HEI JUN

HEI JUN
29


__ADS_3

"Dasar anak tidak tahu diri! Kau sudah membuat malu ayah!" teriak Pak Narto.


Plak...


Pak Narto langsung menampar Diandra dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur. Pak Narto benar-benar dibuat naik darah ketika Arya, menantunya itu datang ke rumah Pak Narto dengan membawa foto-foto dan video panas Diandra. Pak Narto benar-benar hampir jantungan melihat anak perempuannya sedang asyik berbagi peluh dengan pria miskin yang dibencinya. Ia tidak menyangka jika Diandra bisa berbuat sehina itu.


Malu, Pak Narto benar-benar malu. Status Pak Narto sebagai orang terpandang di desanya. Juragan tembakau paling sukses dan terhormat, kini harus menanggung malu akibat ulah anaknya sendiri. Mau ditaruk dimana muka Pak Narto. Telinganya sejak tadi berdengung, entah mungkin saja saat ini keluarganya sedang menjadi bahan gibah seantero kampung.


"Kalau saja menantu pilihan ayah itu tidak impoten, aku tidak mungkin berbuat begitu."


Plak...


Lagi-lagi Pak Narto mendaratkan tamparan di wajah anaknya.


"Apa kau sudah kehilangan akal, Dian? Arya impoten bisa saja kau obati. Bawa dia ke tukang pijat. Beli obat secara online juga bisa. Kau benar-benar bodoh! Bisa-bisanya kau malah tidur dengan Juna?."


"Setidaknya Juna bisa memberiku nafkah batin, Ayah. Tidak seperti menantu Ayah. Impoten."


Plak


Plak


Plak


Pak Narto menampar Diandra berkali-kali. Kali ini tamparannya lebih keras dari semula.


"Bunuh saja Dian sekalian,yah!" tantang Diandra membuat Pak Narto menghentikan gerakan tangannya.


"Asal Ayah tahu! Dian tidak pernah mencintai Arya. Ayah selalu memaksa Dian. Andai saja Dian bisa memilih. Dian akan tetap bersama Juna daripada harus hidup bersama laki-laki impoten itu."


"Cukup, Dian! Cukup! Kamu benar-benar sudah tidak waras."


"Ya, aku memang tidak waras dan itu semua karena ulah ayah. Ayah mengorbankan kebahagianku demi harta. Ayah mengorbankan aku demi obsesi ayah."


"Diam, kau!!! Apa kau mau kita hidup melarat, hah? Kalau bukan karena keluarga Arya, bisnis tembakau ayah sudah gulung tikar. Lihat para petani yang lain, mereka merugi. Hanya ayah yang masih bertahan dan itu berkat bantuan mertuamu."


"Kenapa harus Dian yang ayah korbankan? Ayah menukar kebahagian Dian dengan kekayaan ini. Kenapa tidak anak haram itu saja yang ayah korbankan?."


Plak...


"Jaga ucapanmu, Diandra! Dia adikmu, bukan anak haram" Pak Narto kembali murka dengan Diandra. Rasanya sudah tak terhitung berapa kali tangan kasarnya menampar Diandra.


"Dian tidak sudi. Sampai kapanpun Dian tidak akan mengakuinya adik."


Pak Narto hendak menampar Diandra lagi. Namun, tangannya urung melayang karena Pak Narto melihat seorang laki-laki berjalan menuju rumahnya.


Pak Narto bergegas keluar, mengacuhkan Diandra yang masih tersungkur di lantai. Pak Narto langsung panik ketika melihat sosok yang datang ke rumahnya.


"Saya suruhan Pak Arya" kata orang itu.

__ADS_1


Pak Narto mengangguk. Ia sebenarnya sudah tahu jika orang tersebut adalah anak buah menantunya. Terlihat dari seragam biru merah yang dipakai orang itu yang bertuliskan TOKO MAJU JAYA, yang merupakan toko plastik terbesar di kabupaten itu.


