HEI JUN

HEI JUN
127


__ADS_3

Dua hari kemudian


Arya kembali mendatangi kantor Sanjaya corp di Jakarta. Ia memenuhi undangan Juna melalui seseorang yang mengaku resepsionis di perusahaan itu. Sebenarnya Arya ingin segera berangkat. Namun, karena ada masalah di hotel yang ia kelola sehingga membuatnya harus menunda keberangkatan ke Jakarta.


Arya baru bisa menemui Juna sekarang. Sudah dua puluh menit, Arya duduk seorang diri di ruang kerja Juna. Juna sedang meeting, sekretarisnya meminta Arya untuk menunggu sejenak. Arya yang memang tidak sedang sibuk, mau-mau saja menunggu Juna. Apalagi banyak makanan enak yang disuguhkan sehingga Arya semakin betah berada di ruang kerja Juna.


"Pak, tamu Anda sudah menunggu" ucap Sekretaris Juna ketika Juna hendak masuk ke ruangannya.


Juna hanya mengangguk. Ia langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya.


Arya langsung bangkit ketika melihat kedatangan Juna. Padahal ia sedang asyik menikmati kue chiffon yang dihidangkan oleh sekretaris Juna. Arya harus merelakan potongan kue chiffon yang tinggal sesuap itu guna membicarakan hal serius dengan Juna. Tak apalah, Arya akan minta kue itu dibungkus. Kue enak, tidak boelh dianggurin.


"Silakan duduk, Pak! Maaf membuat Anda lama menunggu" kata Juna kemudian ia menjabat tangan Arya.


Arya menelan ludah. Ia memindah penampilan Juna dari atas ke bawah. Sungguh, Arya ingin menyangkal jika orang di hadapannya adalah Juna, guru olahraga yang miskin yang pernah is jebloskan ke penjara.


"Kenapa melihat saya seperti itu?" tanya Juna heran.


"Eh?" Arya gelagapan ketika ketahuan sedang memperhatikan Juna. Ia buru-buru meneguk air putih di hadapannya, mencoba menenangkan hatinya yang kaget.


"Kenapa Pak Arya?" tanya Juna.


"Eh, saya hanya heran saja. Apakah benar jika Anda adakah orang yang pernah tidur dengan Diandra, istri saya?" tanya Arya ceplas dan ceplos.


"Kenapa Anda bertanya seperti itu?."


"Karena Anda jauh berbeda baik dari segi wajah, penampilan dan dompet."


Sungguh Arya benar-benar jujur saat ini. Ucapan Arya tadi membuat Juna tersenyum. Untung Juna bukan Dira. Jika Dira yang dipuji seperti itu, pastilah Dira akan terbang tinggi ke langit ketujuh.


Juna mengambil dompet di saku celananya. Ia mengambil dua buah KTP di dalam dompet miliknya. Juna menyodorkan KTP itu kepada Arya. Dengan tangan gemetar, Arya menerima KTP yang disodorkan Juna.


"Hah?" seru Arya.


Kedua netranya membola melihat kedua KTP itu. Hanya nama, foto dan alamat yang berubah.


"Kenapa?."


"Mengapa bisa?" tanya Arya.

__ADS_1


"Apanya?" Juna bertanya balik.


"Bagaimana bisa kau berganti nama dan wajah? Apakah kau operasi plastik?" tanya Arya heran.


"Tidak! Ini asli dari pabrik. Wajahku berubah sejak aku berada di Barcelona, Spanyol."


"Bar...Bar...Barcelona?" tanya Arya tak percaya.


Juna kembali mengambil dompetnya. Melihat wajah Arya yang pucat pasi seperti itu membuatnya tidak ingin melanjutkan bercerita. Biarlah Arya hanya tahu secukupnya. Juna takut Arya semakin belingsatan jika mengetahui kisah Juna selengkapnya.


"Ngomong-ngomong ada perlu apa kamu mencari saya?" tanya Juna.


Arya menepuk dahinya. Ia sampai lupa maksud dan tujuannya mencari Juna. Arya berdehem sebanyak tiga kali untuk memulai pembicaraan.


"Saya sudah rujuk dengan Diandra" kata Arya memulai pembicaraan.


"Lalu?."


"Diandra memiliki anak hasil hubungan panas dengamu."


Juna menelan ludah. Pikirannya langsung mengarah pada anak laki-laki yang pernah digendongnya saat pemotretan bersama Kiara dan Dira. Saat itu Juna bahkan berdoa agar anak itu bukan darah dagingnya karena ia tidak ingin terlibat lagi dengan Diandra.


"Tentu saja! Diandra hanya melakukan itu denganmu bahkan kau lah yang mengambil mahkotanya. Apa kau lupa jika Diandra memanggilku lelaki impoten karena adik kecilku yang tidak bisa berdiri tegak?" tanya Arya kesal.


