
Atha memukul-mukul Juna agar laki-laki itu segera bangun. Usai melakukan perang badar tadi sore, kedua insan itu kembali tidur. Cukup lama tertidur dan perut yang sejak sore belum terisi makanan mulai berdemo. Atha yang merasakan remuk di sekujur tubuhnya, terpaksa membuka mata. Ia merasakan nyeri di bagian intinya.
Atha mengumpat dalam hati. Ia tidak menduga jika suaminya bisa seganas itu. Ia pikir Juna tidak akan ketagihan jika ia memberikan hak nya. Ternyata Atha salah duga, laki-laki polos seperti Juna akan tidak akan cukup dengan sekali berhubungan. Juna yang sudah lama berpuasa, meluapkan semua energinya saat berbuka puasa.
Remek, begitulah keadaan Atha sekarang. Sepertinya ia akan menyuruh Juna berpuasa lagi selama seminggu. Meskipun ia sendiri tidak yakin jika Juna mau menuruti kemauannya.
"Jun, bangun! Aku lapar" rengek Atha. Ia sudah tidak dapat menahan perih di perutnya.
Juna yang mendapat pukulan berkali-kali dari istrinya rupanya belum juga ingin membuka mata. Ia masih lemas, tenaganya terkuras habis. Atha yang gemas dengan Juna memilih menggigit telinga Juna. Bodo amat jika suaminya itu marah. Atha tidak peduli, perutnya sudah lapar sekali
"Kenapa saya digigit? Apakah kau mau lagi sampai tidak sabar membangunkanku?" tanya Juna kaget. Ia langsung duduk sembari mengusap-usap telinganya.
"Aku lapar, Juna. Kau menggempurku tanpa memberiku asupan tenaga. Dengarkan dari tadi perutku berbunyi!" keluh Atha kesal.
Juna mengusap-usap perut Atha. Ia lalu bangkit mengambil celana boxernya yang tergeletak di lantai. Juna buru-buru memakainya dan bergegas keluar dari kamar.
"Maaf membuatmu lapar. Saya punya roti sari. Makanlah dulu sebagai pengganjal perut!."
Atha menerima roti pemberian Juna. Roti berbentuk bantal dengan isian srikaya dan cokelat itu langsung saja dilahapnya. Ia seperti belum menyadari jika dirinya belum memakai kembali pakaiannya.
"Sayang..." panggil Juna.
"Hem...."
"Saya boleh tanya?."
"Tanya saja" sahut Atha masih dalam mode mengunyah rotinya.
"Ka... Ka...kamu hamil?."
Deg.
Potongan roti yang baru saja digigit Athalia langsung jatuh. Atha menatap Juna tanpa berkedip. Lalu dengan tingkat kekesalan yang tinggi, Atha memukul bahu Juna.
"Kenapa kau memukulku? Apa salah saya?" tanya Juna.
"Kau ini mikir apa sih? Bagaimana bisa kau bertanya aku hamil apa tidak sedangkan kita baru berperang tadi sore?" Atha mendengus kesal.
"Kamu makan lahap sekali. Biasanya juga pelan. Kiara yang hamil tujuh bulan makannya juga sepertimu. Jadi tidak salah kan jika saya bertanya seperti itu?" ucap Juna sembari menggaruk tengkuk lehernya.
"Ya ampun Juna! Kiara sudah setahun menikah dengan Elang. Sudah tidak terhitung berapa kali mereka berperang. Kita baru tadi sore, Jun. Tidak mungkin aku langsung hamil" ucap Atha. Ia gemas sekali pada Juna yang terlalu polos itu.
"Tapi bisa saja itu terjadi. Saya kan baru buka puasa, jumlah kecebong di tubuh saya masih banyak. Masak iya tidak ada satupun yang nyangkut terus berubah menjadi bayi?."
