HEI JUN

HEI JUN
57


__ADS_3

Juna duduk terpaku di bangku besi yang terdapat di rumah sakit. Saat ini ia menemani Elang di rumah sakit. Juna memilih berjaga di luar, membiarkan Elang di dalam kamar rawat Kiara seorang diri.


Juna merenungi peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Hatinya masih shock mengetahui kenyataan bahwa lelaki yang dicintai Athalia adalah bos absurdnya. Juna benar-benar tidak habis pikir. Mengapa dunia begitu sempit? Dari sekian banyak laki-laki, mengapa Atha menyukai bos absurdnya?


Jika Juna mau hitung-hitungan. Juna memang kalah telak dari segala aspek. Tampang, jabatan apalagi dompet. Saat Juna sudah bertekad untuk gerak cepat, saingannya ternyata seorang sultan. Bagaimana mungkin Juna akan melawan bos absurdnya? Seorang Mr.Adirra tanpa bergerak pun, ia pasti bisa mengalahkan Juna dengan mudah.


Ceklek.


Pintu kamar rawat Kiara terbuka. Elang muncul dari balik pintu. Wajahnya yang semula tegang kembali tenang. Kondisi istrinya sudah stabil. Dokter menyuntikkan obat yang membuatnya tertidur. Elang sengaja keluar dari kamar rawat Kiara untuk menemui Juna. Dirinya ingin menanyakan ucapan Juna tentang kakak iparnya yang sudah menikah tanpa sepengetahuan keluarga.


Elang segera menghampiri Juna. Ia duduk di bangku kosong tepat di sebelah Juna. Juna yang saat ini sedang melamun, tidak menyadari keberadaan Elang. Pergerakan Elang yang halus, memang tidak menimbulkan getaran yang dapat membuyarkan lamunan Juna.


"Mas Juna."


Juna langsung menoleh.


"Tidak mau masuk? Kita menunggu Kiara di dalam saja" ajak Elang yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Juna.


"Maaf, Mas Elang."


"Maaf untuk?."


"Gara-gara ucapan saya, Nyonya bos masuk rumah sakit" ucap Juna. Ia pun menyadari jika telah kelepasan mengatakan perihal pernikahan bos absurdnya itu.


Elang tidak menjawab. Ia menampakkan wajah datarnya. Entah sejak kapan Elang yang biasanya sering tersenyum, kini mulai menampakkan wajah datar. Mungkin virus wajah triplek kakak iparnya sudah merasuki wajahnya sehingga tanpa sadar Elang auto menampilkan wajah datar seperti tripleks.


"Mas Juna, saya boleh bertanya?."


Juna mengangguk.


"Apakah yang dikatakan Mas Juna benar?."


Juna diam sejenak. Ia menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


"Kapan?."


"Beberapa bulan yang lalu di New york. Saya yang menjadi saksi dari pihak Tuan Dira."


Elang memejamkan mata. Ucapan Juna barusan seperti lemparan batu ke kepala Elang. Bagaimana bisa mereka tidak ada yang tahu? Pantas saja istrinya sampai pingsan mendengar kabar mengejutkan ini. Elang tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi mama mertuanya jika mendengar hal itu. Pasti akan terjadi perang dunia di rumah mereka.


"Mas Elang..."


"Ya?."


"Jadi Athalia dijodohkan dengan Tuan Dira?" cicit Juna menunduk.


"Ya. Satu tahun yang lalu, Mama Widya mengatur perjodohan antara dokter Atha dan Abang Dira. Namun, Abang menolak."


"Mas Elang tahu kalau Tuan Dira adalah cinta pertama Athalia?" tanya Juna lagi.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Mas. Karena saya juga tidak terlalu mengenal dokter itu" ucap Elang jujur. Ia bisa melihat wajah Juna yang kecewa dan putus asa.


"Mas Juna, setelah tahu tentang fakta ini. Apakah Mas Juna mau lanjut atau mundur?" tanya Elang.