Juna menahan tawanya. Sungguh ia ingin sekali tertawa mendengar ucapan Arya. Menurut Juna, Arya tak perlu menjelaskan secara detail. Itu akan membuat Juna semakin ingin tertawa saja.


"Lalu apa maumu sekarang?" tanya Juna.


"Aku mau hak asuh anak itu jatuh ke tanganmu. Aku ingin Diandra melupakan masa lalunya, yaitu kamu dan anak itu. Aku hanya ingin Diandra membuka lembaran baru denganku dan calon anak-anak kami" ucap Arya berapi-api.


Juna ingin sekali bertepuk tangan mendengar ucapan Arya. Rasanya Arya semakin bijak. Juna pun sempat tidak percaya jika orang yang sedang berbicara di hadapannya adalah orang yang pernah menjebloskan dirinya ke penjara.


Waktu, memang telah mengubah semuanya. Juna, Arya, dan Diandra. Juna berharap masa lalu mereka tidak akan merusak masa depan. Juna pun ingin menjaga hubungan baik dengan Arya.


"Di mana anak itu?" tanya Juna.


"Dia ada di Bali. Teman Diandra yang mengasuhnya."


"Ba... Ba... Bali? Bagaimana bisa anak itu nyasar ke sana?" tanya Juna kaget.

__ADS_1


"Bukan nyasar tapi memang selama ini Diandra menetap di Bali. Tapi tenang saja. Setelah kau mengambil hak asuh anak itu, Diandra akan ku bawa kembali ke Desa Papaten. Kami akan tinggal di sana membina rumah tangga yang harmonis dan penuh cinta."


Aduh... Hati Juna malah meleleh. Mendengar ucapan Arya membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan menggarap istrinya. Seketika Juna sadar jika Atha harus tahu keberadaan anak itu. Ia bertekad akan menjemput anak itu bersama Atha.


"Eh, Pak Juna ada masalah lagi" ucap Arya malu-malu.


"Apa?."


"Bisakah perusahaan Bapak bekerja sama dengan perusahaan saya? Hotel yang saya kelola butuh suntikan dana" ucap Arya lagi.


Juna tertawa. Melihat wajah Arya yang malu-malu kucing membuatnya ingin melempari Arya dengan asbak. Bisa-bisanya Arya menyelipkan masalah bisnis diantara pembicaraan mereka.


Juna tidak berjanji. Ia hanya mengatakan akan membahas hal itu dengan Kiara. Bagaimanapun Sanjaya corp bukan milik Juna. Juna hanha karyawan sehingga dirinya tidak bisa langsung mengiyakan permintaan Arya.


***


Atha menerima amplop berwarna cokelat yang baru saja di antarkan oleh kurir. Ia melirik jam dinding untuk memastikan jika jam pulang kerja masih lama.


Atha buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu kamarnha. Atha tidak mau orang tuanya tahu tentang amplop itu. Ia tidak mau membuat gaduh di tengah suasana suka cita yang baru saja tercipta.


"Apapun hasilnya, aku harus kuat" ucap Atha sembari menarik nafas panjang.


Atha mengambil gunting dan memotong pinggiran amplop itu. Ia mengambil isi dari amplop itu dan mengeluarkan dengan perlahan. Atha membaca dengan seksama. Ia nyaris oleng ketika membaca hasil tes DNA Juna dan Arjuna.


"Positif. Anak itu anak Mas Juna" gumam Atha lirih. Seketika air matanya jatuh.


"Anak itu anak Mas Juna. Dia anak Mas Juna" kata Atha mengulangi ucapan pertamanya.


Atha meluruhkan tubuhnya ke lantai. Ia mengusap perutnya yang masih rata.


"Apa aku harus jujur pada Juna? Apa aku harus menerima anak itu?" tanya Atha lagi.


"Bagaimana dengan nasib anak ini? Apakah Juna akan menyayanginya?" tanya Atha sembari mengusap pelan perutnya.


"Bolehkah aku egois? Bolehkah aku egois? Aku tidak ingin Juna kembali pada masa lalunya. Aku tidak ingin Juna mengetahui tentang anaknya" ucap Atha dan tangisnya semakin menjadi-jadi.


Atha memasukkan kembali hasil tes DNA itu ke dalam amplop. Ia menyimpan amplop itu di bawah kasurnya.


"Aku ingin berbohong padamu, Mas. Aku tidak mau kau tahu tentang anakmu" ucap Atha sembari naik ke atas kasur. Ia menarik sprei hingga menutupi wajahnya. Mungkin karena kesal, Atha meremas seprei yang menutupi wajahnya. Ia tidak mau ada orang yang mendengar tangisnya.

__ADS_1


"Aku ingin egois dulu. Entah besok atau lusa, egoku hilang. Aku pun tak tahu" gumam Atha dan tanpa sadar ia tertidur dalam tangisnya.


__ADS_2