HEI JUN

HEI JUN
95


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


Wajah Juna nampak bahagia ketika mendapat kabar jika Kiara sudah melahirkan. Ia tidak sabar ingin segera terbang ke Jakarta untuk melihat bayi Kiara. Bayi mungil itu memang membuatnya penasaran. Seperti apa wajah bayi Kiara? Apakah mirip ibunya? Atau Ayahnya?


Saat ini Juna masih menetap di Surabaya karena harus merampungkan therapi pemulihan traumanya. Setelah kejadian terkena raket tenis milik Dira, Juna memang sembuh dari amnesianya. Namun, Yesha tetap meminta Juna untuk therapi guna menghilangkan traumanya. Yesha tidak ingin melihat Juna kembali trauma jika Juna tidak ditangani sampai tuntas.


"Kau membeli apa, Jun? Mengapa banyak sekali?" tanya Atha ketika ia masuk ke dalam kamarnya.


Atha sangat terkejut ketika banyak kado yang tertata rapi di atas kasurnya. Seingatnya ia tidak berulang tahun hari ini. Juna pun tidak. Lalu untuk apa Juna membeli kado sebanyak itu?


"Ini kado untuk Nyonya bos" jawab Juna, terlihat sekali binar kebahagiaan di mata Juna.


"Apakah Kiara ulang tahun?."


"Tidak! Dia baru saja melahirkan" ucap Juna dengan nada suara yang terdengar sangat bergembira.


"Cepat berkemas! Kita akan bertolak ke Jakarta sekarang. Lita sudah memesankan tiket untuk kita berdua. Kita tinggal berangkat saja" ucap Juna sembari menata kembali kado-kado yang beli.


Atha menunduk. Melihat binar kebahagiaan di mata Juna membuatnya sedikit sedih. Sudah lima bulan usia pernikahan mereka. Namun, belum ada tanda-tanda jika dirinya hamil. Atha sempat berfikir jika dirinya tidak sehat. Bagaimana bisa dirinya tidak kunjung hamil padahal Juna sudah menggempurnya setiap malam?


Ah, Atha menjadi tidak bersemangat untuk melihat bayi Kiara! Ia sepertinya tidak siap mental untuk mendengar ucapan-ucapan orang-orang. Pastilah nanti akan banyak yang bertanya kapan nyusul? Sudah isi?


Ah, pertanyaan yang membuat hatinya sensitif! Haruskah ia dan Juna memeriksa kesehatan untuk memastikan jika mereka baik-baik saja? Mengingat Juna sangat menginginkan anak dan target anak yang berjumlah sepuluh orang membuat Atha sangat kepikiran karena dirinya tak kunjung hamil.


"Sayang, kenapa masih diam di sana? Ayo, kita berkemas! Saya khawatir kita ketinggalan pesawat" ucap Juna membuyarkan lamunan Atha.


"Jun...!" panggil Atha.


Juna yang masih berkutat dengan kado-kado itu langsung menoleh ketika mendengar Atha memanggilnya. Ia kaget begitu melihat wajah Atha murung.


Juna buru-buru meninggalkan tumpukan kado-kado yang sejak tadi menyita perhatiannya. Ia menghampiri Atha dan mengajaknya untuk duduk di kasur.


"Hei...! Ada apa? Kenapa kamu murung?" tanya Juna.


"Kau senang sekali mendengar Kiara melahirkan" ucap Atha sedih.


Juna mengernyitkan dahi. Pasalnya ucapan istrinya itu terasa aneh di telinganya. Apakah Juna salah ikut berbahagia saat ini? Apakah istrinya tidak suka melihat Juna turut berbahagia atas kelahiran anak Kiara?


"Apa saya salah?."


Atha menggeleng.


"Lalu mengapa kamu sedih?" tanya Juna lagi.


"Maaf, Jun! Maaf, sampai detik ini aku belum bisa mengandung anakmu" ucap Atha. Hatinya seperti tersayat silet saat mengucapkan hal itu.


