HEI JUN

HEI JUN
34


__ADS_3

Jakarta, Sanjaya.corp


Juna menatap kagum gedung yang berdiri tegak di hadapannya. Ia tak mampu berkata-kata ketika kedua netranya bisa melihat bangunan yang tidak pernah ada di kampungnya. Dalam hati Juna bertanya-tanya. Apa sih bangunan itu? Hotelkah? Mall? Atau apa? Entah Juna pun tidak dapat menjawabnya.


Selama ini Juna hanya tahu gedung bertingkat itu berupa hotel atau mall. Itupun tidak setinggi bangunan di hadapannya ini. Juna lalu berfikir. Jika itu hotel, pasti biaya sewa kamarnya mahal. Jika itu mall, tidak mungkin. Karena Juna tidak melihat stand-stand makanan cepat saji di depan melainkan orang-orang berpakaian rapi yang berjalan kesana-kesini dengan membawa setumpuk berkas di tangannya.


Arrrgggg...!!! Baru saja di depan gedungnya saja sudah membuat Juna pusing. Bagaimana nanti jika Edward membawanya masuk? Juna harus menyetok banyak obat pereda sakit kepala karena Juna yakin ia akan sering mengalami migrain.


"Mas Juna, jangan diam saja! Mari masuk!" ajak Edward sopan. Ia sedari tadi memperhatikan diamnya Juna. Edward membiarkannya karena dia pikir Juna sedang mengumpulkan rohnya akibat mabuk saat naik helikopter tadi.


"Pak Edward, kita di mana?" tanya Juna.


"Kita di Sanjaya.corp. Perusahaan milik keluarga Sanjaya."


"Perusahaan?" tanya Juna lagi.


"Iya, Mas Juna. Ini perusahaan milik orang tua Mr. Adira."


"Bukan hotel, Pak?."


"Bukan, Mas Juna. Memangnya Mas Juna tidak tahu perbedaan perusahaan dengan hotel?" tanya Edward. Ia merasa lucu sekali dengan tingkah Juna yang seperti itu.


"Saya baru lihat gedung model begini, Pak. Di kampung saya tidak ada. Makanya saya pikir ini hotel" jawab Juna jujur.


Edward tersenyum simpul. Ia segera mengajak Juna masuk. Edward memang tidak langsung mengirim Juna ke New York seperti perintah Dira karena menurutnya Juna perlu ditraining dulu beberapa bulan di Jakarta. Edward tahu jika Juna tidak memiliki kemampuan dasar dalam memegang perusahaan. Oleh sebab itu, ia berani mengambil keputusan ini meskipun Dira belum mengetahui hal itu.


"Pak Edward, kalau bekerja di sini gajinya berapa ya?" tanya Juna yang lagi-lagi membuat Edward tersenyum simpul.


"Tergantung, Mas Juna. Beda jabatan, beda gaji."


Juna manggut-manggut. Ia kemudian melihat beberapa orang OB yang mengepel lantai. Hatinya kembali tergelitik untuk bertanya. Syukur-syukur ia bisa bekerja seperti mereka.


"Kalau jadi tukang ngepel gajinya sampai satu juta?" tanya Juna lagi.


"Bukan hanya sampai, Mas Juna. Tapi tembus jauh dari satu juta" kata Edward lagi-lagi ia harus menahan senyum.


"APA????!!!" Juna langsung terbelalak mendengar jawaban Edward.


Ponsel Edward berbunyi.


"Mas Juna, tunggu sebentar di sini. Saya mau menjawab telpon dari Tuan Dira terlebih dahulu" kata Edward seraya menyuruh Juna untuk duduk di sofa.


Juna mengangguk. Ia membiarkan Edward untuk menjawab telpon dari Dira. Juna menunggu Edward sembari membaca koran dan majalah-majalah yang tersedia di meja. Sesekali Juna memperhatikan orang yang lalu lalang di hadapannya.


Satu jam berlalu, Juna sadar jika Edward sudah menghilang dari pandangannya. Juna menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Edward di antara orang-orang yang melintas di hadapannya.


"Haus" gumam Juna.


Juna berniat keluar dari tempat itu untuk sekedar membeli es teh atau es jeruk. Namun, ia sadar jika dirinya tidak tahu sedang berada di mana. Juna takut kesasar sekaligus khawatir jika ia tidak dapat berkomunikasi dengan baik.


"Per... per... misi" Juna mendekati OB yang sedang mengepel.


OB itu langsung menghentikan pergerakan tangannya setelah mendapat tepukan di bahunya.


"Maaf, Mas, bisa berbahasa Indonesia?" tanya Juna ragu.


OB itu mengernyitkan dahi. Pasalnya ia heran dengan pertanyaan Juna. Ini kan di Jakarta, wajah OB itu juga jelas-jelas produk lokal. Mengapa Juna masih bertanya seperti itu?