"Saya diminta mengantarkan ini, Pak" kata orang itu lagi. Ia menyodorkan amplop coklat kepada Pak Narto.


Pak Narto menerima amplop itu dengan was-was. Ia segera membuka amplop itu dan...


tasss.....


Kertas yang semula dipegang Pak Narto jatuh ke lantai. Pak Narto mematung dengan wajah yang merah padam. Ia memberi kode kepada orang suruhan Arya untuk pulang dan tentu saja orang itu langsung angkat kaki dari kediaman Pak Narto.


Pak Narto masuk ke dalam. Ia menarik tubuh Diandra agar bangkit dan langsung menjambak rambut Diandra dengan kasar.


"Lihat ulahmu, Dian! Arya melayangkan gugatan cerai! Talak tiga! Kamu senang sudah membuat ayah malu. Senang kau hah?" Pak Narto mengamuk.


"Ayah tidak mau tahu. Kau harus menemui Arya. Minta maaf padanya. Kalau perlu cium kedua kakinya karena Ayah tidak mau jatuh miskin."


Brukk


Diandra menghempaskan tangan Pak Narto dan mendorongnya ke lantai.


"Diandra tidak mau, Ayah! Dian tidak sudi! Kalau ayah tidak ingin miskin, nikahkan anak haram itu dengan Arya. Jangan Diandra!."


Pak Narto bangkit. Ia segera mencekal leher Diandra dan mendorong tubuhnya hingga menempel di dinding.


"Kau sudah berani melawan, hah! Dasar anak tidak tahu balas budi! Anak kurang ajar!."


"Turuti perintah Ayah. Jika tidak, ayah akan mencoretmu dari kartu keluarga. Ayah tidak akan menganggapmu sebagai anak" teriak Pak Narto. Ia melepaskan cekalan tangannya pada leher Diandra.


"Diandra tidak peduli. Ayah menganggapku anak atau tidak. Dian akan pergi jika ayah bersikeras untuk meminta Dian meminta maaf pada Arya."


Diandra segera berlari menuju kamarnya. Ia mengampil koper dan segera mengepak semua barang-barangnya. Tekad Diandra sudah bulat. Ia tidak ingin tinggal bersama Ayahnya lagi. Diandra ingin pergi.


Diandra bukan orang bodoh yang tidak memperhitungkan segala sesuatu yang mungkin terjadi. Sebelum dia melakukan skandal dengan Juna, Diandra sudah menguras banyak uang Arya. Ia membeli banyak perhiasan, membeli sebuah ruko dan rumah di pulau Bali. Dengan modal amunisi yang cukup, sepertinya Diandra tidak perlu pusing jika harus keluar dari rumah.


Selain itu diam-diam, Diandra sudah merencanakan untuk tinggal bersama dengan Juna. Ia akan pergi hari ini. Tetapi sebelumnya, Diandra akan menjemput Juna agar ikut bersamanya ke Bali.


Selesai mengepak barang-barangnya. Diandra keluar dari kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya. Tidak ada Pak Narto. Mungkin Ayahnya itu sudah pergi ke rumah Arya untuk meminta maaf.


Diandra tak peduli. Ia melanjutkan melangkah, dengan tangan kanan memegang gawai. Ya, Diandra memesan ojek online. Ia harus bergegas ke terminal sebelum Pak Narto mengetahui aksinya.


"Mbak Dian mau kemana?" tanya seorang gadis yang berdiri di belakang Diandra.


Diandra memutar tubuhnya. Ia menatap gadis itu dengan penuh kebencian.


"Tidak usah mengurusi hidupku, anak haram! Aku mau kemana, itu bukan urusanmu!" bentak Diandra.


Gadis itu menunduk. Sadar jika ia sudah membangkitkan amarah kakaknya.


"Nanti kalau ayah bertanya, aku jawab apa kak?" tanya gadis itu lagi.

