HEI JUN

HEI JUN
67


__ADS_3

"Loh, Pak May kok ada di sini?" tanya Fira ketika memasuki warung Bu Udin.


Juna langsung menghentikan suapannya. Ia menoleh ke samping, tersenyum kilat kepada Fira tanpa mau menjawab pertanyaan gadis itu.


"Bukannya tadi Pak Zaini membawa makanan ke aula ya? Kenapa Pak May di sini?" tanya Fira lagi. Ia lalu duduk di bangku kanan sebelah Juna.


"Kamu juga kenapa di sini, Fira?."


"Saya? Saya mau beli lontong pecel, Pak."


"Bukannya tadi Pak Zaini membawa makanan ke aula ya? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Juna mengulang pertanyaan Fira.


"Nggak kreatif!" Fira menyipitkan kedua matanya.


Fira bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Bu Udin, memesan dua lontong pecel yang akan di bawa pulang. Fira kembali lagi ke tempat duduknya dengan membawa sepiring bakwan goreng yang baru saja matang.


"Bakwan nih, Pak!" ucap Fira menawari Juna.


Juna mengangguk. Ia mengambil dua bakwan dan meletakkan di piringnya. Juna tidak berkata lagi. Ia melanjutkan menyantap makanannya.


Sesuap, dua suap, Juna makan tanpa menoleh. Ia tidak sadar jika sejak tadi Fira memperhatikan cara makannya.


"Bapak asli orang mana?" tanya Fira tiba-tiba. Pertanyaan Fira itu membuat Juna menghentikan suapannya.


"Saya orang Indonesia."


"Daerahnya, Pak!" ucap Fira yang entah mengapa nada suaranya menjadi dingin.


"Desa sebelah."


"Desa yang mana, Pak? Sebelah barat, timur, selatan, atau utara?" tanya Fira tak puas.


Juna tersenyum simpul.


"Kamu mau tahu banget?."


Fira mengangguk.


"Kenapa?" tanya Juna penasaran.


"Karena Pak May mirip dengan seseorang" ucap Fira lirih.


Plak!


Seseorang memukul bahu Fira. Fira tentu saja kaget mendapat serangan mendadak. Ia memutar tubuhnya, hendak memukul balik orang yang memukulnya. Namun, Fira urung melakukannya ketika melihat sosok yang berdiri sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Move on, Fir! Bapak ini bukan Pak Juna" ucap Suhri mengingatkan Fira.


Juna yang mendengar namanya disebut tentu saja kaget. Ada apa ini? Mengapa Suhri berkata seperti itu?.


"Pak Juna sudah meninggal saat kebakaran di rumahnya. Kalau kamu terus-terusan mengigau Pak Juna, beliau tidak akan tenang di akhirat."


Juna mengusap dada. Ia ingin sekali menjitak kepala Suhri yang berbicara seperti itu. Juna masih sehat wal'afiat. Dia belum meninggal. Bisa-bisanya Suhri berkata seperti itu? Di hadapannya lagi.


"Mayatnya tidak ditemukan, Ri. Aku yakin jika Pak Juna masih hidup" ucap Fira lirih.


"Kalau Pak Juna masih hidup, beliau pasti masih ada di kabupaten ini. Kamu tahu sendiri kan, selama setahun lebih kamu mencari Pak Juna tetapi tidak ada hasil? Bangun, Fira! Bangun! Sebucin itukah kamu pada Pak Juna sampai-sampai tidak bisa move on seperti ini?."

__ADS_1


Deg.


Juna mematung ketika mendengarkan ucapan Suhri. Fira, mantan muridnya itu memiliki perasaan kepadanya? Bohong! Ini pasti bohong.


Juna memasang telinganya baik-baik. Ia ingin tahu kelanjutan obrolan dua mantan muridnya itu. Hatinya yang semula tenang, langsung berubah bergelombang.


"Sebelum mayat Pak Juna belum ditemukan, aku masih menganggapnya hidup" ucap Fira lalu langsung pergi setelah membayar makanan yang dipesannya.


