HEI JUN

HEI JUN
40


__ADS_3

"Laporkan kegiatan si Juna selama aku tidak ada!" perintah Dira ketika Edward baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Mas Juna mengikuti kursus seperti biasa, Tuan."


"Selain itu?" selidik Dira lagi.


"Dia melakukan kencan kecil bersama dokter yang pernah merawat Nona Kiara. Mereka juga sempat makan siang bersama kemarin" jawab Edward jujur.


Brak


Dira memukul meja kerjanya. Wajahnya terlihat penuh dengan amarah. Edward mundur teratur. Ia merasa heran dengan bos nya itu. Apa yang salah dari laporannya? Mengapa Dira bisa semarah itu?


"Hubungi kapten Jack! Suruh dia menyiapkan helikopter sekarang juga!" perintah Dira.


"Heli? Untuk apa Tuan?" tanya Edward heran.


"Aku akan mengirim Juna ke Spanyol sekarang."


Deg.


Edward langsung membeku mendengar ucapan Dira. Ada apa ini? Apakah Juna melakukan kesalahan sehingga Dira ingin langsung mengirimnya ke Spanyol? Juna belum genap sebulan menjalani masa trainingnya. Sangat beresiko jika ia langsung dilepas.


Melihat kesungguhan dan kemampuan Juna, Edward berfikir jika Dira akan mengirim Juna enam bulan lagi. Masih banyak yang perlu Juna pelajari. Meskipun Edward melihat kesungguhan Juna dalam belajar, tetap saja saat ini belum tepat untuk mengirim Juna ke Spanyol.


"Apa tidak terlalu cepat, Tuan? Mas Juna belum genap sebulan mengikuti training. Masih banyak yang harus dia pelajari."


"Aku tidak peduli, Ed!" potong Dira. Ia berteriak sembari memukul meja kerjanya lagi.


"Juna harus segera di kirim ke Spanyol. Aku tidak mau Juna tidak fokus dengan tugasnya. Perempuan itu bisa mengacaukan semua rencanaku."


"Tapi, Tuan, menurut saya sangat beresiko mengirim Juna ke Spanyol sekarang. Selain kemampuan Juna yang masih belum mencapai target kita, Juna juga akan kesulitan di sana. Mas Juna belum mengambil kursus bahasa Spanyol di sini, Tuan" bujuk Edward.


"Kau jangan bodoh, Ed! Banyak orang-orangku yang bekerja di Spanyol. Mereka juga orang Indonesia. Juna tidak akan mengalami kesulitan di sana" bantah Dira.


"Tapi, Tuan....."


"Tidak usah membantahku, Ed! Cepat laksanakan perintahku dan kirim Juna sekarang!" bentak Dira kesal.


Edward menghela nafas panjang. Ia membungkuk kemudian mundur perlahan meninggalkan ruang kerja Dira. Edward bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Juna.


Jujur saja Edward merasa kasian kepada Juna. Juna seperti kerbau yang cocok hidungnya, yang tidak diberi ruang untuk berekspresi. Jika Dira marah gara-gara Juna berkencan dengan dokter itu, Edward benar-benar tidak menganggapnya sebagai masalah. Juna juga butuh hiburan setelah seharian ia mengikuti kursus yang tidak terhitung banyaknya.


Edward mengambil ponselnya. Ia menghubungi Kapten Jack untuk memberi tahu perintah Dira. Setelah itu, Edward menghubungi Juna. Ia menanyakan posisi Juna sekarang.


"Ada apa Pak Edward? Wajah Anda tegang sekali?" tanya Juna ketika Edward masuk ke dalam ruang kursusnya.


Edward bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Juna. Ia tidak tega melihat Juna kembali frustasi akibat perintah Dira. Namun, Edward tidak punya pilihan. Dira akan menghukumnya habis-habisan jika tidak melaksanakan perintahnya.


"Kemasi barang-barangmu, Jun! Bersiaplah!" perintah Edward membuat Juna memicingkan kedua matanya.


"Bersiap? Memangnya mau kemana, Pak Edward?" tanya Juna.


Edward diam sejenak. Ia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Juna.


"Hari ini kamu akan berangkat ke Spanyol."


"APA?!!!" pekik Juna.

__ADS_1


Edward sudah menduga jika reaksi Juna akan seperti itu.


"Kenapa sekarang, Pak? Bukannya saya masih harus training beberapa bulan lagi?" tanya Juna masih dalam mode shock level 2.


"Saya hanya menjalankan tugas, Mas Juna. Tuan Dira memerintahkan seperti itu. Saat ini Kapten Jack sudah menyiapkan helikopter untuk mengantar Mas Juna" jawab Edward.


"Heli? Helikopter? Tidak, Pak Edward! Saya tidak mau berangkat sekarang" ucap Juna. Ia mulai kesal dengan perintah Dira yang seenaknya.


