
Rumah Sakit Siloam, Surabaya
"Dokter Athalia, lama tidak berjumpa dan tiba-tiba Anda datang dengan pasien amnesia" sapa seorang dokter laki-laki bernama Emier.
Emier adalah teman Athalia sesama profesi dokter. Mereka bisa dikatakan teman dekat. Atha dan Emier kenal saat masa orientasi siswa di kampus. Mereka kuliah di tempat yang sama, mengikuti kegiatan relawan bersama, tapi berbeda dalam tempat bekerja.
Usai menyelesaikan pendidikan strata satu, Atha menjalani masa koas di Jakarta sedangkan Emier memilih di Surabaya. Sejak berbeda kota dalam bekerja baik Atha dan Emier tidak lagi berkomunikasi. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Namanya juga dokter, banyak pasien, banyak tugas.
"Siapa pasien itu?" tanya dokter Emier.
"Dia suamiku, Em?."
"Suami? Waw, kau lagi-lagi mengejutkanku! Kapan kau menikah?" tanya Emier takjub.
"Hampir tiga bulan. Em, bagaimana hasil pemeriksaan suamiku? Adakah hal yang tidak beres?" tanya Atha. Jujur saja ia was-was menunggu hasil pemeriksaan Juna.
"Berdasarkan hasil MRI dan CT-scan. Ah, kau juga dokter bisa baca sendiri" ucap Emier menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Atha.
Atha menerima amplop itu dan membukanya dengan terburu-buru. Kedua netranya menatap tajam dengan kedua alis yang menyatu.
"Dokter Emier, apa hasil pemeriksaan suamiku tidak salah? Mengapa ada benturan di sini?" tanya Atha dengan raut muka menegang.
"Kau bertanya padaku? Memangnya aku istrinya? Harusnya kau lebih tahu? Apakah suamimu pernah kecelakaan yang menyebabkan benturan pada kepalanya?."
"Seingatku tidak. Tapi...." Athalia urung melanjutkan ucapannya.
"Dokter Athalia, katakanlah sejujurnya! Bagaimana aku bisa menemukan benang merah tentang kondisi suamimu jika kau menutup-nutupi?" ucap Emier kesal.
"Maaf, seingatku Juna memang tidak pernah mengalami kecelakaan. Entah, mungkin itu terjadi saat dia di Afrika."
"Afrika? Suamimu ke Afrika? Ngapain?" tanya dokter Emier. Ia tergelak ketika tahu Juna pergi ke Afrika.
"Aku juga tidak tahu. Pulang dari Afrika, Juna malah lupa denganku. Dia tidak ingat jika aku adalah istrinya" ucap Atha sedih.
"Fix! Sepertinya suamimu mengalami kecelakaan di sana. Kau bisa hubungi pihak yang menemani suamimu di sana. Tanyalah! Apakah ada sesuatu yang terjadi pada suamimu" saran Emier.
Atha mengangguk.
"Dan perihal pingsannya. Suamimu sepertinya mengalami trauma yang berat. Kau bisa bertanya pelan-pelan padanya. Ada sesuatu yang membuatnya tertekan, ditambah lagi benturan itu. Jangan heran jika suamimu terkena amnesia trauma. Kau harus segera membawanya ke dokter ahli untuk mengatasi traumanya" kata dokter Emier lagi.
"Berikan aku rekomendasi dokter ahli untuk mengatasi traumanya!" pinta Atha.
Emier menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kartu nama. Emier memberikan kartu nama itu kepada Athalia.
"Dokter Ayesha Mumtaza? Sepertinya nama ini tidak asing" ucap Athalia sembari mengingat.
Dokter Emier lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Ia sangat gemas dengan perilaku Atha yang lupa dengan teman sendiri.
"Dia temanmu, bodoh! Bagaimana kau bisa melupakan Yesha?" umpat Emier. Dokter tampan itu sepertinya tidak tahan untuk mengumpat pada Atha.
Atha menepuk jidatnya karena ia baru sadar jika Ayesha adalah psikiater yang pernah merawat Juna. Atha sendiri yang membawa Juna pada Ayesha saat dirinya menemukan Juna dalam kondisi tertekan juga.