Suhri menggelengkan kepalanya. Ia lalu duduk di bangku yang tadi di tempati Fira.


"Suhri!" panggil Juna.


Suhri yang saat itu sedang melamun tentu saja kaget. Ia menoleh ke kiri, mengamati sosok yang sedang duduk sembari memegang bakwan goreng. Kedua netra Suhri berkedip-kedip, mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah bertemu dengan sosok di hadapannya.


"Bapak siapa? Kenapa tahu nama saya?" ucap Suhri. Ia lupa jika pernah bertemu Juna satu bulan yang lalu.


"Saya Pak May, pemilik SMA Cendekia yang baru."


Suhri mengerutkan dahinya.


"Kok kenal saya?."


"Tadi saya nguping pembicaraan kamu dengan Fira. Fira mengajar di SMA Cendekia kan?" tanya Juna.


Suhri mengangguk.


"Kamu siapanya Fira? Teman? Pacar atau..?."


"Saya sepupunya Fira sekaligus teman sekelasnya" ucap Suhri sembari mengulurkan tangannya ke arah Juna.


Juna menyambut uluran tangan Suhri. Sepertinya ia akan mengorek informasi tentang Fira darinya.


"Boleh tanya sesuatu?" tanya Juna hati-hati.


Juna menyodorkan sepiring pisang goreng yang baru saja diletakkan oleh Bu Udin. Tak lupa Juna juga memesankan kopi untuk Suhri. Ia paham betul kebiasaan Suhri yang seperti bapak-bapak. Makan pisang goreng sambil ngopi. Memang sedap sekali.


"Tanya apa, Pak May?."


"Pak Juna itu siapa?."


"Pak Juna? Guru olahraga di SMA Cendekia."


"Orangnya yang mana?" tanya Juna pura-pura.


"Sudah dipecat sama Pak Zaini. Pak Juna terkena skandal video panas sama istri orang. Jadinya pihak sekolah langsung memecat Pak Juna dengan tidak hormat."


Juna menelan salivanya. Bayangan ketika dirinya dipecat langsung muncul di kedua matanya. Juna meremas ujung bajunya. Ia masih merasa sakit ketika mengingat kenangan buruk itu.


"Fira naksir Pak Juna?" tanya Juna lagi.


"Banget, Pak May. Bucin parah si Fira. Si Fira bela-belain jadi pengantar makanan khusus untuk Pak Juna. Setiap Pak Juna beli lontong pecel ke Bu Udin, Fira pasti langsung menawarkan diri untuk mengantarkan ke Pak Juna. Sejak kelas X lho, Pak sampai kelas XII. Tapi dasar memang Pak Junanya saja yang tidak peka. Beliau tidak pernah sadar jika orang yang mengantar makanannya adalah Fira."


Juna mengeram kesal. Lagi-lagi ketidakpekaan Juna membuatnya rugi.


"Fira bahkan rela ngajar sambil kuliah karena ingin menunggu Pak Juna muncul" ucap Suhri dengan kedua mata yang menerawang ke atas.


"Memang Pak Juna kemana? Kenapa Fira sampai mau menunggunya?."

__ADS_1


"Pak Juna meninggal. Rumahnya kebakaran. Fira beranggapan Pak Juna masih hidup karena saat dievakuasi tidak ditemukan mayat Pak Juna. Makanya Pak May, si Fira masih ngotot banget buat nunggu Pak Juna" ucap Suhri sembari menyereput kopi hitamnya.


'Saya masih hidup, Ri. Saya masih hidup. Enak saja kamu bilang saya meninggal' teriak Juna dalam hati.


"Fira naksir Pak Juna sejak masuk SMA ya?" tanya Juna.


"Sejak SMP, Pak May."


"SMP?."


"Ya... Biasalah cinta monyet. Tapi si Fira awet bener cinta monyet sama Pak Juna sampai kuliah" ucap Suhri cekikan.


"Memangnya Fira ketemu di mana sama Pak Juna?."