"Aku tahu kamu sangat menginginkan banyak anak. Bahkan kau pernah mengatakan jika ingin sepuluh anak. Ini sudah lima bulan berlalu dan aku belum juga hamil. Aku merasa gagal, Jun. Aku merasa sudah mengecewakanmu" ucap Atha.


Juna menggeleng. Ia segera membawa tubuh istrinya di dalam dekapannya. Juna memeluk Atha dengan erat sembari menyisir rambut panjang istrinya dengan jari-jemari tangannya.


"Kamu terlalu serius, Sayang. Mana mungkin saya tega menyuruhmu memproduksi anak sebanyak itu? Saya hanya becanda. Saya juga tidak terlalu ngotot. Kita jalani saja hidup ini apa adanya. Dengan atau tanpa anak, kita tetap bahagia."


"Tapi kamu sangat bahagia saat tahu Kiara melahirkan. Lihat! Kamu sampai membeli banyak kado untuk bayi Kiara. Kau pasti sedih kan karena aku belum hamil? Makanya kau mengalihkan perhatianmu kepada Kiara" ucap Atha dan kini ia mulai terisak.


Juna mengusap bahu istrinya dengan lembut. Rupanya Atha tersinggung dengan tingkah Juna yang terlalu bahagia ketika mendengar Kiara melahirkan.


Bagaimana Juna tidak senang? Kiara adalah orang yang berjasa di dalam hidupnya. Orang yang mengangkat Juna dari lembah kemiskinan dan kebodohan. Saat Kiara mendapat kabar bahagia, apakah Juna harus sedih?


Mungkin Atha menganggap Juna berlebihan. Namun, menurut Juna semua yang ia beli untuk bayi Kiara tidak sebanding dengan apa yang di berikan Kiara padanya.

__ADS_1


Juna hanya tidak ingin di cap sebagai manusia yang lupa daratan. Juna tidak ingin di cap sebagai manusia tidak tahu terima kasih.


"Apa saya salah jika saya turut bahagia? Apa saya harus sedih saat Nyonya bos sedang berbahagia? Sayang, ketahuilah. Ini semua sebagai ungkapan balas budi kepada keluarga Sanjaya. Kau tahu mengapa saya ke Afrika?" tanya Juna.


Atha menggeleng karena Juna memang tidak pernah bercerita tentang hal itu. Atha juga takut bertanya karena khawatir Juna belum ingat seratus persen.


"Karena Nyonya Kiara ngidam pengen lihat saya bernyanyi dengan harimau."


"APA???!!!" teriak Atha dengan spontan. Ia tidak percaya dengan ucapan Juna. Ia tidak percaya dengan kedua telinganya yang mendengar perkataan Juna.


"Dan kamu melakukannya?" tanya Atha lagi.


Juna mengangguk.


"Kamu harus tahu. Saat itu pemandu safari trip membawa saya berkelana. Ia membawa saya ke hutan belantara. Awalnya saya biasa aja. Duduk anteng sambil menghafalkan lirik lagu jaran goyang, lagu pesanan Nyonya Kiara."


"Lalu?."


"Datanglah kawanan harimau. Mereka mengaum satu sama lain. Saya kaget dan spontan jatuh ke luar dari mobil."


"APA???!!!" Atha kembali berteriak.


"Kawanan harimau itu menghampiri saya. Saya gemetar dan tanpa sadar saya menyanyikan lagu jaran goyang."


"Lalu pemandu wisata itu kemana? Apa mereka tidak tahu jika kamu jatuh?" tanya Atha kesal.


"Mereka jelas tahu saya terjatuh. Sopir itu menghentikan mobil yang saya sewa. Pemandu itu hendak turun. Namun, ketika mendengar saya bernyanyi. Mungkin bapak pemandu itu mengingat ucapan saya. Ia segera mengambil ponselnya untuk merekam."


"Gila...!!! Gila...!!! Siapa tuh bapak pemandu Safari tripnya. Aku bakalan datengin dia..."


Juna menggeleng. Ia menempelkan jari telunjuknya di bibir Athalia agar berhenti mengomel.


