HEI JUN

HEI JUN
60


__ADS_3

Juna mengendarai motor butut Haris menuju SMA Cendekia. Entah mengapa ia ingin sekali mengunjungi tempat mengajarnya dulu. Meski Juna memiliki kenangan pahit di sana, ia tidak merasa sakit hati.


Juna ingin melihat seperti apa SMA Cendekia sekarang. Bagaimana kabar orang-orang di sana? Juna juga penasaran apakah mereka bisa mengenali dirinya mengingat kedua kakaknya yang tidak bisa mengenalinya.


Gerbang SMA Cendekia sudah semakin terlihat. Juna memperlambat laju motornya. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap bisa berpapasan dengan orang-orang yang dikenalnya.


Namun, sampai motor yang dikendarai Juna berhenti di depan gerbang, tak ada orang yang di temui Juna. Kemana Pak Udin? Mengapa sekolah sangat sepi?


Juna turun dari motornya. Ia berjalan perlahan menuju gerbang sekolah. Seketika bayangan saat dirinya mengajar muncul dalam otaknya. Dimana Juna mengajari murid-muridnya bermain voli. Juna yang selalu menarik nafas panjang ketika mendapat protes dari muridnya yang bosan dengan pelajaran voli yang mereka dapatkan.


Rindu. Juna rindu mengajar. Ia menatap jauh ke depan. Bayangan Lia berjalan di koridor sekolah tiba-tiba muncul. Juna tersenyum kecut, mengingat Lia membuat hatinya kembali tercubit.


Apa kabar mantan incarannya itu? Apakah ia bahagia bersama Noval? Apakah Lia masih mengajar di sini atau ikut ke Jakarta menemani Noval? Ah berbagai kenangan dan pertanyaan muncul di kepala Juna hingga ia tidak menyadari jika ada seseorang yang berdiri di belakang Juna.


"Maaf, Pak! Cari siapa?."


Juna langsung menoleh. Wajahnya langsung sumringah melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Suhri, murid tengilnya itu.


"Saya..."


"Mau daftarin anaknya ya, Pak?" tanya Suhri lagi.


Juna menggeleng. Dalam hati Juna membatin, lagi-lagi orang yang ia temui tidak mengenalinya.


"Terus Bapak ngapain ada di sini? Sekolahnya masih ditutup, Pak. Bangunannya sedang direnovasi" ucap Suhri tanpa ditanya ia menjelaskan perihal keadaan SMA Cendekia.


"Renovasi? Tapi kenapa tidak ada kuli ataupun tukang yang bekerja?" tanya Juna heran.


"Nggak ada dana, Pak. Jadi pihak yayasan menghentikan sementara sampai dana dari pusat cair."


"Lalu murid-muridnya?."


"Libur sampai waktu yang tidak ditentukan" jawab Suhri santai.


Juna tertegun. Libur katanya? Sampai waktu yang tidak dapat ditentukan? Ah, bagaimana anak-anak di desa itu bisa maju jika sekolahnya libur panjang begini?


Juna benar-benar tidak habis pikir. Semelarat itukah ketua yayasan sehingga tidak ada dana untuk merenovasi sekolah? Seingat Juna dulu Pak Zaini gencar sekali mencari dana ke sana ke sini. Kemana beliau? Apakah sudah pensiun dari sini?


"Pak Zaini masih menjadi kepala sekolah di sini?" tanya Juna.


"Pak Zaini? Bapak kenal sama Pak Zaini?."


Juna menutup mulutnya. Ia keceplosan. Melihat tampang selidik Suhri yang semakin menjadi, membuat Juna akhirnya mengangguk. Juna tinggal memutar otak saja mencari alasan jika murid tengilnya itu bertanya lagi.


"Masih, Pak. Beliau sekarang sedang mencari dana. Kasian sekali beliau, kepala sekolah kok lebih sering minta sumbangan daripada mengatur sekolah" ucap Suhri.


"Lalu ketua yayasan dan pihak komite kemana? Mereka tidak membantu Pak Zaini?."


"Boro-boro, Bapak. Mereka repot sama urusan masing-masing. Apalagi anak kesayangan Pak Komite masuk bu...i..." Suhri langsung menutup mulutnya. Ia tersadar jika sudah keceplosan.


"Bui? Anak Pak Komite masuk bui? Kasus apa?" tanya Juna.


Suhri langsung gelagapan. Ia langsung permisi dan kabur dari hadapan Juna.


Ck!


Juna berdecak sebal. Melihat sekeliling sekolah yang sepi membuat Juna memilih pergi. Juna teringat jika beberapa meter dari SMA Cendekia ada warung milik Bu Udin.

__ADS_1


Juna langsung menaiki motornya dan tancap gas menuju warung Bu Udin. Sebenarnya Juna khawatir warung itu tutup. Namun, kekhawatirannya sirna ketika melihat pintu warung Bu Udin terbuka.