"Apa Yesha tidak pindah rumah? Di mana dia berdinas sekarang?" tanya Atha.
Ck!
Emier berdecak sebal.
"Yesha tidak pindah rumah. Masih tinggak di perumahan elit itu. Kau ini teman macam apa, Atha? Usai mengabdi malah hilang kontak dengan teman-temanmu" cibir Emier.
Atha nyengir kuda. Ia memperlihatkan deretan gigi putihnya pada Emier. Merasa tidak ada keperluan lagi, Atha pamit undur diri. Ia harus pulang. Juna butuh istirahat. Atha tidak ingin membuat kondisi Juna semakin buruk.
***
Ceklek!
Athalia membuka pintu rumah yang pernah ia tempati saat di Surabaya dulu. Rumah milik pamannya itu dipilih Atha untuk singgah. Ia tidak membawa Juna pulang ke Madura karena esok Atha akan membawanya bertemu dengan Ayesha.
Atha menggenggam tangan Juna. Ia membawa Juna masuk ke dalam rumah. Kondisi rumah sudah rapi karena asisten rumah tangga pamannya sudah membersihkan rumah itu.
Kemarin, Atha sempat menghubungi pamannya. Ia mengatakan jika akan menginap di rumah itu selama berada di Surabaya.
"Kau masih ingat rumah ini?" tanya Atha.
Juna melihat ke sekeliling ruangan. Rumah itu memang nampak tidak asing. Juna merasa pernah datang ke tempat itu. Sedikit, ia bisa mengingatnya.
__ADS_1
" Saya ingat. Saya pernah ke sini" jawab Juna.
"Dengan siapa kau ke sini?."
"Dengan kawanku. Dia perempuan cantik dan sexy" sahut Juna lagi.
Athalia mendengus kesal. Ia sebal dengan jawaban Juna.
"Dengamu, sayang. Saya ke sini denganmu. Ini rumah pamanmu, kan?" tanya Juna memastikan.
Atha mengangguk. Ia kemudian mengajak Juna ke lantai dua. Kamar yang biasa di pakai Atha berada di sana.
"Saya tidak ingat kamar ini" ucap Juna saat mereka memasuki kamar itu.
"Kau belum pernah ke sini. Dulu kau tidur di lantai bawah, di kamar tamu."
"Apakah sekarang saya tidur di kamar tamu juga?."
"Juna!!!" tegur Atha. Ia menjewer telinga Juna yang seperti sengaja membuatnya naik darah.
Juna yang mendapat jeweran seperti itu malah tertawa terbahak-bahak. Ia sepertinya menikmati jeweran ganas istrinya.
"Sayang, saya gerah. Saya mau mandi" ucap Juna memberi kode.
"Mandi saja, Jun. Itu kamar mandinya. Aku akan memasukkan baju-baju ini ke lemari terlebih dahulu dan memesan makanan. Sepertinya aku tidak akan memasak."
Sretttt.
Juna menarik tangan Atha. Ia memeluk istrinya itu dari belakang.
"Mandikan!" bisik Juna tepat di telinga Atha.
Atha tentu saja geli dengan tindakan Juna. Apalagi Juna tidak hanya berbisik. Ia mulai mengecup daun telinga Atha dengan kedua tangan yang bergerilya di tubuh Atha.
"Hentikan, Juna...!!! Ayo, mandi! Tanganmu perlu disabun biar tidak kotor" ucap Atha sebal.
Juna merentangkan kedua tangannya, meminta sang istri untuk membukakan kemejanya. Atha memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia segera membukakan baju kemeja Juna, tak lupa dengan celana panjangnya.
"Ini juga" ucap Juna sembari menunjuk boxer ia pakai.
Atha mendorong tubuh Juna agar masuk ke kamar mandi. Ia segera menyalakan bath tube, mengisinya dengan air hangat.
"Eh?."
Atha terkejut ketika tangan kekar Juna memeluknya dari belakang. Jari-jemari Juna dengan lincah melepaskan kancing baju milik Atha.