Atha menepuk wajahnya dengan kasar. Hatinya lelah berdebat dengan Juna. Atha bangkit dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kali ini Atha mengunci pintu kamar mandi. Ia tidak ingin Juna masuk dan ikut mandi bersamanya. Intinya masih terasa sakit, perutnya lapar dan tubuhnya lemas. Sepertinya Atha harus menjauhi Juna dulu agar dia tidak lagi minta cosplay jadi bayi.
Ceklek.
Atha membuka pintu kamar mandi. Acara mandi besarnya sudah selesai. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari sosok suaminya. Nihil, mungkin Juna sedang di dapur. Atha buru-buru keluar dan berpakaian. Tak lupa ia mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu karena khawatir Juna akan masuk dengan tiba-tiba.
"Juna ganas sekali" gumam Atha ketika melihat banyak tanda merah di tubuhnya. Ia segera mengambil foundation untuk menutupi hasil prakarya di lehernya.
"Sayang... Sudah selesai mandi apa belum?" teriak Juna dari balik pintu.
Atha menyelesaikan acara beriasnya dengan cepat. Dengan perlahan, ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
Cup.
Bagaikan anak panah yang melesat cepat. Juna mendaratkan kecupan singkat di dahi istrinya. Juna memberikan segelas susu hangat kepada istrinya kemudian bergegas ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama bagi Juna untuk menyelesaikan ritual mandinya. Ia keluar dari kamar mandi mengenakan baju lengkap. Juna memang membawa baju gantinya ke kamar mandi. Ia takut kembali khilaf jika tyrexnya tidak segera ditutup. Juna tinggal menyisir rambutnya, memakai parfum dan gegas ia keluar kamar mencari istrinya.
"Sayangggg.... Kamu di mana?" teriak Juna.
Kedua telinganya mendengar suara teriakan Atha dari ruang tamu. Juna gegas menuju ruang tamu dan benar saja istri cantiknya sedang duduk sembari minum susu hangat pemberian Juna.
__ADS_1
"Sudah habis susunya?."
"Sudah, Jun. Terima kasih. Kamu tumben sekali membuatkanku susu coklat?" tanya Atha.
"Itu... Itu...karena saya takut saja" jawab Juna gugup.
"Takut? Takut apa?" Atha bertanya lagi. Jujur saja ia merasa heran dengan jawaban Juna.
"Saya takut kecebong-kecebong itu tidak berkembang dengan baik. Jadi saya belikan kamu susu hamil di toko depan."
Atha langsung mencubit pipi Juna. Ia semakin gemas dengan suaminya itu. Untuk apa ia membeli susu hamil sedangkan dirinya tidak hamil? Juna..., Juna..., otaknya masih menduga jika Athalia sedang hamil. Atha harus bagaimana agar suaminya itu mengerti tentang kondisi dirinya. Atha makan dengan lahap karena kelaparan bukan karena sesang berbadan dua seperti yang dipikirkan Juna.
"Sudah! Jangan mencubitku lagi! Ayo, kita keluar! Kita makan di cafe milik Andika" ajak Juna.
Atha menurut. Ia langsung mengekori langkah Juna. Kedua alis Atha bertaut ketika melihat sebuah motor matic terparkir di halaman rumah.
"Motor siapa, Jun?" tanya Atha.
"Motor saya."
"Motormu? Kapan kau membelinya?."
"Barusan. Tetangga sebelah ingin menjual motor miliknya. Jadi saya beli saja. Rasanya kita perlu motor untuk berpacaran."
Atha menggelengkan kepalanya. Suaminya itu memang tidak dapat diprediksi jalan pikirannya. Atha menurut saja ketika Juna menyuruhnya naik ke atas motor. Ia menerima helm pemberian Juna dan langsung memakainya.
"Sakit, Jun" bisik Atha. Ia kembali merasakan nyeri di bagian intinya.
Juna hanya menoleh dan tersenyum simpul. Ia lalu menyalakan mesin dan mulai mengendarai motornya. Perlahan motor itu melaju, memecah jalan raya yang cukup padat. Juna bersiul senang. Wajahnya cerah memancarkan aura kebahagiaan layaknya pengantin baru.