Hati Juna langsung bersorak-sorai bergembira. Ia menepikan motornya dan masuk ke dalam warung. Juna mengedarkan pandangannya. Suasana warung Bu Udin tidak berubah. Letak meja dan kursi yang sama, makanan dan minuman yang ada serta penjualnya pun masih tetap Bu Udin.


Juna langsung duduk di bangku tengah. Rupanya ada satu pembeli yang makan di warung Bu Udin. Seorang perempuan muda yang duduk di bangku sebelah kanan. Perempuan itu menikmati lontong pecel sembari memejamkan matanya. Entah apa yang sedang perempuan itu pikirkan.


Juna memilih untuk tidak peduli. Lagipula perutnya sudah berbunyi. Mungkin saja cacing-cacing di perut Juna merindukan lontong pecel buatan Bu Udin. Juna langsung memanggil Bu Udin yang sedang menggoreng bakwan dan tempe.


"Mau pesan apa, Pak?" tanya Bu Udin ramah.


"Lontong pecel satu ditambah gorengan tempe 2 dan bakwan 2. Minumnya es teh" ucap Juna.


Perempuan yang sedang duduk di bangku sebelah kanan tiba-tiba membuka matanya. Ia langsung menoleh ke arah Juna. Sedetik, dua detik, perempuan itu memperhatikan Juna. Ia memandang Juna tanpa berkedip.


Untung saja yang dipandang adalah Juna, laki-laki yang minim rasa peka. Juna bahkan tidak menyadari jika perempuan itu menatapnya dengan tajam. Juna malah fokus menyantap makanannya. Rasa lapar dan rindu itu menjadi satu sehingga tidak ada waktu bagi Juna untuk tolah-toleh ke samping.


"Pak Ju..."


Juna langsung menghentikan makannya ketika mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh ke kanan dan barulah Juna tersadar jika dia sedang menjadi perhatian seseorang.


"Kamu manggil saya?" tanya Juna.


Perempuan itu langsung kaget. Ia menunduk lalu menggelengkan kepalanya. Juna tidak ambil pusing ia melanjutkan makannya. Tidak butuh waktu lama bagi Juna untuk menghabiskan makanannya.


"Bayar, Bu" teriak Juna. Ia menyodorkan uang pecahan seratus ribuan pada Bu Udin.


"Nggak ada kembaliannya, Pak" jawab Bu Udin membuat Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Juna membuka kembali dompetnya mencari uang dengan pecahan yang lebih kecil. Namun, percuma saja karena semua uang di dompet Juna adalah uang seratus ribuan.


"Bapak nggak ada uang kecil? Harga makanan itu hanya sepuluh ribu" celetuk perempuan itu.


Juna menggeleng.


Juna merasa de javu. Peristiwa ini sama ketika Lia sering membayarkan makanannya karena Lia tidak punya uang dengan pecahan kecil.


"Sudah saya bayar. Lain kali bawa uang kecil, Pak" ucap perempuan itu. Ia langsung berlalu dari hadapan Juna.


Juna yang tersadar dari zona lamunannya, segera mengejar perempuan itu. Juna berteriak memanggil perempuan itu. Untung saja perempuan itu tidak budek sehingga sekali panggil dirinya langsung berhenti melangkah dan membalikkan badannya.


"Bapak memanggil saya?."


Juna mengangguk.


"Ini buat kamu" Juna menyodorkan uang seratus ribu yang tadi hendak ia bayarkan pada Bu Udin.


"Tidak usah, Pak."


"Saya tidak menerima penolakan. Oh iya nama kamu siapa?" tanya Juna langsung memasukkan uang seratus itu ke dalam tas milik Fira.


"Saya Fira."


Juna mematung.


"Kamu pernah sekolah di SMA Cendekia?" tanya Juna.


"Ya. Semua anak di sini tentu saja lulusan SMA Cendekia, Pak. Kami ini anak orang miskin. Sekolahpun pasti cari yang dekat dan gratis" ucap Fira.

__ADS_1


"Kamu temannya Suhri?" tanya Juna lagi. Ia tidak sadar jika pertanyaannya itu membuat Fira kaget.


"Suhri adalah teman sekelas saya. Bapak kenal sama Suhri? Saudaranya? Atau atasannya?" pertanyaan Fira membuat Juna gelagapan. Bodoh sekali mulutnya yang tidak bisa di rem untuk bertanya. Kalau sudah begini, bagaimana Juna akan menjawab?


"Anda tidak usah gugup seperti itu. Dari wajah dan penampilan Anda, saya dapat menyimpulkan jika Anda bukan saudara Suhri. Nggak ada mirip-miripnya. Anda lebih cocok jadi bos nya" ucap Fira.


"Oh iya, apakah Anda tidak ada niatan untuk melanjutkan renovasi SMA Cendekia? Murid-murid sudah terlalu lama libur dan kami para guru sudah terlalu lama menganggur. Kami tidak punya uang kalau terus-terusan menganggur" curcol Fira.


"Heuh? Eh, itu...itu....anu..."