"Memang sebelumnya saya minta tolong seperti itu sesuai ngidamnya Nyonya bos."


"Kawanan harimau semakin mendekat. Saya bangkit dan langsung kabur. Harimau itu yang semula berjalan tentu saja ikut berlari. Kaki saya berlari kencang, tapi mulut saya tetal bernyanyi jaran goyang."


"Ya ampun, Jun...!!! Kamu itu ya, bikin was - was saja. Lalu?."


"Lalu saya jatuh ke jurang, bergelinding seperti bola sepak. Saya tidak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu bangun, saya berada di rumah sakit."


"Ya ampun, Jun! Kamu sampai hampir mati gara-gara menuruti keinginan Kiara? Ah, nggak bener tuh Kiara! Aku harus bikin perhitungan sama dia."


"No! No ! No! Kamu tidak boleh melakukan itu. Asal kamu tahu. Jangankan bernyanyi dengan harimau, bernyanyi dengan ikan paus akan saya turuti jika itu keinginan Kiara."


"Kenapa, Jun? Kenapa.........?" teriak Atha lagi.


"Karena saya merasa sangat berhutang budi kepada keluarga Sanjaya. Saya tidak mungkin seperti ini jika bukan karena mereka. Saya mungkin masih menjadi kurir pengantar paket bukan direktur keuangan Sanjaya corp sekaligus pemilik SMA Cendekia. Tanpa mereka saya bukan apa-apa" ucap Juna.


Atha diam. Sedikit demi sedikit kesedihannya menguap.


"Kau tidak sedih karena aku belum mengandung?" tanya Atha.


"Untuk apa sedih? Kalau sudah waktunya, nanti juga melendung. Sudahlah, jangan terlalu memikirkan itu. Tidak ada yang menuntutmu untuk cepat hamil. Sekarang, bersiap-siaplah! Kita akan segera berangkat."


***


Kediaman keluarga Sanjaya, Jakarta.


Juna menggendong bayi perempuan Kiara. Bayi mungil itu tengah tidur anteng dalam gendongan Juna. Berkali-kali Kiara menyuruh Juna untuk meletakkan bayinya di box tidur. Namun, Juna mengacuhkan ucapan Kiara.

__ADS_1


Sejak menginjakkan kaki di bandara Seokarno-Hatta, Juna tidak langsung ke rumah Kiara. Ia mendapat kabar jika Kiara masih berada di rumah sakit. Juna yang sudah terlanjur bahagia seketika lesu. Akhirnya ia memilih berdiam diri di apartemennya, menggunakan waktu yang ada untuk ber nina ninu dengan Atha.


Barulah lima hari kemudian, Juna mendapat kabar lagi jika Kiara sudah pulang dari rumah sakit. Keasyikan ber nina ninu membuat Juna lupa dengan tujuannya datang ke Jakarta. Ia pin terlambat menengok bayi Kiara karena sebenarnya Kiara sudah pulang dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu.


"Bikin, Jun, yang kayak gitu juga. Itu anak orang, gendong anak sendiri" cibir Dira ketika melewati Juna hang sedang menggendong bayi Kiara.


Juna hanya tersenyum. Ia tidak menanggapi ucapan Dira.


"Memangnya istri Mas Juna belum isi?" tanya Kiara.


Juna menggeleng, tapi tetap menampilkan senyumnya.


"Ah, tidak usah dipikirkan. Kiara dulu juga lama pas mau hamil. Sampai program hamil, tes kesehatan, bulan madu lagi. Kalau belum rezeki ya, mau bagaimana. Mas Juna jangan sedih ya" ucap Kiara menghibur Juna.


"Ah, kalian memang sama saja! Kamu dan Elang kurang tangguh menjadi pejantan. Kayak gueh dong, sekali tembak langsung jadi" ucap Dira bangga.


"Istri Tuan Dira sedang hamil?" tanya Juna.


"Waduh keceplosan!" Dira menepuk mulutnya. Lalu ia buru-buru ngacir karena tidak ingin diintrogasi oleh Kiara.


