HEI JUN

HEI JUN
31 - POV JUNA


__ADS_3

Pare, sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri - Jawa Timur, kini menjadi tempat bernaungku. Sudah sebulan aku tinggal di sini meninggalkan pulau garam, tempat kelahiranku. Aku harus mengungsi ke Pare sesuai permintaan Mas Haris.


Pare lebih terkenal dengan sebutan kampung Inggris. Tak heran jika Pare mendapat julukan seperti itu karena ketika aku menginjakkan kedua kakiku di sini, kedua netraku langsung disuguhi dengan deretan gedung-gedung yang dijadikan tempat kursus bahasa inggris.


Aku bisa melihat bagaimana segerombolan anak-anak berjalan dengan tangan yang memegang kamus oxford. Mereka berjalan sembari menghafalkan kosa kata Bahasa Inggris yang mungkin adalah tugas dari guru kursusnya.


Aku dibuat kagum ketika bertemu dengan beberapa pedagang makanan kecil yang juga fasih berbahasa Inggris. Mungkin karena mereka setiap hari mendengarkan bahasa internasional itu sehingga tanpa mereka sadari lidahpun sudah fasih tanpa diasah.


Sebulan yang lalu. Setelah rentetan peristiwa pahit yang aku terima, aku menuruti kemauan Mas Haris untuk mengasingkan diri di sini. Berat, tapi ini harus aku jalani.


Berbekal uang hasil penjualan motor ditambah pemberian Mas Haris dan Mbak Ines, aku memulai hidup baru di tempat ini. Menempati rumah peninggalan Bapak yang sudah tak terurus bertahun-tahun. Aku juga mengelola sawah peninggalan Bapak. Meskipun akhirnya menyerah dan membiarkan sawah itu dikerjakan oleh orang suruhan Paman Mudani.


Aku mencoba melamar menjadi guru di sini. Namun, ternyata di sini tidak menerima guru olahraga sepertiku. Hanya ada lowongan guru bahasa Inggris yang tidak mungkin aku lamar karena memang kemampuanku di bidang ini yang kosong melompong.


Atas bantuan Paman Mudani pula, aku bisa bekerja di salah satu jasa ekspedisi barang. Aku membeli sepeda motor bekas dari hasil meminjam uang kepada Paman Mudani.


Mas Haris dan Mbak Ines mengurus penjualan tanah yang dulu ditempati rumahku. Andai saja rumah itu tidak dibakar, pastilah aku tidak mau menjual harta peninggalan Emak. Mas Haris bersikeras untuk tutup buku total. Tanah itu di jual agar aku tidak teringat akan pahitnya kehidupan yang aku alami di tempat itu. Dengan berat hati, lagi-lagi aku menuruti kemauan Mas Haris.


Dan di sinilah aku sekarang, mengantarkan paket-paket pesanan orang-orang yang berbelanja di situs belanja online. Pagi sampai malam, begitulah jam kerjaku. Memecah jalanan setiap hari, mengantarkan puluhan paket kepada pelanggan.


Senang? Tentu saja! Karena pekerjaan ini lebih mirip dengan acara jalan-jalan. Setiap hari aku akan menyusuri jalanan yang berbeda, mengantarkan paket ke berbagai alamat di kecamatan ini. Aku sangat bersyukur Tuhan masih berbaik hati kepadaku memberikan sumber nafkah untuk menyambung hidup. Meski tidak sesuai dengan latar belakangku sebagai tenaga pengajar. Tapi aku sangat menikmati hal itu.


Seperti hari ini, aku bertugas mengantarkan paket buku-buku pesanan dari salah satu lembaga kursus di Pare. MAHESA, begitu aku membaca nama lembaga yang tertera di kolom penerima. Aku bergegas menuju ke tempat lembaga itu berada. Cukup jauh dari tempat ekspedisiku. Tapi aku sama sekali tidak keberatan.