Butuh waktu dua puluh menit bagi Juna untuk sampai di Cafe milik Andika. Juna menepikan motornya dan meletakkan di area parkir.
"Jalannya pelan-pelan, Jun!" bisik Atha lagi.
Atha menggenggam tangan Juna dengan kuat. Ia khawatir akan terjatuh saat berjalan. Juna yang melihat istrinya seperti itu bukannya iba melainkan tertawa cekikikan. Ia benar-benar tidak merasa bersalah sedikitpun atas apa yang menimpa istrinya.
Athalia mendelik ke arah Juna. Ia duduk dengan cemberut karena posisi tempat duduk yang dipilih Juna tidak strategis. Atha tidak bisa melihat live perform dari musisi lokal karena letak mejanya yang jauh dari panggung.
"Kenapa cemberut?" tanya Juna.
"Aku ingin duduk di depan, Jun. Mau lihat live perform penyanyi itu" ucap Atha merajuk.
"Boleh. Apa kau kuat berjalan ke depan sana? Di sini ramai, kamu akan menjadi pusat perhatian orang-orang jika berjalan ke meja depan."
Atha semakin merengut.
"Sudahlah di sini saja. Kamu mau makan apa?" tanya Juna.
"Nasi goreng, mie ayam, roti bakar, pisang keju sama es jeruk" ucap Atha asal.
Juna menggaruk tengkuknya. Ia takjub dengan pesanan istrinya. Bagaimana Juna tidak menyangka Atha sedang hamil jika pesanannya sebanyak itu? Juna berjalan ke meja kasir untuk memesan. Ia tetap memesan makanan yang disebutkan Atha meskipun dirinya ragu apakah istrinya itu mampu menghabiskannya.
"Jun....!."
"Ya, sayang! Katanya tadi ada yang mau memanggilku sayang juga?" tagih Juna.
"Tidak jadi!"
"Kenapa?."
"Kau jadi ganas kalau aku panggil sayang. Lebih baik aku tetap memanggilmu seperti biasa karena kau kalem dan manis dengan panggilan itu."
Juna tertawa. Teori istrinya itu benar-benar menggelikan. Ia tidak meneruskan perdebatannya karena melihat wajah istrinya yang sedang kesal. Atha terus saja menekuk wajahnya hingga akhirnya makanan pertama datang. Wajah Atha langsung berbinar ketika sepiring pisang keju tersaji di atas meja.
Tanpa menawari Juna, Atha melahap pisang keju itu sampai tandas. Juna yang melihat tingkah istrinya itu hanya bisa menelan ludah. Usai pisang keju habis tak tersisa, pesanan Atha yang lain berdatangan. Wajah Atha semakin berbinar melihat semua makanan itu.
"Sayang, baca doa! Aku tahu kamu hamil. Makannya pelan-pelan takut tersedak. Bayi dalam perutmu bisa kaget."
__ADS_1
"Aku tidak hamil, Juna! Aku hanya lapar."
Atha diam sejenak untuk berdoa. Setelah itu ia mulai menyantap nasi goreng yang dipesannya. Lagi-lagi Juna hanya diam. Ia mendadak kenyang melihat Athalia yang makan dengan lahap.
"Juna! Lah, dia kemari" panggilan Andika menghentikan gerak mulut Atha. Andika berlari menghampiri meja Juna.
"Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini, Jun?" tanya Andika. Ia menarik kursi di samping Juna dan duduk di sana.
"Memangnya kenapa?" Juna malah balik bertanya.
"Ya, setidaknya aku beri pelayanan ekstra. Malu dong. Masak pemilik SMA Cendekia datang tapi nggak disambut?" jawab Andika malu-malu.
Pandangan Andika beralih pada Atha. Ia memperhatikan wajah Atha dengan seksama. Seperti pernah bertemu, tapi Andika lupa.
"Istri kamu kan, Jun?."
"Benar."
"Kayaknya pernah liat, tapi lupa."