Juna menggelengkan kepalanya. Dilihatnya Atha muncul bersama Mama Widya, ibunda Kiara. Sejak tadi Atha terlibat obrolan serius dengan Widya. Mereka memisahkan diri di ruang tamu. Juna sampai heran, apa yang mereka bahas ? Mengapa mereka baru selesai mengobrol?


Tidakkah Atha menyadari jika dirinya sudah mengobrol selama satu jam setengah? Ia juga belum menengok bayi Kiara. Saat Juna dan Atha tiba di kediaman Sanjaya, Widya yang menyambutnya.


Widya langsung menarik tangan Atha dan mengajaknya berbincang. Sedangkan Juna memilih ke kamar Kiara, berkumpul bersama Elang dan Dira untuk melihat bayi perempuan itu.


"Kalian asyik sekali mengobrol sampai lupa tujuan kita ke sini untuk apa" sindir Juna membuat Atha malu.


"Mau menggendong bayinya? Siapa tahu nanti menular" tawar Juna.


Atha mengangguk. Ia mengambil alih bayi Kiara dari gendongan Atha. Dilihatnya wajah bayi mungil itu yang sedang terlelap. Sangat lucu dan menggemaskan.


Jika sudah begini bagaimana Atha tidak ingin juga? Rasanya Atha ingin mempunyai bayi seperti bayi Kiara. Jangankan satu, lima juga boleh.


"Namanya siapa, Nyonya?" tanya Juna.


"Namanya Akila."


"Akila? nama yang bagus sekali" sahut Atha.


"Ya jelaslah bagus! Gue yang beri nama" teriak Dira. Ia tidak jadi masuk ke kamar Kiara karena melihat Atha di sana. Dira membalikkan tubuhnya dan kembali ngacir. Ia sudah seperti iklan yang selalu lewat tanpa ada aba-aba.


"Kenapa Tuan Dira yang memberi nama? Apakah Nyonya Kiara tidak punya stok nama?" tanya Juna heran.


Kiara menghela nafas panjang. Ia kesal jika mengingat Dira yang memberi nama anaknya. Sebenarnya Kiara ingin memberi nama Liora pada bayinya. Namun, Dira bersikeras menginginkan nama Akila pada bayi itu dengan dalih nama itu adalah gabungan nama Kiara dan Elang.


"Kadir udah ganti profesi jadi tukang memberi nama. Mas Juna lupa kalau nama Mas Juna juga pemberian dia? Ah, sudahlah! Jangan membahas itu. Aku jadi kesal kalau mengingatnya" ucap Kiara kemudian ia mengambil alih bayinya dan meletakkan di box bayi.


"Kita makan dulu yuk! Aku sudah lapar banget. Rasanya seperti belum makan setahun" ajak Kiara.


"Memangnya Nyonya belum makan?" tanya Juna.


"Sudah, satu jam yang lalu. Sekarang aku lapar lagi."


"Kok bisa? Memangnya tadi cuma makan satu sendok?" tanya Juna lagi heran.


"Kiara sedang menyusui, Jun. Jangan heran jika makannya banyak. Apa yang dimakan Kiara akan menjadi ASI dan itu akan disedot oleh bayinya. Jadi jangan heran kalau Kiara cepat lapar. Ia butuh banyak asupan makanan untuk menyumplai produksi ASI nya" tutur Athalia menjelaskan kepada Juna.


"Ah, kamu paham banget. Saya jadi nggak sabar mau punya anak juga. Kita pulang aja yuk! Bikin anak biar cepet jadi" ucap Juna polos.

__ADS_1


"Hush...!!! Omonganmu, Jun! Bikin malu aja" tegur Atha.


"Sudah jangan berdebat! Aku sudah lapar. Ayo makan dulu! Makan yang banyak. Kalian mau bikin anak kan? Kalau mau bikin anak butuh asupan energi yang banyak juga. Biar nggak loyo saat proses produksi" ucap Kiara kemudian ia berlalu ke luar dari kamarnya.


__ADS_2