"Anda tidak bisa menolak, Mas Juna. Tuan Dira akan murka jika Mas Juna menolak perintahnya."


"Tapi saya masih ingin di sini, Pak" ucap Juna memelas.


"Saya paham. Sayapun tidak tega meminta Mas Juna berangkat sekarang. Tapi saya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, Mas Juna" sesal Edward.


Juna membanting buku yang sejak tadi ia baca. Ia melampiaskan amarahnya pada buku tak berdosa itu. Bagaimana mungkin ia sanggup pergi ke Spanyol sekarang? Juna baru saja menjalin hubungan tidak jelas dengan Atha.


Juna merasa dejavu. Ketika ia hendak menyatakan cinta kepada Lia, Pak Zaini menggagalkannya dengan menyuruh Juna ikut pelatihan. Sekarang, ketika Juna sedang mencoba mendekati Athalia, Dira dengan kampretnya menyuruh Juna pergi ke Spanyol.


Sial! Kenapa Juna lagi-lagi mendapat kutukan gangguan cinta sebelum berkembang? Apa perlu Juna mandi kembang agar kisah cintanya kali ini tidak gagal?


Huh... Juna membuang nafas kasar. Ingin memaki, tapi tidak berani. Ingin berteriak, tapi takut dimarahi. Juna hanya bisa pasrah menerima takdirnya. Menjadi robot seorang Tuan Adira.


"Apa saya boleh pergi sebentar?" tanya Juna.


"Saya akan menemui Athalia. Dia adalah satu-satunya orang yang saya kenal di sini selain Pak Edward dan Tuan Dira. Bagaimanapun saya harus pamit padanya sebelum berangkat ke Spanyol" lanjut Juna.


Edward berfikir sejenak. Rasanya terlalu kejam jika menolak permintaan Juna. Juna hanya ingin berpamitan. Edward yakin jika Juna tidak akan kabur mengingat Juna yang belum menguasai daerah Jakarta dengan baik.


"Mas Juna akan diantar oleh supir."


Juna mengangguk. Saat ini ia tidak peduli dengan siapa ia akan berangkat. Mau diantar supirlah, berangkat sendirilah, Juna tidak akan membantah. Tujuan Juna hanya satu, cepat bertemu dengan Atha untuk berpamitan.


"Macet total, Mas. Di depan ada mobil mogok" kata supir yang mengantar Juna.


Juna melirik arlojinya. Ini akan membuang-buang waktu jika ia terus mendekam di dalam mobil. Juna memilih keluar dari mobil dan berlari sembari mencari kendaraan alternatif yang bisa membawanya ke rumah sakit dengan cepat.


Suatu keberuntungan bagi Juna yang memiliki kemampuan di bidang olahraga. Juna yang terbiasa berlari maraton, tentu saja tidak usah diragukan kecepatannya. Kakinya yang panjang dan langkahnya yang lebar membuat jarak jauh yang ditempuh Juna seakan dekat. Andai Juna bergerak lebih awal, pastilah ia tidak perlu mendekam terlalu lama di mobil.


"Pak.... Ojek....!!!!" teriak Juna. Ia berhenti berlari ketika melihat tukang ojek sedang duduk di atas motornya. Tukang ojek itu segera menoleh mencari sumber suara yang memanggilnya.


"Ojek, Pak" kata Juna lagi. Ia langsung saja naik di belakang tukang ojek.


"Antarkan saya ke rumah sakit!" perintah Juna lagi.


"Rumah sakit mana, Mas?."


"Rumah sakit tempat Athalia bekerja" jawab Juna polos. Saking paniknya Juna sampai menjawab asal pertanyaan si tukang ojek.


"Mas, rumah sakit di sini banyak. Mas harus jelas memberi tahu tempat yang akan di tuju. Lagipula saya tidak kenal dengan Athalia. Saya cuma tukang ojek, Mas. Nggak ada tampang punya kenalan dokter" omel tukang ojek itu.


Juna menepuk jidatnya. Ia baru menyadari kesalahannya. Juna tidak tahu nama rumah sakit tempat Athalia bekerja. Namun, ia hafal jalan menuju ke sana.


Maka dengan petunjuk manual dari Juna. Tukang ojekpun melajukan motornya. Juna memberi ancer-ancer jalan yang ia lalui saat ke rumah sakit. Rupanya tukang ojek itu paham, dimana letak rumah sakit yang akan di tuju Juna.


Benar saja. Tukang ojek itu hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mengantarkan Juna. Juna menarik nafas lega ketika melihat bangunan rumah sakit yang memang menjadi tujuannya.


Juna merogoh sakunya. Ia mengambil uang dan menyodorkan kepada tukang ojek itu tanpa melihat nominalnya.