"Saya akan maju, Mas Elang. Saya pernah ditinggal nikah, tertikung sebelum menyatakan cinta, dan sekarang saya tidak mau gagal lagi" ucap Juna mantap.


"Saya mendukung Mas Juna. Abang Dira pernah berkata kalau jodoh itu di tangan Tuhan. Manusia hanya membuka jalan. Sekarang Mas Juna sedang membuka jalan. Siapa tahu dokter Atha memang jodoh Mas Juna."


Juna mengangguk. Dalam hati ia mengamini ucapan Elang. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, Tuhanlah yang tetap menuliskan takdirnya. Juna sudah siap berjuang, mengejar cinta dan jodohnya. Namun, jika Atha bukan jodohnya. Juna akan mengikhlaskan.


"Lebih baik kita masuk, Mas Juna. Saya takut Kiara terbangun dan membutuhkan apa-apa."


Juna kembali mengangguk.


"Dan satu lagi, jangan membahas mengenai pernikahan Abang. Biar saya yang menjelaskan kepada Kiara. Mas Juna diam saja jika nanti Kiara bertanya pada Mas Juna" pinta Elang.


***


Pagi hari, Juna terbangun terlebih dahulu. Ia melihat sekeliling. Netranya terasa berkabut ketika melihat pemandangan di hadapannya. Pasangan suami istri itu sedang tidur sembari berpelukan.


Juna merasa iri sekaligus kesal. Pasangan itu kenapa tidak ada toleransinya terhadap jomblowan seperti Juna? Apa mereka tidak malu tidur berpelukan seperti itu di rumah sakit? Tidak sadarkah mereka jika ada orang lain di tempat itu juga?


Juna memijat pelipisnya. Seingatnya, Elang tidur di sofa sebelah semalam. Entah kapan Elang pindah tempat? Mungkin Juna terlalu nyenyak tidur sehingga tidak menyadari pergerakan Elang.


Juna menghela nafas panjang. Ia bergegas bangun dan melangkah menuju kamar mandi. Juna mencuci muka dan berkumur. Setelah itu ia keluar dari kamar rawat Kiara, berjalan santai menuju kantin. Mungkin Juna akan sarapan di sana.


Langkah Juna terhenti ketika berpapasan dengan Athalia. Gadis incarannya itu terkejut melihat kedatangan Juna. Wajah Athalia yang biasanya ceria ketika bertemu Juna, sekarang berubah menjadi dingin dan kaku. Mungkin saja Atha masih kesal pada Juna sehingga ia menampakkan wajah tidak bersahabat saat bertemu Juna.


"Mengapa kau kemari lagi?" tanya Athalia dingin.


"Mengapa? Pertanyaan macam apa itu? Ini tempat umum. Semua orang boleh kesini" jawab Juna santai. Ia kemudian melewati Athalia begitu saja. Juna memilih duduk sembari memesan makanan untuk sarapannya. Perutnya sudah keroncongan, butuh diisi agar memiliki energi yang cukup.


"Sebenarnya apa maumu, Jun?" Athalia menghampiri Juna. Ia menarik kursi di hadapan Juna dan duduk di sana. Wajahnya semakin kesal ketika melihat Juna dengan santainya menyantap makanan yang ia pesan.


"Aku hanya ingin makan. Semalaman aku menjaga Nyonya bos. Apa kau lupa jika Nyonya bos pingsan?."


"Jangan berlagak polos, Jun!" nada suara Athalia mulai meninggi.


"Aku bukan berlagak polos. Aku memang polos, tapi sekarang sudah sedikit bercorak."


"Juna...!."


"Atha...!."


Juna semakin menjadi-jadi. Ia sepertinya sudah mulai bisa bersilat kata sehingga membuat Athalia semakin kesal.


"Aku tidak tahu apa maksudmu datang ke rumahku semalam."


