HEI JUN

HEI JUN
89


__ADS_3

Rumah Suhri,


Jam di dinding rumah Suhri masih menunjukkan pukul delapan pagi. Ia tampak kaget ketika Fira sudah duduk manis di ruang makan. Dilihatnya kalender yang tergantung di dinding untuk memastikan hari apa sekarang. Tidak biasanya Fira datang ke rumahnya di hari kerja. Ada apa gerangan? Apakah Fira sedang ada masalah?


Suhri menghampri Fira yang sedang duduk sembari melamun. Di hadapannya sudah tersaji sepiring nasi goreng yang belum disentuh oleh Fira. Suhri menduga pastilah Fira kesini untuk menumpang makan. Karena tidak biasanya Fira datang langsung berada di ruang makan.


"Tumben ke sini, Fir? Nggak kerja?" tanya Suhri basa-basi.


Ia menarik kursi di hadapan Fira lalu duduk di sana. Di ambilnya piring berisi nasi goreng yang sedari tadi diacuhkan Fira. Mubazir, jika Fira tidak mau makan. Lebih baik Suhri saja yang makan.


"Ri...." panggil Fira lemah.


Suhri yang sedang asyik menyantap nasi gorengnya, mau tidak mau menghentikan aktifitasnya. Ia menoleh, melihat wajah sepupunya yang ditekuk.


"Kenapa lagi sih Fira? Perasaan dari kemarin nggak kelar-kelar galaunya" cibir Suhri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pak Juna sudah dua hari nggak masuk, Ri."


"Terus? Masalahnya di mana? Sekolah punya dia, ya, suka-suka Pak Juna lah. Jangankan dua hari, setahun pun kalau Pak Juna mau juga boleh" jawab Suhri.


Fira menggeleng. Perkataan Suhri bukanlah jawaban yang diinginkan Fira. Suhri tidak tahu saja jika kemarin ada kejadian yang menimpa Juna.


"Kemarin Pak Juna pingsan, Ri" kata Fira.


"Pingsan? Penyebabnya apa?" tanya Suhri kaget.


Fira menghela nafas panjang lalu ia menceritakan kejadian saat dirinya berada di ruang kerja Juna. Peristiwa Juna yang tidak sadar saat dirinya membahas tentang Diandra.


Jujur, Fira merasa bersalah dan penasaran. Ia bersalah karena menyebabkan Juna pingsan. Ia juga penasaran mengapa Juna langsung ketakutan ketika dirinya menyebutkan nama Diandra.


Fira masih ingat bagaimana Juna memanggilnya, meminta diantar untuk bertemu Ayahnya karena memiliki tanggungan pada Diandra. Juna nampak biasa saja saat membahas Diandra. Tidak ada ketakutan, tidak ada wajah tegang. Juna nampak biasa saja.


Tapi mengapa kemarin berbeda? Mengapa respon Juna seperti itu? Dan yang membuat Fira tidak habis pikir, bagaimana Juna bisa lupa pertemuan Juna dengan Ayahnya?


Fira merasakan ada yang tidak beres. Apa yang sudah terjadi pada Juna? Mengapa reaksi Juna seperti itu? Fira juga penasaran apa yang sudah terjadi dengan Juna dan kakaknya? Mengapa Juna setakut itu ketika mendengar nama Diandra.


"Kamu yakin, pemilik SMA Cendekia sekarang itu adalah Pak Juna mantan guru olahraga kita? Jujur saja ya, Fir. Pak May dan Pak Juna beda jauuhhhhhh. Baik dari segi tampang,wibawa dan juga dompet" ujar Suhri.


"Aku denger sendiri kok, Ri. Waktu itu Pak Juna lagi ngobrol sama Pak Andika. Saat itu Pak Andika menanyakan jati diri Pak May sebenarnya dan Pak May mengakui kalau dirinya memang Pak Juna" kata Fira.


Suhri mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau memang Pak May adalah Pak Juna. Mungkin ini ada kaitannya dengan video panas mereka beberapa tahun lalu" kata Suhri menduga-duga.


"Video panas? Video apa?."


"Kamu lupa kasus apa yang menimpa Pak Juna hingga beliau dipecat dari sekolah? Kamu lupa apa penyebab Mas Arya menceraikan Mbak Diandra? Itu semua gara-gara video panas itu" kata Suhri lagi.


Fira menggeleng. Ia tidak membenarkan ucapan Suhri. Ia memang tidak mengingat kasus yang dialami oleh Juna dulu. Bagianya kabar itu hanyalah kabar burung yang ingin menjatuhkan Juna.


Fira tidak percaya jika pelaku dalam video panas itu adalah Juna dan kakaknya. Ia berkeyakinan jika video itu hanyalah editan semata.


"Kamu masih ngarep, Pak Juna?" selidik Suhri.