__ADS_1


"Mas, lagi mabok ya? Kebanyakan ini" teriak si tukang ojek.


Juna tak menyahut. Ia memilih segera berlari mencari Athalia daripada meladeni si tukang ojek itu. Rejeki bapak sholeh, siang-siang dapat lima lembar pecahan seratusan ribuan.


Tukang ojek itu segera pergi, mencari penumpang selanjutnya. Sedangkan Juna, ia terus berlari menyusuri rumah sakit untuk mencari Athalia. Ckckckck... Juna benar-benar panik. Ia tidak ingat jika dirinya membawa ponsel. Daripada berlari ke sana-kesini, bukankah lebih cepat jika menelpon Athalia saja?


Juna benar-benar tidak kepikiran tentang hal itu. Ia malah menghampiri perawat yang sedang mengobrol dengan security rumah sakit.


"Mbak perawat, saya mau tanya. Ruangan dokter Athalia di mana ya?" tanya Juna to the point.


Perawat itu memindai penampilan Juna. Sedikit kaget, karena selama ini Atha yang ia kenal tidak pernah mendapatkan tamu.


"Mbak! Mbak perawat! Tolong jangan melamun! Saya sedang terburu-buru" tegur Juna membuat perawat itu sadar dari mode lamunannya.


"Mari, ikut saya Pak!" ajak perawat itu.


Perawat itu berjalaan dan Juna mengekori dari belakang. Langkah perawat yang pelan dan sok anggun membuat Juna ingin sekali mendorongnya agar berjalan lebih cepat. Juna sudah tidak sabar ingin segera bertemu Athalia sebelum ia dijemput paksa oleh orang suruhan Dira.


"Bapak silakan duduk di sini. Saya akan masuk dulu untuk menemui dokter Atha. Mohon maaf dengan Bapak siapa?" tanya perawat itu sopan.


"Juna."


"Baiklah, Pak. Mohon ditunggu sebentar."


Juna mengangguk. Ia segera duduk di bangku besi yang berada di sampingnya sementara perawat tadi masuk untuk memanggil Atha.


"Hei, Jun! Ada apa mencariku?" tanya Atha.


Juna langsung bangkit. Seperti biasa di saat panik seperti itu Juna tidak akan bisa langsung berkata-kata. Ia akan gugup dan gemetar.


"Jun...! Juna! Hei, tenanglah! Tarik nafas dan hembuskan perlahan" perintah Atha yang segera dituruti Juna.


"Aku mau pamit" kata Juna.


"Pamit?."


"Iya. Tuan Dira mengirimku ke Spanyol" kata Juna lagi.


"Spanyol? Jangan halu, Jun! Kau di Jakarta saja masih baru. Mana mungkin Dira akan mengirimmu ke Spanyol? Apa ia tidak khawatir kau hilang?" tanya Atha tertawa.


"Aku serius, Atha. Sebentar lagi aku akan berangkat. Orang-orang Tuan Dira sudah menyiapkan helikopter untuk membawaku."


"Heli? Kau pikir Spanyol itu dekat, Jun? Hentikan halusinasimu, Jun!" Atha tetap tidak percaya dengan ucapan Juna.


Atha membalikkan tubuhnya. Ia jengah mendengar ucapan Juna yang menurutnya tidak masuk akal. Setengah jam lagi, ia harus mengecheck kondisi pasien-pasiennya. Atha tidak mau membuang-buang waktunya untuk mendengarkan bualan Juna.


"Sebentar!" Juna menarik tangan Atha. Mau tidak mau Atha kembali memutar tubuhnya.


"Aku banyak pekerjaan, Jun. Kalau kau ingin berbicara denganku, aku akan menjemputmu nanti sore."


Juna menggeleng.


"Aku akan berangkat sekarang, Atha. Orang-orang Tuan Dira sudah menungguku. Aku hanya ingin pamit. Jaga diri baik-baik. Maaf kalau aku pernah ada salah dan...." Juna mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya.


"Ini untukmu. Tolong simpan baik-baik! Aku akan berusaha mencari jalan agar cepat kembali ke sini" ucap Juna. Ia kemudian memutar tubuhnya dan segera berlari meninggalkan Atha.


Atha memiringkan kepalanya. Ia tertegun menatap kepergian Juna. Benarkah Juna akan pergi? Benarkah Juna akan pergi sejauh itu? Rasanya itu tidak mungkin.

__ADS_1


Atha membuka kota pemberian Juna. Kedua matanya langsung melebar ketika melihat isi di dalam kotak itu. Gelang emas bertuliskan namanya. Atha tidak habis pikir dari mana Juna mendapatkan uang untuk membeli gelang itu. Atha tidak tahu jika Juna mempunyai kartu sakti yang ia gunakan untuk membeli gelang itu.


__ADS_2