__ADS_1


"Katakan saja jika aku sudah pergi dari tempat neraka ini."


Ting...


Sebuah notifikasi masuk ke gawai milik Diandra. Ojek pesanannya sudah datang. Diandra segera melangkah, menghampiri ojek online itu. Tanpa banyak kata ojek online itu segera melajukan motornya menuju terminal, sesuai perintah Diandra.


***


"Aku ada tugas untukmu" kata Pak Narto kepada orang suruhannya.


"Tugas apa, Pak?."


"Aku ingin kau membunuh Juna."


Deg...


Orang suruhan Pak Narto gemetar. Pasalnya perintah bosnya itu sudah termasuk kriminal. Ia tidak mau melakukan itu. Selain berdosa, ia tidak ingin masuk penjara karena memenuhi keinginan bos nya.


"Kenapa? Kau tidak mau?" tanya Pak Narto.


"Maaf, bos. Saya bukannya mau menolak. Tapi membunuh itu perbuatan kriminal bos."


Brakkk


Pak Narto memukul meja. Ia meluapkan amarahnya pada benda padat itu.


"Persetan dengan kriminal atau tidak. Aku punya uang. Uang bisa menutup mulut polisi agar tidak mengusut kasus itu. Kau tidak perlu khawatir."


Orang suruhan Pak Narto nampak gemetar. Pasalnya ia bukan orang jahat yang biasa berbuat kriminal. Ia hanyalah seorang petani tembakau yang sudah lama bekerja di sawah milik Pak Narto. Hatinya memberontak, menolak untuk menerima tugas jahat dari Pak Narto.


"Aku akan memberimu upah seratus juta jika berhasil membunuh Juna. Dengan uang itu kau bisa melunasi hutang-hutangmu."


Tawaran menggiurkan. Namun, bagi orang bawahan Pak Narto yang kuat iman. Rasanya uang itu tidak sebanding dengan dosa dan hukuman yang akan ia terima.


"Maaf, Bos. Saya tidak bisa. Saya selalu mengingat nasehat Emak saya. Saya tidak boleh menafkahi keluarga saya dengan uang haram. Maaf, bos. Beribu-ribu maaf."


Brukkk...


Pak Narto memukul perut orang itu dengan tongkatnya. Ia kemudian pergi meninggalkan orang itu yang sedang merintih kesakitan.


Pak Narto duduk di dalam gubuk, tempat biasa ia memantau kinerja bawahannya. Ia berfikir keras bagaimana melampiaskan kekesalannya kepada Juna. Menurut Pak Narto semua masalah yang timbul di dalam keluarga Pak Narto, bersumber dari Juna.


Sejak awal Pak Narto tidak setuju jika Diandra menjalin hubungan dengan Juna. Namun, Diandra rupanya keras kepala, menjalani hubungan diam-diam hingga lima tahun lamanya. Pak Narto tidak sudi jika ia mempunyai menantu miskin seperti Juna. Menurutnya, Juna hanya akan menjadi parasit yang akan menghabiskan hartanya.


Pak Narto benar-benar harus memutar otak. Ia ingin menghabisi Juna, tapi anak buahnya tidak mau. Mau menghabisi dengan tangannya sendiri, bagaimana caranya? Pak Narto tidak bisa menembak. Ia terbiasa memegang tongkat kayu bukan pistol api seperti milim mafia-mafia berdarah dingin. Bingung, Pak Narto benar-benar bingung.


Namun, tiba-tiba terlintas di otaknya untuk membakar rumah Juna. Syukur-syukur jika Juna tewas sekalian di dalam rumah itu. Pak Narto hanya perlu membeli bensin dan pemantik api. Mudah dan cepat, begitulah ide yang terlintas di otak Pak Narto.


Pak Narto langsung tersenyum sumringah. Ia sudah membayangkan kapan akan mengeksekusi rumah Juna. Setidaknya lebih cepat akan lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2