


"Juna...kamu marah?" tanya Atha takut.


"Tidak! Tidak! Tadi saya tidak sengaja memukul meja. Entah, tangan ini rasanya ingin memukul sesuatu ketika saya mendengar pertanyaan kamu" ucap Juna.


"Maaf, Jun. Pertanyaanku membuatmu kembali tidak nyaman."


"Sayang, berhenti meminta maaf. Kamu tidak bersalah. Tentang pertanyaanmu, jujur masih ada sedikit ketakutan dalam diri saya. Tapi saya yakin seiring berjalannya waktu saya bisa kuat berhadapan dengan dia...."


"Kau siap bertemu dengannya?" kali ini Atha yang memotong ucapan Juna.


"Sayang, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Siap tidak siap, jika waktunya saya bertemu dengan Diandra. Saya harus siap."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengan Diandra, Jun?" tanya Atha cemas.


"Saya akan diam saja. Lagipula Diandra tidak akan mengenali saya. Sudahlah! Ayo, kita makan saja" ajak Juna lalu ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Jun..."


"Hem...."


"Andai dari kejadian waktu itu, lahir seorang anak. Apa yang akan kamu lakukan?"


Byuuurrrr


Pertanyaan Atha kembali mengagetkan Juna yang sedang meneguk air putih.


"Maaf, Jun!" teriak Atha.


Juna menggeleng, memberi kode agar Atha tetap tenang. Sebenarnya Juna sangat kaget dengan pertanyaan Atha. Angin apa yang merasuki istrinya itu sehingga bisa bertanya seperti itu.


"Sayang, maaf saya akan bercerita sesuatu yang membuatmu sakit. Tapi ini harus saya ceritakan agar kamu tidak sedih. Saat kami selesai melakukan itu, saya sempat bertanya bagaimana jika nanti Diandra hamil. Diandra dengan santainya berkata jika dirinya tidak mungkin hamil karena ia melakukan suntik pencegah kehamilan. Jadi, sayang sudah ya jangan berfikiran macam-macam" bujuk Juna.


Atha diam. Ia sepertinya tidak mempercayai apa yang dikatakan Juna. Bisa jadi Diandra saat itu berbohong karena fakta yang dilihat Atha sekarang adalah Diandra memiliki anak laki-laki bernama Juna.


"Andai, Jun! Andai! Jika memang lahir seorang anak hasil perbuatan kalian dulu. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Atha, rupanya ia belum puas bertanya Juna.


"Jika Diandra merawatnya dengan baik, maka saya akan membiarkan anak itu di rawat oleh ibunya. Tapi jika Diandra menelantarkan anak itu, saya akan mengambil anak itu. Kita rawat bersama."


"Kamu tidak ingin menikahi Diandra, Jun?."


"Menikahinya? Untuk apa? Saya sudah punya kamu. Tidak ada niat untuk nambah lagi. Meskipun seandainya memang ada anak hasil perbuatan di masa lalu. Cukuplah saya sebagai ayah dari anak itu, bukan suami dari ibunya" ucap Juna menutup percakapan pagi ini dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2