Tepat empat puluh lima menit setelah aku tancap gas dari tempat ekspedisiku, aku tiba di alamat yang di tuju. Bangunan dua lantai, dengan halaman yang luas berdiri tegak di depanku. Aku bisa melihat gerombolan anak-anak duduk melingkar di halaman itu. Mereka saling mengetes kemampuan hafalan kosa kata Bahasa Inggris sembari sesekali tertawa riang.


Ah... melihat mereka membuatku merindukan murid-muridku di SMA Cendekia. Suhri, muridku yang selalu ramai saat aku mengajar. Wardah yang selalu menjadi bahan ejekan teman- temannya dan Fira, siswi yang selalu mengantarkan lontong pecel Bu Udin kepadaku.


Rindu. Aku benar-benar merindukan mereka. Apa kabar mereka sekarang? Apa mereka masih mengingatku? Sedang apa mereka sekarang? jam segini pastilah anak-anak itu sedang belajar.


Aku bergegas mengambil tumpukan buku pesanan pemilik lembaga ini. Pak Edo Dwi Atmojo, begitulah nama yang tertera di kolom penerima. Aku segera mengambil dan membawa buku-buku itu untuk diantarkan kepada Pak Edo. Namun, langkahku terhenti ketika melihat seorang ibu paruh baya berjalan tergesa-gesa bersama seorang gadis.


Aku mengamati gadis yang sedang mengekori ibu itu dengan malas. Gadis itu memakai baju piyama yang di double dengan jaket. Aku tertegun melihat penampilan gadis itu. Ah... wajahnya mengingatkanku pada Atha. Wajah yang cantik, bersih tanpa polesan, rambut hitam dan tentu saja sikap cueknya.


Perlahan aku mengikuti langkah Ibu itu. Aku bisa melihat Ibu itu masuk tanpa permisi. Mungkin orang-orang di sana sudah mengenal ibu itu.


"Mau kemana, Mas?" tanya seseorang membuatku akhirnya tersadar dari lamunanku.

__ADS_1


Sial! Aku memaki diriku sendiri. Bisa-bisanya aku berjalan sambil melamun mengikuti dua orang asing itu. Di jam kerja lagi.


"Mas, kok melamun?" tanya orang itu lagi.


"Eh, maaf! Saya mau mengantarkan paket, Pak. Ini atas nama Bapak Edo Dwi Atmojo" jawabku sopan.


"Oh... untuk Pak Edo? Biar saya yang terima. Pak Edo sedang ada keluarganya" jawab orang itu.


Oh... keluarganya? Pasti ibu itu adalah istri Pak Edo sedangkan gadis itu kemungkinan adalah anaknya, gumamku dalam hati.


"Paket ini pembayarannya COD, Pak" kataku lagi memberi tahu.


"Hah? COD? Biasanya Pak Edo selalu membayar di muka lho, Pak."


"Saya kurang tahu, Pak. Tapi ini tulisannya COD begitu."


Orang itu kemudian mengecek invoice yang tertempel di depan.


"Maaf, ya, Pak. Sepertinya yang order ini anak baru. Pak Edo tidak pernah memakai sistem pembayaran COD, pasti selalu ditransfer. Apakah Bapak tidak keberatan jika menunggu dulu? Soalnya Pak Edo sedang ada keluarganya. Saya sungkan untuk mengganggu beliau" kata Bapak itu.


"Mama pulang saja. Biar Kiara disini. Nanti Ayah akan masukkan Kiara di kelas Mr. Ryan. Kebetulan memang Mr. Ryan memegang kelas speaking."


Aku bisa mendengar obrolan Pak Edo dengan keluarganya karena pintu ruangan Pak Edo tidak ditutup. Menguping, itulah yang sedang aku lakukan sekarang. Dari obrolan mereka, aku menduga jika nama gadis itu adalah Kiara. Nama yang cantik seperti orangnya.


Aku masih menunggu di luar sampai akhirnya aku melihat ibu itu keluar dari ruangan Pak Edo dengan wajah berbinar.


"Apa kau ingin masuk ke kelas sekarang?" tanya Pak Edo.


"Tidak" jawaban Kiara yang terdengar ketus membuatku kaget sekaligus penasaran.