"Oh, maaf, mungkin Mas tidak mengerti" kata Juna lagi. Ia hendak pergi meninggalkan OB itu. Tetapi dengan cepat, OB itu menarik tangan Juna sehingga ia tidak jadi melangkah.


"Mas, saya orang Indonesia. Tentu saja bisa. Mas ada perlu apa? Mau cari siapa?" tanya OB itu membuat Juna berdecak kagum.


"Oh, saya haus. Saya mau bertanya di mana ya kalau mau membeli es teh atau es jeruk?."


OB itu memindai penampilan Juna. Juna yang saat itu masih memakai seragam kurirnya tentu saja membuat OB itu heran.

__ADS_1


"Mas ini orang baru ya?" tanya OB itu.


"Iya, Mas."


"Mengantar paket punya karyawan sini?."


"Bukan, Mas. Tadi saya datang bersama Pak Edward. Lalu Pak Edward dapat telepon dari Mr. Adira. Saya disuruh menunggu disini."


OB itu langsung membola mendengar dua nama yang disebutkan Juna. Ia langsung menduga jika Juna adalah tamu penting dari bos nya. Namun, OB itu juga ragu. Masak iya bos nya itu memiliki tamu seorang kurir paket?


"Mas duduk saja di sini, biar saya buatkan es teh dulu di pantry."


"Pantry? Apa itu, Mas?" tanya Juna.


"Dapur, Mas, Dapur."


"Eh, tidak usah Mas. Saya bisa buat sendiri. Mas, tinggal tunjukkan saja di mana saya bisa membuat es teh" tolak Juna halus.


OB itu lalu mengantar Juna ke pantry. Ia memberi tahu letak alat dan bahan yang dibutuhkan Juna untuk membuat es teh. Melihat Juna yang sepertinya sudah lihai membuat teh, OB itu pamit. Ia harus menyelesaikan tugasnya sebelum kena tegur oleh atasannya.


Ceklek....


"Hei, kamu siapa?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk ke dalam pantry. Juna yang saat itu baru saja menghabiskan segelas es tehnya tentu saja kaget.


"Saya Juna, Pak."


"Dari divisi?."


"Divisi? Apa itu, Pak?."


"Loh? Kamu ini kerja di bagian apa?" tanya orang itu heran.


"Saya bukan karyawan di sini, Pak. Tapi calon" jawab Juna ngasal.


"Calon? Ah iya kebetulan saya adalah kepala HRD di sini. Kamu pasti orang yang akan melamar menjadi OB kan?" tanya orang itu.


***


Esoknya, Dira dan Edward baru saja selesai meeting dengan klien yang berasal dari negeri singa. Meeting yang baru bisa rampung menjelang tengah hari membuat Dira benar-benar kehausan. Ia menyuruh Edward untuk membeli es cendol secara online. Karena di depan kantor tidak ada penjual es cendol yang bisa ia beli.


Entah mengapa Dira seperti orang ngidam. Bayangan es cendol sejak tadi sudah menari-nari di kedua pelupuk matanya. Edward yang paham jika bos nya itu tidak sabaran, langsung saja memesan es cendol secara online.


"Mr. Adira, es cendol akan ready dalam waktu lima belas menit" kata Edward.


"Aku sudah haus, Ed. Apa tidak bisa dipercepat menjadi lima detik."


"Maaf, Tuan. Jalanan Jakarta sedang macet. Jadi mohon bersabar sebentar" bujuk Edward.


Dira mengangguk. Ia memilih membaca berkas-berkas yang sudah menumpuk di mejanya sembari menunggu pesanannya datang.


Lima belas menit berlalu. Pintu ruangan Dira di ketuk. Edward langsung menyuruh masuk tanpa melihat siapakah yang datang. Pasalnya baik dira maupun Edward sedang sibuk membaca berkas-berkas sehingga mereka tidak tahu siapakah yang masuk ke ruangan Dira.


"Ini es cendolnya" Juna meletakkan segelas es cendol di meja kerja Dira.


Mendengar suara Juna yang sepertinya tidak asing, Dira dan Edward kompak mengangkat kepalanya. Dira mengernyitkan dahi sedangkan Edward terdiam seakan-akan ada yang salah dengan sosok yang mengantarkan es cendol pesanan Dira.


"Hei, kau! OB baru?" tanya Dira, dalam hatinya ia merasa kenal dengan pengantar es cendol itu. Namun, otaknya tidak dapat memunculkan sebuah nama sehingga Dira tidak mengenal siapa OB itu.


"Sepertinya pernah lihat. Kamu bukan saingan saya yang menyusup jadi OB kan?" tanya Dira lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Juna.