"Dia pernah bertugas di SMA Cendekia, dokter yang menyuntik vaksin murid-murid beberapa tahun yang lalu" jawab Juna.
"Ah, iya! waktu itu kamu berlari mengejar dokter itu sampai rela nungguin dia selesai bertugas. Benar kan?."
Juna mengangguk.
"Wah, aku tidak menyangka. Bu dokter menjadi jodohmu, Jun. Keren mah si Juna" ucap Andika bertepuk tangan.
"Kalau jodohmu?" Juna balik bertanya.
"Lah? Kamu lupa?" Andika balik bertanya.
"Aku kan pernah bercerita padamu, Jun. Kamu juga sudah bertemu istriku waktu di pantai. Dia Farhah, guru SMP Cendekia. Aku pernah menyuruhmu mendekatinya saat kamu patah hati karena ditinggal nikah."
"Kamu menyuruh saya mendekatinya, tetapi kenapa malah kamu yang menikahinya?" skak mat Juna.
"E....e....karena aku dijodohkan. Ah sudahlah! Lebih baik kalian nikmati makanan dan minuman di sini. Kalau mau nambah, silakan saja! Free buat pemilik SMA Cendekia" kata Andika kemudian pamit undur diri.
Baru saja Andika pergi meninggalkan meja Juna, seorang pelayan menghampiri meja Juna. Ia membawa berbagai macam pencuci mulut mulai dari salad, cheese cake, puding dan es krim.
Juna menautkan kedua alisnya. Bagaimana pesanan itu bisa mendarat di mejanya? Siapa yang memesannya? Seingat Juna, ia tidak merasa memesan makanan itu.
Juna menatap Atha, meminta jawaban atas pertanyaan di dalam otaknya. Istrinya itu seperti tahu apa isi kepala Juna. Ia hanya mengangkat bahu sebagai jawaban bahwa Atha juga tidak tahu mengapa makanan itu bisa mendarat di meja mereka.
"Special menu untuk Pak Mayjuna. Semoga Bapak dan Ibu menyukai menu yang kami sajikan" ucap pelayan itu sopan.
"Mas pelayan, saya tidak merasa memesan ini semua."
"Oh, ini pelayanan ekstra dari kami. Pak Andika yang menyuruh kami untuk menyiapkan menu itu" ucap pelayan itu kemudian undur diri.
Juna menghela nafas. Lagi-lagi Andika mengistimewakannya. Inilah salah satu alasan Juna menutupi identitasnya. Ia tidak mau orang-orang yang mengenalnya akan memberikan penghargaan yang lebih pada Juna. Juna merasa tidak enak, apalagi jika itu menyangkut bisnis seseorang. Juna yakin jika Andika pasti memberikan makanan itu dengan cuma-cuma. Juna takut Andika rugi.
"Kenapa?" tanya Atha.
Juna menggeleng. Ia tersenyum ketika melihat nasi goreng pesanan istrinya sudah habis.
"Mau pencuci mulu yang mana?" ucap Juna menawari.
"Aku mau puding saja, Jun, sepertinya lezat."
Juna mengambil puding itu. Ia menyendok dan menyuapkan pada Atha. Atha yang menerima suapan dari Juna tentu saja malu-malu mau. Ia menahan senyum sembari menerima suapan dari suaminya.
Juna terus menyuapi istrinya dengan sayang. Tanpa ia sadari ada dua pasang mata yang menatap ke arahnya. Fira dan Suhri, mereka berada di meja yang tidak jauh dari meja Juna. Mereka kebetulan mampir ke cafe milik Andika untuk menonton musisi lokal yang tampil malam ini.
Fira menggigit bibirnya. Netranya panas melihat pemandangan mesra Juna dan Atha. Ada rasa cemburu menyelimuti dadanya. Ada rasa tidak terima dalam hati Fira. Ingin sekali Fira berjalan dan berteriak di hadapan Juna dan Atha. Namun, ia sadar jika dirinya bukan siapa-siapa Juna.
'Harusnya aku yang ada di sana bukan dia' gumam Fira.
__ADS_1