"Lalu kau mau apa kesini?" tanya Pak Edo lagi.


"Tidak ada" jawab Kiara lagi.


"Sepertinya kita harus berkenalan dulu"


"Tak perlu" potong Kiara cepat.

__ADS_1


"Kiara, dengarkan Ayah..."


"Kau bukan Ayahku!!!" teriak Kiara.


Aku langsung tersentak kaget mendengar teriakan Kiara. Hmm... ada apa dengan mereka? Mengapa Kiara berkata seperti itu? Apa mungkin Kiara adalah anak sambung Pak Edo? Ah... mengapa aku malah mengurusi masalah orang? Aku kesini kan untuk mengantarkan paket.


"Kau jangan pernah bermimpi bisa menjadi Ayahku. Aku hanya mempunyai satu Ayah dan itu adalah Papa Arman. Kau jangan pernah berharap bisa menggantikan posisi Papa Arman. Mungkin kau bisa merebut perhatian dan kasih sayang Mama tapi tidak denganku" ucap Kiara dengan nada tinggi.


Aku melihat Kiara keluar dari ruangan Pak Edo dengan wajah kesal. Ia berjalan ke arah timur, berlawanan arah ketika kedatangannya.


Aku mengernyitkan dahi. Heii... kenapa Kiara berjalan ke arah timur? Bukannya tadi ia dan ibunya datang dari arah barat? Apa dia lupa arah? Atau memang ia sengaja ingin pergi ke tempat lain?.


Aku hendak bangkit menyusul Kiara. Namun, langkahku terhenti oleh suara laki-laki yang menegurku.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Pak Edo yang berdiri di belakangku entah sejak kapan.


"Saya mau mengantarkan paket, Pak. Ini sistem pembayarannya COD. Jadi saya diminta untuk menunggu Pak Edo" kataku.


Pak Edo menggaruk-garuk kepalanya.


"COD ya? Hmm... pasti yang order anak baru. Boleh saya lihat invoice nya?" pinta Pak Edo dan aku segera menyerahkan kepada beliau.


Pak Edo menyuruhku masuk ke dalam ruangannya. Tak lupa membawa semua paket itu juga.


"Ini uangnya. Terima kasih, ya, Mas" kata Pak Edo sembari menyerahkan beberapa lembar uang sesuai nominal yang tertera dalam invoicenya.


Aku menerima uang itu dan segera pamit untuk mengantarkan paket-paket yang lain. Aku segera melajukan motorku menuju alamat selanjutnya. Motorku berjalan dengan perlahan. Aku tidak berani melajukan di atas 40 km/jam karena di tempat ini banyak pejalan kaki yang sebagian besar adalah anak-anak.


Aku terus melajukan motorku, melewati jalan dengan nama-nama bunga. Tepat di daerah pesawahan. Aku melihat Kiara sedang berdiri memegangi bulir-bulir padi yang mulai menguning. Senyum di bibirnya terbit dan itu manis sekali.


Aku yang terpesona dengan Kiara seketika menghentikan laju motorku. Gadis itu membuatku penasaran. Tingkahnya sungguh menggemaskan.


Kiara melompat-lompat kegirangan seperti anak SD. Ia terus memainkan bulir-bulir padi, memetiknya dan meniupnya. Dia terlihat girang sekali walaupun hanya bermain dengan bulir biji padi.


Hm... Kiara... lucu sekali gadis itu. Andai aku tidak sedang bertugas mengantarkan paket-paket ini, pasti aku akan ikut bermain denganmu. Tidak dapat ku pungkiri jika aku rindu bermain di sawah seperti itu. Masa anak-anak yang ringan tanpa beban seperti sekarang.


Aku kembali menyalakan motorku dan melajukannya kembali. Paket-paket ini harus segera diantarkan. Ku tunda dulu kesenanganku melihat Kiara dan besok sepertinya aku akan mencarinya lagi. Semoga saja kita kembali bertemu di sini. Toh aku sudah tahu jika ayah sambungmu pemilik MAHESA. Jadi aku rasa tidak akan sulit mencarimu.

__ADS_1


__ADS_2