Atha menoleh ke belakang. Suaminya itu ternyata sudah melempar perangkat dalamnya. Gerakan tangan Juna yang cepat, membuat Atha tidak menyadari jika Juna sudah meloloskan baju atasannya.
"Juna!" teriak Atha.
Juna menulikan pendengarannya. Ia dengan cepat melucuti sisa kain yang dikenakan istrinya. Dalan hitungan detik, pasangan suami istri itu sudah berada dalam bath tube.
"Aku tidak mau mandi, tetapi kau membawaku berendam juga Jun" gerutu Atha kesal. Meski begitu kedua tangannya tetap menyabuni punggung Juna.
Juna tidak menyahut. Ia memilih menikmati sentuhan istrinya dalam diam. Kedua matanya terpejam. Saat tangan Atha mulai menyabuni dada bidang Juna.
"Sayang..." panggil Juna.
"Hem?" Atha yang masih fokus menyabuni Juna tidak sadar jika pandangan Juna sudah berkabut.
Juna menghentikan gerakan tangan istrinya. Ia mengecup bibir ranum istrinya. Perlahan, semakin lama semakin dalam. Juna yang sedar tadi mencoba menahan hawa panas yang menyelimuti dirinya, rupanya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Mereka saling berpagut hingga tanpa mereka sadari jika keduanya sudah keluar dari bath tube.
Juna menggiring Athalia menuju closet. Ia menempelkan tubuh istrinya di sana. Atha yang sudah diselimuti hawa panas pun sepertinya harus pasrah. Ia membiarkan suaminya itu menggempurnya dari belakang.
"Maaf, sayang. Saya hanya ingin gaya baru" ucap Juna disela-sela mengasah kerisnya.
Atha yang sedang menjadi tempat mengasah keris, tidak mampu menjawab ucapan Juna. Ia menggigit bibirnya sembari berpegangan pada closet.
"Jun, a... a....aku... ma...u..." ucap Atha dengan nafas tersenggal-senggal.
Juna semakin mempercepat mengasah kerisnya. Dalam hitungan detik, Jun dan Atha memekik bersamaan.
"Juna..., kau semakin ganas saja" ucap Atha. Ia memukul paha Juna agar segera melepas kerisnya.
Juna hanya tertawa. Ia lalu melepas kerisnya dan membalik tubuh istrinya. Juna memeluk Athalia dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di dahinya.
__ADS_1
"Sudah, Jun! Kita harus segera mandi. Aku lapar" rengek Atha.
Juna mengurain pelukannya. Ia segera menyalakan kran shower dan mereka kembali mandi bersama. Hanya mandi, karena Athalia sudah mewanti-wanti akan merajuk jika Juna minta tambahan lagi.
***
"Sayang..." panggil Juna.
Ia menghampiri Atha yang merebahkan tubuhnya di atas kasur. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah waktunya bagi kedua insan itu untuk beristirahat.
Usai makan malam tadi, Juna meminta Atha untuk membiarkannya sendiri. Juna ingin mengerjakan pekerjaannya yang sudah terbengkalai. Ia perlu ruang sendiri karena pikirannya harus fokus. Juna tidak mau pekerjaannya terhambat jika Athalia menemaninya.
Gairahnya selalu muncul jika istrinya itu berada di dekatnya. Bau tubuh Athalia benar-benar memabukkan dan sudah menjadi candu bagi Juna. Otak Juna yang memang agak bergeser, tentu saja langsung travelling. Hal itu pasti akan membangunkan kembali tyrex mungilnya.
Atha sudah mewanti-wanti agar ia ingin beristirahat. Ia tidak ingin kelelahan karena nantinya masih harus ke sana ke sini untuk mengurus pengobatan Juna. Oleh sebab itu, demi kebaikan bersama Juna meminta Atha untuk menunggunya di kamar. Sedangkan Juna berada di kamar lain untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Maaf menungguku lama. Kamu sudah mengantuk?" tanya Juna. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Atha.
Atha menggeleng. Ia membalikkan tubuhnya agar bisa menghadap Juna.
"Jun, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Atha ragu.
"Tanya apa, Sayang? Tanyalah dan saya akan menjawabnya setahu saya" sahut Juna. Kali ini ia memeluk istrinya dengan erat.