Dira bangkit. Ia berjalan menghampiri Juna, mengamati wajahnya dengan detail. Dira merasa dejavu, sepertinya ia pernah melakukan hal ini juga. Tapi kapan ya? Entahlah Dira juga lupa.


Ketika Dira sedang berfikir tentang sosok yang berada di hadapannya, Edward tiba-tiba berteriak. Ia langsung berlari menghampiri Juna, membungkukkan badan sembari mengucapkan kata maaf berkali-kali.


"Ada apa, Ed?" tanya Dira heran.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Ini Mas Juna."


"Juna? Juna siapa?" tanya Dira. Ia benar-benar lupa jika sudah membawa Juna dari Pare dengan paksa.


"Mas Juna, orang yang memberi info tentang penculikan Nona Kiara. Kemarin saya membawanya ke sini, Tuan."


"APA?!!! Edward, bagaimana bisa kau belum mengirimnya ke New York? Kau bahkan menjadikannya OB."


Plak...


Plak...


Plak...


Dira memukul bahu Edward berkali-kali. Ia kembali dibuat malu di hadapan Juna oleh Edward.


"Maaf, Tuan. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa Mas Juna menjadi OB disini."


"APA?!!! Bagaimana bisa kamu tidak tahu? Bukankah kamu yang membawanya kemarin?."


"Benar, Tuan. Tapi...." Edward mematung ia menyadari letak kesalahannya sehingga Juna bisa menjadi OB seperti itu.


Kemarin saat Edward ingin membawa Juna ke ruangan Dira. Dira menelpon dan menyuruh Edward untuk meeting. Tugas Edward yang tidak kunjung selesai membuatnya lupa jika tadi ia membawa Juna dan meninggalkannya di lobby.


Edward menelan ludah. Ia pasti akan diamuk oleh Dira lagi. Edward harus bersiap-siap jika Dira akan memotong gajinya akibat kelalaiannya itu.


"Tapi apa hah?!."


Edward menunduk.


"Ckckckck, Edward.... Edward... Sepertinya kamu sudah siap untuk pensiun dini. Bagaimana bisa kamu menelantarkan Juna? Seharusnya kamu langsung paketkan saja dia ke New York. Mengapa masih mampir ke Jakarta sih?" omel Dira.


"Jakarta?" tanya Juna kaget.


"Iya, Jakarta. Kenapa?" tanya Dira ketus.


"Oh, Maaf. Saya pikir ini sudah di New York. Pantes dari kemarin saya bertemu dengan orang-orang yang fasih berbahasa Indonesia" sahut Juna jujur.


Dira menepuk wajahnya. Lagi-lagi Dira dibuat naik darah dengan tingkah Juna. Dira harus menyetok stok sabar yang banyak selama Juna belum ia kirim ke New York.


"Kamu masak tidak bisa membedakan sih hawa Indonesia dengan hawa luar negeri? Juna... Juna... Hilang kosa kata dalam kamus otakku untukmu" kata Dira kesal.


Juna menunduk.


"Maaf, Tuan. Saya memang tidak tahu apa-apa" kata Juna lirih.


"Ah... sudahlah, Mas Juna. Ngomong-ngomong Mas Juna semalem tidur di mana? Mas Juna kan dari kemarin sudah ada di sini?" tanya Dira.


"Di kosan, Tuan Dira. Kemaren ada salah satu OB yang mengajak saya menginap di kosan perusahaan."


"Kosan?" Dira dan Edward saling menatap heran.


"Mungkin maksudnya mess karyawan, Tuan" jawab Edward.


"APA???!!!" Dira kembali murka.


Dira menarik nafas dalam-dalam. Ia kembali ke kursi kebesarannya dan langsung meneguk es cendolnya sampai tandas. Setelah tenang, Dira kembali bangkit menghampiri Juna. Tak lupa, ia memukul Edward sebagai pelampiasan rasa kesalnya.


"Mas Juna, kamu di bawa ke sini bukan untuk menjadi OB. Saya sebagai CEO paling tampan dan rupawan di alam semesta, CEO terbaik sejagat raya tidak mungkin menjadikan orang yang sudah menolong keluarga saya sebagai OB."


"Tidak apa-apa, Tuan Dira. Saya senang kerja seperti ini...."


"Tidak...! Tidak...! Tidak...! Tidak ada di dalam kamus saya, orang yang menolong keluarga saya diangkat menjadi OB, minimal saya angkat menjadi manager atau direktur."


"Tapi, Tuan...."

__ADS_1


"Tidak ada tapi. Edward, bawa Juna pergi. Belikan baju, sepatu dan lainnya! Jangan lupa make over dia! Bawa dia ke apartemen saya yang kosong. Besok baru bawa dia kesini lagi" perintah Dira yang dijawab Edward dengan anggukan kepala.


__ADS_2