"Saya mengerti pasti dana dari pihak sekolah tidak ada kan? SMA Cendekia memang sedang diujung tanduk. Kalau sampai akhir bulan tetap tidak ada dana, sekolah ini siap-siap dijual."


"Dijual??? Sekolah bisa dijual???" Juna kaget.


"Tentu bisa, Pak. Sekolah ini milik kepala yayasan. Beliau bangun sendiri, merogoh kocek sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Sekarang Kepala yayasan butuh banyak uang untuk menebus keponakannya yang sedang dibui. Jika sampai akhir bulan tidak ada dana yang cair, saya yakin sekolah ini akan dilelang" ucap Fira kemudian dia berlalu meninggalkan Juna yang masih berdiri mematung.


Perkataan Fira masih berputar di kepala Juna. Ada apa ini? Segenting itukah keadaan SMA Cendekia? Juna tidak bisa membayangkan jika sekolah itu dijual dan beralih fungsi. Juna harus bertindak. Ia harus mengambil alih kepemilikan SMA Cendekia.


Juna merogoh sakunya. Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Kiara. Dalam otaknya saat ini hanyalah bagaimana caranya supaya Kiara mau memberi pinjaman uang kepada Juna.


"Halo, Mas Juna! Sudah sampaikah di kampung halaman?" Juna melihat penampakan Nyonya bos nya yang sedang makan.


"Sudah, Nyonya bos. Saya butuh bantuan, Nyonya."


"Bantuan? Kenapa? Mas Juna kesulitan apa di sana?" Raut wajah Kiara langsung cemas ketika mendengar Juna butuh bantuan dirinya.


"Saya butuh bantuan dana. Saya ingin membelikan rumah untuk kedua kakak saya dan sebuah sekolah" ucap Juna hati-hati.


"Rumah? Sekolah? Memangnya Mas Juna butuh berapa sampai bingung masalah dana?" sahut Kiara santai.


"Kalau harga rumah di sini paling murah 200 juta, Nyonya. Saya ingin membeli dua unit karena kakak saya dua orang. Kalau perihal sekolah, saya belum tahu akan dilepas dengan harga berapa" ucap Juna lirih.


"Cuma 400 juta kamu bingung? Heh Juna July! Uang segitu tidak sebanding dengan income yang kamu peroleh setiap bulannya."


Juna tersentak kaget ketika melihat penampakan Dira di layar ponselnya. Setahu Juna, Dira sedang berada di New York. Bagaimana bisa bos absurdnya itu tiba-tiba muncul di layar ponselnya?


"Tuan Dira? Loh kok?."


"Tidak usah kaget begitu. Saya lebih kaget mendengar kamu menghubungi Kiara hanya gara-gara uang 400 juta. Memangnya kamu tidak mengecek saldo ATM kamu?" bentak Dira sengit.


Juna menggeleng.


"Ck! Dasar Juna July! Gueh pikir sudah keren nih anak, ternyata tetap aja gagigugego" omel Dira yang membuat Kiara terkikik.


"Mas Juna, kalau hanya 400 juta nggak usah minjem sama Kiara. Uang Mas Juna malah lebih banyak dari itu. Asal Mas Juna tahu, Kiara sama Kadir sudah memberikan 5% saham perusahaan kami masing-masing untuk Mas Juna. Kemaren sudah tanda tangan kan sama Bapak Pengacara. Kenapa Mas Juna masih mau pinjam uang?" tanya Kiara.


"Dia nggak ngerti masalah saham, Kir. Lu sih pakai kasik ide bagi-bagi saham segala. Jadi bingung kan si Juna" omel Dira lagi.


"Mas Juna kan ada m-banking. Coba di cek saldonya. Kalau kurang dari 400 juta, baru ngomong sama Kiara."


Juna mengangguk. Ia segera membuka aplikasi m-banking di ponselnya.


"Nyonya, mengapa nol nya banyak sekali?" pekik Juna.


"Dari awal saya kasik modal udah nol nya banyak kali..." cibir Dira.


Juna menatap deretan angka di layar ponselnya. Sungguh sulit dicerna oleh Juna. Bagaimana bisa ia memiliki uang sebanyak itu? Juna baru setahun kerja di Sanjaya.corp, itupun terbilang magang. Kalau orang-orang tahu jumlah saldo tabungan Juna, pasti ia disangka ngepet.

__ADS_1


"Bingung ya? Nanti Kiara jelaskan kalau sudah di Jakarta. Sekarang Mas Juna belanja aja di situ. Nanti kalau uangnya kurang, telpon Kiara lagi. Bye."


Kiara memutuskan sambungan teleponnya meninggalkan Juna yang masih shock. Ia kembali membuka m-bankingnya, melihat deretan angka nol yang berjejer layaknya gerbong kereta. Kalau uang Juna sebanyak itu, Juna bisa membeli apa saja di kampungnya. Bahkan tanah se desa Papaten bisa ia beli.


__ADS_2