Fira mengangguk. Jujur dalam hatinya yang paling dalam, Fira masih menyimpan rasa pada Juna. Anggukan kepala Fira membuat Suhri menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Sadar nggak sih kalau dari awal kamu itu bukan jodoh Pak Juna?" tanya Suhri.


"Maksud kamu apa, Ri? Jodohkan di tangan Tuhan."


"Emang! Tapi manusia kan bisa membaca dari tanda-tandanya, Fir. Sejak awal kamu suka Pak Juna yang nota bene adalah pacar kakak kamu, Diandra. Secara etika ya salah, Fir. Kayak nggak ada cowok lain aja."


"Tapi kan Mbak Diandra putus sama Pak Juna. Dia lebih milih menikah sama Mas Arya" bantah Fira.


"Ralat! Bukan milih Mas Arya. Lebih tepatnya Mbak Diandra dipaksa memilih Mas Arya. Asal kamu tahu, Om Narto dari awal memang tidak suka sama Pak Juna. Hubungan Mbak Diandra dan Pak Juna juga tidak direstui sama Om Narto. Andai saja Om Narto tidak punya hutang sama Mas Arya, aku yakin Mbak Diandra akan tetap memilih Pak Juna" ucap Suhri menjelaskan panjang kali lebar.


"Andaikan waktu mereka putus, kamu maju dan menjalin kasih dengan Pak Juna. Itu akan menimbulkan resiko yang besar. Om Narto nggak bakalan setuju lah. Berat, Fir! Berat. Soalnya kasus Pak Juna dan Mbak Diandra itu bukan kaleng-kaleng. Tersebar, viral, dan menjatuhkan banyak pihak."


"Kamu salah, Ri. Ayah malah meminta sendiri sama Pak Juna agar mau menikahi aku."


"Soalnya Om Narto tahunya Pak May bukan Pak Juna. Aku berani taruhan. Om Narto bakalan jantungan kalau tahu dia adalah Pak Juna. Secara Om Narto nggak suka banget sama Pak Juna dan kabar burung juga menyebutkan jika Pak Juna sudah meninggal" ucap Suhri berargumen.


"Cinta kan harus diperjuangkan, Ri. Aku mau memperjuangkan cintaku pada Pak Juna" ucap Fira lirih.


Suhri menatap datar pada Fira. Ia kemudian melempar kain serbet pada Fira sebagai pelampiasan rasa kesalnya.


"Cinta apa yang ingin kamu perjuangkan? Apa kamu lupa kemarin Pak Juna sama perempuan? Pak Juna pasti sudah punya kekasih."


"Dia istrinya, Ri. Istrinya. Pak Juna sudah menikah, Ri" kata Fira.


"Kalau Pak Juna sudah punya istri, ngapain sih masih ngarep Pak Juna?????" teriak Suhri.


Suhri menepuk wajahnya berkali-kali. Ia benar-benar gemas dengan sepupunya itu. Kalau Fira sudah tahu jika Juna sudah mempunyai istri, lalu untuk apa Fira masih mengharapkan Pak Juna?


Suhri sepertinya harus membawa Fira ke rumah sakit. Ia ingin mencuci otak Fira agar tidak teringat pada Juna terus. Suhri tidak mau sepupunya itu menjadi perusak rumah tangga orang.


"Aku mau Pak Juna tahu tentang perasaanku, Ri."


"Kalau Pak Juna tahu memangnya dia bakalan nikahin kamu? Bangun, Fir! Pak Juna sudah punya istri. Lebih cakep lagi. Ah, Fira kayak nggak ada laki-laki lain aja. Udahlah, lupain Pak Juna."


"Ngomong tuh enak, Ri. Aku yang ngerasain sakit, Ri" ucap Fira.


"Yang bikin sakit kan kamu. Sejak awal Pak Juna tidak tahu perasaan kamu. Pak Juna juga nggak naggepin tuh. Kamu aja yang tiap hari kegatelan sama Pak Juna. Pake acara jadi kurir lontong pecel Bu Udin lagi. Hah, dasar cewek!" umpat Suhri.


"Terus, aku harus bagaimana?."


"Saran aku cuma satu. Lupain Pak Juna! Nggak usah ganggu rumah tangga orang lain. kamu mau dihujat deterjen kalau tetep keukeuh maksain perasaan kamu sama Pak Juna."


Fira diam. Omongan Suhri memang benar adanya. Fira tidak mungkin kuat melawan hujatan deterjen jika ia terus mengejar Juna. Namun, namanya juga hati. Ia tidak bisa mengontrol hatinya untuk suka pada siapa. Ia tidak bisa menyuruh hatinya untuk memberikan cinta kepada siapa.


***


Rumah Sakit Siloam, Surabaya


"Atha....!!!" seorang perempuan memakai snelli berlari menghampiri Atha. Perempuan itu langsung menubruk Atha, memeluk dirinya dengan erat.