"Di rumahnya. Waktu itu si Fira mau pulang ke rumah Bapaknya. Terus ada Pak Juna lagi ngapelin kakaknya Fira. Fira terpesona, jatuh cinta, bucin dah sampai sekarang" ucap Suhri kembali cekikikan.


"Kakaknya Fira? Diandra?" ceplos Juna.


"Bener, Pak May. Mbak Diandra itu kakaknya Fira. Pak Juna dulu pacaran sama kakaknya Fira. Lalu putus karena Mbak Diandra menikah dengan Mas Arya."


Kepala Juna langsung berdenyut. Ia langsung berkeringat dingin. Juna benar-benar shock mengetahui fakta yang diucapkan oleh Suhri. Selama lima tahun berpacaran dengan Diandra, Juna tidak pernah tahu jika Diandra memiliki adik. Diandra selalu berkata jika dia adalah anak tunggal. Lalu perkataan Suhri tadi mengapa bertolak belakang dengan ucapan Diandra?


"Jadi Fira adalah anak Pak Narto?" tanya Juna lirih. Ia berusaha menekan rasa terkejutnya di hadapan Suhri.


"Betooolllll sekali Bapak May. Fira adalah anak Om Narto dari istri mudanya. Om Narto menikah diam-diam dengan ibunya Fira sehingga Mbak Diandra tidak mau mengakui ibunya Fira sebagai istri dari Ayahnya. Bahkan Mbak Diandra tidak mau mengakui kalau Fira adalah adalah saudaranya. Fira selalu disebut sebagai anak haram. Mereka juga tinggal terpisah karena Mbak Diandra sering memukuli Fira kalau tidak ada orang di rumahnya" kata Suhri.


Kedua netra Juna langsung melotot. Otot-otot di tubuh Juna langsung lemas. Ia seperti mendapat serangan jantung saat mendengar cerita dari Suhri.


Juna menghentakkan kakinya. Ia berusaha menetralkan jantungnya yang sejak tadi berdisko akibat ucapan Suhri mengenai fakta yang tidak diketahuinya.


"Pak Narto sekarang di mana, Ri?."


"Di rumah Fira lah, Pak. Om Narto kan kena stroke. Ladang tembakaunya yang siap panen kebakaran, Pak May. Om Narto langsung jatuh miskin..."


"Lalu Diandra di mana?."


"Mbak Diandra sudah pergi sebelum kejadian. Dia kan diusir sama Om Narto."


"APA?!! Diusir? Ja...ja..di... Diandra sekarang di mana?" tanya Juna panik.


"Di Bali, Pak May. Denger-denger sih sekarang Mbak Diandra jadi selebgram di sana. Betewe Pak May orang sini ya? Kok kenal dengan mereka?" tanya Suhri.


Juna gelagapan. Ia langsung bangkit dan membayar makanan yang ia pesan. Juna meletakkan lima lembar uang seratus ribuan di bawah piring bekas makannya.


"Eh mau kemana, Pak?" tanya Suhri heran ketika melihat tingkah Juna.


Juna tidak menjawab. Ia segera pergi meninggalkan warung Bu Udin.


"Aneh! Sudah minta info, langsung kabur lagi. Eh?" Suhri tersenyum ketika melihat lembaran uang yang tadi di letakkan Juna.


Suhri menghitung uang yang ada di bawah piring Juna. Saat itu Bu Udin sedang mencuci piring di belakang warung. Suhri mengambil empat lembar dari lima lembar yang diletakkan Juna.


"Selembar aja masih lebih banyak buat bayar pesenannya Pak May. Anggap aja ini bayaran dari info yang tadi" ucap Suhri kemudian pergi meninggalkan warung Bu Udin dengan sumringah.


Tak jauh dari warung Bu Udin. Athalia keluar dari persembunyiannya.


'Plot twist sekali, Jun! Entah mengapa aku ingin menyatukanmu dengan mantan muridmu. Sepertinya akan menarik sekali jika kakak beradik itu merebutkanmu' batin Atha sembari tersenyum licik menatap Juna dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2