"Sudah ku katakan jika aku melamarmu, Atha" ucap Juna dan lagi-lagi Juna mengucapkannya dengan enteng tanpa beban.

__ADS_1


"Tapi aku menolaknya."


"Menolak? Kau menolakku demi laki-laki yang sudah beristri? Athalia, Ayolah! Kau ini cantik, pintar dan baik. Jangan buang waktumu untuk menunggu seseorang yang sudah menjadi milik orang lain" ucap Juna mengingatkan.


"Jangan membual, Jun! Dira belum menikah."


Juna menghela nafas kasar. Ia mengambil ponsel di dalam sakunya dan menunjukkan sebuah foto kepada Athalia.


Atha menerima ponsel yang disodorkan oleh Juna. Kedua netranya langsung panas tatkala melihat sosok yang ia cintai sedang berdiri bersama seorang perempuan. Mereka tersenyum sembari memperlihatkan buku nikah.


Tes...tes...tes...


Bulir-bulir bening langsung membasahi pipi Athalia. Juna segera mengambil ponselnya. Ia tidak ingin Athalia semakin bersedih juka melihat foto itu.


Sebenarnya Juna tidak ingin menunjukkan foto itu. Foto yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi saat pernikahaan Dira. Juna terpaksa menunjukkan foto itu agar Athalia berhenti mengharapkan Dira.


"Mr. Adirra sudah menikah beberapa bulan yang lalu di New York. Pernikahannya hanya dihadiri oleh beberapa orang termasuk Edward dan aku. Athalia, berhentilah mengharapkan dia. Bos Dira sudah bahagia dengan istrinya" ucap Juna.


Athalia bangkit. Ia langsung berlari meninggalkan Juna. Hatinya sakit mendapati kenyataan pahit mengenai cinta pertamanya. Atha pikir jalannya akan mulus. Atha pikir restu Mama Dira akan menyatukan dirinya dan Dira.


Atha tidak pernah berfikir negatif meskipun Dira menolaknya. Hatinya memiliki keyakinan jika dirinya dan Dira akan bersatu. Restu Mama Dira menjadi salah satu alasan, mengapa Atha tetap bertahan dengan keyakinan itu.


Namun, keyakinannya ambruk setelah melihat foto pernikahan Dira. Atha merasa kalah. Atha merasa hancur.


Juna menghela nafas panjang. Ia segera menghabiskan sarapan yang masih tersisa banyak. Sebenarnya Juna ingin mengejar Atha. Namun, perutnya masih lapar. Juna memilih menghabiskan sarapannya terlebih dahulu, baru menyusul Atha.


Perempuan jika sedang galau perlu diberi ruang. Setidaknya Juna akan memberi ruang pada Athalia sampai dirinya menyelesaikan sarapan. Juna sudah bertekad untuk bergerak cepat, tidak akan menyia-nyiakan waktu sedikitpun.


Kringgg...


Ponsel milik Juna berbunyi. Nampak nomor tidak terkenal muncul di layar ponsel Juna. Juna segera menggeser tombol hijau guna menjawab panggilan di ponselnya.


"Halo, apa benar ini nomor telepon nak Juna?" tanya seseorang di seberang.


"Benar, dengan saya sendiri. Ini siapa?."


"Saya Pak Fajar, orang tua Athalia."


"Oh, Pak Fajar! Iya, ada apa Pak?" tanya Juna sopan.


"Saya mau mengabari nak Juna kalau kami menerima lamaran nak Juna."


'Yes!'


Senyum di bibir Juna langsung terbit mendengar ucapan dari Ayah Athalia. Ia sudah menyangka jika orang tua Athalia akan menerima lamarannya.


"Terima kasih, Pak Fajar. Saya sangat senang mendengar kabar bahagia ini. Saya akan kesana sekarang untuk membahas lebih lanjut mengenai hubungan saya dan Atha" jawab Juna.


"Baiklah, nak Juna kami tunggu di rumah" ucap Pak Fajar lalu memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


__ADS_2