Dokter Ayesha, perempuan cantik bermata sipit iti adalah kawan lama Atha. Ia adalah dokter ahli yang direkomendasikan Dokter Emier untuk menangani Juna. Lama tidak bertemu Atha, membuat Ayesha pangling. Ia menyubit pipi Atha berkali-kali, menyalurkan rasa kesalnya pada Atha.


"Sombong ya sekarang. Sejak kelar pengabdian kamu nggak pernah ada kabar lagi."


Atha cengengesan. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Maaf" ucap Atha pendek. Perkataan Atha yang singkat dan padat itu tentu saja membuat Yesha semakin gemas. Lagi-lagi Yesha mencubit pipi Atha, melampiaskan kekesalan pada kawan lamanya itu.


"Ayo, kita ke ruanganku! Banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu."


Yesha mengajak Atha ke ruangannya. Dua dokter beda keahlian itu berjalan beriringan dengan sesekali bercanda.


"Masuk, Tha! Duduk dulu! Aku akan memanggil OB untuk membelikan minuman untukmu."


Atha mengangguk. Ia kemudian menarik kursi di depan meja kerja Yesha dan duduk di sana. Yesha yang tadi sedang memanggil OB, kini sudah kembali dengan membawa sebuah amplop coklat.


"Sekarang masih dinas di Jakarta?" tanya Yesha membuka obrolan. Ia duduk di hadapan Atha sembari membuka amplop coklat yang dibawanya.


"Aku sudah resign. Seminggu yang lalu lebih tepatnya."


"Resign? Kenapa?" tanya Yesha kaget.


"Aku memilih ikut dengan Juna. Kami tinggal di Madura."


Yesha mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kembali membaca lembaran yang ia ambil dari amplop coklat itu.


"Hmm... Suamimu ini pernah kau bawa padaku kan? Laki-laki yang mengalami trauma akibat pelecehan seksual?" tanya Yesha.


"Pelecehan seksual? Maksudmu apa, Sha?" tanya Atha kaget.


"Eh? ini Juna yang kamu bawa kemarin apa bukan sih?" Yesha jadi bingung sendiri.


"Sebentar aku mau memastikan dulu. Suamimu itu adalah Juna, laki-laki yang pernah kau antarkan padaku bukan? Saat kita selesai acara pelepasan di hotel" tanya Yesha memastikan.


"Benar! Dia Juna yang aku bawa padamu. Sekarang Juna menjadi suamiku."


"Kok wajahnya beda ya?" Yesha menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Juna berubah saat pulang dari Spanyol. Ia menetap di sana selama beberapa tahun. Awalnya aku juga tidak mengenali Juna karena wajahnya memang berbeda."


"Hmmm... Jadi dugaanku benar. Suamimu itu adalah orang yang mengalami pelecehan seksual. Ia tidak bercerita padamu?."


Atha menggeleng. Hatinya seperti dicabik tatkala mendengar penuturan Yesha.


"Juna hanya datang padaku satu kali. Traumanya jelas belum sembuh. Juna mengalami kejadian yang mengguncang jiwanya. Mungkin kau bisa bertanya sendiri padanya. Namun, jika melihat hasil MRI dan CT-scan dari Dokter Emier. Aku menduga Juna lupa dengan kejadian itu. Benturan di kepalanya membuat beberapa memorinya hilang."


"Termasuk lupa jika aku adalah istrinya" sahut Atha sedih.


Yesha mengusap telapak tangan Atha. Ia memberi semangat kepada kawan lamanya itu.


"Aku butuh rekam medis, Pak Juna. Aku khawatir jika sebelumnya Pak Juna juga pernah berobat tapi tidak selesai. Dari hasil observasi awalku, aku menyimpulkan jika Pak Juna mengalami trauma dan tekanan batin yang hebat. Aku tidak bisa terlalu jauh bertanya pada Pak Juna karena beberapa memorinya yang hilang itu."


"Lalu aku harus bagaimana?."


"Carilah informasi tentang kehidupan Pak Juna sebelum menikah denganmu. Tanyalah kepada keluarga, teman ataupun rekan kerjanya. Aku tidak bisa memberinya tindakan jika aku tidak paham masalah apa yang dialami oleh suamimu."


"Buaknkah kau tadi mengatakan jika Juna mengalami pelecehan seksual?" tanya Atha.


"Dulu dia hanya bercerita jika...." Yesha urung melanjutkan ucapannya. Ia seperti ragu untuk memberitahu Atha.


"Kenapa? Kenapa kau tidak melanjutkannya?" tanya Atha was-was.

__ADS_1


"Aku hanya takut saja kau jantungan, Tha. Suamimu hanya bercerita sedikit. Lalu tidak melanjutkan therapy. Jadi lebih baik jika kau bertanya pada saudara atau temannya saja. Aku takut salah bicara" ucap Yesha yang segera dijawab dengan anggukan kepala oleh Atha.


__ADS_2