"Jawablah dengan perlahan dan tenang. Jika kau merasa tidak nyaman, katakan! Tidak perlu panik! Aku hanya bertanya."
Juna diam sejenak, kemudian kepalanya mengangguk menandakan dirinya menyanggupi permintaan Atha.
"Ceritakan! Apa yang membuatmu takut? Apa yang membuatmu pingsan waktu itu? Maaf, aku memang belum menjadi istri yang baik. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Ceritalah! Agar aku bisa mencari solusi akan itu" ucap Atha.
Ia berusaha menguatkan hati Juna. Dilihatnya wajah Juna yang mulai berkeringat. Atha segera mengecup dahi Juna, menenangkan bayi besarnya itu agar tidak panik.
"Saya tidak tahu siapa dia. Saya lupa. Ketika Fira menyebutkan nama Diandra, saya langsung takut. Saya melihat seorang perempuan. Dia... Dia...." tubuh Juna mulai menegang.
Atha buru-buru mengusap wajah Juna. Ia menepuk-nepuk pipi Juna agar kembali rileks. Dalam hati Atha bertanya-tanya. Siapakah Diandra? Mengapa Juna langsung ketakutan seperti itu?
"Juna! Juna! Tenang, Jun! Tenang!" Atha bangkit dan langsung mendekap wajah Juna. Ia mencoba menangkan Juna yang mulai panik.
Juna bukannya tenang, tetapi semakin ketakutan. Bayangan dirinya tengah bergumul dengan Diandra tiba-tiba muncul. Juna menggelengkan kepalanya. Ia ingin mengusir apa yang dilihatnya.
"Maafkan saya! Maafkan saya! Hu...hu...hu... Saya tidak mau! Saya tidak mau! Pergi kamu! Pergi!" Juna berteriak sembari menangis histeris. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Atha.
"Juna, tenang! Tenang! Ada aku, Jun! Tenang!" teriak Atha.
Juna mendongakkan kepalanya. Sedikit memori masa lalu Juna mulai dapat diingatnya. Juna menggigit bibirnya, ia ketakutan untuk bercerita kepada Atha.
"Sayang, apa yang kamu lihat? Mengapa kau ketakutan?" tanya Atha.
"Perempuan itu! Saya takut dengannya. Saya tidak ingin bertemu dengannya" racau Juna.
Atha merebahkan tubuh Juna. Ia menyelimuti badan Juna hingga menutupi dadanya.
"Sayang, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tidak tahu siapa Diandra itu. Siapapun dia, tolong kuatlah demi aku. Kamu harus lawan rasa takutmu. Kamu harus bisa sembuh dari traumamu."
"Besok, kita akan bertemu Ayesha. Dulu, dia juga pernah menanganimu. Sekarang tidurlah! Tidur dengan tenang. Aku di sini, tidak perlu takut lagi" lanjut Atha mencoba menenangkan suaminya.
Juna mengangguk. Ia menutup kedua matanya, mencoba untuk tidur. Istrinya menepuk-nepuk Juna dengan sabar, dengan harapan Juna cepat terlelap.
Sesekali Atha mengusap punggung Juna, mendaratkan kecupan di kening suaminya itu. Atha benar-benar sedih melihat Juna seperti itu. Ia bertekad akan menyembuhkan Juna dari traumanya.
"Sayang..." Juna mendusel-dusel hidungnya di dada Atha. Tingkah Juna itu membuat Atha berfikir jika suaminya itu kembali ketakutan.
"Ssst....ssst...." Atha kembali menepuk-nepuk bahu Juna.
"Saya mau sesuatu" ucap Juna dengan mata terpejam.
"Mau apa?."
"Mau jadi bayi" ucap Juna tanpa dosa.
Tangan kiri Juna mengangkat pakaian atas istrinya. Ia juga menggeser penutup aset kembar Atha ahar Juna mudah menjadi bayi.
Cettass.
Atha menyentil dahi suaminya.
__ADS_1
'Dasar modus! Lagi ketakutan kayak gini, masih ingat yang mau jadi bayi' gerutu Atha dalam hati.